Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 10


__ADS_3

" Mahesa?." Puspita benar-benar terkejut melihat mantan suaminya datang kebutik.


Terlebih, pria itu tak menunjukkan wajah ramah sedikitpun. Bahkan seperti tengah menyimpan emosi. Namun ia teringat jika Mahesa belum melakukan pengukuran, tampaknya pria itu datang kesini untuk itu.


Puspita lekas mengambil pita ukur dimeja kerjanya, mendekati pria yang masih menatapnya dengan nyalang itu.


" Mari kita mulai pengukurannya." Ujarnya berusaha seramah mungkin, memperlakukan Mahesa seperti pelanggan pada umumnya.


Walau cara pria itu masuk keruang kerjanya benar-benar tidak sopan. Tapi ia merasa beruntung, karena Dinda sudah pulang kerumah dan tidak perlu melihat pria itu lagi.


" Kamu benar-benar pandai bersandiwara, tidak heran dulu aku dengan mudah kau bodohi." Ujar Mahesa dengan tatapan tajam.


Puspita tak ambil pusing sikap pria itu, ia tetap melakukan pekerjaannya sebagai seorang designer. Terlepas dari perasaannya pada pria itu, Mahesa adalah ayah putrinya, tidak lebih.


" Saya tidak mengira Anda masih mengingatnya. Karena seingat saya kita hanyalah orang asing." Balasnya santai, namun berhasil membuat Mahesa semakin emosi.


Tangan kekarnya lekas mencengkram tangan Puspita yang masih sibuk mengukur, membuat wanita itu meringis kesakitan.


" Kamu benar-benar bahagia bersama baj**gan itu..." Netra Mahesa memerah, ia benar-benar emosi setiap mengingat pengkhianatan Puspita.


" Lepas!." Teriak Puspita kesakitan.


" Kenapa? Sakit? Sakit karena luka yang kamu torehkan 5 tahun lalu bahkan belum sembuh sampai sekarang..." Ujar Mahesa dengan suara serak, berbisik tepat ditelinga Puspita.


" Luka?." Bagaimanapun Puspita hanya wanita biasa. Mendengar semua yang Mahesa katakan, jelas membuat pertahanannya runtuh. Akhirnya embun itu lolos juga dari pelupuk matanya.


" Siapa yang memberi luka, dan siapa yang terluka, Anda tidak pernah benar-benar memahaminya." Puspita balas menatap Mahesa dengan nyalang.


" Cih!." Mahesa menghempaskan cengkramannya begitu saja, membuat Puspita terhuyung, tepat saat Revan masuk dan menolongnya.


" Lihat, baji**anmu datang sebagai pahlawan..." Mahesa menatap penuh kebencian pada Revan yang menangkap Puspita.


" Jangan coba-coba sakiti Puspita!." Revan berdiri tegap tepat dihadapan Mahesa.


" Kenapa? Apa kamu masih belum puas dengannya? Berapa yang kamu mau, akan kuberikan, asal kamu memberikan j**ang itu padaku."


Plakkk!!!


Puspita menatap Mahesa yang memegang pipinya. Rasa perih dan panas yang menjalar ditelapak tangannya tak dapat melebihi sakit dihatinya.


Ia merasa sudah cukup sabar, namun mendengar celaan yang bahkan tak pernah dilakukannya, membuat emosinya memuncak.


Kedua pria itu menatapnya tak percaya, bahkan Revan tak pernah melihat Puspita semarah sekarang.

__ADS_1


" Siapa yang Anda maksud j**ang. Ha...!!!." Teriaknya berniat kembali menampar Mahesa, namun dicegah oleh Revan.


" Tenanglah Puspita. Kita harus bicara dengan kepala dingin."


" Bagaimana bisa aku tenang, jika pria ini terus menuduhku tanpa alasan." Puspita menatap Mahesa penuh emosi.


" Tanpa alasan kamu bilang? Lalu apa yang coba kamu perlihatkan sekarang? Kemesraanmu dengan pria lain?." Mahesa melirik Revan dengan cemburu berbalut amarah.


" Revan bukan pria lain."


" Ah benar, maaf. Dia memang bukan pria lain. Tapi dia adalah selingkuhanmu dan sekarang sudah menjadi suamimu. Benar?."


" Berhenti bicara omong kosong. Saya berusaha bersabar karena Anda adalah pelanggan butik ini. Namun melihat ketidak sopanan Anda, sebaiknya pesanan ini dibatalkan. Saya akan mengembalilan royalti yang sudah saya terima."


" Puspita, kumohon tenanglah. Mahesa tidak tahu apapun." Revan terus berusaha menenangkan Puspita.


" Benar, aku memang tidak tahu apapun. Andai aku tahu wanita yang kunikahi 5 tahun lalu adalah seorang ja***g, maka aku tak akan menikahinya."


" Lalu kenapa Anda kemari? Hanya untuk mencaci maki. Tidak puaskan Anda melakukannya 5 tahun lalu?."


" Kamu bahkan bisa hidup dengan damai setelah itu. Kamu tidak tahu Puspita! Berapa kali aku berharap semua itu hanyalah mimpi, kamu tidak pernah berkhianat dan janin dalam kandunganmu adalah darah dagingku sendiri. Tapi ketidak hadiranmu disisiku selalu membuatku tersadar secara paksa. Wanita yang begitu kucintai, telah tega mengkhianatiku."


Ucapan Mahesa membuat Puspita tak dapat menahan air matanya, kini ia tahu bukan hanya dirinya yang menderita, tapi juga pria itu, ayah putrinya.


" Jika yang Anda katakan cinta adalah nyata, maka Anda akan mendengarkan penjelasan Saya dihari itu. Dan perpisahan ini tidak akan pernah terjadi." Balasnya dengan menahan sesak didada.


" Dinda sayang." Suara lembut Puspita menyambut putrinya. Kemarahan dan kesedihan yang beberapa saat lalu menguasainya seakan menguap entah kemana. Dengan cepat ia mengusap air mata dipipinya.


" Kenapa Bibi bawa Dinda kesini Bi?."


" Non Dinda nyariin nyonya terus sampai nangis."


" Baiklah kalau begitu, Bibi boleh pergi."


" Ayah..." Teriak gadis itu membentangkan kedua tangan, membuat Mahesa terhenyak. Ada rasa tak biasa saat mendengarnya. Degup jantungnya terasa kencang secara tiba-tiba.


Dia baru saja ingin menyambut Dinda kedalam pelukan, sebelum akhirnya Revan mendahuluinya dan menyadarkannya, siapa yang bocah itu panggil.


" Sayang..." Revan lekas menggendong Dinda, kemudian melirik Puspita, seakan bertanya apa mereka harus mengatakan yang sebenarnya pada Mahesa. Namun wanita itu dengan cepat menggeleng.


" Lihat betapa bahagianya kalian diatas penderitaanku." Setelah mengatakannya, Mahesa langsung pergi begitu saja.


" Kenapa kamu tak coba jujur saja padanya. Apapun yang dia katakan adalah yang tak kamu akui secara langsung." Ujar Revan.

__ADS_1


" Apa maksudmu?." Puspita jelas marah mendengarnya.


" Dia akan tetap menganggapmu seperti ini sampai kau mengatakan kebenarannya. Kamu hanya perlu berkata 'iya', dan aku akan membongkar semua kebusukan Tania. Mahesa masih mencintaimu, dia akan bahagia saat tahu apa yang sebenarnya terjadi."


" Tidak."


" Kamu selalu berkata begitu, tapi hatimu berkata lain."


" Biarkan saja waktu yang bicara."


" Maka terimalah semua hinaanya sampai waktu yang bicara. Jangan terbawa emosi oleh orang yang salah paham."


Andai saja Revan tahu, apa yang Tania katakan padanya, mungkin Revan tak akan terus membujuknya seperti ini.


" Kalau kamu sampai berani bilang kalau Mahesa ayah anak kamu, jangan salahin aku kalau aku akan bunuh dia dan ibunya." Ancam wanita itu sebelum ia menaiki mobil untuk pulang kembali kebutik setelah melakukan pengukuran pakaian, dirumah mantan mertuanya.


" Kamu gak akan berani." Ucapnya pada Revan.


" Bahkan meski aku harus dipenjara seumur hidup, aku akan melakukannya." Balas Revan penuh keyakinan.


' Bagaimanapun aku gak akan mempertaruhkan nyawa mereka hanya demi meluruskan kesalah pahaman. Biarlah seperti ini, setidaknya nyawa mereka akan aman.' Batin Puspita yang tau betul sifat nekat Tania sejak kecil.


" Bunda." Panggil Dinda dengan polos menatap ibunya.


" Ada apa?."


" Kamu? Mimisan..." Ucap Revan panik.


Puspita menyentuh cairan kental dibawah hidungnya, ia segera mengelapnya dengan tisu dimeja kerjanya, namun sayang darah tak juga berhenti. Ia segera lari menuju toilet, hingga beberapa saat darahpun berhenti.


" Sejak kapan kamu mimisan?." Revan memeriksa suhu tubuh wanita itu setelah Puspita keluar dari toilet, wanita itu nampak lemas dengan wajah yang pucat pasi.


" Sudah beberapa bulan ini, mungkin sekitar seminggu sekali."


" Kenapa kamu tak mengatakannya padaku?." Tanya Revan cemas.


" Memangnya untuk apa? Ini hanya mimisan biasa karena kelelahan."


" Suhu tubuhmu lumayan tinggi, sebaiknya kita kerumah sakit."


" Tidak perlu, aku harus mengerjakan beberapa design dulu."


" Kamu bisa mengerjakannya jika kamu sehat_"

__ADS_1


" Aku baik-baik saja dokter Revan Hardiansyah, kamu tidak perlu khawatir." Potong Puspita cepat.


Bersambung.


__ADS_2