
Dengan masih memikirkan perkataan Hulya tadi, kupandangi keindahan lautan yang membiru dari jendela kabin, akan tetapi, keindahan yang terlihat tetap saja tidak bisa menandingi keindahan mekarnya bunga-bunga rasa di taman hatiku ini.
Dengan masih dalam mode pesawat, ku ambil ponselku dan mengirim pesan ke Hulya untuk memberitahukan bahwa aku telah sampai dengan selamat, ini aku maksudkan agar aku tidak lupa memberi kabar kepadanya karna pesan itu akan dengan otomatis terkirim ketika aku mengaktifkan paket data nanti.
Sejam kemudian, tibalah aku di kampung halaman tercinta. Dan dengan tidak sabaran, setelah pesawat berhenti sempurna, aku segera mengambil koperku yang ada di bagasi kabin dan berjalan pelan keluar kabin. Beberapa saat kemudian aku telah berada di parkiran, setelah aku mematikan mode pesawat, segera ku telpon papaku untuk mengabari bahwa aku sudah sampai dengan selamat.
Dengan menaiki Bentor (BecakMotor), aku menuju terminal isimu. Setelah menaiki mobil angkutan umum, kira-kira dua jam perjalanan aku telah sampai di rumah, Keluargaku menyambutku dengan hangat, dan karena tubuhku sangat kelelahan, akupun tertidur.
Bangunnya, kulihat jam sudah menunjukan pukul 7 malam, dan setelah mandi, aku pergi Sholat Isya di masjid dekat rumahku, setelah sholat aku makan lalu bercerita dengan saudara-saudaraku, kebetulan ayahku tiba-tiba harus keluar kota karena ada urusan kantor, jadi tinggalah aku bersama saudara-saudaraku di rumah. Kemudian aku keluarkan oleh-oleh yang sebelumnya aku beli, adikku sangat senang atas oleh-oleh yang aku berikan berupa notebook, tapi kakak ku
"Punyaku mana?" Tanya kakak ku,
"Oh iya, punya kakak sementara dikirim lewat JNE karena tadi pesawatnya over bagasi" jawabku berbohong karena tidak kau menyakiti hati kakak ku.
"Oh begitu, kapan sampainya?" Tanya kakak ku lagi,
"Kalau bukan besok, myngkin lusa kak" jawabku yang masih saja berbohong.
"Hm okelah" kata kakak ku.
Dan karena aku berbohong, aku harus mencari cara untuk menutupi kebohonganku itu, dan mengubahnya menjadi kebenaran. Segera kuambil ponselku, setelah kubidupkan, kulihat ada 16 panggilan tal terjawab, dan setelah kubuka itu adalah panggilan dari Hulya. "Aduh, lupa aku menghidupkan data tadi, pasti dia marah" pikirku, lalu aku coba untuk menghubunginya, eh taunya telponnya langsung diangkat oleh hulya.
"Assalaamualaikum, udah nyampe ndi?" Tanya Hulya
"Waalaikumussalaam, iya hul, maaf tadi tidak sempat ngabarin" kataku.
"Iya tidak apa-apa, pasti baru bangun, kaan?" Tebak hulya
__ADS_1
"Jelas dong" jawabku tertawa
"Idih, bangga lagi" kata hulya yang juga tertawa.
"Oh iya hul, aku bisa minta tolong?" Tanyaku karena teringat oleh-oleh palsu kakak ku tadi
"Minta tolong apa ndi?, Jangan minta tolong lupain kamu yah, aku tidak bisa soalnya" kata hulya dengan nada serius.
"Bukan kok kamu tenang aja, tapi boleh kan?" Tanyaku lagi,
"Iya boleh, asal jangan yang aneh-aneh aja" jawab hulya,
Dan setelah menjelaskan maksudku, hulya lalu mengiyakan nya. "Harus yah kamu berbohong begitu?" Tanya Hulya
"Tidak sih, tapikan itu terpaksa"
"Berbohong kenapa hul?" Jawabku yang kembali menanyakan maksudnya.
"Yah berbohong, berbohong kalo kamu lupa dengan apa yang aku katakan di pesawat tadi" jawabnya
"Aku tidak lagi berbohong Hul, untuk apa juga aku berbohong, aku ingat kok, bahkan selalu kepikiran. Kalo kamu mau jawabannya sekarang yah oke" kataku serius.
"Oh iya, aku beliin jilbab yang mirip dengan punyaku aja yah, oke"? Tanya hulya yang mengganti topik pembicaraan.
"Iya hul, makasih ya. Warnanya terserah kamu saja, aku tidak terlalu paham dengan warna soalnya" jawabku lesu karena perkataanku tadi tidak digubris oleh Hulya.
"Mau dibeliin berapa?" Tanya hulya lagi
__ADS_1
"Satu saja" jawabku singkat,
Dan setelah memberitahukan alamat ku, tiba-tiba Hulya terdiam, dan selang beberapa menit kemudian,
"Sip, besok lusa barangnya diambil, Eh sudah dulu ya Ndi, Assalaamualaikum" kata Hulya yang langsung menutup telponnya, "kenapa dia terburu-buru begitu, apakah aku mengganggunya? atau aku membuatnya marah?" pikirku dalam hati
Keesokan Harinya, aku terbangun tepat jam 10 pagi. Dan karena di rumah hanya ada aku dan adik ku, sarapannya harus kita persiapkan sendiri. Kakak ku yang pagi tadi sudah pergi ke kantor, telah memasakkan nasi untukku dan adikku, jadi aku hanya tinggal memasak telur untuk lauknya. Oh iya, kakak ku namanya Janna, saat ini dia bekerja sebagai seorang pegawai Negeri, dan adikku bernama Lisa yang merupakan Mahasiswa Tehnik industri di UNG.
"Besok aku mau ke kota ambil barang, mau ikut?" Tanyaku ke lisa adik ku,
"Tidak, malas" jawab lisa.
Meskipun Lisa orangnya cuek, tidak suka bergaul, dan anak rumahan, tapi meskipun begitu, tidak ada di dunia ini yang bisa aku sayangi sebagaimana aku menyayanginya.
"Terus, di rumah tidak takut kalo sendirian?" Tanyaku
"Sudah biasa" jawabnya.
Setelah makan, aku duduk di depan rumah, hembusan angin sepoi-sepoi kemudian membuat mataku menjadi berat, dan berhubung karena tidak ada kerjaan, aku putuskan untuk tidur kembali.
Zzzzzzzzz.....zzzzzzzzzz......zzzzzzzzzz
Kulihat ponselku bergetar, dan setelah kulihat ternyata Hulya menelponku,
"Assalaamualaikum Ndi, aku........
Bersambung........
__ADS_1