
"Telpon dari siapa" tanyaku ke Hulya,
"Dari teman sewaktu kuliah kemarin Ndi, kenapa?" Jawab Hulya,
"Tidak, kok jawab telponnya jauh-jauh dari ku?" Tanyaku lagi dengan nada agak sedikit cemberut,
"Gak kok, kamu kenapa? Marah ya? Iya maaf deh" ucap Hulya,
"Itu temen cowok apa cewek?" Tanyaku lagi,
"Cowok Ndi" jawab Hulya,
"Kenapa dia nelpon?" Tanyaku kembali,
"Yah mau nanya kabar aja, mau diajak ngumpul juga sih" jawab Hulya santai,
"Kapan?" Tanyaku,
"Sebentar malam" jawabnya singkat,
"Aku boleh ikut?" Tanyaku,
"Maaf ya, dilarang ngajak pacar katanya" jawab Hulya,
"Aku anterin, boleh?" Tawarku,
"Dijemput katanya" jawab Hulya,
"Yang jemput siapa?" Tanyaku lagi,
"Yang nelpon tadi, ini kamu kenapa sih?" Ucap Hulya sedikit emosi,
"Kamu yang kenapa Hul, masa aku mau nganterin kamu, kamu nolak dengan alasan ada cowok lain yang mau jemput kamu, masa aku tidak boleh marah" kataku dengan nada sedikit keras,
"Dia hanya teman ku Ndi, bukan siapa-siapa" jawab Hulya,
"Apakah harus menjadi siapa-siapa untuk punya rasa?" Tegasku, lalu pergi meninggalkan dia di ruang keluarga,
"Ndi, tunggu!! Andiiii!"
Setelah pertengkaran itu, aku langsung pulang ke rumah tanteku. Malamnya, kulihat Hulya memposting Foto, kulihat ternyata dia sedang berada di pantai, ku coba untuk menelponnya,
"Hul, kamu di mana?" Tanyaku,
"Di warkop aja nongki-nongki" jawabnya, "kenapa Ndi?" Tanya Hulya,
"Yakin di warkop?" Aku balik bertanya,
"Iya Ndi, gak percayaan banget sih" jawab Hulya lagi, tiba-tiba aku mendengar ada suara cowok yang bertanya ke Hulya siapa yang menelponnya, dan aku sangat terkejut dengan jawaban yang diberikan "Ah tidak, bukan siapa-siapa" jawabnya kepada cowok itu,
"Bukan siapa-siapa? Maksud kamu apa Hul?" Tanyaku kembali,
"Kamu kenapa sih? Aku lagi ngumpul sama teman-teman nih, nanti aku telpon balik, yaaah" ucap Hulya yang kemudian langsung mematikan telponnya. Aku yang tidak trima, mencoba untuk menelpon nya kembali, tapi tidak di angkatnya, kulihat kembali story wa nya, ternyata sudah dihapus, aku berpikir apakah ada yang disembunyikan Hulya dariku? Sebegitu mengganggu kah diriku? Sampai untuk menelpon saja tidak diangkatnya, pikiranku semakin ke mana-mana, tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Yusuf, kalo Hulya banyak yang naksir, dan kalo aku ingat-ingat juga, Hulya tidak pernah memposting foto kita berdua, 'apakah ada hati yang sedang dijaga?' pikirku dalam hati. Semakin larut, aku semakin berpikiran yang tidak-tidak terhadap Hulya, karena dia belum juga menelponku dan juga tidak mau mengangkat telponku, baru setelah jam 12 malam dia mengirimkan sms padaku kalo dia mau nginap di rumah temannya, dalam hati kembai aku berpikir, kenapa harus di sms? Kan bisa telpon, pasti ada apa-apanya nih, kemudian aku menelponnya,
"Kamu di mana? Katanya mau nelpon balik, aku tungguin tidak ada, kamu mau nginap di rumah siapa?" Tanyaku dengan nada yang sedikit keras,
"Aku di rumah teman nih, mau tidur di sini. Iya maaf, aku kira kamu udah tidur, jadi aku gak berani nelpon" jawabnya,
__ADS_1
"Rumah siapa?" Tanyaku lagi,
"Di rumah temanku Ndi" jawabnya lagi,
"Iya namanya siapa" tanyaku dengan nada yang keras,
"Kok kamu kasar gini sih?" Ucap Hulya,
"Aku nanya di rumah siapa Hul, kamu gak paham ya?" Ucapku dengan sedikit menekan nada bicaraku,
"Di rumah Herdi, kawan lamaku" jawabnya sedikit terbata,
"Herdi siapa? Kenapa di rumahnya? Kamu jangan macam-macam ya Hul" Ucapku dengan nada yang keras,
"Yah trus di rumah siapa lagi Ndi, ini udah malam, teman-temanku juga semuanya tidur di sini" jawabnya,
"Coba vc" tawarku,
"Udah gelap" jawabnya santai,
"Aku gak percaya Hul, aku hawatir sama kamu, vc yah" kataku sedikit menurunkan nada bicaraku,
"Udah gelap Ndi, kamu kok gak percaya sih, aku aman-aman aja di sini" jawab Hulya,
"Kok sunyi, katanya bareng teman-teman, kok suaranya gak kedengaran" tanyaku,
"Iya, aku di luar" jawab Hulya,
"Kamu bohong ya hul" tanyaku lagi,
"Kamu kenapa sih" tanya Hulya,
"Udah ah, aku capek" ucap Hulya yang kemudian langsung mematikan telponnya,
"Hul, tung..........." Ucapku terputus karena telponnya sudah dimatikan Hulya. Lagi-lagi pikiranku ke mana-mana, bisa-bisanya Hulya yang dulunya perhatian sekali sama aku, bisa berubah drastis begini, apakah ada yang dia sembunyikan dariku, ato jangan-jangan dia lagi berduaan sama si Herdi ini? Ah masa iya, duh Hulya.... Pikirku dalam hati dengan sedikit meneteskan air mata ku, 'ah apaini? Aku menangis? Sial' pikirku lagi dalam hati.
Besoknya, sampai dengan jam sepuluh pagi Hulya tidak menelponku, padahal biasanya dia menelponku jam tujuh atau tidak jam delapan, tapi kali ini tidak ada, kembali pikiranku ke mana-mana, dia sedang apa sih, sampe jam segini belum ngabarin, pikirku.
Zzzzzzzzzz.....Zzzzzzzzzzzz......Zzzzzzzzzzz
Tiba -tiba Hulya menelponku,
"Halo Ndi, kamu di mana?" Tanya Hulya seakan tidak terjadi apa-apa,
"Di rumah, kamu di mana?" Tanyaku lagi,
"Masih di rumah temanku, kamu udah makan?" Jawab Hulya santai,
"Kapan pulangnya? Iya udah tadi" jawabku,
" Belum tau nih, kamu lagi apa?" Tanya Hulya, aku sempat heran, karena tidak biasanya Hulya nelpon hanya untuk bertanya hal-hal seperti ini,
"Duduk-duduk aja, kamu?" Jawabku dengan nada yang kukontrol supaya tidak terkesan emosi, karena memang saat ini aku sedang emosi,
"Oh, aku lagi tiduran aja" jawabnya, 'Andi lagi ya?' terdengar suara samar dari Hulya,
"Siapa itu? Kok suara cowok? Kamu tidur dengan siapa Hul?" Tanyaku dengan nada yang sedikit naik,
__ADS_1
"Tiduran di sofa Ndi, itu temanku, nih kami lagi nonton" jawabnya, dan terdengar ada sedikit perdebatan di sana,
"Halo Hul, kenapa?" Tanyaku,
"Udah dulu ya Ndi, nanti aku telpon" ucap Hulya yang kemudian mematikan telponnya.
Tidak lama kemudian, Hulya kembali menelpon ku.
"Ya Hul, kamu kenapa Hul? jawab dong" ucapku
"Ndi, aku sharelock ya, jemput aku sekarang" jawabnya, dan kemudian mematikan telponnya.
Tidak lama kemudian, masuk pesan WA dari Hulya mengirimkan alamatnya, dan dengan segera, aku menuju lokasi yang lumayan jauh dari rumah tanteku. Dengan menggunakan motor milik Hulya, sejam kemudian aku sudah sampai di rumah si Herdi ini, kulihat rumahnya besar sekali, terdiri dari tiga lantai, dan dari gerbang luar kulihat Hulya berjalan ke arahku, kulihat baju yang dipakainya sedikit lusuh, jilbabnya juga agak berantakan, "kamu kenapa Hul? Kok berantakan gini?" Tanyaku, kulihat juga dari jauh seorang cowok sedang mengawasi kami, lalu keluar lagi beberapa orang cowok dan cewek dari rumah, dan salah satu cewek itu berlari menghampiri aku dan Hulya, "aku gak apa-apa" jawab Hulya setelah agak lama,
"Alhamdulillah" ucapku, kulihat cewek yang berlari tadi sudah ada di dekat kami, dan berkata "Hul, maafkan aku, ku kira kamu belum punya pacar, maafin aku yah" Ucap cewek itu,
"Kenapa ini?" Tanyaku ke cewek itu,
"Aku berniat menjodohkan Hulya dengan Herdi, tadi pagi kami sengaja membiarkan Herdi berduaan dengan Hulya, eh taunya Herdi malah berbuat berlebihan, untungnya aku sempat mendengar perdebatan mereka, jadi aku bisa melerai mereka berdua" jawab cewek itu. Aku yang mendengar penjelasan cewek itu, kemudian memandangi beberapa orang yang sedang berdiri di depan pintu itu, lalu kulihat wajah Hulya yang terlihat ketakutan, lalu aku memeluknya, kupeluk erat dengan sambil memandangi mereka dengan tatapan benci, kurenggangkan pelukanku, kuangkat wajah Hulya, lalu kuciumi dahinya, kemudian kubasuh air mata nya lalu berkata "Sudah, aku sudah di sini. Semuanya akan baik-baik saja sekarang, jangan menangis ya" Ucapku pada Hulya,
"Makasih Ndi, maaf membuatmu khawatir" ucap Hulya sembari menyadarkan kepalanya di dadaku.
"Iya, tidak apa-apa" jawabku, kemudian aku berjalan mendekat ke arah mereka, "Dia pacarku, dan maaf, jangan ganggu Hulya lagi" kataku kepada mereka dan kemudian pergi.
"Ayo pulang" ajak aku ke Hulya,
Di motor, aku berusaha untuk menenangkannya, karena dari yang kulihat, Hulya nampak sangat shok, aku berpikir sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Hulya sampai seperti ini, tanyaku dalam hati. "Hulya, kalo kamu mau cerita perihal kejadian tadi, aku siap mendengarkan, tapi kalo kamu belum bisa cerita juga tidak apa-apa, asalkan kamu janji untuk tidak berurusan lagi dengan mereka" ucapku ke Hulya,
"Aku malu Ndi, rasanya tubuhku kotor, ah menyesal aku ikut nginap dengan mereka" Jawab Hulya dengan suara parau,
"Nanti kalo kamu udah siap ceritain semuanya, bilang yah, aku siap mendengarkan" Timbal ku balik.
"Iya sayang" Jawab Hulya yang langsung memelukku dengan erat lalu membisikkan "Makasih ya" .
"Iya Hul, maaf aku sempat emosi" Ucapku lagi,
"Iya aku ngerti kok, kamu emosi karna aku nyebelin kan" Jawab Hulya,
"Baguslah sadar diri" Jawabku tertawa,
"Sayang gak sama aku?" Tanya Hulya dengan nada sedikit genit,
"Iya" Jawabku singkat,
"Jawabanmu kurang meyakinkan" Tegas Hulya, yang kemudian melepas pelukannya, kulihat dari sepion motor dia agak kesal, lalu ku ulurkan tangan ku untuk meraih tangannya dan menggenggamnya erat-erat kemudian berkata "Tolong biarkan aku untuk terus menyayangimu" Kataku,
"Alay" ucap Hulya lalu tertawa dan kembali memelukku erat,
"Tapi kamu suka kaan?" Balasku,
"Kalo tidak, untuk apa aku bertahan sampai sejauh ini" Jawab Hulya,
"Alay" Balasku lagi,
"ih ka....." Belum sempat Hulya menyelesaikan perkataannya aku memotongnya,
"Tapi aku sayang" Sambungku, kulihat Hulya hanya bisa tertunduk malu, wajahnya semakin dibenamkan di punggungku, seolah melepas segala beban pikiran yang ada.
__ADS_1
Bersambung...........