
"Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon mertua ya" goda Arka sambil melirik ke arah Zia yang sudah mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Tauk ah, Dasar om-om menyebalkan memang. Kok bisa ya pria yang di jodohkan denganku itu kayak begini. Ya ampun, Lama-lama aku bisa stres"
"Kalau kamu stres tinggal aku bawa ke rsj kan sayang" ucap Arka sambil terkekeh.
"Enak saja mau bawa aku ke rsj. Memangnya aku gila"
"Ya kalau sudah stres kan hampir mendekati" ucap Arka lagi sambil mengulum bibirnya menahan tawa saat melihat raut wajah Elzia yang begitu lucu.
"Kenapa ekspresi begitu? Kayaknya seneng banget kalau liat aku stres"
"Bukan hanya seneng, Tapi saya bahagia"
"Astaga, Bener-bener calon suami menyebalkan ya"
Tanpa terasa mobil itu sudah tiba di kediaman kedua orang tua Arka. Elzia melirik pada Arka saat Arka sudah menghentikan mobilnya di sana.
"Di sini rumahnya om?" tanya Dia pada Arka.
Arka menoleh pada Zia"Iya sayang, Disini. Kenapa memangnya?" tanya Arka pada Elzia.
"Ya ampun, Kenapa aku baru sadar kalau om Arka kan om nya Devan, Jadi sudah pasti rumah orang tuanya juga di sini. Bagaimana ini, Apa yang harus aku lakukan." ucap Zia dalam batinnya.
Arka yang menyadari raut wajah Zia mengerutkan kecil keningnya "Kamu kenapa? Kok kayak bingung begitu?" tanya Arka pada Zia.
"Bagaimana aku tidak bingung, Dulu kan aku sering datang ke rumah ini saat masih pacaran sama Devan. Ya ampun, Hari ini aku datang bukan lagi sebagai kekasih Devan, Melainkan calon istri dari om nya"
Lagi-lagi Elzia hanya bermonolog dalam batinnya. menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal"Apa yang harus aku lakukan nanti saat bertemu dengan tante Dina"batin Zia sambil melirik ke arah Alkanna.
"Ayo masuk, Kenapa malah diem di situ" ucap Arka sambil menarik tangan Elzia.
Elzia mengekor di belakang Arka dengan langkah yang sangat berat, Masih belum siap untuk bertemu dengan keluarga Arka, Keluarga yang taunya Elzia sebagai kekasih dari Devan.
"Bagaimana ini"batin Zia lagi.
__ADS_1
Arka yang merasa ada keanehan terhadap Zia mengerutkan keningnya" Apa mau saya gendong, Sayang? Jalannya lambat sekali kayak keong" ucap Arka sambil membalikkan tubuhnya dan menatap Zia yang tertinggal cukup jauh.
"Apaan sih om, Enak saja menyamakan aku dengan keong" balas Zia sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Memang mirip kayak keong. Lambat" ucap Arka penuh penekanan.
"Bisa gak sih, Om itu gak ngeselin, Ya ampun"
"Ngeselin bagaimana sih sayang. Apanya yang ngeselin? Hmm"
"Hueekkk, Mau muntah aku tuh denger panggilan om. Geli tau gak sih"
"Aduuhh sayangku mau muntah ya, Sini sini" seru Arka lagi yang ingi menggoda Elzia.
"Bener-bener deh. Menyebalkan"
Di saat Zia masih ngedumel gak jelas, Tiba-tiba saja ada mama Devan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Melihat keberadaan wanita paruh baya itu membuat langkah Elzia terhenti.
"Astaga, Apa yang aku takutkan terjadi. Bagaimana ini, Apa yang harus aku lakukan" ucap Zia dalam batinnya sambil menundukkan wajahnya. Sebelah tangannya terangkat sambil menutupi separuh wajahnya.
"Arka, Akhirnya kamu datang juga" ucap Dina sambil berjalan mendekat pada Arka.
Dina menoleh pada Zia yang masih setia menundukkan wajahnya dengan tangan yang masih menutup wajahnya.
"Alamak, Jangan kesini dong, Jangan kesini" batin Zia lagi
Setelah tiba di dekat Elzia, Dina mengerutkan kecil keningnya saat melihat siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini"Lah, Elzia. Kamu Zia pacarnya Devan kan? " ucap Dina pada Elzia.
Dengan terpaksa Elzia menurunkan tangannya sambil cengengesan menoleh pada Dina"Sore tante Dina, Iya ini Zia, Tapi bukan pacarnya Devan, Mantan tante. Mantan" balas Zia sambil menoleh pada Dina.
Arka yang mendengar itu menatap mereka berdua dengan perasaan penasaran yang sudah di ubun-ubun. "Maksud kakak bagaimana? Bisa tolong jelaskan pada Arka?" tanya Arka yang mulai penasaran.
"Oh, Jadi begini Ar, Zia ini adalah mantan kekasihnya Devan. Kamu gak tau itu?"
Arka menggeleng pelan"Oh ya, Pantas saja tadi" perkataan Arka terhenti saat Elzia menatapnya tajam.
__ADS_1
"Tadi apa Ar?"
"Oh ngga papa kok kak. Bunda mana kak?" ucap Arka yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Bunda ada di taman belakang sama ayah"
"Yaudah kalo gitu aku masuk dulu ya kak"
Arka menggandeng tangan Elzia dan membawanya menuju taman belakang yang ada di rumahnya. "Akhirnya terlepas dari tante Dina"batin Elzia yang merasa lega.
Setelah tiba di taman belakang, Ternyata memang benar, Kedua orang tuanya ada di sana sedang membaca masalah dan menikmati secangkir kopi yang ada di depan mereka.
" Assalamu'alaikum, Ayah, Bunda" ucap Arka sambil te🙄senyum hangat pada kedua orang itu.
Ayah dan Bunda Arka yang sejak tadi sibuk dengan majalah nya masing-masing, Langsung meletakkan koran itu saat mendengar suara khas anak kesayangan mereka.
"Arka, Sayang. Akhirnya kamu datang juga" ucap Aminah, bundanya Arka.
"Iya, Bunda. Maaf ya udah buat bunda dan juga ayah lama menunggu. Ini semua karna calon menantu bunda yang mesti drama" ucap Arka sambil mengulum bibirnya.
Elzia yang mendengar itu menatap tajam Arka sambil mengangkat sebelah sudut bibir nya"Apa aku gak salah denger, Yang banyak drama itu kan om. Masih bawah aku ke salon lah, Ke butik lah. Dan ujung-ujungnya minta aku buat pakai baju yang ribet begini" ucap Zia tanpa sadar.
Sedetik kemudian wanita itu menutup mulutnya saat menyadari apa yang baru saja dia katakan "Astaga, Ini kenapa mulut kok gak bisa di rem dikit sih. Harus jaga image di depan calon mertua. Mau bagaimanapun, Aku harus bisa memberikan kesan baik pada mereka berdua" batin Zia sambil menutup mulutnya sendiri.
"Yaudah, Lebih baik kita masuk sekarang ya, Sekalian nanti kalian berdua makan malam di sini sama bunda dan ayah ya" ucap Aminah yang terdengar sangat lembut.
Elzia menyediakan matanya pada Arka, Seakan memohon agar Arka mau menolak ajakan bundanya. Namun ternyata Arka mengalah artikan kedipan yang baru saja Zia tunjukkan.
"Boleh dong, Bunda. Iya kan sayang" seru Arka sambil menggandeng Zia.
Mendengar itu membuat Zia menginjak kaki Arka dan membuat pria itu merintih kesakitan. Aminah dan Hermawan yang mendengar suara Arka seketika menghentikan langkahnya.
"Aaaaaa" suara itu membuat Aminah dan Hermawan menoleh pada Zia dan Arka.
"Kamu kenapa Ar? "
__ADS_1
"Tau nih om, Kok malah teriak-teriak" balas Zia sambil terkekeh.
Hal itu membuat Arka menumbuhkan satu akal licik untuk membalas apa yang baru saja Zia lakukan terhadapnya "Awas saja kamu anak kecil, Akan saya balas nanti di perjalanan pulang" batin Arka sambil mengulum bibir dan menatap Elzia.