
Sebulan setelah kejadian di mana aku ditembak oleh Adelia, aku sudah sangat jarang bertemu dengannya, terakhir bertemu adalah ketika dia mau berangkat ke kantor bersama tanteku, yah kira-kira 2 minggu yang lalu, dan entah mengapa aku seperti kehilangan sosok yang sudah lama aku kenal, padahal pertemuan dan perkenalan kita sangatlah singkat. Yah walaupun merasa kehilangan, aku tidak terlalu memusingkan hal tersebut karena aku telah dipusingkan oleh tugas-tugas kuliah yang menumpuk, namun syukurlah aku memiliki dua orang sahabat yang dengan senang hati membantu aku untuk mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas tersebut.
Zzzzzzzz........Zzzzzzzzzzz......Zzzzzzzzzzzz
Tiba-tiba Handpone ku berbunyi, kulihat Hulya menelponku.
"Yah ada apa Hul?" Tanyaku setelah mengucapkan salam,
"kamu lagi apa?" Tanya Hulya,
"Lagi ngerjain tugas Hul, ini ada Andri dan Yusuf juga" jawabku,
"Oh, di mana?" tanya nya lagi,
"Di rumah tanteku, kenapa Hul?" tanyaku lagi,
"Hm.....gimana ya bilangnya, aku mau cerita nih, bisa ya?"
"Bisa bisa Hul, cerita saja" ucapku dengan logat yang masih kental.
"Huh, maksudnya bicara empat mata Ndiii" Balas Hulya yang sepertinya sedikit emosi,
"Oalah, iya Hul bisa, tapi tunggu sebentar bisa kan?" Jawabku,
"Oh kamu tidak bisa ya? yaudah" jawabnya yang kemudian langsung mematikan telepon nya. 'Duh ada apa lagi ini' pikirku dalam hati. Kemudian aku menelpon kembali Hulya untuk mengatakan bahwa aku sudah akan menuju ke rumahnya.
Setelah berpamitan kepada Andri dan Yusuf, aku dengan menaiki sepeda tanteku langsung menuju ke rumah Hulya, dan sesampainya di depan gerbang rumahnya, aku segera masuk dan mengetuk pintu rumahnya, dan tak selang berapa lama kemudian Hulya membuka kan pintunya.
"Ada apa Hul?" tanyaku memulai percakapan.
"Anu Ndi, tapi sebelumnya kamu jangan marah ya!" Ucap Hulya dengan nada yang sedikit bermohon,
"Iya Hul, ada apa sih?" tanyaku penasaran,
"Itu Ndi, Hubungan kita, eeeh gimana ya bilangnya" ucap Hulya kebingungan,
"Hubungan kita kenapa Hul?" tanyaku dengan nada yang sedikit naik,
"Itu kan kamu belum dengar aja sudah marah duluan" kata Hulya
"Yah bagaimana tidak marah Hul, kamu bicaranya putus-putus begitu, bawa-bawa hubungan kita lagi, aku kan jadi kepikiran aneh-aneh" jawabku sedikit kesal,
__ADS_1
"Hm iya Ndi aku minta maap" Ucap Hulya, yang kemudian menghela nafas. "Ndi, aku mau hubungan kita dirahasiain yah" ucap Hulya. Kulihat matanya tidak berani menatapku, mungkun karena takut melihat reaksiku nanti. Dengan masih terdiam, ingin sekali aku bertanya alasan kenapa hubungan kita harus dirahasiakan, tapi aku takut dia harus berbohong kepadaku, aku tahu jelas bahwa pasti ada penyebab dia berkata seperti itu dan pasti dengan alasan yang tidak akan mungkin bisa dikatakan kepadaku saat ini. Jadi, dengan masih menatap wajahnya yang manis itu, aku tersenyum dan berkata "Hulya, bahkan dengan alasan yang irasional pun tetap akan aku iyakan, soal itu nanti aku usahakan" jawabku, kulihat Hulya sudah terlihat tenang yang kemudian melontarkan senyuman yang selalu saja membuat aku lupa bahwa hatiku sedang terluka.
"Makasih ya Ndi, makasih" ucap Hulya sambil menggenggam kedua tanganku. Kulihat lagi wajahnya, nampak matanya sudah berkaca-kaca tanda terharu, 'apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu Hul' pikirku dalam hati.
"Iya Hul sama-sama" jawabku sembari membbalas genggaman Hulya.
Setelah berpamitan ke Hulya, aku pun kembali ke rumah tanteku, di perjalanan pulang tersebut, aku kembali berpikir mengenai permintaan Hulya tadi, dan hal yang paling membuat hatiku sakit adalah, jangan sampai Hulya sedang menjaga hati orang lain, tetapi pikiran itu segera aku buang jauh-jauh, kuhentikan sepedaku, kubuka HP ku, kemudian membuka galeri dan melihat foto Hulya, kupandangi foto Hulya dalam-dalam dan bertanya dalam hati 'apakah Hulya bisa menjadi orang jahat dengan wajah semanis ini? bukan kah terlalu mubazir? yah....tapi, dengan wajah semanis ini aku yakin, tidak ada yang perlu diragukan lagi bahwa Hulya adalah orang baik'. Begitulah caraku menenangkan diri apabila hatiku dmentokkan oleh keraguan.
"kamu lama banget sih, ini aku ama yusuf sudah mau pulang" ucap Andri,
"Duh maap yah, lagi urgent soalnya" jawabku,
"Lebih urgent dibanding tugas kuliah?" balas Yusuf,
"Huh, Andi andi, jangan sampai romantisme mu ini membuat kuliah mu berantakan loh" sambung nya.
"Iya, makasih ya. insyaAllah baik-baik saja, aamiin" balasku.
Sesaat kemudian, Yusuf dan Andri sudah pulang, aku yang sendirian di rumah kembali terpikirkan dengan perkataan Hulya tadi, 'Duuuuh, ini timing nya kenapa pas yah, kesedihan dan kesendirian jadi satu' pikirku.
Tiba-tiba, dari depan terdengar suara seperti ada orang yang mengetuk pintu, dan setelah memastikannya, ternyata benar ada yang sedang mengetuk pintu, agak pelan memang, dan setelah aku buka, ternyata itu adalah Adelia, ketika aku memandangi wajahnya, seketika perasaan sedih itu sirna, yang ada hanya ketenangan.
"Tante Dini hari ini belum bisa pulang Ndi" ucap Adelia canggung,
"Dan aku disuruh buatin kamu makan malam" sambung Adelia dengan senyum yang masih masih terkesan canggung.
"wah makasih ya, iya silahkan masuk" balasku lagi,
"Iyaa sama-sama" balas Adelia yang kemudian masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke arah dapur. Sekali-sekali kulihat Adelia dari meja makan yang kebetulan letaknya berada di dapur.
"Kamu apa kabar" Tanya Adelia memecah keheningan yang sepertinya tahu bahwa aku sedang memperhatikannya.
"Alhamdulillah baik Del, kamu aoa kabar?" jawabku yang kemudian balik bertanya,
"Alhamdulillah baik juga Ndi, Kuliah mu lancar?" tanya Adelia kembali,
"Iya Del lancar, yaah walaupun harus dilicinkan dengan peluh sih" jawabku,
"Idih, sok puitis" Jawab adel sedikit tertawa,
"Haha, biarin" balasku yang juga ikut tertawa,
__ADS_1
"Kamu kemana? kok hampir dua minggu ini jarang kelihatan" sambungku bertanya,
"Duh baru dua minggu yah? yah gagal deh" ucap Adelia, "iya rencananya sih aku mau menghilang dari kamu sebulan" Jawab Adelia yang juga dengan sedikit tertawa.
"Aneh kamu, tujuan kamu apa" tanyaku lagi,
"Supaya kamu kehilangan aja" jawab Adelia santai, "Tapi aku lihat kamu gak kehilangan sama sekali ya? bagus deh" sambung Adelia. Mendengar itu, aku seperti ingin berteriak kepadanya dengan berkata 'setiap hari aku tidak pernah absen merindukanmu Del'.
"Hmm, karena kamu bilang begitu aku jadi rindu nih" jawabku tertawa,
"Rindumu palsu untuk ku Ndi" balasnya yang membuatku terdiam, aku merasakan ada rasa sesak di dada, entah karena apa, tapi jelas meski sesaat, rasa itu sedikit mengganggu.
"Belum masak ya?" tanyaku mengubah topik pembicaraan, kulihat Adelia akhirnya menoleh ke arahku, setelah memperlihatkan senyumnya yang manis itu, dia berkata "Senangnya setiap hari bisa seperti ini" ucap Adelia yang entah mengapa kata-kata itu aku aminkan dalam hatiku.
"Aku baru tahu kamu jago masak" ucapku yang lagi-lagi mengubah topik,
"Aku juga baru sadar" jawab Adelia singkat dan setelah itu aku dan Adelia kembali terdiam, baru setelah beberapa saat, setelah masakannya sudah jadi, Adelia berkata "Ini sudah jadi, maaf ya kalau menu nya biasa aja" Ucap Adelia,
"Santai lah, karena aku pemakan segala, kamu selamat" balasku dengan tertawa,
"Boleh juga ya hinaan kamu" ucap Adelia yang juga ikut tertawa,
"Oke aku coba yah" sembari meminum kuah sup yang di buat Adelia,
"Enak, minta nasi nya dong" pintaku ke Adelia,
"siap" balas Adelia tanpa penolakan sama sekali,
"Inii, habisin ya" sembari menyerahkan piring yang sudah berisi nasi,
"Sippp, makasih yaa" ucap ku yang dengan sigap langsung mengambil piring yang diberikan Adelia.
"Kamu tidak ikut makan?" Tanyaku ke Adelia,
"Kamu lahap ya, pasti enak" ucap Adelia,
"Kamu tidak mau makan?' tanyaku lagi,
"lihat kamu makan udah cukup kok" balas nya dengan dagu yang bertumpu di tangannya sembari menatapku penuh arti.
"Adalah bahagia kalau ini selamanya" Ucap Adelia lagi,
__ADS_1
"Aku balik rumah dulu ya" sambungnya yang langsung berdiri kemudian beranjak pergi dari dapur, aku yang melihatnya terburu-buru seperti itu, seolah mengerti kenapa dia melakukan itu. Setelah mengantarnya ke depan, kembali Adelia berkata "Aku bahagia Ndi".
bersambung..............