
"Nanti kalau sudah bertemu, aku jamin kamu tidak akan berpaling dari nya. Om Arka itu duda keren Zi" ucap Novi pada Elzia.
Elzia mengangkat sebelah sudut bibirnya"Mana ada duda keren, Di mana-mana kalo sudah duda itu ya begitu-begitu saja" jawab Elzia sambil menoleh pada Novita.
"Terserah kamu saja lah. Tapi ingat, Nanti kalau sampai cinta mati sama om Arka akan aku mintain peje"
"Gak bakalan. Sudah, lebih baik kita berangkat sekarang"
Akhirnya Zia dan Novi kembali melajukan motor mereka, Menyudahi obrolan pagi yang masih seputar tentang om duda.
Di sepanjang perjalanan, Pikiran perkataan Novi terngiang begitu saja pada indra pendengaran Elzia. Wanita itu mengangkat sebelah sudut bibirnya sambil ngedumel dalam hatinya.
"Ih dasar Novi. Ada-ada saja. Mana ada duda keren. Di mana-mana yang namanya duda ya tak jauh kayak om Haris. Tetanggaku yang suka mainin perempuan" ucapnya pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Mereka sudah tiba di sekolah NUSA BANGSA. Salah satu sekolah favorite di kota mereka.
Di sana ternyata sudah ada Zaniya dan juga Eer yang menunggu kedatangan mereka berdua. Zaniya dan Eer yang melihat kedatangan Elzia dan juga Novita langsung bangun dari duduknya.
"Huufff. Yang nunggu sampek jamuran. Lama banget sih kalian" protes Zaniya seperti biasa.
"Masa iya jamuran Za. Enak dong bisa di buat jamur crispy. Hahha" jawab Novi sambil tertawa.
"Is dasar kau. Tumben gak bareng sama ayank mu? Biasanya juga berangkatnya bareng terus" ucap Zaniya sambil menoleh pada Novita.
"Oh nggak, Si Dirga hari ini lagi ada praktek pagi. Jadinya jalan duluan tadi" balas Novi sambil mengambil kunci motornya.
"Oh gitu, Tapi nanti jadi kan kita ke puncak?"
"Jadi dong. Aku udah janjian sama Dirga jam 12. Hari ini kan mapel kita cuma dua" jawab Novi pada Zaniya.
__ADS_1
"Kalo gitu nanti aku kabarin Alex buat jemput jam setengah satu"
Zaniya menyenggol lengan Novi saat melihat Elzia hanya diam tanpa berkata sepatah katapun. Biasanya setiap kali mereka berencana untuk kepuncak, Orang yang paling heboh adalah Elzia. Tapi tidak dengan hari ini, Elzia hanya diam tak berkata apa-apa.
"Ada apa dengan Zia? Kenapa sejak tadi aku gak denger dia ngomong. Biasanya juga dia yang paling beo" gumam Zaniya pada Novi dan Eer.
"Iya tuh, Biasanya juga dia yang paling bar bar kalo kita sedang ada rencana ke puncak. Tumben bener hari ini mendadak pendiam" timpal Eer
"Maklum. Tadi pagi Zia kelupaan gak makan pisang. Makanya kayak gitu"
Elzia masih saja diam, Tak menggubris apapun yang baru saja di katakan oleh teman-temannya. Saat ini hanya raganya saja yang ada di tempat ini, Karna pikirannya melalang buana entah kemana. Tapi yang masti masih tentang om duda.
"Uhhhhh, Bagaimana caranya agar aku gak jadi ketemuan sama si om duda, Mana siang ini aku juga udah janjian sama Arif" ucap Zia dalam batinnya.
"Ahh, Om duda ini memang benar-benar merepotkan ku saja, Awas saja nanti. Akan aku buat dia ilfel di pertemuan pertama kita" batin Zia lagi.
Entah kenapa tib-tiba saja satu ide muncul dari benak Elzia. Wanita itu memiliki rencana bagaimana sekitanya Arka ilfiel di pertemuan pertama mereka nanti siang.
Tanpa terasa waktu terus berputar, Saat ini mata pelajaran terakhir sedang berlangsung.
"Pak Roni, Hari ini gak usah ngasih tugas lagi loh ya, Kita-kita lagi ada acara" ucap Zia pada guru TI yang bernama Roni
"Malah hari ini ada ulangan. Bukankah minggu lalu sudah saya katakan jika minggu ini kita ulangan pelatihan" jawab pak Roni sambil menoleh pad Zia.
"Yah pak Roni gituan. Gak jadi lah aku comblangin sama Novi, Katanya pengen balikan" ucap Elzia yang langsung membuat pak Roni mengedipkan matanya.
Satu tahun yang lalu, Novita memang sempat menjalin hubungan dengan pak Rani saat pak Roni masih duduk di kelas 3 SMA NUSA BANGSA. Karna memang kebetulan guru itu adalah alumni yang menjadi guru di sana.
Elzia menutup mulutnya saat tak sengaja mengatakan hal itu"Ya ampun, Ini mulut kenapa lemes banget dah, Kan pak si Roni sudah wanti-wanti agar aku diam-diam. Bener-bener mulut gak ada rem nya" batin Zia sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
Novita yang mendengar itu menoleh pada Zia yang sudah memalingkan wajahnya agar tak melihat tatapan tajam yang akan Novita berikan untuknya.
Seketika kelas menjadi sepi. Semenjak hubungan antara Roni dan Novita selesai, Mereka berdua memang tidak pernah bertegur sapa kecuali saat sedang di dalam kelas. Ada satu kesalahan yang membuat Novita susah untuk memaafkan Roni dan memilih untuk mengakhiri hubungan yang sudah mereka jalin kurang lebih 1 tahun.
"Maaf Nov" ucap Zia tepat di telinga kanan Novi dan hanya bisa di dengar oleh wanita itu.
"Ingat, Jangan pernah lagi mau di suruh untuk melakukan apapun yang dia minta, Karna bagaimanapun usahanya, Aku sudah tidak akan pernah bisa memberikan dia kesempatan kedua. Karna buatku, Mantan hanyalah masa lalu yang harus di lupakan" ucap Novi dengan penuh penekanan.
Hatinya kembali terasa sakit saat teringat apa yang sudah Roni lakukan satu tahun yang lalu. Mengkhianati Novita dengan sahabatnya sendiri.
"Maaf, Nov. Aku hanya ingin melihat kamu kembali bersatu dengan Roni. Karna aku tau kalau sebenarnya hatimu masih untuk dia. Dirga hanyalah pelampiasan kamu kan?" ucap Elzia pada Novita.
"Dulu memang iya, Tapi tidak dengan saat ini. Dirga sudah membuat aku melupakan luka itu, Dan dia pantas untuk mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan"
"Kamu yakin?"
"Hm, Kenapa tidak. Aku sudah benar-benar melupakan Roni tepat setelah kehadiran Dirga dalam hidupku"
Jam mata pelajaran terakhir pun sudah berakhir, Saat ini mereka sudah bersiap untuk pulang.
"Nov, Nanti kita ketemuannya di mana?" tanya Zaniya pada Novi.
"Di tempat biasanya aja bagaimana. Riska sama nisa jadi ikut kan?"
"Jadi dong" ucap Riska dan Anisa secara bersamaan.
Di saat semua teman-temannya sedang membahas perihal puncak, Berbeda dengan Elzia yang terlihat sangat lesu. Ini sudah waktunya pulang, Itu artinya mau tidak mau Elzia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Arka siang ini.
"Huuuaaa, Bantu aku biar tidak usah bertemu dengan om rese" ucap Zia tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar itu membuat semua teman-temannya menoleh pada Elzia sambil mengulum bibir.
"Terima saja takdirmu Zia" ucap mereka secara bersamaan