
Hari-hari berikutnya sama saja, tidak ada yang berubah, kecuali hubunganku dengan tanteku. Dikarenakan padatnya jam belajarku, aku jadi jarang membantu tanteku untuk bersih-bersih rumah, sehingga membuatku jadi agak takut kalau ketemu tanteku, tapi sepertinya dia biasa saja, mungkin akunya yang terlaku berlebihan memikirkannya, mungkin dia juga paham keadaanku, tapi dia jadi jarang bicara kepadaku, bahkan pernah seharian aku dan tanteku tidak pernah bicara, padahal aku seharian penuh ada di rumah. Kondisi inilah yang membuatku berfikir untuk ngekos saja, tapi pasti jadi tambahan beban buat orang tua, jadi aku dengan terpaksa tetap tinggal di rumah tanteku.
"Andii, Andi bangun" teriak tanteku dari luar kamar "udah jam 8 nih, katanya ada kelas jam 8" lanjutnya. Aku sontak kaget, langsung kubangun dan ke kamar mandi, sikat gigi cuci muka ganti baju, semua kulakukan hanya 5 menit. Aku lun langsung ke kampus setelah berpamitan kepada tanteku, kali ini aku menaiki sepeda tanteku yang biasa aku pakai kalau ke kampus. Setibanya di kampus, kulihat jam tanganku menunjukan waktu 8.20, waduh telat nih, kulihat hp ku ada 12 panggilan tak terjawab dan beberapa sms dari yusuf juga andri, lalu kubuka pesan itu, isinya "Ndii, di mana? Pak hasan udah di dalam kelas nih" tulisnya, terkirim jam 8.02 berarti aku terlambat 18 menit, kubuka lagi pesan 1 nya, isinya "masih bisa masuk kalau belum terlambat 20 menit katanya, cepat buruan". Membaca pesan itu, sontak aku langsung memakirkan sepedaku, lalu berlari ke kelas. Dan sesampainya di depan kelas, waktu menunjukan pukul 8.26, kuketuk pintu kelas, lalu kubuka, ucapkan salam, pak hasan memandangiku dan berkata "nggak sholat subuh kan?", "Sholat pak, tapi habis itu tidur lagi" kataku ngosngosan. "Yaudah tidur lagi noh di bangku" kata pak hasan mengejekku dan tertawa sehingga membuat teman-teman sekelasku juga tertawa, tapi tidak dengan dia, hulya. Kayaknya dia marah sama aku, pikirku, "tidak pak" ikut tertawa lalu duduk di bangku depan ujung sebelah kanan, sejajar dengan bangkunya hulya, tapi dia berada paling belakang. Setelah kuliah, kulihat hp ku ada dua panggilan tak terjawab dari nomor yang tak ku kenal, lalu coba kutelpon dan eeh yang ngangkat perempuan, "halo yaaa, assalaamualaikum". "Waalaikumussalaam" jawabnya, "ini siapa?" Tanyaku, "Lihat ke belakang" jawabnya, langsung kukihat ke belakang, ternyata Hulya, aku seperti tidak nyangka, seorang hulya menelponku. "Hulya, kenapa hulya?" Tanyaku di dalam telpon, eh taaunya telponnya di matiin hulya, lalu kulihat ke belakang, dianya sudah ada di belakangku lalu berkata "save nomorku" katanya tegas lalu pergi keluar. Kuhampiri kedua temanku yang kayaknya sudah paham dengan situasi ku, "kayaknya hulya suka sama kamu deh" kata yusuf, "iya kayaknya begitu" jawabku sombong yang membuat kita bertiga tertawa.
__ADS_1
Setelah hari itu, aku dan hulya kembali seperti biasa, tidak saling tegur sapa, hanya saling tukar senyum lalu menghilang, sebatas itu.
Memasuki waktu UAS, aku kembali dihadapkan dengan cobaan belajar yang kuar biasa, aku lagi-lagi kurang tidur karena harus belajar mati-matian demi lulus dalam ujian ini, dua minggu sebelum ujian aku memutuskan untuk fokus belajar dan sedikit-sedikit membantu tanteku. Ditemani dua temanku, aku mengajak mereka untuk belajar di kamarku dengan seizin tanteku pastinya. Karna kedua temanku ini sangat sopan dan bahkan ikut membantuku bersih-bersih di rumah, tanteku sering membuatkan kita bertiga sarapan, dan bahkan kedekatan yusuf dengan tanteku itu melebihi dekatnya aku dengan tanteku, karena tiap datang ke rumah, yusuf banyak bercerita dengan tanteku, mulai dari kehidupannya dan semuanya diceritakan oleh tusuf, aku melihat itu senang-senang saja, yang penting kehadiran teman-temanku tidak mengganggu tanteku.
__ADS_1
Satu jam telah berlalu, kini soal yang kukerjakan sudah pada bagian tiga, bagian yang sangat sulit, kucoba lihat sialnya, "wiiih" kagetku saat melihat soal demi soal pada bagian tiga, ini kan yang aku pelajari tadi pagi, kataku dalam hati, alkhamdulillah seruku dalam hati sambil mengelap dada. Tidak semua juga harus ku isi, setidaknya satu atau dua nomor lah, karna bagian tiiga hanya tiga nomor, yah paling aku dapatnya tiga puluhan point, sudah cukuplah, kataku dalam hati. Kembali aku melihat kedua temanku dan juga hulya, nampak mereka mulai tenang, tapi masih agak tegang, mungkin mereka sudah sampai pada bagian tiga juga, pikirku.
"Baik waktu habis, untuk lwmbar jawaban ditaru di sebelah kanan saya dan lembaran soal ditaruh di sebelahnya" kata pak jabar, sontak kelas yang tadinya sunyi menjadi agak sedikit ramai dengan kepanikan, kulihat masih ada yang menulis, ada juga yang wajahnya terlihat ingin menangis, ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa mereka bisa sampai sefrustasi ini? Tanyaku kembali dalam hati. Setelah semua jawaban terkumpul, di situ aku mulai merasakan tegang, iya ketegangan ini aku dapatkan dari mereka yang langsung mengambil buku dan melihat apakah yang mereka jawab sudah sesuai dengan ada yang di buku, kulihat ad yang sampai menitihkan air mata, teriak-teriak, mengucapkan kata-kata kotor, hanya sebagian kecil saja yang duduk diam meratapi penyesalan. "Andri, gimana?" Tanyaku, "susah bro, tapi yang bagian tiga kayaknya pernah kita bahas, jadi sedikit-sedikit bisa ku isi lah, lo gimana yusuf?". "Sama bro, tapi yang bagian dua nggak semua bisa kujawab, males aku ngitungnya" katanya sambil ketawa, aku dan andri juga ikut tertawa. "Eh sono tanyain hulya juga" kata yusuf sambil mendorongku ke arah hulya yang lagi duduk di pojok belakang. "Asaam ee, malu aku" sahutku, "yaelaah, noh dia kayaknya lagi nungguin" paksa yusuf. Setelah melihat suasana kelas yang sudah sepi, kusuruh kedua temanku ini untuk duluan keluar, "aku mau, asal kalian berdua keluar dari kelas dulu" balasku tertawa, "yoiiii kalau begitu" kata yusuf sambil menarik andri untuk juga ikut keluar. Segera kusapa hulya, "hulya, gimana ujiannya? keisi?". Dia memandangku lalu tersenyum dan berkata "sedikit, kamu?", "Oh lumayan hihi" jawabku sambil sedikit tertawa. Setelah itu dia pamit keluar menyisahkan aku sendiri di dalam ruangan, dia kok jadi dingin bgtu, apa aku yang kegerean yaa, haduh kataku dalam hati.
__ADS_1
bersambung......