
Setelah seminggu, hubungaku dengan Hulya semakin dekat. Aku sudah terbiasa untuk datang ke rumahnya, makan di rumahnya, juga tidur siang di rumahnya. Itu dapat kulakukan karena keluarganya sangat menerimaku walau aku terlihat biasa-biasa saja. Kulihat Hulya juga senang dengan kehadiranku di rumahnya. Bahkan ketika Hulya, om andi, juga Cipa pergi ke luar daerah untuk berkunjung ke rumah neneknya, aku disuru om Andi untuk menjaga rumahnya, sebenarnya aku diajak, tapi aku menolaknya karena lagi kurang sehat. Dan karena aku sudah sangat dipercaya, aku bersuaha untuk menjaga kepercayaan itu dengan menjaga Hulya dengan sebaik mungkin.
Hari-hari selanjutnya, Yusuf datang ke rumah tanteku dengan maksud mengajakku ke kampus untuk mengurus permohonan beasiswanya. "Ndi ayo dong" kata Yusuf memohon,
"Iya iya, aku ganti baju dulu ya bentar" jawabku,
"Iya, tapi jangan lama ya, takutnya pak Hasan sudah pulang" ucap Yusuf.
"Iya iya" jawabku sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Di perjalanan, aku mengabari Hulya kalo aku ke kampus dengan Yusuf dengan maksud membantunya. "Iya hati-hati yaa, eh kamu mandi kan?" Tanya Hulya mengejek
"Tidak sempat Hul, Yusuf buru-buru soalnya" jawabku
"Andikuuuu" ucap Hulya gemes, "setelah dari kampus, ke rumah ya" kata Hulya.
"Iya Hulyakuu" jawabku,
"Oke, Assalaamualaikum Andikuh" ucap Hulya
"Waalaikumussalaam Hul..." Dan setelah mematikan telponnya, Yusuf bertanya siapa yang kutelpon, setelah kuceritakan apa yang terjadi, Yusuf kaget dan tertawa "Aduhhh, Hulya akhirnya milih kamu ya" ucap Yusuf,
"Milih aku? Maksudnya?" Tanyaku,
"Iya, setahuku, ada banyak pria yang mendekati Hulya, kamu harus jaga dia baik-baik Ndi" Ucap Yusuf lagi,
"Kalo itu mah, aku no komen" jawabku lagi karena memang aku sudah sadar dan paham kenapa Yusuf berkata begitu.
"Aku dukung kamu kok, Andri juga pasti dukung kamu, eh kamu udah bilang ke Andri belum?"
"Belum Suf, nanti aku bilang kalo dia udah di sini" jawabku.
"Oke bosku" ucap Yusuf.
Sesampainya di kampus, Yusuf segera mengurusi berkas beasiswanya, dan syukur pak Hasan belum pulang dan masih berada di kampus. Saat sudah mau pulang, aku berkata ke Yusuf untuk mengantarku ke rumah Hulya, dan Yusuf mengiyakannya. Di jalan Yusuf bercerita mengenai mantan-mantannya yang sering didapatinya berselingkuh, dan itulah alasannya sering gonta-ganti cewek karena sering sakit hati. Yah, walaupun Yusuf orang nya pemalu, karena wajahnya tampan, jadi banyak wanita yang datang untuk mendekatinya, dan sifat malunya itu juga yang membuat wanita semakin klepek-klepek. Yah walaupun akhirnya berakhir tidak menyenangkan sih.
"Makasih ya" ucapku ketika sudah sampai di depan rumah Hulya
"Oh jadi ini ya rumahnya, besar juga" Ucap Yusuf.
"Iya, kamu mau mampir dulu?" Tanyaku,
"Gak usah Ndi, aku mau langsung pulang aja" jawab Yusuf
"Hm okelah, Hati-hati ya" ucapku,
"Yoi bosku" ucap Yusuf lalu pergi melaju dan menghilang.
Aku segera masuk ke halaman rumah Hulya, Dan setelah mengetok pintunya, tidak lama kemudian Hulya datang menbukakan pintu. "Assalaamualaikum" kataku
"Waalaikumussalaam Ndi" jawab Hulya, "Masuk yuk, udah aku buati sarapan, kamu belum makan pasti, kaan?" Ucap Hulya,
"Haha tau aja, iya aku cuci tangan dulu ya" kataku ke Hulya,
"Iya. Aku tunggu di meja makan ya" kata Hulya, sembari pergi ke belakang,
"Iyaa" jawabku.
__ADS_1
Setelah mencuci tangan, aku segera menuju meja makan, di sana kulihat Hulya sudah menunggu, kulihat Cipa juga ada di sana.
"Ka andi, makan yuk" ajak Cipa,
"Iya bismillah cip" jawabku,
"Aku sendokin ya" tawar Cipa,
"Iya deh, tapi jangan banyak-banyak ya" ucapku, kulihat Hulya tersenyum karena melihat aku dan Cipa sudah semakin akrab.
"Segini cukup" kata Cipa,
"Iya cukup Cip" jawabku.
Saat makan bersama, Cipa bercerita bahwa dia menyesal mengambil jurusan, karena susah katanya. Mendengar perkataan Cipa, aku dan Hulya tertawa. "Malah ketawa, turut berduka cita kek" kata Cipa tertawa,
"Pasti seriap mahasiswa akan mengalami fase itu Cip, yah sabar aja" kataku ke Cipa,
"Iya bener tuh, masa kamu nyalahin jurusanmu, kamu tuh yang salah, gak belajar baik-baik" Ucap Hulya dengan sedikit tertawa
"Iya deh, Mentang-mentang udah Lulus aja, ngomongnya sok bijak" kata Cipa sedikit cemberut,
"Salah sendiri terlambat lahir" Kata Hulya meledek dan tertawa,
"Ka Andi, ka Hulya jahat" ucap Cipa kepadaku,
"Anggap kakakmu itu pupuk Cip, Pupuk Kompos tapi" ledekku ke Hulya, karena aku pronya ke Cipa,
"Maksudmu aku tai gitu? Ini yang jadi pacarnya aku ato Cipa sih, kok kamu lebih ngebelain Cipa" ucap Hulya sedikit cemberut,
"Iya iya, maaf deh. Setai-tainya kamu, tetap saja pacarku, kaan" jawabku ke Hulya,
"Jadi bener nih aku tai?" Tanya Hulya lagi,
"Itu peribahasa Hull. Kamu sib Cipa" kataku,
"Nyalahin Cipa lagi, kamu yang salah" ucap Hulya dengan nada agak cemberut,
"Iya deh, maafyah Hulyakuh" kataku ke Hulya
"Iya, aku cuma becanda kok" jawab Hulya tertawa,
"Kasian dikerjaiin" teriak Cipaa,
"Oh, udah direncanain ya?" Ucapku,
"Haha haha, maaf maaf" kata Hulya,
"Eh Ndi, kita ke Mall yuk, ada yang kepingin aku beli soalnya" kata Hulya,
"Okoke siap 86" jawabku,
"Ikutt" teriak Cipa memohon,
"Jangan ganggu orang yang lagi pacaran" ucap Hulya ke Cipa,
"Yaudah deh, beliin cemilan tapi ya" kata Cipa,
__ADS_1
"Iya ibu negara" jawab Hulya,
Setelah selesai makan, aku dan Hulya pergi ke Mall di pusat kota. Karena tidak terlalu jauh, hanya 15 menitan kita sudah sampai. Di dalam Hulya berjalan-jalan menyusiri toko-toko, kulihat dia sangat serius memandangi barang-barang yang dilihatnya. Kayaknya ini cocok deh, kata Hulya menarik tanganku suoaya agak terangkat, dan mencocokkan jam tangan yang dipegangnya. "Eh ini maksudnya apa Hul?" Tanyaku kaget,
"Ini, aku mau beliin kamu jam tangan. Terima ya, jangan nolak" Kata Hulya dengan sedikit memaksa,
"Tapi kan gak perlu Hul" kataku lagi,
"Tidak dua kali loh aku beliin kamu jam tangan, udah terima aja" jawab Hulya,
"Yaudah deh. Nanti kita bayarnya setengah-setengah ya" tawarku,
"Simpan saja uangmu, cukup dengan tersenyum kepadaku saja, itu sudah cukup Ndi" ucap Hulya serius, dan karena mendengar perkataan Hulya, aku jadi sangat malu, dan terlihat oleh Hulya pipiku mulai memerah.
"Malu ya? Hihi, ditrima yah sayang" kata Hulya dengan kata SAYANG di unung kalimatnya yang membuat aku tambah melelh dibuatnya,
"Iya sayang" jawabku, yang membuat Hulya juga tersipu malu karenanya.
Setelah sedikit berdebat tadi, Hulya kemudian melanjutkan melihat-lihat jam tangan, cukup lama Hulya memilih dan akhirnya pilihannya jatuh pada jam tangan Analog berwarna Hitam bermerk Seiko. Pasti mahal ni pikirku dalam hati. Setelah menunjuk jam yang dimaksud, penjaga toko kemudian mengeluarkannya dari dalam lemari kaca pajangan. Kemudian, setelah dirasa bagus oleh Hulya, dia menanyakan pendapatku, "iya bagus" jawabku singkat,
"Yaudah, Mba bungkus yang ini yah" kata Hulya ke penjaga toko. Kemudian jam nya di setel oleh penjaga toko dan memasukkannya ke dalam box khusus berwarna hitam. Setelah dikemas rapi, Hulya membayar tagihannya, aku yang berdiri agak jauh di belakang, tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Makasih ya mba" ucap Hulya,
"Sama-sama bu" balas si penjaga Toko.
Kemudian Hulya menghampiriku dan menberikan tas yang berisi jam tangan yang dibelikan untukku tadi. "Harganya berapa Hul?" Tanyaku,
"Sejuta aja" jawab Hulya,
"Sejuta? Aduh, kenapa kamu beli yang mahal sih?" Kataku ke Hulya,
"Sebentar, menurutmu bahagia bisa diukur pakai uang? Andi, membuatku bahagia tak sebanding dengan ini, jadi terima yah" Jelas Hulya kepadaku yang kembali membuat aku malu karena perkataanya.
"Iya deh, makasih ya, kamu memang terbaik" kataku.
"Iya, kamu juga Ndi" balas Hulya dengan melempar senyum yang selalu saja membuat aku terbang.
Sebelum pulang aku dan Hulya menyempatkan untuk berbelanja cemilan, dan setelah membayar belanjaan nya, kami pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, Hulya semakin berani untuk sedikit memelukku, aku kemudian juga memberanikan diri untuk menyentuh tangannya, dia hanya diam saja saat ku sentuh tangannya, lalu kulegangi erat tangannya dan ku pandamgi wajahnya di spion motor, wajahnya memerah. Karena kurasa dia agak sedikit terganggu dengan perlakuanku, walaupun wajahnya kulihat memerah tanda malu, tetap saja aku merasakan bahwa dia agak canggung ketika tangannya kupegangi.
"Maaf" kataku,
"iya gak apa-apa kok" nawab Hulya,
kemudian, mungkin karena hal itu, aku dan Hulya manjadi agak canggung satu sama lain. Terbukti dengan aku yang banyak diam begitupun dengan Hulya.
"Andi, aku Cinta Kamu" kata Hulya di sela-sela keheningan,
"Makasih Hul, Aku juga" jawabku dengan hati yang kurasa seakan akan meledak kegirangan.
"Teruslah seperti ini" kata Hulya sembari mendekatkan wajahnya di punggungku,'
"Iya Hulya, insyaAllah" jawabku.
Jujur saja. aku teramat senang mendengar perkataan Hulya tadi, karena itu adalah yang pertama semenjak kita berdua pacaran. Kurasakan juga Hulya yang menyandarkan wajahnya di punggungku, aku teramat bahagia dibuatnya, Dan bahkan Hulya dengan berani menyandarkan dagunya di pundakku lalu berbisik "Love you Pacarku".
Bersambung...........
__ADS_1