Denyut Cinta Dalam Do'A

Denyut Cinta Dalam Do'A
Bab 8. Bapak Guru Gila


__ADS_3

Sesampainya di asrama...


"Huh..." Hilyah duduk di tepi ranjangnya sembari memegangi dadanya yang kembang kempis.


"Kamu kok lama si Hilyah" Tanya Anis yang berhasil membuat Hilyah teringat senyuman tipis Huda.


"Hmmm... Tadi pak Huda nyuruh aku ke kantor." Jawab Hilyah agak ragu.


"Oowww... kenapa dia.?" Ucap Lail seakan-akan Huda bukanlah gurunya. "Jangan-jangan dia juga diam-diam suka sama kamu."Lanjut Lail menebak-nebak.


" Mana ada," Balas Hilyah cepat. Anis dan Lail yang melihat expresi Hilyah pun menunggingkan


senyuman. "Dah ah jangan gitu, kita makan aja yok." Ucap Hilyah mengganti topik.


"Yok." Kedua temannya langsung setuju karna memang mereka sudah lapar. Karna tenaga mereka di habiskan untuk 30 soal fisika tadi.


Saat kedua temannya tengah sibuk bersiap-siap Hilyah menyimpan Pack masker dari Huda di lemari pakayannya. Setelah siap mereka bertiga berjalan bersama meninggalkan asrama menuju ruang makan.


...****************...


Sesampainya di ruang makan mereka bertiga duduk di tempat istiqomah mereka yakni di ujung ruangan. Yang jendela samping kirinya langsung memperlihatkan sisi kanan asrama Uswatun Khasanah. Asrama khusus untuk pengurus putri.


Nuansanya begitu classic tapi mewah. Merekapun menyantap makanan yang telah di sediakan. Hening itulah keadaan di meja makan mereka.


"Hilyah.." Suasana hening langsung terpecah bersamaan dengan pecahnya lamunan Hilyah.


"Hmm..?" Jawab Hilyah sembari menoleh ke arah sumber suara.


"Ngelamun..??" Tanya Anis sembari melemparkan pandangan selidik. "Mikirin apa si." Lanjut Anis tanpa merendahkan mode selidik di matanya.


"Hmmm... Ini lagi mikirin masalah uang kas aku belum bisa bayar udah 2 bulan ini nunggak." Unggap Hilyah rada gelisah.


Anis dan Lail pun saling pandang dan serentak menaikan ke dua alisnya.


"Well, kamu kan punya kita Hilyah. Ngapa kamu nggak bilang kalok kas milikmu nunggak kamu bisa bantu." Ucap Anis tulus. Lail yang mendengarnya pun ikut mengangguk-anggukkan kepalanya.


Hilyah yang mendenger perkataan temannya pun langsung berseri-seri. Dia benar-benar beruntung berteman dengan mereka.


"Makasih Anis, Lail tapi aku nggak mau ngerepotin kalian." Ucap Hilyah di barengi senyuman tak enak.


"Enggak Hilyah," Ucap Lail sembari bangit dari tempat duduknya. Lailpun duduk di dekat Hilyah dan mendekap sahabatnya itu. "Kamu sahabat kami, jadi kalok kamu ada apa-apa bilang selagi kami bisa bantu, kami bakal bantu Hilyah." Ucap Lail begitu tulus.


Anis yang mendengarnya langsung ikut meninggalkan makannannya dan langsung merangkul Hilyah.


"Bener tu si kata si Lail buat apa sahabat kalok nggak bisa ngasih pertolongan buat sahabatnya." Ucap Anis sembari mengelus pundak Hilyah.


"Makasih Anis, Lail." Hanya kata itu yang terungkap di mulut Hilyah.


Hilyah begitu bahagia memiliki


sahabat seperti mereka. Hingga tak sadar satu air mata lolos dari mata coklat indahnya.


"Ya udah yok udah jam segini


bentar lagi masuk sekolah lo." Ajak Lail sembari malihat ke arah jam tangannya yang menunjukan pukul 09.21.


"Yok." Sahut Hilyah dan Anis serentak.


...***************...

__ADS_1


"Duh,..." Reflex Hilyah saat kakinya kepentok sisi ranjang.


"Kenapa.?" Tanya Anis sembari manghampiri Hilyah.


"Sisi ranjangnya nakal masak kakiku di tabrak-tabrak." Ungkap Hilyah kesal.


"Benarkah," Tanya Lail yang mendengarnya seraya berjongkok di dekat sisi ranjang. "Kamu nggak pa-pa kan lecet enggak apa ada yang bengkak." Tanya Lail sembari mengelus-elus sisi ranjang.


Anis dan Hilyah yang mendengarnya pun tertawa. Lail juga pun ikut tertawa lalu ikut berdiri. Pas waktu Lail berjalan tanpa sengaja dia menginjak kami Hilyah yang baru saja tabrakan dengan Sisi ranjang.


"Astagfirullah." Ungkap Hilyah spontan.


"Eh Hilyah maaf." Ucap Lail sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aduh fix bengkak ini." Ucap Hilyah sembari kembali tertawa di ikuti kedua temannya.


...****************...


Sesampainya di sekolah Hilyah langsung pamit kepada ke dua temannya untuk ke kantor guru.


"Mau ku temenin." Tanya Lail sembari tersenyum nakal.


"Dah jam berapa bentar lagi masuk. Kamu masuk kelas aja dulu aku nggak lama kok." Ucap Hilyah.


"Ya udah kami duluan ya." Ucap Rahma yang bersama mereka.


"Iya, Jangan kangen ya aku cuman bentar kok." Saran Hilyah sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


"Yah.. Kang PeDenya kumat." Celtuk Rohima sembari membenahi maskernya. Mereka pun tertawa bersama di iringi Hilyah yang berjalan menjauh.


"Eh, ngomong-ngomong guru tadi ganteng juga ya." Ungkap Anis di sela berjalan.


"Kenapa aku benar kan.?" Tanya Anis kikuk.


"Mau benar kawan dia ganteng tapi ku rasa Jangan bicara terlalu terbuka apa kau mau masuk ruang hakim." Tanya Rahma menyarankan.


Karna memang tak di perkenan kan bagi santri putri untuk membicarakan hal di luar undang-undang. Anis yang mendengarnya pun merinding dan langsung diam.


"Hihi... Lain kali tinggal dulu otak priamu Anis." Saran Zulfa jail.


Sebaliknya Hilyah saat itu tengah berjalan menuju ruang guru sendirian. Hatinya radak ragu tapi


"Ya sudah lah, toh aku dah biasa ke sini." unggapnya dalam hati.


Hilyah pun masuk ke dalam koridor ruang guru. Satu persatu pintu dia lewati dengan agak membukuk karna memang ada beberapa guru di sana.


Sesampainya di depan ruang fisika Hilyah pun terpaku melihat ke dalam ruangan. "Kosong." Batinnya.


"Assalamualaikum." Ucap Hilyah agak gemetar.


"Waalaikumsalam." Ungkap suara berat di belakangnya yang berhasil membuat jantung Hilyah mau copot.


Hilyah sepontan bergeser dari depan pintu dan langsung duduk dengan pandangan yang tertunduk. Pemilik suara itu pun langsung masuk ke dalam ruangan dan langsung mempersilahkan Hilyah untuk masuk.


Saat Hilyah memasuki ruangan itu wangi dan rapi itu yang dia temui di ruangan tersebut.


"Ini bukunya dan apa kau menyalin jawabanku di LKS yang ku beri.?" Tanya Guru itu yang jelas adalah Huda.


"Hmmm.." Hilyah bingung harus menjawab apa. "Bukannya nyalin pak saya udah mencari-cari jawabanya di LKS tapi jawaban bapak yang di tulis di LKS benar semua jadi bukan salah ku." Ucap Hilyah kikuk sedikit getar.

__ADS_1


"Baiklah, boleh aku minta tolong sesuatu Hilyah." Tanya Huda dengan suara yang agak lembut. Sedang Hilyah yang mendengarnya pun gelagapan dan mulai sesak nafas.


"Ayo.. oksigen mana oksigen..." batin Hilyah kacau.


"Hilyah, apa kau sakit." Tanya Huda sukses membuat muka Hilyah merah padam.


"Heheee... tidak pak, bapak tadi mau minta tolong apa.?" Tanya Hilyah sembari mengontrol nafasnya.


"Jangan panggil 'Bapak' saat tidak di kelas" Anjur Huda sembari melemparkan senyuman yang benar-benar menawan.


Hilyah yang melihat senyuman itu dari pantulan mejapun langsung terdiam kaku tanpa kata-kata. "Wah bisa mati aku lama-lama di sini." Ucap Hilyah dalam hati.


"Baik pak tapi, bukankah tak sopan." Tanya Hilyah rada ragu.


"Panggil saja kak, itung-itung belajar." Ucap Huda yang mulai ngelantur. Huda pun segera sadar dengan sikapnya dan langsung berdiri dari duduknya.


Bau maskulin pun tercium oleh Hilyah membuatnya menjadi makin sesak nafas.


"Pulanglah ke kelas belajar yang benar." Huda menasehati sembari berjalan menuju lemari buku di bagian samping kiri meja.


"Baik pak," ucap Hilyah penuh tadzim.


"Pak..?" ulang Huda.


"Emm..?" Hilyah bingung. "Oh ayo lah apa kau mau aku mati di sini guru gila." Lanjut Hilyah dalam hati.


"Maaf kak belum terbiasa. Saya ke kelas dulu ya kak. Assalamualaikum." Ucap Hilyah buru-buru yang sukses membuat Huda tersenyum merekah.


"Waalaikumsalam." Ucap Huda seraya tersenyum kemenangan.


"Bismilah aku semakin tertarik dengan adab mu." Ungkap Huda lirih.


Sedangkan Hilyah yang gemetar keluar dari ruang guru sembari membawa buku yang tak sedikit.


"Hilyah dari mana." Tanya seorang guru perempuan.


"Ini buk dari ngambil buku tugas." ungkap Hilyah sembari menunjukan buku di tangannya.


"Cepat masuk kelas sebentar lagi waktunya bel." Ucap guru itu agak sinis.


"Baik buk." ucap Hilyah.


Hilyah pun segera meninggalkan guru itu dengan sedikit berlari.


Saat berjalan menuju tangga kelasnya tiba-tiba dia melihat ada lelaki yang sedang menuruni tangga. Hilyah pun spontan duduk dan menundukan pandangannya.


"Pelan-pelan berjalan kau bisa jatuh kapan saja kalau begitu." Ungkap lelaki itu.


"Ngapain Gus Fatir ke sini." Batin Hilyah.


"Iya." jawab Hilyah singkat.


Gus fatir pun langsung lewat dengan senyuman di bibirnya.


Saat sudah agak jauh Hilyah kembali berjalan menuju kelasnya. Samar-samar dia mendengar dua orang lelaki berbicara tapi tak ia hiraukan.


Hingga dia bisa bernafas lega saat sudah berada di depan pintu kelasnya.


Tengggg... Teengg... Tenggg...

__ADS_1


Hilyah pun duduk di kursinya dan merebahkan badanya yang begitu berbeban. Wajahnya ia rendam di tangannya yang ia tumpukan di meja. Hingga Akhirnya tak terasa dia terlelap.


__ADS_2