
Mendengar perkataan pak Ari membuat semua isi kelas tertawa."Betul itu pak, Langsung nobatkan saja si ayang Zia buat dapet jabatan playgirl tersavege. Aku dukung pak. Hahha" timpal taufik
"Ayang taufik sama pak Ayang jahat bener dah. Aku ngambek ajalah. Biarin nanti gak jadi ulangan" seru Zia sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Ayo ngambek atau nangis di pojokan, Zia" balas pak Ari sambil tertawa.
"Pak Ari udah gak klop sama Zia. Kita putus"
Semua teman-teman Zia hanya bisa terkekeh melihat kelakuan temannya. Memang seperti itulah Elzia dan pak Ari. Selalu bercanda dan membuat kelas terhibur.
****
Tanpa terasa waktu terus berputar. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 13:30. Sudah waktunya pulang sekolah.
"Zia. Nanti main dulu di rumah Zia bagaimana? Atau kita pergi ke warnet?" tanya Novi pada Zia.
"Aku ikut ajalah Nov. Tapi kayaknya ke Warnet aja deh ya. Lama juga kan gak tampil di sana"
"Boleh juga, Ayok ajak yang lain. Rame-rame kan lebih rame" usul Novita
"Guys, Kita ke warnet yuk, Mau gak kalian?" ujar Zia pada teman-temannya.
"Ayoklah. Mau langsung pulang juga aku males deh. Di rumah mama lagi gak bersahabat" ucap Nisa yang sejak tadi hanya diam.
"Kamu ikut gak Za" tanga Novi pada Zaniya.
"Ikut ikut, Ini aku sudah janjian sama Rafael buat ketemu di sana"
"Yang cowok gak mau ikut nih?" tanya Zia sambil melirik pada temen cowok merek yang bukan anak pondok.
"Mau dong, Sesekali lah kita ngikut sama kumpulan kaum bacot ya Rob" ucap Lukman pada Robi sambil mengulum bibir.
"Aku ngikut kamu sajalah, Luk" balasnya.
Pria yang bernama Robi memang tidak terlalu banyak bacot. Dia lebih banyak dia dan mengiyakan ajakan temannya.
"Etdah si Robi bisanya memang iya iya doang. Ikut komentar kek" timpal Eer
__ADS_1
"Mau komentar apa coba. Aku ngeliat kalian ngebacot aja udah pusing. Jadi aku cukup jadi penonton saja lah"
"Dasar pak RT"
*****
DI tempat lain
"Mas, Siapa wanita ini, Mas?" tanya Yasmine pada Alex, Suaminya.
"Tidak usah ikut campur urusan saya. Siapapun dia, Itu bukan urusan kamu.Kamu dengar ya Yaamine, Saya sudah bosan dengan wanita sepertimu. Selain merepotkan. Matre lagi" ucap Alek pada Yasmine.
Mendengar itu membuat Yasmine semakin mendekat dan mengerutkan keningnya"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Yasmine yang terlihat sangat penasaran.
"Saya pikir kamu sudah mengerti dengan apa maksud perkataan saya. Tidak perlu di ulang kan"
"Mas, Aku benar-benar tidak paham. Tolong katakan mas"
"Baiklah, Saya sudah bosan sama kamu. Sebagai pria kaya, Saya bebas mau melakukan apapun yang saya mau. Mulai hari ini kamu saya talak. Silahkan pergi dari rumah ini"
"Saya bilang pergi, Saya sudah bosan dengan wanita sepertimu"
*****
Tanpa terasa hari sudah berlalu. Malam datang begitu cepat. Malam ini Elzia berdiri di balkon kamarnya, Menikmati angin sepoy serta ribuan bintang yang bersinar indah di atas saja.
Malam ini suasananya cukup dingin dan juga sepoy. Hal itu membuat Elzia teringat akan kejadian siang tadi.
"Kasian Friska. Hanya karna dia ikut bersama aku mamanya malah ngamuk di tempat umum" ucap Zia sambil menatap ribuan bintang itu.
*Saat Elzia dan teman-temannya yang lain sudah sampai di warnet. Mereka langsung membeli voucher buat main game di sana.
Sedangkan Zaniya. Wanita itu sudah mojok bersama dengan Rafael. Kekasih gelapnya. Atau lebih tepatnya ban serep yang amat Zaniya sayang.
"Za, Aku sama Novi main game ya. Kalau urusan kamu sudah selesai dan mau pulang, Teriak aja" ucap Zia dan menyusul Novi yang sudah mengambil posisi.
"Yoi. Makasih karna kalian sudah mau paham sama aku juga Rafa"
__ADS_1
"Santai aja. Sudah biasa juga"
Dua jam sudah berlalu. Tiba-tiba saja ada orang tua yang tak lain adalah mamanya Riska. Wanita paruh baya itu terlihat sangat.
"Mana Riska?" tanya bu Amanah pada Zaniya..
Melihat ekspresi wajah mama Riska membuat Zaniya merasa sangat ngeri"D....didalam tante" balasnya.
"Siapa sayang? Kok serem banget wajahnya. Kayanya tante itu marah banget ya" ucap Rafael pada Zaniya.
"Iya, Sayang. Memang tante Amanah terlihat marah. Ada apa ya. Abis nanti si Riska. Mamanya kan pernah ngingetin kalo gak boleh bergaul sama Zia.
"Kenap begitu?" tanya Rafael yang merasa penasaran.
"Karna" Perkataan Zaniy terhenti saat teringat akan pesan Zia. Jangan sampai ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi antara keluarga Zia dengan keluarga Riska.
"Karna apa, Sayang?" tanya Rafael lagi.
Tak berselang lama, Riska sudah di seret keluar oleh mamanya dari dalam warnet. Hal itu tentu saja menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kamu budeg apa bagaimana. Bukan kah sudah mama bilang, Jangan pernah bergaul sama Zia. Kenapa kamu tidak mendengarkan apa yang mama kataka, RISKA!"
"Maafin Riska, Ma. Di sini kan bukan hanya ada Zia aja. Kita rame-rame" ucap Riska.
"Mama gak mau tau ya, Riska. Kamu pulang sekarang atau mama pindahkan kamu sekolah di tempat lain" ucap mamanya Riska dengan penuh penekanan.
"Tapi, Ma. Riska masih mau di sini"
"RISKA KAMU MAU PULANG BERSAMA MAMA TAU TETEP DI SINI? TAPI SIAP-SIAP AKAN MAMA PINDAH KAMU KE SEKOLAH LAIN!"
Mendengar itu membuat Riska mengambil nafas panjang, Wanita itu menoleh ke arah teman-temannya sambil menundukkan wajahnya sedih.
Entah ada hal apa yang sudah membuat mamanya Riska begitu membenci Elzia. "Sabar ya, Zi. Gak usah dengarkan apa kata mamanya Riska. Sudah lebih baik kita lanjut saja mainnya" ucap Novi sambil menepuk pundak Zia pelan*.
Dtttttt.......Dttttttt......Dtttttt
Suara dering ponsel itu menyadarkan Elzia dari lamunan kejadian saat di warnet siang tadi.
__ADS_1