
Malamnya, aku menelpon Hulya untuk mengajaknya jalan, tapi ditolaknya, masih ada urusan katanya, saat kutanya urusan apa itu, tidak dijawab olehnya, malah dia nanya balik "Jalan ke mana? Aku belum bisa, aku harus ikut yah? Tidak kan? Nanti aja yah kapan-kapan" kata Hulya. Mendengar perkataan Hulya itu sedikit membuatku kecewa, walaupun begitu aku tetap berusaha untuk tidak marah, "Oh iya Hul" jawabku singkat. Setelah itu aku mematikan telponnya, kemudian ditelpon balik sama Hulya "Kamu marah?" tanya Hulya,
"tidak Hul, aku lagi malas aja" kataku,
"karna aku kan?" tnya Hulya lagi,
"tidak Hul, iya aku tidur dulu yaa. Besok harus ke kampus soalnya" Jawabku,
"jam berapa? aku temenin yah" tawar Hulya,
"Terserah kamu aja, tapi selesaikan dulu urusanmu itu" kataku,
"iya Ndi" Jawab Hulya "udah ya, aku juga mau tidur, Assalaamualaikum Ndi",
"Waalaikumussalaam Hul" setelah itu kumatikan telponnya.
Aku bertanya-tanya, urusan apa yang hendak Hulya kerjakan sampai dia menolak ajakan ku tadi, ah mungkin sesuatu yang penting, tapi kenapa dirahasiakannya? Urusan keluarga kali ya, ah sudahlah, pikirku. Tak terasa mata ku sudah terasa berat, jadi kuputuskan untuk tidur. Keesokan paginya, tante membangunkan ku, ada tamu katanya. Saat aku keluar, kulihat Hulya sudah menungguku di ruang tamu, dengan menggunakan setelan yang sangat anggun juga indah, perpaduan antara navy dan hitam yang merupakan warna favoritku. "Dasar tukang tidur" Kata Hulya,
"hehe, maap. Udah selesai urusannya Hul?" tanyaku,
"Belum Ndi, kenapa?"
"trus kamu hanya di sini, kelarin dulu urusanmu itu" kataku agak sedikit gugup, karena aku sudah duduk tepat di depannya,
"urusanku itu yah denganmu Ndi, kita kan kemarin sudah resmi jadian, yang mau aku urusin itu yah kamu " kata Hulya dengan sedikit tersenyum malu,
"Tau ah, tidak jelas" kataku malu-malu, "Berarti jadi jalan nya?" tanyaku
"Iya" Jawab Hulya dengan senyum yang yang teramat manis, Jujur saja senyum Hulya adalah yang terindah saat ini, dan entah kenapa senyumnya kini adalah canduku, membuat dia tersenyum dan tertawa adalah kebahagiaan juga kebanggaan tersendiri untuk ku.
"yasudah, aku pergi mandi dulu, boleh?" tanyaku ke Hulya,
"iya, jangan lama-lama tapi ya, kalo lama-lama aku susul loh" kata Hulya,
"Jangan dong" kataku tertawa malu, lalu pergi ke ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, aku sudah selesai ganti pakaian, aku lalu menghampiri Hulya yang sedang asik berbicara dengan tanteku, karena berhubung hari ini adalah hari libur, jadi tanteku tidak masuk kerja.
"Hul udah nih" kataku memotong pembicaraan mereka,
"Mau ke mana Ndi?" tanya tanteku,
"Ke Kampus aja Tante" Jawabku,
"Kok ke kampus aja, gak bosan apa" kata tanteku,
"Tujuan pertamanya ke kampus tante, setelah itu nanti Andi pikirkan" jawabku,
"Kita pikirkan" Potong Hulya sambil kembali tersenyum ke arahku, dan terjadilah saling pandang antara aku dan Hulyaa,
__ADS_1
"Hati-hati ya" kata tanteku seakan mengerjai aku yang seakan tidak berkedip ketika memandangi Hulya.
"eh, iya tante siaap, Andi pergi dulu yah" kataku,
"KITA PERGI DULU" kata Hulya yang sedikit menekan nada bicaranya sambil melihat ke arahku seakan sedikit kesal,
"Oh iya, Kita lergi dulu ya tante" Kataku
"Iyaa, Hati-hati" jawab tanteku. Kupandangi Hulya sedikit tersenyum karena aku menggunakan kata "Kita". Bahagia itu sederhana ya, pikirku.
Dengan menaiki Motor Hulya, kita berdua melaju melintasi jalan yang agak renggang pagi itu, aku sedikit malu pada Hulya, karena Jalan-jalan pertama harus menggunakan motornya, yah meskipun dia juga sadar bahwa aku anak rantau dan juga tidak berpikir seperti spa yang aku pikirkan, tapi tetap saja itu mengganggu pikiranku. Di perjalanan, Hulya meminta untuk berhenti di sebuah warteg pinggir jalan, "Aku lapar" kata Hulya. Saat makan pun, ketika aku mau bayar, eh taunya dia sudah mengelabuiku, hak ini semakin menambah beban pikiranku yang membuatku agak minder ke Hulya. "gak usah ke Kampus yah, kita ke Pantai aja, oke?" tawar Hulya .
"hm okeh, pantai dekat sini arah mana?" tanyaku,
"oh tinggal lurus aja, trus belok ke kiri" kata Hulya,
"siap bos" jawabku, kira-kira satu jam kemudian kita sudah sampai di pantai Wediombo, "bentar yah, aku parkir motor dulu" kataku me Hulya,
setelah memarkir motor, Hulya mengajakku untuk berjalan ke arah bibir pantai yang berupa bebatuan besar. Aku takjub akan keindahan yang kulihat, kemudian kami berjalan lagi ke bibir pantai yang lain, setelah sampai di pantai yang berpasir putih kekuning-kuningan, Hulya mengajakku untuk duduk berteduh di bawah pohon sembari meminum es kelapa muda yang tadi kami beli. Saat panas mulai terasa di badan, kami memutuskan untuk pulang, di perjalanan Hulya kembali mengajakku ke pulau Timang, katanya tidak jauh dari pantai Wedimbo.
Di perjalanan, aku banyak mendengar cerita dari Hulya, mulai dari masa kecilnya sampai dengan sekarang, bahkan dari ceritanya baru kutahu ternyata on Andi dan istrinya pisah sejak Hulya masih kecil, Hulya hanya bisa bertemu dengan ibunya ketika hari raya Idul Fitri saja, karena ibunya sudah pindah ke tempat yang jauh, yaitu Aceh. "Trus sekarang masih ada kontak dengan mama kamu?" tanyaku,
"ya jarang. terahir nelpon bulan kemarin, pas aku bilang rindu ke mamaku itu loh" jawab Hulya
"Oh itu" kataku yang sedikit berpikir, sedih juga kisah hidupnya Hulya.
Sesampainya Pulau Timang, kami hanya bisa menikmati oulau tersebut dari jauh, karena kita berdua takut untuk menyebrangi jembatan sebab ombak di bawah sedang ganas-ganasnya. "Ndi, foto yuk" kata Hulya yang langsung mendekatkan dirinya ke tubuhku,
"malu foto sama aku? yaudah" jawab Hulya.
"bukan, malu dilihatin orang" kataku lagi,
"iya, gak ada juga yang maksa" jawab Hulya yang kemudian membuat jarak agak jauh denganku,
"marah ya?" tanyaku,
"gak, kesel aja" jawab Hulya jujur,
"hm yaudah deh, ayo foto, aku yg pegang hp nya" tawarku,
"bener?" tanya Hulya dengan senyum manis nya
"iya Hul" kataku meyakinkan, Hulya kwmudian mendekatkan kembali tubuhnya ke tubuhku, dan setelah berpoto, kulihat Hulya sangat senang, dan entah mengapa aku juga ikut senang melihatnya. "Bagus, makasih ya" Kata Hulya dengan senyum yang semakin merona,
"Iya Hul. Kita ke mana lagi?" tanyaku,
"kita tunggu sunset di sini aja, oke?" tawar Hulya
"Boleh, trus Magribnya di mana?" tanyaku,
__ADS_1
"Iya ya, tapi aku suka, gimana kita cari jalan di tepi pantai aja, oke?" Saran Hulya
"Boleh juga, yuk" ajakku sambil memegang tangannya, maksudnya lengan bajunya.
"iya" kata Hulya yang kulihat sangat teramat senang, merah merona di pipinya semakin terlihat jelas, padahal dia sama sekali tidak menggunakan make up.
"kita beli minum dulu yah, Haus nih" kata Hulya,
"siap bosku" jawabku, setelah menghidupkan motor.
"Andi, di sini kayaknya bagus deh" kata Hulya sambil menepuk pundakku.
"iya, dekat masjid juga, jadi bisa sekalian" jawabku,
Setelah kembali berfoto berdua, kita duduk-duduk di motor sambil menunggu matahari tenggelam. Setengah jam kemudian matahari sudah akan tenggelam, perpaduan perah dgn birunya laut menghasilkan pemandangan yang sangat indah dipandang mata, akan tetapi tetap saja, senyum Hulya adalah yang terindah, pikirku.
"Yuk Sholat" ajakku,
"iya" jawab Hulya singkat.
Setelah selesai sholat, kami memutuskan untuk langsung pulang, di jalan giliran aku yang banyak bercerita mengenai hidupku, dari aku lahir sampai dengan sekarang, Kulihat dia sangat antusias terhadap ceritaku. Entah karena kedinginan, aku merasa Hulya sedang memegangi bagian samping perutku, dalam hati aku berpkir apakah aku perbolehkan saja dia untuk memelukku?, kemudian, aku memberanikan menyentuh tangannya, sangat dingin kurasa, kupandangi dia dari Sepion motor, agak pucat kurasa.
"kamu kedinginan yah? Nih jaket ku, kamu pake ya" tawarku,
"gak Ndi, aku hangat kok" jawab Hulya yang tidak lagi kudengar, kupinggirkan motor dan berhenti lalu melepas jaketku dan memakaikannya di badannya. "dipake ya, pergi sehat pulangnya juga harus sehat" kataku meyakinkan dia. Kulihat lagi-lagi Hulya tersenyum sangat manis, meski wajahnya agak pucat, tapi tetap saja tidak bisa menutupi kecantikannya. Setelah kunyakakan motor, kita melanjutkan perjalanan dan setibanya di rumah Hulya sekitar jam 10 malam, "Maaf Om, aku bawa motornya pelan, jadi pulangnya kemalaman begini" kataku
"iya gak apa-apa, penting pulangnya selamat, masuk dulu minum yang angat-angat" kata om Andi sambil menawarkan ku untuk masuk,
"Iya makasih Om, tapi kayaknya aku langsung pulang aja, soalnya cuma numpang sama tante, gak enak" jawabku.
"oh yasudah, motor Hulya dipake dulu, ja gan dijual tapi" canda om Andi.
"Iya makasi om, aku pamit ya om" sambil menyalami Om Andi, "Aku pamit ya Hulya" sambil kupandangi dia yang juga berdiri di depanku di samping ayahnya. "Iya Ndi, makasih ya untuk hari ini, hati-hati" ucap Hulya dengan senyum yang masih saja manis di wajah lelahnya. Setelah pamit, aku mendengar teriakan dari lantai dua rumah Hulya, "Cieee kak Andi, hati-hati di jalan yaa" teriak Cipa dari jendela kamar.
"Iya iya, aku pergi dulu yaaa" teriakku sambil menyalakan motor,
"motornya jangan dijual" teriak Cipa lagi,
"Gak mungkin lah" teriakku kagi sambil tertawa, kubunyikan klakson sebagai pamitan terahir, dan sesampainya di rumah, syukurlah, tante belum tidur, dan setelah pintunya dibuka, tante menyuruhku mandi lalu makan. Setelah mandi dan makan, kembali aku melihat poto-poto yang aku dan Hulya ambil tadi, kupandangi senyum Hulya yang sangat manis itu, Kupandangi juga matanya yang sama-sama indah, bentuk hidungnya, juga lesung pipinya. 'Beruntung sekali aku' pikirku. Setelah mengubah Walpaper ponsel dengan poto berduaku dengan Hulya, aku tertidur.
Zzzzzzzzzzz Zzzzzzzzzzz ZzzzZzzzzzzz
ponselku bergetar, kulihat Hulya menelponku. "Belum tidur? Kenapa?"
"ini udah mau tidur Hul, kamu udah enakan? istrahat dulu yaa" kataku ke Hulya,
"iyaiya Ndi, sekali lagi makasih ya, Assalaamualaikum"
"Iyah sama-sama Hul, Waalaukumussalaam Hulya ku" jawabku,
__ADS_1
"Iya andiku" kata Hulya yang kurasa sangat senang karena menambahkan kata KU dinamanya. Dan setelah mematikan telepon, aku kemudian langsung tertidur.
bersambung.........