Di Luar Hujan

Di Luar Hujan
Jangan!!!!


__ADS_3

“Ndi, jadian yuk” ucap Adelia,


“Hah maksudnya”tanyaku kaget,


“aku ngajak kamu pacaran, eh pacaran dilarang yah. Yaudah, aku ngajak kamu nikah”


“kok tiba-tiba, jangan becanda Del” jawabku,


“suapa juga yang becanda NDi, aku tuh serius. Meskipun belum lama kenal, aku bisa lihat kamu orangnya baik” ucap Adelia,


“udah-udah, jangan gampang menyimpulkan orang baik atau tidak begitu Del, aku baik ya karena aib ku ditutup aja” jawabku,


“Jadi kamu nolak aku nih?” Tanya Adel,


“iya maaf yah, sebenarnya aku juga udah punya pacar Del dan udah komit untuk nikah sama dia”


jawabku,


“oh gitu ya, telat dong aku berarti ya, maaf ya” ucap Adel “anggap aja aku gak pernah ngomong gini ke kamu” lanjutnya dengan suara yang sedikit parau. Seketika aku berpikir, apakah tindakanku sudah benar? Dan apakah perkataanku tidak menyakiti hatinya? Yah kalau itu sih sudah jelas menyakiti hatinya, tapi itu harus kukatakan karea penolakan yang halus itu hanya akan membuat dia tetap berharap kepadaku, tapi bagaimana kalau ternyata aku dan Hulya harus berpisah? Pasti karena kejadian ini, Aku jadi mengecilkan kemungkinan untuk bisa kembali dekat dengan Adel, ah pemikiran macam apa itu? Pikirku “Aku benar-benar jahat ya” Ucapku


ke Adelia, “maaf yah” sambungku.


“santai Ndi, tapi kita tetap berteman kan?” Tanya Adelia


“iya Del, pasti” jawabku,


“Oh iya Ndi, aku punya permintaan” Ucap Adelia,


“Apaitu Del” tanyaku,


“izinkan aku untuk terus berharap yah? Memang sih terdengar menjijikan, tapi asal kamu tau Ndi, selagi janur kuning belum melemgkung, kesempatan masih ada” jawabnya,


“meski harus sakit hati?” tanyaku lagi,

__ADS_1


“meski harus sakit hati” jawabnya.


Melihat Adelia seyakin itu, aku sempat senang karena dengan begitu aku tidak perlu khawatir ketika aku putus dengan Hulya nanti, ah pikiran macam apaini? Jangan berpikir yang tidak-tidak, sadar diri lah, umur kamu udah 23, sudah bukan waktunya untuk main-main soal jodoh, hardik ku dalam hati karena selalu memikirkan yang tidak-tidak.


“lebih baik jangan deh Del, walaupun atas kemauanmu sendiri, tetap dosanya ngalir ke aku. Gini deh Del, karena ini soal jodoh, kalo kamu memang ternyata kamu adalah jodohku, pasti akan kujemput walau harus merangkak” ucapku, “selanjutnya kita berserah diri saja dulu, saling memantaskan dan mempersiapkan diri untuk jodoh kita nanati, siapapun dia” sambungku lagi,


Mendengar itu, kulihat Adel menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, “Makasih ya Ndi, tapi setidaknya jadikan aku sebagai salah satu orang yang ada di hatimu” ucap Adelia,


“iya Del” jawabku,


“yah meskipun hanya sebatas teman” sambung Adel,


“iya” jawabku singkat. Tidak terasa, kita berdua sudah sampai, setelah pamit ke Adel, aku langsung pergi menuju rumah Hulya. Sesampainya di rumah Hlya, ternyata tamu om Andi udah pulang, jadi aku sudah diersilahkan untuk masuk ke dalam rumah.


“Ka Andi dari mana aja?” Tanya Cipa,


“Oh, tadi habis disuru tante buat jemput tetanggaku di kantor” jawabku, “tanpa disuruh juga pasti ka Andi jemput kan? Tanya Cipa lagi, “Gak tau ya, tergantung sikon sih” jawabku lagi,


“Kalo sikonnya kayak tadi?” Tanya Cipa lagi, maksudnya siskon ketika aku bersama Hulya tadi, “pasti lah, pasti aku tolak” jawabku sedikit melucu, “ah masa?” Tanya Cipa lagi,


“lagi masak tuh” jawab Cipa, “Ooh, kamu gak kuliah?” tanyaku,


“Gak masuk dosennya kak, ini barau nyampe dari kampus” jawab Cipa,


“Oh gitu, yaudah kak Andi ke dapur dulu ya, mau nemenin Hulya” ucapku yang kemudian berdiri dan berjalan menuju kea rah dapur.


“wah baunya harum, pasti enak” Ucapku yang membuat Hulya sedikit kaget,


“Ah, ngagetin aja. Jelas enak lah, spesial untuk kamu” kata Hulya,


“Skill jadi emak-emaknya jangan dipamerin dulu dong” ledek ku,


“Anggap aja gladi Ndi, sana ganti celanamu dengan sarung, supaya jadi kayak bapak-bapak” balas Hulya,

__ADS_1


“mendalami karakter ya” ucapku tertawa,


“Tumben pinter” ledek Hulya,


“Pacar siapa dulu” tanyaku,


“tetanggamu” jawab Hulya dengan nada sedikit meledek,


“ciee cemburu” kataku ke Hulya, “jelas dong” ucap Hulya sambil mencubit hidungku, “kamu jangan macam-macam yah, kalo samai macam-macam, kubunuh” ucapnya dengan nada yang horror,


“iya Huul” jawabku singkat, “udah tunggu di meja makan aja, oh iya panggilin papah di atas yah, sama Cipa juga” pinta Hulya padaku,


“iya ratu” jawabku. Setelah om Andi dan Cipa kupanggil, kita bertiga kemudian dudu di meja makan menunggu makanannya disajikan oleh Hulya, “bantu kakak mu sana” ucap om Andi ke Cipa,


“Malas pah” jawab Cipa,


“saya aja Om” tawarku ke om Andi,


“gak usah, nih udah selesai” ucap Hulya yang datang dari belakang sambil mendorong sebuah meja makan beroda berisi masakan yang dimasaknya tadi.


Setelah makan, om Andi kembali masuk ke ruang kerjanya, Cipa masuk ke kamarnya, sehingga yang tersisa tnggal aku dan Hulya. Hulya kemudian mengajakku untuk menonton TV, dan entah mengapa, acara tv yang kita tonton saat itu adalah kisah mengenai seorang laki-laiki yang berselingkuh dengan rekan kantornya. Melihat itu, seketika aku teringat kembali dengan Adelia, aku berpikir apakah nanti aku akan menjadi seperti lakai-laki yang ada di dalam filim itu kalo aku selingkuh dengan Adelia? Kulihat, laki-laki di dalam filim itu digerebek pacarnya di sebuah kafe dan disiram menggunakan air jeruk. Ah pasti ini sudah terlalu didramatisir oleh aktornya, pikirku lagi. “tau rasa kamu” teriak Hulya yang terlihat sangat puas karena adegan itu


Sejam kemudian aku pamit untuk pulang rumah, dan setelah pamitan sama om Andi, aku pulang ke rumah tanteku. Sebelum aku pulang, Hulya sempat berpesan kepadaku untuk jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak perlu, fokus saja terhadap apa yang ingin diraih. Mendengar perkataan Hulya tersebut sedikit membuat pikiranku terbuka, dan kalo aku pikir-pikir lagi, ternyata Hulya sangat memperhatikanku, ini terbukti dari dia tau kalo aku sedang banyak pikiran, dia tau apa yang aku rasakan, dia mengerti perasaanku walau tak ku jelaskan, dan hal ini yang membuatku tidak punya pilihan lain selai bertahan untuk terus mencintai juga menyayanginya.


Sesampainya di rumah, kulihat tanteku juga baru sampai. setelah masuk ke dalam rumah, aku langsung masuk kamar dan menghempaskan tubuhku di atas kasur. “kamu harus buang jauh-jauh keinginanmu untuk selingkuh Ndi, ingat! Hulya sudah terlalu baik padamu, membuatnya sakit hati hanya akan membuatmu menjadi buruk, teteaplah mencintainya” ucapku kepada diriku sendiri sembari melihat poto Hulya yang ada diponselku, dan tidak lama setelah itu aku tertidur.


“Andi…..bangun, udah magrib tuh” teriak tanteku dari luar kamar,


“iya tan” balasku yang kemudian bangun lalu sikat gigi kemudian ke masjid. Setelah selesai sholat Magrib, aku secara tidak sengaja bertemu dengan Adelia sewaktu pulang dari masjid, kulihat dia memandangiku dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, “Hy Ndi, kok lama” ucap Adelia,


“kok lama?? Oh kamu nungguin aku yah Del?” tanyaku,


“iya” jawabnya singkat, dan kulihat pipinya sedikit memerah karena malu,“oh, yaudah ayo balik” ajak ku. Di jalan, aku bertanya mengenai hasil interview tadi, katanya dia keterima menjadi sekertaris tanteku dan tinggal menunggu panggilan saja. Setelah berpisah, tersisa aku berjalan sendirian, kembali berpikir, bagaimana mungkin aku yang terlihat biasa-biasa inidiajak pacaran oleh perempuan secantik Adelia, dan bahkan kemarin Hulya lah yang duluan menembakku, apasih yang membuat mereka memilih ku? Ah sudahlah, mungkin mereka khilaf pikirku dengan sedikit tertawa.

__ADS_1


Bersambung…………………


__ADS_2