
"Saya mau kita secepatnya menikah" ucap Alkan sambil menatap Elzia.
Hal itu membuat Elzia membulatkan kedua matanya, Apa saat ini dia sedang bermimpi. Elzia mengangkat satu tangannya dan menepuk pipinya sendiri.
"Apa aku sedang bermimpi" batinnya sambil mengedipkan kedua matanya.
"Saya mau kita segera menikah" ulang Arkan lagi.
"Apa! Jangan bercanda deh, Om. Ini bukan waktunya Main-main" jawab Zia setelah sadar jika apa yang baru saja dia dengar bukanlah sebuah mimpi.
"Saya tidak sedang bercanda, Apa lagi Main-main. Saya serius, Sangat serius" ucap Alkan lagi.
Perkataan itu membuat Zia semakin membulatkan kedua matanya"Om, Jangan kumat lah rese nya.Om kan tau Zia masih sekolah, Zia masih kelas 2 SMK, Masa iya om sudah mau kita segera menikah. Gak mau, Zia gak mau" balas Elzia penuh penekanan.
"Sayangnya ini bukan sebuah penawaran, Tapi kewajiban. Mau tidak mau, Saya akan mengajak kamu untuk segera menikah"ucap Arka lagi
Elzia menatap Alkanna dengan raut wajah sendunya. Tentu saja untuk saat ini Elzia tidak ingin menikah. Apalagi dirinya masih belum tamat sekolah, Usianya saja masih 17 tahun.
"Om, Aku mohon jangan lakukan itu, Om. Zia masih ingin sekolah, Zia masih ingin memiliki ijazah walaupun hanya sebatas ijazah SMK. Tolong om ngertiin Zia untuk kali ini saja" balas Zia yang terdengar sangat lirih.
Melihat raut wajah Elzia membuat Alkan merasa tidak tega"Baiklah, Tapi ada syaratnya" gumam Arka sambil menatap Elzia.
Mendengar kata syarat membuat Elzia mengerutkan kecil keningnya "Syarat? Syarat apa, Om? Kenapa harus ada syaratnya segala?" tanya Elzia yang merasa penasaran dengan syarat yang akan Arka berikan untuk nya.
"Syaratnya gampang, Dan kamu pasti bisa melakukan syarat itu" balasnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Katakan, Apa syaratnya, Om? "tanya Zia sambil menatap Arkan
" Syaratnya kamu harus menuruti apapun yang saya minta dan saya mau"
"Hanya itu?"
"Tentu, Kamu mau kan menerima syarat yang saya ajukan. Dengan begitu, Saya akan pastikan jika kita akan menikah setelah kamu lulus nanti"
"Deal. Zia setuju. Cepat katakan apa yang om inginkan?" tanya Elzia lagi.
"Keinginan saya sangat gampang. Tapi untuk kamu mau melakukannya saya belum yakin" ujarnya "Kenapa begitu, Om? Kalau yang om inginkan adalah hal yang gampang, Mana mungkin aku tidak bisa melakukannya" balas Zia sambil menoleh pada Alkanna.
"Memang hanya perkara gampang, Hanya saja saya tidak begitu yakin jika kamu bisa melakukan hal itu"
"Cepat katakan saja, Om. Jangan terlalu banyak bertele-tele" sergah Zia pada Arka.
Kalimat yang terlontar dari Arka tentu saja membuat Elzia merasa sangat terkejut"What! Aku masuk pesantren? Jangan bercanda deh, Om" balas Zia sambil menoleh pada Arka.
"Kan, Apa yang tadi saya bilang. Permintaan saya itu gampang, Namun bisa menjadi perkara susah buat kamu"gumam Arka sambil menatap Elzia.
"Minta yang lain kan bisa, Om. Kenapa harus masuk pesantren?"
"Gak bisa, Saya hanya mau itu. Kalau kamu tidak mau, Jalan satu-satunya adalah kita menikah"
Lagi-lagi perkataan Arka membuat Elzia menundukkan wajahnya sedih. Di satu sisi, Zia tidak mau segera menikah. Tapi di sisi lain Zia merasa berat untuk masuk pesantren.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau masuk pesantren, Apalagi menikah" batin Zia sambil menundukkan wajahnya.
"Bagaimana? Kamu mau masuk pesantren atau kita menikah secepatnya? Tidak ada kesempatan kamu buat tamatin sekolah"
"Semua pilihan ada di tangan kamu. Bukan kah masuk pesantren adalah perkara yang sangat mudah, Lalu kenapa kamu menyulitkan dirimu sendiri" seru Arka sambil menatap Elzia.
Elzia mengambil nafas panjang sejenak. Rasanya hari ini dirinya merasa begitu dilema dengan pilihan yang sudah Arka berikan untuknya.
"Om mau tau apa jawabannya? Kenapa Zia tidak mau segera menikah dan juga masuk pesantren" ujar Zia pada Arka.
Arka mengangguk"Tentu, Tolong berikan saya alasan yang kuat kenapa kamu tidak mau masuk pesantren? Bukan kah itu hal yang sangat mudah" titah Arka pelan.
"Memang sangat mudah. Tapi Zia masih ingin bebas om. Zia ingin menikmati masa-masa muda Zia dengan kebebasan" ujar Zia sambil terus menundukkan wajahnya.
"Berikan Zia waktu sampai Zia naik kelas tiga. Kalau Zia sudah kelas tiga, Zia mau menuruti permintaan om buat masuk ke pesantren" lanjutnya lagi.
Dari perkataan Elzia, Arka langsung bisa menyimpulkan jika Zia masih sangat ingin menikmati dunia luar. Dunia yang memang masih begitu Elzia nikmati. Kebebasan yang selama ini tak pernah dia dapatkan.
"Baiklah, Saya akan memberikan kamu kebebasan sampai kamu naik kelas tiga. Tapi kalau nanti kamu sudah kelas tiga, Saya mau kamu segera masuk ke pesantren"
"Beri Zia alasan kenapa om sangat ingin Zia masuk ke pesantren?" tanya Zia yang merasa sangat penasaran dengan alasan Arka yang ingin dirinya masuk ke pesantren.
Arka tersenyum mendengar pertanyaan Elzia "Jawabannya hanya satu, Sebagai seorang pria, Tentu saja saya ingin memiliki calon ibu yang baik buat anak saya. Oleh karena itu, Saya ingin kamu banyak belajar buat bekal menjadi istri sekaligus ibu yang baik buat anak-anak kita nanti" jawab Arka sambil tersenyum hangat padanyterB
Elzia terdiam mendengar jawaban yang Arka berikan untuknya. Tidak pernah menyangka jika pria rese seperti Arka bisa memiliki pemikiran seperti itu. Aah Elzia melupakan satu hal, Bukankah Arka adalah seorang ayah, Tentu saja dia ingin memiliki ibu sambung yang baik untuk anaknya.
__ADS_1
"Maafkan saya, Mungkin alasan saya terdengar kejam, Tapi satu hal yang harus kamu tau, Saya hanya ingin mempersiapkan kamu untuk belajar menjadi sosok seorang ibu serta istri terbaik yang kamu bisa. Karna saya sudah trauma dengan wanita yang terlalu hidup bebas seperti apa yang dia inginkan"