
Dua minggu sudah aku di kampung halaman, setelah sehari sebelumnya kuhabiskan waktuku untuk jalan-jalan bersama keluargaku, tibalah saatnya aku kembali harus pergi meninggalkan kampung halaman, dengan menggunakan mobil, papa mengantarku ke bandara. kak Janna, lisa, dan mama ku belum bisa ikut mengantarku karena ada urusan. Ku salami papaku, kupandangi baik-baik wajah tuanya, sedih kurasa karena harus meninggalkan papaku lagi, tapi jika aku tetap tinggal di sini apakah kebahagiaan yang akan didapatkan oleh papaku akan sebanding dengan kebahagiaan yang nanti akan diperoleh ketika aku pulang membawa gelar sarjana S2? Menurutku tidak, dan itulah yang menjadi alasan terbesarku untuk pergi meninggalkan nya.
Sebelum pesawat take off, aku mengabari Hulya mengenai keberangkatanku dari Gorontalo. Sejenak aku teringat kembali dengan perkataan yang sebelumnya pernah dia katakan, dan karena sudah sering kepikiran mengenai hal itu, aku sudah tidak terlalu terbebani oleh pikiran tersebut, bahkan aku sudah memiliki jawaban untuk perkataannya itu, dan untuk apa yang akan terjadi setelahnya, aku serahkan semuanya kepada sang Khaliq.
Satu setengah jam perjalanan di pesawat membuat badanku pegal-pegal, karena untuk penerbangan ke Jogja masih sejam lagi, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke mini market yang ada di bandara untuk sekedar melihat-lihat siapa tau nemu barang bagus pikirku. Saat melihat-lihat, aku menemukan barang yang lucu, yaitu sebuah gantungan kunci berupa sepasang gembok dan kunci, dan karena harganya agak murah, jadi kubeli.
Sejam kemudian, aku sudah ada di pesawat, dengan menggunakan maskapai yang berbeda dari keberangkatan pertamaku. Di dalam pesawat, aku kembali teringat dengan perkataan Hulya, dan kali ini, aku tidak lagi merasa terbiasa, karna tiba-tiba pikiran itu menggangguku, entah kenapa, tapi jujur saja aku ingin sekali untuk berbalik arah, mungkin ini dikarenakan perjumpaan ku dengan Hulya sudah tidak lama lagi, pikirku.
Karena terus kepikiran perkataan Hulya tadi, tak terasa pesawat sudah akan mendarat, dan hal ini semakin menambah ketegangan yang ada pada diriku. setelah pesawatnya berhenti sempurna, aku mengemasi barangku. Di terminal bandara, aku dijemput oleh Yusuf karena sebelumnya telah kumintai tolong untuk menjemputku.
"Oi Andi, Gimana perjalanannya? Lancaar?" Tanya Yusuf.
"iya Suf, Alhamdulillag lancar" jawabku, "kita langsung pulang aja yah, capek nih' kataku,
"iya iya, mana kopernya aku bawain" tawar Yusuf.
"thanks ya" ucapku.
"santai bosku" jawab Yusuf.
Dengan menggunakan motornya, Yusuf mengantarku sampai ke rumah tanteku. "Mkasih yaa bro" ucapku
"iya, aku balik dulu ya" kata Yusuf
"iya, hati-hati di jalan" ucapku lagi,
"iya, by by bosku" ucap Yusuf, setelah itu pergi.
Kemudian aku membuka gerbang rumah tanteku, dan setelah mengucapkan salam, akhirnya dibuka juga pintu oleh tanteku.
"Gimana perjalanannya? Aman kan?" tanya tanteku,
"Iya tante, alhamdulillah baik" jawabku,
"alhamdulillah, yasudah mandi dulu sana trus makan lalu iatrahat, tante udah masakin tuh makanan kamu" kata tanteku
"iya tante, makasih" kataku.
Setelah mandi, kurebahkan badanku di kasur, dan tanpa disangka aku tertidur. Bangunnya, kulihat jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi, "aduh, aku ketiduran lagi" kataku dalam hati, aku kemudian keluar kamar, di luar kulihat tenteku sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja, "Ketiduran yah?" tanya tanteku,
"iya tante, capek sekali soalnya" jawabku.
"oiya yasudah, makan dulu sana" kata tanteku
"iya tante" jawabku sambil berjalan ke arah dapur.
Setelah makan pagi, aku menelpon Hulya untuk mengabari kalo aku sudah di Jogja, aku juga mengajaknya bertemu di warteg dekat rumahnya, tapi ditolaknya, malahan dia menyuruhku untuk ke rumahnya, dan karena tidak ada pilihan lain, aku pun mengiyakannya.
__ADS_1
Jam 10 Pagi aku sudah berada di depan rumah Hulya, lalu ku telpon Hulya
"Assalaamualikum Hul, ini sudah di depan" Kataku,
"waalaikumussalaam, oiya Ndi, tunggu bentar yaa" jawab Hulya.
Beberapa saat kemudian Hulya keluar, dengan senyum yang luar biasa manis dia menyambutku, setelah di izinkan masuk, aku mengikutinya dari belakang,
"Sampe nya kemarin, kabarinnya barusan, maksud kamu apa?" tanya Hulya saat berjalan
"Iya tidak sempat soalnya, aku ketiduran Hul" Jawabku
"Oh gitu" jawab Hulya singkat.
Sesampainya di ruang tamu, aku disuru duduk oleh Hulya, kemudian Cipa menyapaku, "Kak Andi, ciee yang mau ngungkapin perasaan" Ejek Cipa
"Ada-ada aja kamu cipa, aku tuh mau bauar hutang" jawabku
"hutang perasaan?" ejek Cipa lagi
"Salah satunya" Jawabku yang membuat Cipa teriak kegelian
"Ih kak Andi puber nya telaat" Teriak Cipa mengejek sambil tertawa
"Dari pada pubernya diusia dini kan" ejek ku lagi.
"Ada apa ini? Kok tamunya kakak Hulya diledekin begitu" Kata papa Hulya yang keluar dari ruangan kerjanya.
"Tidak apa-apa om, sudah biasa" jawabku.
"oh baguslah. kalo begitu lanjutin" kata papa Hulya becanda.
"Hulya nya mana?" tanya papa Hulya
"Tadi dia ke dalam om" jawabku gugup, karena papa Hulya sudah duduk di depanku.
"Om Andi, oke?" kata papa Hulya yang ternyata namanya sama dengan namaku.
"oh iya om Andi" jawabku langsung.
"Eh papa, mau minum juga?" Kata Hulya saat membawa baki berisi gelas minuman,
"boleh deh, air putih aja ya nak" ucap Om Andi
"oke paaah" jawab Hulya
beberapa saat kemudian Hulya datang dengan membawa air putih untuk papanya, "pah, ini dia"
__ADS_1
"makasih yaah" kata om Andi,
"siap pah" jawab Hulya yang kemudian mengambil posisi duduk tepat di samping om Andi.
"Mau ngomong apa Ndi?" tanya Hulya
"ini, anu, aku mau bayar hutang" jawabku gugup
"oh iya, berapa yah utangmu?" tanya Hulya
"lebih dari sejuta kurasa, tapi kubayar sejuta dulu yaa, boleh nyicil kan?" tanyaku
"boleh kok, gak dibayar juga gak kenapa-kenapa, yah kan pa?" tanya Hulya ke Om Andi
"iya, yang penting utang perasaan mu itu dibayar, dan gak boleh nyicil" kata om Andi. Mendengarnya membuatku tambah gugup, apakah harus aku mengungkapkan rasa di depan papanya Hulya? Ah aku tidak bisa, pikirku.
"gak usah malu atau takut, kalau jawabanmu iya, om setuju-setuju saja asal kamu mau menjaga Hulya baik-baik karena sebelumnya dia tidak oernah pacaran. Tapi kalo kamu nolak yah, tidak apalah, masih banyak kok lelaki di luar sana" kata Om Andi
"paah, apaan sih" kata Hulya malu.
"Iya om saya mau" kataku yakin, "Hulya, Pacaran dan menikahlah denganku kelak" kataku ke Hulya
"aduh papa kan, dia jadi merah menyala tuh" ejek Hulya kepadaku sambil nunjuk mukaku yang sudah merah. "hmmm, yaudah deh kalo kamu maksa" Jawab Hulya tersenyum malu.
"perasaan tidak ada unsur paksaan Hul" kataku yang menbuat om Andi juga Hulya tertawa,
"Harga diri wanita itu namanya" jelas om Andi,
"oh iya, ini aku punga oleh-oleh untuk kamu Hulya" sembari memberikan oleh-oleh berupa sepasang kunci dan gembok, untuk gemboknya aku kasih ke Hulya, dan kuncinya untukku.
"Duh alay nih" kata hulya, "tapi bagus juga" lanjutnya sambil melemparkan senyum yang lebih manis fari sebelumnya.
"punya om mana?" tanya om Andi
"Anak papa bahagia, cukup kan?" jawab Hulya
"lebih dari cukuo sayang" ucap om Andi sambil memeluk Hulya.
"Kamu jangan lakukan ini dengan anakku yah" kata om Andi,
"papa apaan sih" kata Hulya
"iya om, siaap 86" jawabku.
"sipp deh kalo begitu, om masuk dulu yaa" kata om Andi sambil berdiri dan pergi ke arah kamarnya.
Akhirnya hanya tersisa aku dan Hulya yang berada di ruang tamu, entah kenapa suasana saat itu sangat canggung, untuk menatapnya saja aku sudah tidak berani lagi, begitupun sebaliknya. Aku kemudian memulai pembicaraan, aku bertanya perihal krnapa dia memilihku, dan setelah mendengar jawabnya, aku mengetahui bahwa alasan dia memilihku adalah aku berbeda dengan laki-laki lain yang terlalu Hedon dan tidak jujur dengan penampilan mereka, aku dipandang sederhana dan tidak muluk-muluk soal penampilan. Kemudian dia balik bertsnya kenapa aku mau sama dia, yah aku menjawab karena dia orangnya ideal untuk ku, senyumnya manis, baik, dan nilai lebihnya itu adalah dia dekat dengan orang tua ayahnya, karena perempuan yang dekat dengan ayahnya itu terkesan lebih menarik. Dan setelah kita berdua berbincang-bincang, aku pamit pulang untuk mengatur barang-barangku karena kebetulan barang-barangku itu belum diatur, lalu dia menawarkan diri untuk mrmbantu, tapi aku menolak karena di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, aku taku nanti dituduh tang tidak-tidak, dn setelah pamit ke Hulya juga Om Andi, aku kembali ke rumah Tanteku.
__ADS_1
bersambung........