Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 8


__ADS_3

" Puspita?." Tatap wanita yang masih cantik diusia 60 tahun itu dengan terkejut.


" Kenapa kamu bisa masuk kesini?." Cercanya penuh amarah.


Puspita berdiri, menatap wanita paruh baya didepannya. Ternyata benar, Santi tak pernah mengubah cara pandang terhadapanya.


Sementara Riska yang melihat atasannya berdiri juga ikut berdiri.


" Satpam! Satpam!." Teriak Santi. Namun tentu satpam yang berada digerbang tak mendengarnya karena jaraknya cukup jauh. Pelayan yang membukakan pintu untuk Puspita datang.


" Kenapa wanita ini ada disini?." Tanya Santi marah menunjuk Puspita yang masih tetap diam. Wanita itu sedang menyiapkan mental menghadapi mantan mertuanya itu.


" Maaf Nyonya, bukannya mereka orang butik yang Nyonya katakan?." Jawab pelayan dengan gemetar.


" Orang butik?." Tatapan Santi beralih pada Puspita yang masih diam dengan tatapan datar.


" Oh, jadi kamu kerja dibutik?." Ujar Santi dengan tatapan meremehkan, menelisik penampilan Puspita dari atas kebawah, kemudian sebaliknya.


" Benar." Puspita menjawab singkat. Bagaimanapun dia datang untuk pekerjaan, bukan yang lain.


" Kenapa dia yang datang, sayakan minta yang datang bosnya. Bukan wanita murahan ini!." Ujar Santi pada Riska yang ditemuinya kemarin.


Tangan Puspita terkepal mendengarnya, namun ia tak boleh membalas apalagi menangis. Dia harus mengembalikan harga dirinya yang dulu diinjak-injak.


" Tapi..."


Puspita mengangkat tangan, pertanda agar Riska tak melanjutkan ucapannya.


" Bos kami sedang sangat sibuk, jadi beliau meminta saya yang datang."


Mendengar jawaban Puspita membuat Riska bingung, namun ia tetap memilih diam.


" Begitu?. Maka sepertinya saya harus menuntut butik itu karena mempekerjakan wanita sepertimu!. Bagaimana bisa butik sebesar itu merekrut seorang pel**** sebagai karyawan." Ucap Santi mencibir.


Puspita berusaha menahan emosi mendengar kata hina itu lagi-lagi ditujukan untuknya. Namun yang bisa dilakukannya hanya berusaha bersabar.


" Anda tidak bisa melakukannya!."


" Kenapa? Saya bisa melakukan apapun yang saya mau."

__ADS_1


" Karena laporan Anda tidak masuk dalam Undang-Undang manapun."


" Cih! Pengkhianat seperti kamu jangan coba mengajari saya soal hukum."


" Anda mungkin memiliki uang dan kuasa. Tapi Anda tidak berhak melakukannya."


" Puspita?." Tania yang baru datang bersama Rita terkejut. Melihat wanita yang membuat Mahesa semakin mengacuhkannya.


" Ma! Kenapa dia disini?." Tanya Rita.


" Orang butik minta dia yang kesini." Jawab Santi menahan kesal. Puspita sudah berani menjawabnya.


" Apa?. Sepertinya kita harus menuntut butik itu Ma. Masa mempekerjakan orang seperti ini?." Cibir Tania, menatap penuh kebencian pada mantan sahabatnya itu.


" Sudahlah, lupakan saja. Itu adalah butik terbaik dikota ini. Kita juga harus memakai pakaian terbaik saat Nia bertunangan bukan?." Ujar Santi yang mau tak mau membenarkan ucapan Puspita.


Tidak ada dasar hukum dia bisa menuntutnya. Meski dirinya adalah orang kaya, dia bukan orang licik yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.


" Tapi Ma, dia itu wanita pengkhianat, pel****, dan tukang selingkuh. Reputasi kita bisa tercoreng kalau dia tetap bekerja dibutik tempat kita membuat pakaian." Balas Tania tak terima. Ia tak akan membiarkan Puspita memiliki celah apapun masuk kedalam keluarga Adinata.


" Apa gak ada butik lain dengan reputasi yang lebih baik dari pada ini Ma?." Tanya Rita.


" Lagian kenapa sih Bos kamu ngirim kamu kesini?." Tanya Tania menatap Puspita penuh emosi, yang dibalas dengan sebuah senyuman oleh wanita itu.


" Oh ya... Kayanya hidup kamu lumayan ya sekarang?." Tanya seperti sindiran melihat penampilan Puspita.


" Pasti hasil dari pindah dari satu pria ke pria lain. Gak kasihan sama anak kamu itu? Atau... Dia kamu telantarin begitu aja setelah dapet sugar daddy?." Lanjutnya melihat Puspita hanya diam saja. Ia merasa bisa menghina wanita itu habis-habisan.


" Mohon maaf. Tapi Anda tidak berhak menilai hidup saya. Anda bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada hidup saya, setelah fitnah yang anda tuduhkan." Ujar Puspita dengan tatapan tajam, membuat Tania merasa terintimidasi.


" Jangan asal bicara kamu? Aku tuh gak memfitnah, tapi mengatakan kenyataan." Ujar Tania yang mulai gelisah. Melihat Santi dan Rita hanya diam saja. Ia tak bisa membiarkan mereka mempercayai ucapan Puspita.


" Anda tidak perlu takut jika Anda memang benar." Puspita tetap tenang, sedangkan Tania sudah seperti cacing kepanasan mendengarnya.


Wanita itu menyadari, jika Puspita yang sedang berdiri dihadapannya sekarang tak sama dengan wanita yang terduduk dilantai 5 tahun lalu. Kini Puspita berani bicara melawannya.


" Kenapa kamu semarah itu Tania?." Santi menatap bingung Tania yang seperti tak tenang. Padahal Puspita mengatakannya dengan tenang.


" Kamu tidak perlu gelisah. Dia yang salah, seharusnya dia yang gak tenang." Ujar Rita menatap Puspita yang seakan tak terpangaruh sekalipun dengan pembicaraan mereka.

__ADS_1


" Itu keputusan kalian ingin melanjutkan pesanan ini atau tidak. Tapi saran saya, tak seharusnya kalian mencapurkan urusan pribadi saat ini. Lagi pula, bukankah kita sekarang hanya orang asing yang baru bertemu?." Puspita berusaha tenang.


Bagaimanapun ia tak mau menjadi lemah dan diinjak-injak lebih dulu. Jika mereka bisa bersikap baik, maka dia akan bersikap baik. Dan jika mereka terus menghinanya, maka dia akan melaiwan.


" Sebaiknya kita lanjutkan saja pesanan ini. Tidak ada bantahan." Ucap Riska pada Rita dan Tania.


" Kalau begitu, mari kita mulai pengukurannya."


Puspita mulai mengukur Santi, sementara Riska mengukur Rita. Sedangkan Tania menunggu giliran


" Kalau bukan karena Adinda Butik adalah butik terbaik dikota ini. Saya pasti sudah membatalkan pesanan ini." Ujar Santi.


" Awas aja kalau kamu sampai rekayasa ukurannya ya... Kita gak akan mau memakai pakaian yang kebesaran." Tambah Rita.


" Saya sudah bekerja dibutik itu sejak butik itu masih kecil dan belum terkenal seperti sekarang. Saya tidak mungkin mempertaruhkan reputasi butik hanya karena masalah pribadi."


" Baguslah." Balas Rita.


" Memang itu yang harus kamu lakukan. Jangan sampai bos kamu rugi karena mempekerjakan kamu." Ucap Tania tak dapat menyembunyikan rasa kesalnya.


Ia merasa, semua ini bukan kebetulan. Puspita pasti sudah berencana memasuki keluarga Adinata untuk kembali merebut Mahesa darinya.


Puspita tak menghiraukan ucapan mantan sahabat yang sudah mengkhianatinya itu. Ia memilih fokus pada pekerjaannya. Setelah pengukuran selesai, kini giliran design dan bahan seperti apa yang diinginkan.


" Ada berapa rekomendasi kain dan design yang sudah kami siapkan, kalian bisa memilihnya." Ujar Puspita setelah mereka berlima duduk. Memberikan album berisi design dan bahan kain.


Santi, Tania, dan Rita mulai memilih-milih. Sementara Puspita bernapas lega, akhirnya ia bisa menghadapi mereka. Hal yang paling ditakutkannya bertahun-tahun.


" Ada beberapa jenis kain yang menurut kami paling cocok untuk acara pesta. Tapi yang paling bagus menurut saya adalah kain sutra." Ucap Puspita.


" Tentu saja karena harganya tinggi." Balas Rita.


" Harga tinggi bukan tanpa alasan. Kain sutra memiliki keunggulan dibanding kain lainnya. Seperti berkilau layaknya mutiara, namun tidak berlebihan. Halus dan lembut, kuat, daya serap tinggi, bahkan bisa memblokir sinar UV, sehingga kesehatan kulit lebih terjaga." Jelas Puspita dengan lugas.


" Baiklah. Jika itu bahan yang bagus, maka kami akan memilih kain sutra." Ujar Santi yang kemudian diangguki oleh Puspita.


" Maaf, lalu dimana Tuan Mahesa?."


Pertanyaan Puspita membuat wanita tiga generasi didepannya menatap tajam, seakan yang baru saja ia katakan adalah sebuah kejahatan yang besar.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2