Di Luar Hujan

Di Luar Hujan
Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Oh iya, besok pagi aku ke sini lagi yaah" Ucap Adelia sebelum dia kembalu ke rumahnya,


"Iya Del, makasih ya" balasku, kulihat dia senang mendengar jawabanku, kemudian dibalas dengan lambayan tangan olehnya, ditambah dengan senyum manis diwajahnya. Setelah menutup pintu, aku kembali sendiri, dan segala beban pikiran yang tadi sempat hilang tiba-tiba datang kembali. 'Kenapa ya, orang yang justru membuat aku tenang datangnya terlambat' tanyaku dalam hati. 'ah, apasih yang aku pikirkan' hardik ku kepada diriku sendiri. Kulihat jam, sudah menunjukkan pukul 20.15, aku segera kembali ke dapur untuk mengatur meja makan dan mencuci piring yang tadi aku pakai. Setelah semuanya selesai, aku kembali masuk ke kamar dan langsung melemparkan tubuhku ke ranjang dengan harap aku bisa langsung tertidur, tapi ternyata tidak, aku masih saja kepikiran dengan apa yang dikatakan Hulya sore tadi, ditambah dengan perlakuan Adelia terhadapku, apalagi perkataannya yang terdengar seperti dia masih berharap kepadaku, ah semua ini membuat aku jadi tidak bisa tidur,, kemudian aku teringat dengan perkataan Yusuf tadi, bahwa jangan sampai keadaan ini akan membuat kuliah ku hancur, tapi apalah daya, aku tidak lagi berdaya, dan itulah yang aku rasakan saat ini.


Zzzzzzzz........Zzzzzzzzzzzz.........zzzzzzzzzzz


Tiba-tiba HP ku bergetar, kulihat Hulya menelponku.


"Ya Halo, assalaamualaikum" kataku setelah mengangkat teleponnya,


"Waalaikumussalaam Ndi" balas Hulya,


"Kamu lagi banyak pikiran ya?" Tanya Hulya, mendengar pertanyaannya, dalam hati aku berpikir 'Hulya tau dari mana kalau aku lagi banyak pikiran? selalu saja begini, entah mengapa, segala sesuatu yang aku rasakan seolah diketahui oleh Hulya'


"Tidak Hul, kenapa kamu tanya seperti itu?" Tanyaku,


"Ndi, butuh waktu berapa lama untuk kamu bisa berkata jujur sama aku?" Tanya dia kembali yang sontak membuat aku terdiam,


"Aku Menunggu" ucal Hulya,


"I..i..iya Hul maaf, aku hanya kepikiran dengan apa yang kamu minta tadi Hul, maaf ya" ucapku terbata-bata,


"ANDI" ucap Hulya dengan menekan suaranya seolah mempertegas bahwa ini adalah hal penting dan benar-benar hanya untuk ku.


"Aku seharusnya kepikiran Ndi, karena kamu dengan sok tegarnya mengatakan iya, padahal aku maunya kamu menolaknya" lanjut Hulya,


aku yang mendengar jawaban dari Hulya itu merasa heran dan kebingungan terhadap apa yang baru-baru saja terjadi. Pikir ku, aku seperti sedang dipermainkan oleh Hulya dengan cara berpikirnya.


"Aku begitu karena aku berpikirnya pasti ada alasan jelas di balik permintaan nya kamu Hul, jadi aku Iyakan saja" jawabku dengan nada rendah,


"jadi kamu maunya bagaimana?" Tanya Hulya,


"Aku maunya yang terbaik sajalah menurut kamu" jawabku,


"Kamu kenapa sih, kamu marah ya sama aku?" Tanya Hulya sedikit kesal,


"Tidak Hul, aku hanya heran saja dengan cara berpikirnya kamu, dengan tidak menyertakan alasan, tadi kamu mintanya aku begini, terus kamu seolah menyalahkan aku karena aku mengiyakan permintaan kamu yang tanpa alasan itu, dan kulihat kamu juga tersenyum setelah mendengar jawaban aku, ya aku berpikirnya itu jawaban yang tepat, tapi sekarang kamu malah menyalahkan aku, aku bukan orang yang bisa baca pikiran orang Hul, aku hanya bisa mengerti kamu dari apa yang aku lihat dan dengar saja" jawabku kepada Hulya dengan lembut karena tidak ingin menyakiti perasaannya,

__ADS_1


"Makasih ya Ndi, aku sebenarnya senang kamu bisa sejujur ini padaku, tapi jujur saja aku masih bertanya-tanya, apakah kamu betul-betul mencintai aku, apakah tidak ada orang lain dihatimu selain aku, dan apakah tidak akan lagi ada orang yang bisa mengisi hatimu selagi kamu bersamaku, itu yang selalu aku pikirkan Ndi" balasnya, kudengar dia seperti menangis ketika mengatakan itu,


"Alasan aku meminta kita menyembunyikan hubungan kita Ndi, karena kulihat kamu seperti tidak menganggap aku adalah pacarmu ketika di kelas, bahkan kamu juga tidak pernah memposting fotoku, dan itu membuat aku berpikir kamu maunya diam-diam berpacaran denganku, dan karena aku tidak ingin merasakan sakit lagi, maka aku meminta untuk hubungan kita disembunyikan saja" lanjutnya,


"Maaf ya, sepertinya aku sudah banyak bicara, dan pasti terdengar alay ya? Tapi begitulah isi hatiku Ndi, isi hati selamanya akan selalu terdengar alay kalau diungkapkan, maaf yah Ndi" sambungnya lagi.


Mendengar semua perkataan Hulya itu membuat aku tersadar dan mengerti, ternyata apa yang aku khawatirkan dan rasakan, juga dirasakan oleh Hulya, betapa bodohnya aku yang tidak menyadari hal tersebut.


"Maaf ya Hul, selama ini aku tidak menyadari itu, maaf sekali Hul. Aku pastikan, saat ini hanya ada kamu seorang Hul, dan tidak akan ada lagi selain kamu di hati ini" Ucapku kepada Hulya,


"Gombalmu alay Ndi" jawab Hulya,


"Segala yang keluar dari hati selamanya akan terdengar alay" balasku,


"pelanggaran hak cipta nih" ucap Hulya yang kemudian terdengar suara kalau dia sedang tertawa,


"Habis marah-marah kamu bisa lucu juga ya" kataku mengejek,


"Siapa juga yang marah?" balasnya,


"Ya kamu" tegasku,


"Tidak Hul, maksudnya tidak ada alasan untuk aku tidak lagi menyayangimu" jawabku,


"Idih alay" balas Hulya kemudian tertawa, aku yang mendengarnya tertawa juga ikut tertawa,


"Ciee baikan" kata Hulya,


"Ciee bucin" balasku,


"Ndi, kamu nggak bosan kan sama aku?" Tanya Hulya lagi,


"Malah aku bosan menunggu kapan aku bosan sama kamu" jawabku ketawa,


"kamu serius kan sama aku?" tanya Hulya,


"Iya Hul" jawabku singkat,

__ADS_1


"Nikah yuk" balasnya lagi, sontak aku terkejut mendengar nya, tapi aku berusaha untuk tetap tenang,


"Nikah itu bukan hanya sehari sebulan atau setahun Hul, tapi seumur hidup" balasku,


"Hm iya deh, aku takut nanti kamu nikahnya sama orang lain Ndi" jawab Hulya lagi,


"semoga orang lainnya itu kamu Hul" balasku,


"Jadi kamu nganggap aku orang lain?" Tanya Hulya,


"duh kamu lagi datang bulan ya?" tanyaku sambil tertawa,


"Mengalihkan topik nih" balasnya,


"Yah itu hanya perumpanaan saja Hul" jawabku,


"Oh" balasnya singkat,


"Oke udah ya aku matiin telepon nya, makasih ya Ndi, selamat tidur, Assalaamualaikum" ucap Hulya,


"Iya Hul, makasih kembali, waalaikumussalaam" jawabku.


Setelah mematikan telepon nya, hal yang tadi membuat aku kepikiran dan membuat perasaanku kacau tiba-tiba hilang semua, dan tidak kusadari ternyata lama juga Hulya menelponku tadi, biasanya tidak pernah lebih dari 2 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang penting saja, tapi barusan durasi nya hampir 10 menit, ya walaupun bagi orang lain itu tidak terlalu lama, tapi jujur saja itu adalah rekor kita berdua. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00, aku kemudian mematikan lampu dan tidur.


Keesokan paginya, ketika aku keluar kamar, aku dikejutkan dengan keberadaan Adelia di rumah,


"Pagi sekali kamu Del, niat sekali kayaknya" ucapku,


"Kamu keberatan?" Tanya Adelia,


"Becanda Del" jawabku,


"Yaudah diam" balasnya,


"Galaknya" Kataku,


"Kamu jahat ya Ndi" Kata Adelia Tiba-tiba.

__ADS_1


Bersambung...............


__ADS_2