
"Ini sih benar-benar duda limited edition nov, Sangat berkualitas" ucap Zia dalam batinnya sambil terus menatap Arka yang sedang mengemudi.
"Kenapa liatin saya seperti itu? Sudah mulai terpesona sama ketampanan calon suami mu ini. Hmm" ucap Arka pada Elzia.
Mendengar itu membuat Elzia mengangkat sebelah sudut bibirnya "Ih apaan sih om, Kepedean sekali. Buat aku ok itu sama sekali gak menarik. B aja begitu juga, Ganteng dari mana" seru Zia pada Arka.
Arka mengangkat kedua sudut bibirnya"Masak sih. Tapi raut wajah kamu itu sudah nampak jelas jika kamu terlihat terpesona sama ketampanan saya, Kamu tertarik kan sama saya, Ngaku saja tidak perlu malu-malu" ucap Arka sambil mengulum bibir.
Perkataan Arka membuat Elzia mengerutkan keningnya "Ih dasar memang, Sudah om-om, rasa pedenya tinggi. Siapa juga yang mau tertarik sama orang kayak om. Udah tua, Ngeselin. Gak ada baik-baiknya" ucap Zia pada Arka.
"Masa sih, Hati-hati loh ya, Nanti saya pelet kamu dan buat kamu cinta mati sama saya. Mau?" ujarnya"Coba saja, Kagak bakalan mempan sama aku, Om hanya akan buang-buang uang doang" sahut Zia sambil melirik Arka.
"Baiklah, Jika nanti kamu sudah cinta mati, Jangan salahkan saya loh ya"
"Ya ya ya, Coba saja. gak bakalan bisa"
"Kita lihat saja nanti, Akan saya pastikan kamu cinta mati sama saya" seru Arka sambil mengulum bibirnya.
"Terserah om sajalah mau mengatakan apa" balas Zia sambil menatap keluar arah jendela.
Setelah itu. Mereka melalui perjalanan hanya dengan keheningan saja, Tidak ada pembicaraan antara Arka dan juga Elzia. Elzia memilih fokus menatap ke luar jendela, Begitu juga dengan Arka yang memilih fokus pada jalanan.
Malam ini jalanan tidak terlalu padat. Sehingga Arka hanya membutuhkan waktu 35 menit untuk tiba di rumah Elzia.
__ADS_1
Saat sudah tiba di rumah Elzia. Ternyata kakek dan juga neneknya sedang duduk santai di depan rumah sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya membuat kakek Awi dan juga nenek Hanum saling lirik. Hingga tak berselang lama mereka melihat seorang pria keluar dari dalam mobilnya.
"Siapa pria itu, Kek?" tanya nenek Hanum pada kakek Awi yang memang belum tau jika itu adalah Arka, Calon suami dari cucu kesayangan mereka.
Biarpun mereka tinggal di kota yang sama. Namun sangat jarang ada yang tau pada Arka. Karna selama ini Arka selalu menghabiskan waktunya di malaysia. Bekerja dan membuka usaha di sana. Sehingga siapa sangka jika usaha yang dia bangun bisa berkembang pesat akhir-akhir ini. Tepatnya setelah perpisahan dengan mantan istrinya.
"Mana kakek tau, Nek" sahut kakek Awi sambil terus menatap sosok yang saat ini sedang membukakan pintu mobil
Tak berselang lama mereka melihat seorang gadis cantik keluar dari dalam mobil itu. Kedua orang tua itu tidak menyangka jika adalah cucu mereka,Elzia. Apalagi mengingat tadi pagi Elzia berangkat dengan menggunakan tren mass kini, Dan saat ini pulang dengan menggunakan sebuah dress yang sangat cantik.
"Siapa mereka ya kek?" ucap nenek Hanum lagi. Karna saat ini Elzia dan Arka sedang berjalan menuju rumah Elzia.
"Assalamualaikum" ucap Zia seperti biasanya.
"Kenapa suara anak ini mirip sama suara Zia" batin nenek Hanum sambil terus menatap Elzia.
"Assalamualaikum, Kok gak di sahutin sih nek, Kek. malah latin Zia sampel begitu lagi" ucap Zia sambil mendekat pada kakek dan neneknya.
Wanita itu mengambil punggung tangan kakek Awi dan juga nenek Hanum. Mencium punggung tangannya seperti biasa.
"Waalaikum salam" balas nenek Hanum sambil terus menatap Elzia tanpa berkedip. Karna memang ini adalah pertama kalinya nenek Hanum melihat cucunya berpakaian ala wanita. Terlihat sangat feminim dan juga anggun.
__ADS_1
"Yang bener kamu itu Zia?" tanya nenek Hanum sambil terus menatap Elzia.
"Ya iylah nek. Memangnya nenek pikir aku siapa. Masa gak bisa ngenalin cucu sendiri. Nenek ini ada-ada saja deh"
"Ya bukan seperti itu, Zia. Selama ini kan kamu gak pernah berpakaian seperti itu. Apalagi dandan kayak bidadari begini. Nenek sampek pangling liatnya. Kamu cantik sekali Zia" puji nenek Hanum yang memang merasa sangat pangling akan penampilan Elzia malam ini.
"Iya, Zia. Bahkan kakek juga tidak bisa mengenali jika ini kamu. Kamu benar-benar cantik sekali. Tadi kakek pikir kalian itu pasangan suami istri, Habisnya terlihat sangat serasi" timpal kakek Awi sambil terus menatap Elzia.
Mendengar perkataan kakek dan juga neneknya membuat tawa Elzia seketika pecah.
"Hahahhah. Nenek sama kakek ada-ada saja sampek gak bisa mengenali cucu sendiri. Zia kan memang cantik. Hanya saja selama ini Zia itu males yang mau dandan takut malah bertemu sama buaya darat"
"Buaya darat? Memangnya ada?" tanya nenek Hamum
"Banyaklah nek" balas Elzia sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Namun sebelum itu, Elzia masih menoleh ke arah Arka.
"Om langsung pulang saja sana. Zia mau tidur sudah ngantuk berat. Babay om ngeselin" ucapnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Namun langkahnya terhenti saat suara Arka menyapu indra pendengarannya.
"Maksudnya ini ngusir apa bagaimana?"ucap Arka dan membuat Zia membalikkan tubuhnya"Kurang lebih seperti itu. Zia masuk dulu, Kalau om gak mau pulang ya silahkan ngobrol sama nenek dan juga kakek. Kalo Zia mah udah ngantuk parah ini" ucap Zia lagi dan benar-benar langsung masuk ke dalam rumahnya.
Arka hanya mengulum bibir sambil menatap punggung Elzia"Anak ini benar-benar menggemaskan. Memang benar apa yang di katakan kakek dan neneknya, Zia sangat cantik, Bahkan aku saja di buat pangling dengan penampilannya yang seperti itu, Berubah 180°" batin Arka sambil mengulum bibitnya dan menatap pintu kamar Zia yang sudah tertutup rapat.
__ADS_1