
Arka terus menatap raut wajah putrinya, Wajah itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Ada rasa luka yang begitu mendalam.
"Maafkan ayah. Naura. Maafkan ayah yang sudah membuat kamu merasakan broken home di usia yang tak seharusnya merasakan hal itu. Tapi ayah bisa apa, Tidak ada yang bisa ayah lakukan kecuali memenuhi permintaan mama kamu. Ayah janji, Suatu saat akan memberikan kamu kehidupan serta kasih sayang orang tua seperti yang seharusnya kamu dapatkan" batin Arka lagi sambi mengusap rambut Naura dengan penuh sayang.
"Ayah kenapa? Ayah kok mau nangis?" tanya Naura saat melihat kedua mata Arka sudah mulai berkaca-kaca.
Mendengar itu membuat Arka mendekat pada Naura dan memeluk erat tubuh mungilnya"Ayah tidak apa-apa kok sayang. Hanya saja ayah merasa sangat berat jika harus berpisah dari kamu. Ayah sangat menyayangi Naura" ucap Arka sambil memeluk erat tubuh Naura.
"Naura juga sangat menyayangi ayah. Buat Naura, Ayah adalah segalanya" balas Naura sambil ikut memeluk erat tubuh Arka.
Setelah perpisahan itu terjadi, Yasmine memang langsung pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Wanita itu benar-benar menghilang dan tak pernah memberikan kabar pada Naura.
Mendengar perkataan Naura membuat bayangan Arka kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu.
"*Aku lelah, Mas. Aku capek jika harus terus-terusan seperti ini. untuk apa aku menikah dengan kamu jika aku tau kamu akan jatuh miskin seperti ini" ucap Yasmine saat perusahaan keluarga Arka jatuh bangkrung.
"Kenapa kamu berkata seperti itu, Yasmine?" tanya Arka pada Yasmine sambil menggendong Naura yang masih berusia dua tahun.
"Kenapa kamu bilang. Eh mas. Hidup ini butuh yang namanya uang, Kalau perusahaan keluarga kamu saja sudah bangkrut, Bagaimana caranya kamu mencukupi semua kebutuhan aku, Mas!" ucap Yasmine dengan nada tingginya.
"Uang yang aku punya sangat cukup jika hanya untuk kebutuhan hidup, Yasmine. Kecuali buat gaya hidup, Uangku tak akan pernah cukup. Gaya hidup kamu terlalu berlebihan. Dan apa kamu tau apa penyebab perusahaan keluargaku hancur, Itu semua karna kamu yang terlalu boros Yasmine" balas Arka.
"Kenapa kamu malah salahin aku. Seharusnya yang perlu kamu salahin itu ya kamu. Kamu tak becus jadi pemimpin apalagi suami"ujar Yasmine dan langsung berlalu dari hadapan Arka.
"Kamu mau kemana, Yasmine?" tanya Arka saat melihat Yasmine mengambil koper sambil memasukkan beberapa baju miliknya.
"Itu bukan urusan kamu, Mulai hari ini aku pergi. Tolong talak aku sekarang juga, Dan aku juga akan mengurus surat-surat perpisahan kita di pengadilan" ucap Yasmine dan terus memasukkan semua barang-barang miliknya. Tak memperdulikan Arka ataupun Naura, Anaknya sendiri.
"Yasmine, Kamu jangan bercanda! Lihat Naura masih sangat kecil. Dia masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kita berdua. Tolong jangan pergi" seru Arka yang terdengar sangat lirih.
__ADS_1
"Aku tidak perduli. Mas." balasnya dan langsung keluar dari sana.
"Yasmine, Jangan pergi. Apa kamu gak kasihan sama Naura, Yasmine tunggu"
Yamine menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Arka. Melihat Yasmine kembali membuat Arka mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Aku tau kamu tak akan pernah tega sama kita bersua" ucap Arka bahagia.
Yasmine melirik Arka"Sayangnya kamu salah, Mas. Aku kembali bukan untuk mempertahankan pernikahan kita, Hanya saja aku ingin mengembalikan cincin nikah kita, Karna apa? Cerita kita sudah berakhir. Aku pergi" ucap Yasmine dan memberikan cincin itu pada Arka.
Mendengar perkataan Yasmine membuat hati Arka terasa sangat luka. Jantungnya berhenti berdetak, Dunianya seakan berhenti berputar. Tak pernah menyangka jika seorang Yasmine akan melakukan hal itu.
"Kenap kamu begitu tega sama aku dan juga Naura, Yasmine. Apa lupa Naura masih sangat membutuhkan mu*"
"Arka, Nanti kamu berangkat jam berapa?" suara itu membuyarkan lamunan Arka dari kejadian tiga tahun yang lalu.
"Eh. Kak Dina. Nanti Arka berangkat jam delapan kak. Arka titip Naura ya kak" sahut Arka pada Dina, Kakanya.
Di Tempat Lain
"Kenapa kamu Zia? Aku perhatiin mulai tadi diem aja. Sudah kangen sama si om duren" ucap Novi sambil menyenggol tangan kanan Elzia.
"Husss, Jangan sebut-sebut om rese di sini. Kamu lupa kalau mereka belum ada yang tau" balas Elzia yang hanya berbisik pada Novi.
Hal itu tentu saja membuat Eer sama Zaniya mengerutkan kecil keningnya. Mereka menatap curiga pada Novi dan juga Zia. "Apa yang sedang kalian sembunyikan?" tanya Zaniya sambil menatap curiga ke arah Novi.
"Gak ada apa-apa kok Za. Biasalah si Zia. Dia kan suka aneh-aneh"
"Aneh-aneh bagaimana?"
__ADS_1
"Kayak gak kenal Zia aja kamu za. Oh iya, Bagaimana Rafael? Apa kamu sudah bilang sama dia kalah Alex ngelamar kamu?" tanya Novita yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mendengar pertanyaan Novita membuat Zaniya menundukkan wajahnya sedih. Pasalnya memang Zaniya belum mengatakan apa-apa pada kekasihnya Rafael perihal lamaran Alex.
"Belum, Nov. Aku belum siap. Gimana ini, Aku gak mau nikah sama Alex" ucap Zaniya yang terdengar sangat lirih.
Perkataan Zia membuat Novi dan Zia saling lirik sambil mengulum bibir"Kenapa kalian malah begitu?" tanya Zaniya pada mereka berdua.
"Sukuuuur, Siapa suruh main-main sama si Alex. Udah tau dia begitu. Kamu sih gak dengerin apa saran kita waktu itu" ucap Zia pada Zaniya.
Jangan begitulah Za, Ingat loh. Alex itu orangnya seriusan. Apalagi kamu sudah mengambil banyak barang-barang yang dia kasih. Awas nanti ada akibatnya loh ya.
Suara Novita waktu itu kembali terngiang pada indra pendengaran Zaniya. Dan membuat Zaniya mendekat pada Zia dan Novi.
"Bantuin aku. Bantuin aku bagaimana caranya menolak Alex. Karna jujur saja aku sayangnya sama Rafael. Please help me" ucap Zaniya pada Novi dan Zia.
"Itu derita kamu Za. Makanya jangan main hati" ucap Novita.
"Ih Novi begituan. Kayak kamu nggak aja"
"Aku mah setia" balas Novita sambil tersenyum.
"Hoax Hoax. Setia apaan, Setiap tikungan ada. Begitu Nov" timpal Eer yang sejak tadi hanya diam dan menyimak.
"Ssssstttt. Diem napa, Jangan buka kartu" sergah Novi cepat.
"Jadi kamu juga ada serep Nov?" tanya Zaniya sambil menatap Novi.
"Jaga-jaga aja sih. Soalnya si Dirga beberapa kali aku liat chatting sama cewek. Jadi ya bagaimana. Dia begitu aku juga bisalah. Cukup sekali sakit karna cinta. Aku gak mau mengulang rasa sakit itu lagi. Jadi sedia payung sebelum hujan"
__ADS_1
"Good. Sedia payung sebelum hujan, Sedia serep sebelum sakit. Begitu kah" timpal Zia.
"Terserah kau sajalah Zia"