
***Aku***... adalah lelaki dengan mata abu-abu. Aku adalah anak sulung daru Abah pondok pesantren Al-Kausar. Satu-satunya penerus pondok.
Aku punya satu saudari si imut Nidya. Si bungsu yang manja. Terakhir aku melihatnya dia adalah pendiam bahkan nggak pernah akrab dengan satupun orang kecuali keluarga tentunya.
Dan satu wanita yang membuatku terheran-heran dia bisa mengambil simpati Nidya kecil. Wanita itu bernama Nurul Hilyah. Aku baru menyelesaikan pendidikanku di Al-Ahzar kairo mesir, setelah 6 tahun di Al-falah pelosok.
Umurku menjelang 25 tahun, namun terkadang aku masih berfikir terlalu muda untuk menikah. Walaupun Bunda dan Abah sudah menantikan hal itu.
Bahkan si Nidya kecil selaku bertanya-tanya tentang calon embak ipar, yang kadang membuat ku geleng kepala.
Saat pertama pulang dari mesir, aku di sambut dengan pukulan sapu milik salah satu santri watu pondok ku. Awalnya aku sangat emosi dengan kelakuannya.
Tapi saat aku melihat pemegang sapu itu hatiku seperti berkata.
فباي الاءربكماتكذبن...
(Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dusta kan)
واصطنعتك لنفي....
__ADS_1
(Dan aku telah mamilihmu untuk diriku)
Hatiku berdegup kencang. Mata kuning keemasan yang membuat jantungku meronta-ronta. Dialah Nurul Hilyah dengan wajah yang putih cerah membuat mataku sejuk memandangnya.
Aku mati-matian menenangkan hatiku. Hingga akhirnya dia menundukkan pandangannya. Sikapnya penyelamat jantungku yang hampir melompat dari tempatnya.
Aku melihat begitu jelas ketakutan di reaksinya. Membuatku makin gemas. Dengan susah payah aku berusaha dingin padanya. Aku bertanya dalam hatiku.
"Perasaan apa ini"
Hingga pertanyaan itu terjawab oleh Nidya kecil. Saat aku diam-diam mengamati Nidya yang dengan ceria bermanja dengan Hilyah.
(Aku mencintaimu)
Entah dari mana asalnya rasa itu, tapi aku yakin rasa ini tak mungkin salah. Saat ke tiga kali ku melihatnya di pengajian sohih muslim. Dia begitu khusuk dalam ngajinya. Saat tak sengaja ku memandangnya.
Ternyata dia juga memandangku. Hanya dia yang berani menatap ke arah ku. Hatiku kembali berdetak hingga rasa gemetar manda tubuh atletis ku.
Begitu hebat getaran cinta. Hingga aku tak mampu bertahan lebih lama. Ngaji yang ku akhiri dengan secepat mungkin dan aku mengamati tingkah Hilyah yang tampak masih syok.
__ADS_1
"Apa aku tampan hingga membuatnya sesyok itu" Batin ku percaya diri. Saat berjalan keluar seluruh santri putri menundukkan kepalanya. Namun aku tak melihat Hilyah di antara mereka. Aku menoleh ke arah dalam masjid dan ternyata dia sedang khusuk dengan doanya.
"Aku akan gapai cintaku melalui do'amu Hilyah" Batin ku lagi.
"Assalamualaikum, Fatir kau sudah pulang rupanya" Sapa seorang dengan tubuh tinggi yang hampir sejajar dengan ku.
"Huda..?? Sudah dewasa kau ya" Ejek ku seraya membuang pandangan dari sosok Hilyah.
"Hey.. kita hanya berbeda 3 tahun ingat itu" Ucapnya tak mau kalah.
"Baiklah Akhi kau sudah mendapatkan ini rupanya" Ucap ku sembari menyentil logo emas di jas hitam lelaki yang ternyata adalah Huda itu.
"Ya.. ku dapat dari 2 Tahun yang lalu teman" Ucap Huda sembari memamerkan gigi putih nya dan lesung pipi yang langsung terlihat jelas.
"Baiklah aku akan menghampirimu ke Asrama tunggu aku kita akan banyak cerita" Ucap ku sembari menepuk bahu Huda.
"Kau mau ke mana Fatir.?" Tanya Huda penasaran.
Aku tak menjawabnya dan akh hanya tersenyum penuh arti untuk menjawab pertanyaan aneh dari Huda.
__ADS_1
Jelas terserah ku mau kemana toh pesantren juga pesantren milikku. Huda yang tak mau ambil pusing langsung keluar dari gerbang pemisah blok putra dan putri. Dan langsung fokus pada santri putra yang mulai berjalan menuju ruang makan.