
"Ah, bosaan!! Aktif kuliahnya kapan sih" Ucapku dalam hati, kulihat di sekitar rumah sangatlah sepi, suasana pagi memang yang terbaik pikirku. Kemudian dari pintu pagar ada seorang perempuan misterius, "Kamu Andi kan?" Tanya perempuan misterius tersebut sambil berjalan masuk ke teras rumah,
"Iya aku Andi" Jawabku,
"Hey Andi, kenalin aku Adelia tetanggamu" Katanya sambil mengulurkan tangannnya untuk bersalaman,
"Oh masa? Aku gak tau, maaf ya" Jawabku yang juga mengulurkan tangan untuk bersalaman,
"Kamu belum pernah ya melihatku?" Tanya Adelia,
"Iya, soalnya aku jarang di rumah, tapi sekarang bisa sampai seharian di rumah karena kuliahnya belum aktif " jawabku,
"Oh gitu ya, tante kamu ada?" Tanya Adelia lagi,
"Iya ada di dalam, tapi sudah mau berangkat ke kantor, ada perlu apa Del?" Balik bertanya,
"Nggak tau tuh, Tante Dini (Nama tanteku, maaf baru dibahas hehe) tadi nelpon aku, katanya disuru ke rumah" jawab Adelia,
"Mau aku panggilin?" Tawarku,
"Nggak, nggak usah" Ucap Adelia "Aku tunggu di depan aja" sambungnya,
"Kamu kelas berapa?" Tanyaku
"Kelihatan muda banget ya?" Jawabnya sambil menutup wajahnya dan tertawa malu, "Aku Sarjana Hukum lo" sambungnya lagi,
"Kok ketuaan ya" jawabku sedikit mengejek,
"Kurang ajar kamu" Jawabnya yang juga ikut tertawa.
Cukup lama aku dan adelia berbincang-bincang, dan etah mengapa aku sangat mudah akrab dengan nya, apakah pembawaannya yang mudah akrab dengan orang baru, atau sekarang aku udah bisa cepat welcome sama orang. Dan kalau kulihat dengan seksama, Adel lumayan cantik, wajahnya sangat mencerminkan ke Ayu an perempuan Jawa, enak dipandang, juga manis, tidak terlalu tinggi dan walaupun berjilbab lebar aku merasakan jiwa-jiwa pemberontak ada dalam dirinya.
"Eh Adelia, udah lama ya?" Ucap tanteku setelah keluar dari rumah,
"Pagi tante, enggak kok barusan, lagian aku ditemenin ama Andi" jawab Adelia, "Oh iya, Kenapa tan? Pagi-pagi udah nelpon?" Tanya Adelia,
"Ini, tante mau nawarin kerjaan untuk kamu, gimana?" Ucap tanteku,
"Wah yang bener? Wah mau dong, kerja apaan tan?" Tanya Adelia kegirangan,
"Jadi sekertaris pribadi tante, oke gak?" Jawab tanteku,
"Waaaah, mau mau. Makasih ya tan" Jawab Adelia,
"Iya sama-sama, sebentar jam 9 datang ke kantor tante ya, mau di interview dulu soalnya" ucap tanteku lagi,
"Siap deh, Alhamdulillah akhirnya setelah sekian lama akhirnya aku dapat tawaran kerja, sekali lagi makasih ya taan" Ucap Adelia sembari memeluk tanteku,
"Iyaa iyaa, tante pamit dulu yaa. Eh Andi, kamu bisa ngantarin Adel ke kantor tante kan?" Tanya tante Dini ke aku,
"Iya siaap 86, nanti aku antarin" jawabku dengan mengajungkan jempol,
"Yee makasih Ndi, yaudah aku siap-siap dulu" ucap Adelia.
Sebelum berangkat, aku mengabari Hulya perihal tadi, "Iya Ndi, jaga jarak please" Tegas Hulya,
"Iya Hul, sebentar aku ke rumah ya" Ucapku,
"Iya, mau aku masakin?" Tanya Hulya,
"Iya boleh" jawabku,
__ADS_1
"Yaudah, aku tunggu ya. Bye sayang" Ucal Hulya lagi,
"Iyaaa, assalaamualaikum Hulyakuh"
"Waalaikumussalaam Ndi" kemudian telponnya ku matikan.
Di depan kulihat Adelia sudah menunggu, kemudian aku tertegun melihat Adelia, sangat berbeda dengan adelia sejam yang lalu, dan untuk pertama kalinya aku merasa dag dig dug ketika bersama perempuan selain Hulya.
"Kok bengong, yuk udah hampir jam sembilan nih" ucap Adelia,
"Iya iya, nih helm nya" sembari memberikan Helm,
"Jangan ngebut ya" kata Adelia,
"Iya 86 nyonya" jawabku sedikit tertawa,
Di perjalanan, nampak Adelia sangat canggung, begitupun denganku, kita berdua hanya bisa terdiam satu sama lain dan mungkin menunggu untuk salah satu dari kita memulai pembicaraan. Di tengah perjalanan, jalan nya ditutup sementara karena ada Demo mahasiswa, dan terpaksa kita berdua harus memutar agak jauh untuk menghindari masa.
Sesampainya di kantor, kulihat sudah pukul 8:58 pagi, "aku tungguin?" tanyaku ke Adelia,
"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri kok, makasih ya" jawab Adelia,
"Oh yaudah, nanti kalo ada apa-apa hubungi aku ya" balasku sembari memberikan nomor hp ku,
"Okeh siap, hati-hati di jalan yah" Ucap Adelia,
"Helemnya mo di simpan?" Tanyaku,
"Oh iya maaf" jawab Adelia dengan sedikit tertawa malu,
"Yaudah, bye" ucapku, lalu pergi.
Aku sempatkan untuk membeli buah nanas kesukaan Hulya, namun tiba-tiba Hulya mengabariku kalo di rumah ada tamu ayahnya, jadi aku belum disuruh ke rumah, "Oh iya, tapi aku udah beliin nanas loh, aku anterin yah" ucapku,
"Iya Hul" Balasku,
Di halaman rumah Hulya kulihat ada beberapa mobil terparkir, dari jauh juga kulihat Hulya berjalan menghampiriku, "kamu cantik, pacar siapa sih" tanyaku menggoda,
"Pacarnya buaya" jawab Hulya tersenyum, "sini masuk dulu, tapi kita duduknya di luar aja ya" tawar Hulya yang kemudian aku iyakan. Kemudian kita berdua duduk di bangku taman yang ada di halaman rumah Hulya. Rumah Hulya memiliki halaman yang cukup luas, bahkan saking luasnya, dihari pertama aku datang ke rumahnya, aku sedikit ngos-ngosan ketika berjalan dari gerbang menuju teras rumahnya.
"Perempuan yang kamu anterin tadi, cantik ya?" Tanya Hulya,
"Iya cantik" jawabku,
"Cantikan mana aku dengan dia" tanya Hulya lagi,
"Kamu lah" jawabku lalu tersenyum kepadanya,
"Ah pasti bohong" ucap Hulya,
"Yaudah, cantikan dia" jawabku,
"Jahat ih, sana pacaran aja sama dia" Ucap Hulya kesal,
"Gemes deh" ucapku sambil mencubit hidungnya dan mengelus kepalanya,
"Nanti papah lihat loh" bisik Hulya,
"Yah terus kenapa?" Tanyaku,
"Nanti kamu dimarahin" jawabnya,
__ADS_1
"Iya deh, maaf ya. Kamu nge gemesin soalnya" jawabku,
"Halah, kemarin juga ambil kesempatan nyium aku" ledek Hulya,
"Itu untuk nenangin kamu Hul, ah kamu gak bisa baca situasi ya" jawabku,
"Hehe, kapan-kapan cium aku lagi ya" bisik Hulya dan lalu tersenyum,
"Kaan mau juga" jawabku tertawa,
"Hul, ambilin tas papa di mobil" teriak om Andi dari dalam rumah,
"Iyah paah" jawab Hulya. "Tunggu bentar yah" ucap Hulya,
"Iya" balasku,
Zzzzzzzzz......Zzzzzzzzzzz......Zzzzzzzzzzzzz
Tiba-tiba ponselku berbunyi, kukihat Adelia menelponku
"Halo assalaamualaikum, kenapa del?" Tanyaku,
"Waalaikumussalaam. Ini Ndi, jemput dong, boleh yah?" Tanya Adelia. Agak lama aku menjawabnya sebab aku berpikir, tidak mungkin aku pergi menjemput Adelia sementara aku sedang bersama Hulya, tapi kalau kutolak alasannya apa? Apakah harus kujawab "Maaf aku lagi dengan pacarku" atau "Aku lagi di kampus nih", kan gak mungkin aku jawab seperti itu. "Kamu sibuk yah? Yaudah deh, aku naik taxi aja" ucap Adelia karena terlalu lama menunggu jawaban dariku,
"Eh gak kok. Gak sibuk, cuma anu" jawabku,
"Anu apa?" Tanya Adelia,
"Gak Del, iya nanti aku anterin pulang. Tunggu ya" jawabku,
"Ye makasih ya. Aku tunggu di kantin depan kantor ya" ucap Adelia,
"Iya del" lalu kumatikan telponnya, aduh gimana nih. Kulihat Hulya telah selesai mengantar tas milik ayahnya, "Hul, aku mau jemput Adel dulu ya, disuru ama tanteku soalnya" kataku berbohong kepada Hulya, aku sempat berpikir, kenapa aku bisa berbohong ke Hulya Sementara aku tidak bisa berbohong ke Adel? "Oh perempuan yang tadi pagi? Yaudah sana pergi" jawab Hulya sedikit cemberut,
"Duh, jangan marah dong, kan aku disuru tante ku, jangan marah yaa" bujuk ku,
"Iya iya, tapi balik lagi ke sini kan?" Tanya Hulya,
"Iya pasti" jawabku. Setelah kembali ku elus kepalanya, aku pergi menuju kantor tanteku untuk menjemput Adelia.
"Lama banget, aku hampir tua loh nungguin" keluh Adelia,
"Iya maaf, lampu merahnya nambah lima" jawabku melucu,
"Haha bisa aja kamu" balas Adelia tertawa, "yaudah aku naik nih" ucap Adelia,
"Iya naik aja, emang naik haji musti pake daftar dulu" jawabku,
"Lucu?" Tegas Adelia,
"Emang" jawabku, "nih helem nya" sambil menyodorkan Helm ke Adelia,
"Oke kang" jawabnya,
"Kang? Apaan, kira tukang ojek" ucapku,
"Emang" jawab Adelia lalu tertawa,
"Huh" keluhku yang juga ikut tertawa. Kemudian ku starter motor lalu pergi.
Lagi-lagi kita berdua kembali terdiam seolah tadinya tidak saling bicara. Tiba-tiba,
__ADS_1
"Ndi, jadian yuk"
Bersambung.............