Denyut Cinta Dalam Do'A

Denyut Cinta Dalam Do'A
Bab 4. Siapa sebenarnya kamu


__ADS_3

Seusai solat dhuhur di laksanakan agenda di Lanjut kan dengan mengaji saat kalimat


"Alfatihah..." Terdengar seluruh Masjid menjadi hening tak ada yang bersuara. Di mulai lah pengajian itu mempelajari kitab sohih muslim.


"Ini bukan suara abah" Batin Hilyah. Hilyah yang berada di barisan depan penasaran dengan suara itu.


Saat waktu menjelaskan dia mendongakan kepala dan berapa terkejutnya Hilyah saat melihat lelaki di pagi hari tadi.


Dan di saat itu juga lelaki itu juga menoleh ke arah Hilyah dan mereka pun beradu pandang selama 2 setengah detik.


Mata kuning keemasan Hilyah beradu dengan mata abu-abu milik laki-laki itu. Dengan secepat mungkin Hilyah memalingkan pandangannya kepada kitab yang dia pangku.


Sudah setengah jam Hilyah dari kejadian itu. Wajah lelaki itu masih terbayang di benak nya. Sorotan mata dinginnya, rahang kokohnya, tubuh kekar yang di balut pas dengan jas hitam milik laki-laki itu.


"Astagfirullah" Ucap Hilyah berulang-ulang kali. Dia masih terbayang-bayang akan si guru badal itu dan akhirnya...


"Berhubung saya baru pulang jadi cukup sekian, Abah minta maaf kepada kita sekalian yang ada di masjid ini. Hari ini abah ada keperluan jadi saya yang menggantikan beliau dan Wa allah hu allam bis syowaf."


Selesai berdoa mulailah bubar santri dari masjid. Hilyah dan temannya memilih untuk pulang lebih akhir. Sedang guru badal itu sudah keluar dari masjid dari awal mengaji berakhir.


"Siapa dia" Batin Hilyah bertanya-tanya.


...****************...


Saat Hilyah dan kedua temannya sampai di koridor asrama, sunyi haning yang mereka bertiga rasakan. Tak ada salah satu pun dari mereka memulai pembicaraan.


Kruuukkkk... krrukkk...


Suara aneh keluar dari perut Anis.

__ADS_1


"Hahaha..." Gelak Hilyah dan Lail yang mendengarnya seakan memecah keheningan yang ada.


"Aku lapar" Keluh Anis sembari mangusap perutnya yang sudah berdering-dering kelaparan.


"Ya udah kita ganti pakayan lalu kita makan, yuk.." Saran Lail.


"Yok.." Ucap Hilyah dan Anis setuju.


Setelah Selesai mengganti pakayan merekapun berjalan menuju ruang makan santri blok putri yang berada di samping kanan asrama Maratus solehah. Saat selangkah lagi mau masuk ke ruangan makan.


"Mbak Hilyah di panggil bunda" Ucap seorang santri berwajah tirus dengan dekorasi kaca mata bulat di wajahnya.


"Emm.. baik lah". Ucap Hilyah "Kalian makan lah aku... aku nanti saja"Lanjutnya. Sembari menoleh ke arah Lail dan Anis.


" Semangat Hilyah" ucap Lail. Yang di balas anggukan dan senyuman indah milik Hilyah. Sedangkan Anis sudah sendari tadi masuk ke ruang makan.


"Mbak, tau nggak si anak abah yang pertama udah pulang lo dari pesantren" Ucap Aminah membuka percakapan.


"Ada beliau laki-laki jantan, pinter, berwibawa, keren lah pokoknya." Jawab Aminah semangat.


Aminah adalah salah satu dari santri putri yang ikut ngabdi di ndalem. Dia memang begitu akrab dengan Hilyah dari awal Hilyah ikut ndalem.


"Siapa namanya?" Tanya Hilyah penasaran.


"Muhammad Salman Al-Fatir" Ucap Aminah seraya membentuk pelangi di udara.


"Andai mbak Hilyah tau orangnya pasti langsung kelepek-kalepek" Lanjut Aminah.


"Ah mbak Aminah bisa aja." ujar Hilyah sembari membenahi jilbab syar'i lilaknya.

__ADS_1


"Hahaha... ya udah aku mau ngambil sayuran dulu di lumbung kamu duluan aja" Ucap Aminah.


"Baik mbak" Ucap Hilyah patuh.


Hilyah pun masuk ke ndalem lewat pintu dapur seperti biasa. Saat ia membuka pintu dua mendapati sosok laki-laki.


"Ehhh..."Ucap Hilyah sembari berlutut dan menundukkan pandangannya.


"Kamu santri pagi tadi ya" Ucap laki-lakiitu dengan nada dingin.


"Iya pak maaf" Ujar Hilyah gemetar.


"Lain kali berhati-hatilah, berlari dengan gamis syar'i itu terkadang membahayakan"


"Iii.. iya pak" Ucap Hilyah terbata-bata.


"Apa aku setua itu" Ucap laki-laki itu dengan nada melembut.


"Emm.. ti.."


"Mbak Hilyah" Ucap suara kecil yamg menggemaskan.


"Huh.. Selamat jantungku nggak jadi copot" batin Hilyah bersyukur.


"Loh mas Fatir di sini juga" Lanjut Nidya.


"Fatir..?? aku seperti pernah mendengar nama itu" Batin Hilyah seraya mengingat-ngingat nama yang samar-samar dia ingat.


"Oh... Aku ingat..." Ucap Hilyah sembari membulatkan matanya. "Nama contoh dari buku nahwu yamg ku baca tadi" Sambungnya dalam hati.

__ADS_1


Laki-laki tadi yang melihat tingkah Hilyah pun tersenyum. Namun Hilyah tak dapat melihatnya.


__ADS_2