
Lima hari telah berlalu, kini ujian rerakhir kami hadapi, dengan prosedur juga skema penilaian yang masih sama dengan ujian pertama. Tampak teman-teman tidak tegang lagi, mereka sudah seperti biasanya, tapi tidak denganku, ini adalah minggu ke tiga aku tidak tidur dimalam hari, tidurku hanya 3 jam sehari, itu saja setelah ujian selesai, sisanya aku gunakan sebaik mungkin untuk belajar belajar dan belajar, kini dampaknya sudah sangat terasa, mukaku pucat, kini aku agak gelisah, ingin segera kulemparkan tubuh ini di atas kasurku, tapi yah, aku musti sabar, karna ini adalah pilihanku. Dua jam kemudian ujiannya telah selesai, nampak wajah teman-teman begitu senang sumringah, ku lihat dai kejauhan hulya menatapku, lalu berlangkah menuju ke arahku kemudian berkata "jangan sering menatapku, kalo suka bilang aja langsung" yang kemudian pergi menghilang. 'apalagi ini? ah, mungkin dia hanya bercanda' pikirku dalam hati. Karena hal itu aku selalu berpikiran bahwa Hulya adalah perempuan yang sering mempermainkan perasaan pria, namun pikiran itu segera aku buang jauh-jauh karena siapa tau ada alasan tersendiri Hulya bersikap seperti itu.
__ADS_1
Besoknya kira-kira jam 9 pagi aku pergi ke mall dengan andri juga yusuf sekedar hanya untuk melihat-lihat siapa tau nemu barang bagus untuk dijadikan oleh-oleh nanti. "Yakin nih cuma liat-liat aja?" Tanya yusuf ke kita berdua, "kan rencananya gitu" balas andri "kalau nemu barang bagus juga murah ya kita beli" sambung andri", "gimana kalo kita beli buku aja?" Saran andri, "tujuh puluh persen buku tak habis dibaca" kataku, "yah yah" sambung yusuf sambil menganggukkan kepala tanda setuju denganku. Oh iya, andri dan yusuf juga sama-sama perantau, andri dari Bali, sementara yusuf berasal dari banten. Selanjutnya kami melanjutkan jalan-jalan sambil melihat-lihat kembali apakah ada barang yang bisa kita beli, kemudian kami terhenti saat melihat pakaian batik khas jogja, lumayan murah, tapi masa iya aku membawakan oleh-oleh baju batik, mereka nanti akan suka tidak ya? Pikirku, tapi karena harganya lumayan dan juga motifnya bagus, aku memutuskan untuk membelinya, namun hanya kain meteran, aku membeli lima meter, agak lebih murah dibanding dengan kain yang sudah jadi. Karena mereka berdua kayaknya masih agak lama di toko batik itu, maka aku meminta izin untuk pergi ke toko buku membeli not book untuk adikku, mereka berdua pun mengiyakannya dan menyuruhku untuk cepat kembali, aku juga mengiyakannya. Sesampainua di toko buku, mulailah aku melihat-lihat note book yang bagus tapi semuanya terlihat bagus. Karna kebetulan saat itu ada juga remaja perempuan yang sedang melihat-lihat, maka langsung kutanyakan kepadanya, "eh neng permisi, kira-kira mana ya yang disukai anak remaja kayak neng? Soalnya mau dibelikan untuk adik saya yang lagi kuliah" kataku sambil menunjuk ke arah jejeran notebook, "oh, kupikir yang ini deh" sambil menunjuk notebook yang warnanya full merah muda, "bukankah ini terlalu mencolok?" Tanyaku, "iya sih, bentar, hmmmmmm yang ini gimana?" Kali ini yang ditunjuk adalah notebook berwarna pink terang namun tidak terlalu mencolok karena terkesan suram, "bagus sih, warna selain pink nggak ad yah yang bagus?" Tanyaku sambil tertawa dan menggaruk kepala, "oh kalo itu banyak mas, ini bagus, yang ini juga bagus, ini juga, sekalian beli tiga aja mas buat adiknya" katanya dengan masig menunjuk-nunjuk notebook yang dimaksudnya, "iya ya, bagus, iya deh aku ambil yang ini" kuambil ketiga notebook yang disarankan tadi, "masih sekolah kamu?" Tanyaku, "aku kuliah mas, baru aja mau naik semsester tiga, hihi" jawabnya agak malu, "oalah, seumuran dengan adik saya dong" kupandang wajahnya yang terlihat malu-malu, lalu kuambil notebook yang pertama ditunjuknya, "katanya terlalu mencolok, eh taunya diambil juga" celotehnya, aku hanya tertawa kecil, "eh bayarnya di mana?" Tanyaku, "oh sini mas" menunjukkan arah ke kasir, "kalo mas udah kerja? Tanya dia, "aku masih kuliah, lanjut S2 di UGM" "waaah, mantul dong, sini kak kasirnya". Setelah membayar semua itu, kucari-cari lagi adik yang tadi, eh taunya dia udah di luar toko, lalu kulanggil dia dan memberikan notebook yang ditunjuknya lertama tadi kepadanya, "nih, sebagai ucapan terimakasih, nggak boleh nolak yaaa!!" Kataku sambil memberikan notebook berwarna pink mencolok itu kepadanya, "aduh kak jadi ngerepotin, padahal aku ikhlas loh tadi, tapi makasih yaaah hihi, oh iya, nama kakak siapa?" Tanya dia dengan senyum di wajahnya, "ohiyaya belum kenalan, namaku Andi, aku dari gorontalo" jawabku, "kamu siapa namanya?" Tanyaku. "oh kak Andi, aku cipa" jawabnya dengan senyumnya yang makin lebar dan mengangkat tangannya untuk salaman, tapi aku menolaknya karena yaah bukan muhrimku, namanya cipa, bagus juga, seimut dan semanis orangnya. "Kak boleh minta nomor Wa nya?" Pintanya agak malu-malu, "ohiya, lalu kuambil selembar kertas, kusobek lalu kutuliskan nomorku di situ kemudian kuberikan kepadanya, "makasih yah kak, nih aku miskol yaa, langsung di save nomorku" pintanya. "Iya nih udah masuk, ku save yaa" kataku, "siip deh, aku mau ke tempat teman-temanku yaah, eh makasih" kataku sambil berjalan pergi menjauh darinya, kurasakan hp ku bergetar, cipa menelponku, ada apa ya? Pikirku, "yah cipa kenapa?" "Hihi nggak, tadi nggak sempat balas pas kakak pamit tadi, iyah hati-hati" katanya, kudengar tawanya dari telepon, "hoh kirain kenapa, iyaiya, makasih yaa" lalu teleponnya segera kututup dan melanjutkan jalanku menuju teman-temanku. Ketika sedang berjalan, aku berpikir, ada juga ya orang seperti itu, yang bisa langsung akrab bahkan di pertemuan pertama, aku tidak habis pikir, kayaknya dia sengaja dan mau menipuku, eh tapi masa iya, kalau diingat-ingat, aku seperti pernah sering melihatnya, tapi di mana? Tanyaku dalam hati. "Woy lama kali kauu" marah yusuf kepadaku, "lima belas menit kita tungguin" sambungnya, "iyaiya maap, tadi aku kesulitan milih notebooknya" sambil memperlihatkan belanjaanku. "Yuk balik, laper nih, ngantuk juga" kata andri, berdiri dari kursi yang didudukinya sembari berjalan, diikuti oleh aku dan yusuf. "Widih, banyak kali belanjaan kalian haa" tanyaku agak sedikit tertawa, "yah sekali-kali laah, kasian yang lain kalo nggak kebagian kaan" jawab yusuf, "itu juga yang dikatakan ke aku tadi" kata andri menyalahkan yusuf karena dibanding yusuf, belanjaannya lah yang paling banyak, aku dan yusuf hanya tertawa sejadi-jadinya.
__ADS_1
bersambung.....
__ADS_1