
Dttttttt...... Dtttttt.... Dttttttt
Suara dering ponsel itu menyadarkan Elzia dari bayangan kejadian tadi siang. Elzia mengambil ponselnya dan menatap ponsel itu. Ternyata di sana tertera nama om rese di layar ponselnya.
"Ngapain si om rese telpon aku" ucapnya sambil terus menatap layar ponsel itu.
📲:Halo, Om. Ada apa telpon aku?
📲:Kamu kenapa? Kenapa suaranya serak begitu?
📲:Oh gak papa kok, Om. om ada apa telpon aku?
📲:Jangan bohong, Saya tau kalau saat ini kamu sedang sedih. Ayo ada apa? Kamu bisa cerita sama saya
📲:Lain kali saja Zia ceritanya. Om ada apa telpon aku?
📲:Baiklah. Saya telpon kamu hanya mau mengabarkan jika saya malam ini akan kembali ke malaysia. Jangan rindu
📲:Ish om. Jangan kumat ngeselin nya. Mana mungkin aku mau rindu sama om rese.
📲:Ya kali aja kamu bakal rindu sama saya. Saya pamit ya. Jaga diri baik-baik di sini.
📲:Iya, Om Om hati-hati. Awas jangan kangen sama Zia.
Setelah itu, Sambungan telpon terputus. Elzia menatap layar ponselnya yang masih menunjukkan gambar anak kecil dari nomor Arka.
"Siapa anak ini?" ucap Zia yang terlihat sangat penasaran.
Elzia memang belum tau akan wajah anak Arka, Karna saat Elzia datang kerumah itu, Naura sedang tidur.
Setelah itu. Elzia naik ke atas ranjang, Merebahkan tubuhnya dan merenggangkan otot-otot tangan dan juga kakinya.
"Hari ini rasanya capek banget. Uuh, Kenapa akhir-akhir ini aku malah sering males" ucap Zia sambil mencoba memejamkan kedua matanya.
Di Tempat Lain
Setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Elzia. Arka langsung mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke malaysia.
"Arka"
Suara itu membuat Arka membalikkan tubuhnya dan menatap sosok wanita tua yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, Bunda. Ada apa?" tanya Arka pada bunda Aminah.
"Kenapa kamu harus buru-buru kembali ke malaysia. Apa kamu tidak rindu pada Naura. Kamu kan baru sehari di sini" tanya bunda Aminah sambil menatap Arka.
Arka mengambil nafas panjang sejenak, Menatap raut wajah bundanya yang sudah semakin menua.
"Bunda. Kalau di tanya soal rindu, Jujur Arka sangat merindukan Naura dan juga bunda. Arka juga ingin lama-lama di sini. Tapi mau bagaimana lagi, Bunda. Ada pekerjaan yang harus Arka selesaikan" ujar Arka yang terdengar sangat lirih.
"Semoga segala urusan kamu di mudahkan dan dilancarkan ya sayang. Bunda paham kok" seru bunda Aminah sambil membelai rambut Arka dengan penuh rasa sayang.
Di keluarga itu, Memang Arka adalah satu-satunya anak laki-laki. Karna kedua saudara Arka adalah perempuan.
"Amin. Terimakasih bunda. Berkat doa bunda juga Arka bisa kuat dan bisa berada di titik ini lagi" gumam Arka sambil menatap wajah sang bunda.
"Tidak perlu berterimakasih, Sayang. Karna memang sudah tugas bunda sebagai seorang ibu untuk mendoakan yang terbaik buat anaknya. Bunda juga berdoa, Semoga Zia menjadi yang terbaik sekaligus wanita terakhir dalam hidup kamu ya. Ingat, Jangan pernah melakukan kesalahan yang dulu pernah kamu lakukan"
Mendengar itu membuat Arka mengambil nafas panjang serta menundukkan wajahnya. Karna rasa cinta Arka yang dulu terlalu besar kepada Yasmine sampai membuat Arka tanpa sadar terlalu memanjakan wanita itu. Sehingga membuat Yasmine hidup dengan gaya sosialitanya yang berlebihan.
"Iya, Bunda. kejadian masa lalu itu sudah Arka jadikan sebagai pelajaran"
"Iya sayang, Karna pada dasarnya, Wanita jangan terlalu di manja. Bisa jadi dia akan semakin menuntut hal yang lebih dan lebih. Sewajarnya saja. Jika memang kamu sangat mencintai pasanganmu, Lebih baik didik dia menjadi wanita sholeha yang akan menjadi bidadari di surga kelak" ucap bunda Aminah lagi.
"Terimakasih karna bunda sudah mau mengingatkan Arka. Arka menyesal dulu sudah terlalu memanjakan Yasmine, Bunda. Arka sangat menyesal"
"Iya, Bunda. Arka pamit ya, Bunda. Arka titip Naura" ucap Arka pada Aminah.
"Iya sayang, Kamu hati-hati di jalan ya. Nanti kalau sudah sampai kabarin bunda"
Setelah itu, Arka keluar dari dalam kamarnya sambil membawa koper di tangan kanannya. Bunda Aminah hanya mengekor di belakang Arka sambil menatap langkah Arka yang terlihat sangat berat.
"Bunda tau, Sebenarnya posisi ini sangat sulit buat kamu, Ar. Semoga di setiap langkah mu menjadi lillah dan berkah Ar. Bunda selalu berdoa untuk kebaikan kamu. Semoga saja suatu saat nanti kamu akan bisa mewujudkan hal yang selama ini Naura harapkan. Semoga Zia bisa menjadi yang terbaik sekaligus yang terakhir buat kamu" ucap bunda Aminah dalam batinnya sambil terus menatap Arka.
"Sayang, Ayah berangkat dulu ya. Lain kali ayah akan pulang lebih lama lagi, Maafkan ayah yang belum bisa mewujudkan harapan kamu" seru Arka sambil memeluk Naura erat dan membelai lembut rambut anak itu.
"Hati-hati di jalan ya ayah. Naura sayang banget sama ayah. Ayah gak usah pikirkan perkataan Naura, Itu hanyalah anganan Naura saja" balas Naura sambil mencium pipi kanan Arka.
Setelah cukup lama Arka memeluk Naura, Akhirnya pria itu melangkahkan kakinya keluar dari kediaman kedua orang tuanya. "Arka pamit ayah, Bunda dan semuanya. Assalamualaikum" ucap Arka dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Waalaikum salam" balas mereka secara bersamaan.
"Kita berangkat nih om?" tanya Devan pada Arka.
__ADS_1
"Iya, Devan" balasnya sambil menatap Devan.
Sedetik kemudian, Arka baru teringat akan peristiwa kemarin malam saat di meja makan. Mengingat hal itu membuat Arka menatap Devan. Ada beberapa hal yang sangat mengganggu pikirannya.
"Devan" panggil Arka sambil melirik pada Devan yang saat ini sedang fokus mengemudi.
"Iya, Om. Ada apa?" sahutnya.
Arka tak langsung menjawab. Masih diam sambil terus menatap Devan dengan tatapan tak menentu. Devan yang menyadari tatapan Arka mengerutkan kecil keningnya.
"Kenapa om liatin aku seperti itu? Memangnya ada yang salah?" tanya Devan penasaran.
"Om boleh tanya sesuatu sama kamu? Tapi kamu harus jawab sejujur-jujurnya" gumam Arka sambil terus menatap Devan.
"Mau tanya apa, Om? Tanya aja elah. Masih pakek tanya lagi sama Devan"
"Kamu kenapa bisa putus sama Zia?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Arka membuat Devan menginjak rem dan menghentikan mobilnya."Kenapa om tanya seperti itu?" tanya Devan yang mulai terlihat bingung.
"Saya hanya tanya. Tinggal jawab saja kan. Kenapa hubungan kamu sama Zia harus berakhir?" ulang Arka lagi.
Devan masih tak menjawab. Pria itu seketika menjadi gugup serta bingung dengan apa yang harus dia katakan pada omnya. Hingga tiba-tiba saja suara Zia terngiang begitu saja.
Jangan pernah bilang apa alasan hubungan berakhir. Karna aku gak mau merusak image di depan om Arka. Kalau sampai kamu bilang yang sebenarnya, Siap-siap saja akan aku adukan pada om Arka jika selama ini kamu sering keluar masuk club.
Suara itu tiba-tiba saja terngiang pada indra pendengaran Devan"Duh. Apa yang harus aku katakan pada om Arka. Gak mungkin kan aku mengatakan jika hubungan kami berakhir karna Zia selingkuh. Secara kan dia memang playgirl savege. Tapi Zia sudah mewanti-wanti agar aku tidak mengatakan hal itu. Aku juga masih belum siap jika seandainya Zia mengatakan bahwa selama ini aku sering keluar masuk club tanpa sepengetahuan mama dan juga om Arka. Bisa-bisa uang transferan macet kalo sampek om Arka tau bagaimana aku di luar" ucap Devan dalam batinnya sambil berusaha mencari Alasan yang tepat atas pertanyaan Arka.
"Kenapa kamu diam saja, Devan?" tanya Arka lagi. Karna Devan masih bungkam tak memberikan jawaban apa-apa.
"Hubungan kami berakhir karna Devan ketahuan selingkuh, Om. Biasalah Devan. Kalau sudah bosan pasti suka mencari lagi yang baru. Heheh" jawab Devan pada Arka.
"Oh pantes. Tapi kamu sudah gak ada perasaan sama Zia kan?" tanya Arka lagi.
"Kalau di tanya soal perasaan. Tentu saja masih ada, Om. Karna mau bagaimanapun. Zia adalah wanita yang paling spesial dalam hidup aku" batin Devan yang memang masih memiliki sisa rasa akan Elzia.
"Ya tentu saja nggaklah om. Kan Devan sudah punya pacar baru. Makanya selingkuhi Zia waktu itu" ucap Devan yang masih berbohong.
"Baguslah kalau begitu. Karna tidak lucu jika om harus bersaing sama kamu" balas Arka sambil menepuk pundak Devan pelan.
"Maafkan Devan, Om. Maafkan Devan yang tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Sebenarnya hingga detik ini. Perasaan Devan masih tersisa buat Zia. Karna Devan belum menemukan wanita pengganti yang sepertinya. Dia hampir mendekati kata Sempurna. Biarpun Zia playgirl, Devan tau dia wanita baik. Hanya saja trauma masa lalunya sudah merubahnya seperti itu" batin Devan sambil kembali melajukan mobilnya pelan
__ADS_1
Setelah itu, Tidak ada lagi pembicaraan antara Arka dan juga Devan. Devan memilih fokus mengemudi, Sedangkan Arka fokus membayangkan wajah jutek Zia yang selalu mampu membuatnya mengulum bibir karna kelakuannya.
"Anak kecil itu sudah meninggalkan bekas senyuman yang akan menjadi candu baru untukku. Ah, Rasanya aku akan sangat mudah jatuh cinta padanya" batin Arka sambil mengulum bibirnya