
📱:Kamu sehat kan Zia? Kamu serius? Apa saya yang sedang berhalusinasi
📱:Tidak kok, Om. Zia serius dan Zia sehat. Zia sudah memutuskan untuk masuk pesantren secepatnya. Sepertinya itu yang lebih baik.
📱:Alhamdulilah. Saya senang dengarnya. Sudah malam, Lebih baik sekarang kamu tidur
📱:Iya om rese
Setelah mengatakan hal itu, Elzia langsung memutuskan sambungan telponnya. Mengulum bibirnya sambil terus menatap layar ponselnya.
"Semoga ini adalah jalan terbaik" ucapnya dan langsung kembali masuk ke dalam kamarnya.
Saat sudah tiba di dalam kamarnya, Elzia menatap setiap inci serta sudut kamar itu. Elzia mengambil nafas panjang sembari duduk di sisi ranjang di sana.
"Mungkin lebih baik aku packing barang-barang yang mau aku bawa ke pesantren. Biar nanti jika sudah mau berangkat aku hanya perlu bersiap" ucap Zia lagi.
"Eh tapi besok sajalah, Kenapa aku sampai lupa jika ini sudah tengah malam"
Elzia kembali naik ke atas ranjang nya. Merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Mencoba memejamkan kedua matanya yang sama sekali belum merasa ngantuk.
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan Arka melintas. Hal itu tentu saja membuat Elzia menggelengkan cepat kepalanya"Astaga, Kenapa aku malah teringat sama om rese" ujarnya.
*
*
*
Arka mengangkat kedua sudut bibirnya sambil menatap foto Elzia yang dia gunakan sebagai wallpaper ponselnya. Ada rasa bahagia yang begitu besar saat mendengar apa yang baru saja Elzia katakan.
"Akhirnya, Tanpa memaksa Zia mau masuk ke pesantren secepatnya. Sepertinya aku akan mudah untuk memintanya menjadi seperti yang aku harapkan. Semoga Elzia bisa menjadi ibu sambung yang baik buat Naura" ucapnya sambil terus menatap layar ponselnya.
"Maafkan papa Naura, Ini sungguh bukan yang papa inginkan. Papa janji, Setelah nanti papa menikah dengan Elzia, Papa akan selalu berusaha memberikan kebahagiaan yang selama ini sudah hilang. Papa janji akan mengganti semua waktu itu, Sayang. Doakan papa semoga semuanya di permudah" ucap Arka sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.
*
*
*
__ADS_1
*
Tanpa terasa malam sudah berlalu, Elzia menggeliat saat mendengar suara alarm yang sudah mengganggu tidurnya. Memang malam tadi sebelum tidur Elzia sudah memasang alarm di jam 04:50.
"Kenapa sudah pagi saja ya" ucapnya sambil merenggangkan otot-otot tangan dan juga kakinya. Setelah itu, Elzia bangun dari tidurnya dan mengikat rambutnya menggunakan jedar.
"Lebih baik aku masak nasi goreng saja. Hari ini kan sudah janjian sama mereka buat bawa bekel ke sekolah" ucap Elzia di sela langkahnya.
30 Menit kemudian. Elzia sudah selesai membuat nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya. "Zia. Tumben kamu jam segini sudah bangun. Mimpi apa semalam?" tanya nenek Hanum sambil mengerutkan keningnya serta berjalan ke arah dapur. Memperhatikan Elzia yang masih sibuk dengan kotak bekal di tangannya.
"Is nenek. Bukannya seneng gak perlu bangunin Zia malah di komplain" balas Zia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya bukan apa-apa. Nenek jadi penasaran mimpi apa tadi malam, Atau ada angin apa?"
"Tauk ah nek. Zia mau mandi dulu. Itu Zia sudah masak nasi goreng buat nenek dan juga kakek"
Setelah mengatakan hal itu, Elzia pergi berlalu dari dapur. Meninggalkan nenek Hanum yang masih menatapnya dengan penuh pertanyaan yang terbesit dalam benaknya.
"Ada apa dengan Zia" ucapnya sambil terus menatap Elzia.
__ADS_1
Pasalnya, Ini adalah pertama kalinya Elzi bangun tanpa harus di bangunkan olehnya ataupun kakek Awi.