Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 13


__ADS_3

" Halo." Sapanya pelan atau lebih terkesan berbisik, tak ingin Mahesa tau dengan siapa dia bicara.


" Saya membawa kabar baik, sudah ada orang yang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Anda bisa datang kerumah sakit hari ini untuk melakukan beberapa tes awal."


Kalimat dokter dari sebrang telepon membuat wajahnya langsung tersenyum lebar, dia terus menggumamkan doa penuh syukur atas pertolongan Sang Pencipta. Kini, dia memiliki harapan yang besar untuk sembuh.


" Baiklah, saya akan datang segera."


Puspita menutup telponnya.


" Bi Ani." Panggilnya pada pengasuh putrinya yang sejak tadi diluar ruang kerjanya.


" Iya Bu?."


" Tolong bawa Dinda pulang, saya ada urusan sebentar."


Mahesa menatap wanita itu penuh tanya. Apa yang Puspita maksud sebagai urusan?.


" Baik Bu."


" Bunda mau kemana? Kan Dinda baru dateng." Dengan wajah cemberut bocah itu bicara, membuat Puspita semakin merasa sakit setiap kali membayangkan perpisahan.


" Cuma sebentar sayang, kalau Dinda gak mau pulang, Dinda bisa main diatas, gimana?." Bujuk Puspita yang ingin cepat memulai pengobatan. Ia harus sembuh demi putrinya, itu yang ia tekankan pada pikirannya.


" Tapi Bunda harus beliin Dinda es krim!." Bocah itu mengajukan syarat dengan bibir maju.


" Es krim? Baiklah. Mau rasa apa?."


" Cokelat sama stroberi." Dinda berucap dengan semangat.


" Siap Bos!." Puspita memberi tanda hormat pada putrinya, membuat bocah itu tertawa.


" Bawa Dinda keatas." Ucap Puspita pada Bi Ani.


" Biar aku saja." Mahesa langsung bicara.


" Anda tidak perlu repot-repot. Saya khawatir akan ada yang menunggu Anda sejak tadi dan menyalahkan saya karena itu."


Tepat setelah Puspita mengatakannya, telpon disaku jas Mahesa berdering, panggilan dari Tania. Mahesa dengan cepat mematikan ponselnya.


" Anda tidak perlu melakukannya, ada Bi Ani bersama Dinda, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Jangan sampai istri Anda datang kemari dan melemparkan berbagai hinaan dan fitnah pada saya."


" Sudah kukatakan, Tania bukan istriku."

__ADS_1


" Setidaknya ingat putri kalian." Puspita benar-benar ingin Mahesa pergi. Dinda tidak boleh terlalu dekat dengan ayah kandungnya itu.


" Aku akan mengatakan semua kebenaran tentang Dinda. Mama pasti akan menerimamu kembali, dan kita__"


" Saya tidak menginginkan diterima ditempat yang dahulu membuang saya. Silahkan, pintu keluar disebelah sana."


Mahesa mengalah, ia tahu Puspita tak akan semudah ini memaafkannya. Tapi ia berjanji tak akan menyerah, Dinda akan mendapatkan kasih sayang orang tuanya secara utuh.


Seperginya Mahesa, Puspita langsung berangkat menuju rumah sakit. Meskipun harus terjebak macet dan lampu merah, akhirnya ia tiba ditempat tujuan.


" Akan ada serangkaian tes awal meliputi EKG jantung, foto rontgen, CT-Scan dan tes darah. Anda harus menginap beberapa hari." Ujar dokter Sandi mulai menjelaskan.


" Apa saya tidak bisa pulang sesekali dok?."


" Saya tahu Anda ingin menyembunyikan hal ini dari keluarga Anda. Tapi jika Anda sesekali pulang, tentu itu tidak baik untuk tubuh Anda. Terlebih akan ada kemoterapi dan radioterapi. Anda juga harus diinfus untuk menyalurkan beberapa obat." Jelas dokter Sandi membuat Puspita  tak tahu harus berbuat apa. Karena dia benar-benar ingin pengobatan ini berjalan dengan cepat tanpa diketahui siapapun.


" Mungkin Anda harus membuat beberapa alasan untuk pergi. Karena Anda harus dirawat 1-3 bulan setelah tranplantasi selesai. Akan ada beberapa efek samping yang tentunya harus dengan pendampingan dokter."


" Dinda tidak bisa jauh dariku untuk waktu yang lama." Gumam Puspita yang masih sampai ditelinga dokter Sandi.


" Maka tidak ada pilihan lain selain memberitahukannya pada keluarga Anda."


" Kalau begitu beri saya waktu beberapa hari. Saya perlu memikirkan ini." Ujar Puspita pada akhirnya.


Puspita pulang dengan pikiran bimbang, dia benar-benar tidak punya pilihan selain memberitahukan penyakitnya. Tapi hanya satu orang yang akan ia beri tahu, yaitu Bi Ani, pengasuh putrinya.


Satu-satunya alasan adalah Dinda, dia tak tega membuat putrinya harus menunggu berbulan-bulan untuk bertemu dengannya. Itulah mengapa dia memutuskan Bi Ani perlu tahu penyakitnya. Jika bukan karena Dinda, dia tak akan mengatakannya pada siapapun.


Namun, sesampainya dibutik, ia malah berubah pikiran, kembali mengurungkan niatnya mengatakan pada Bi Ani. Ia masih belum siap merasa dikasihani. Ya, tentu saja, Bi Ani pasti akan mengasihaninya.


" Revan?." Puspita terkejut melihat pria itu ada diruang bermain putrinya. Sementara bocah itu sibuk sendiri sampai tak menyadari ibunya sudah pulang.


" Kamu sudah pulang?." Tanya Revan.


" Ya, kamu sudah lama?. Apa tidak ada pasien?." tanya Puspita balik.


" Shift ku sudah selesai, apa kamu keberatan aku kesini?." Canda Revan mengedipkan sebelah matanya.


"Tentu saja tidak!" Puspita terkekeh pelan.


Dinda yang baru melihat Ibunya langsung berhambur memeluk wanita itu.


" Aku hanya tidak ingin kamu meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk menemani Dinda." Jawab Puspita memeluk sang putri.

__ADS_1


" Es krimnya?."


Puspita tersenyum, putrinya tak pernah melewatkan menagih janji yang sudah dibuatnya. Untungnya dia tak melupakan keinginan putrinya, ia memberikan satu buah cup es krim yang langsung disergap bocah itu.


" Mahesa sudah tau semuanya?." Tanya Revan.


Puspita dapat menebak siapa yang memberitahu pria itu, ia langsung mengangguk sembari mendudukan putrinya disofa yang tersedia.


" Apa yang dia katakan?." Tanya Revan dengan tatapan menyelidik, tepatnya rasa cemburu jika Puspita kembali bersama Mahesa.


" Tidak ada. Dia bahkan memperkenalkan dirinya sebagai teman pada Dinda." jawab Puspita lesu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, dia belum bisa memprediksi apa yang akan Mahesa lakukan.


" Iya, namanya..." Bocah itu menyaut dan berpikir.


" Om Mahesa, Dinda disuruh panggil Om Mahes. Iyakan Bunda?." Tanyanya yang hanya diangguki oleh Puspita.


" Dia tidak mungkin tinggal diam. Benarkan?. Apa kau akan kembali bersamanya?." Nada cemburu jelas begitu kentara saat Revan menanyakannya, terlebih raut wajah yang ia tunjukan membuat Puspita merasa geli.


" Kenapa kau khawatir, bukankah kau yang paling gencar menyuruhku memaafkannya?." Goda Puspita menahan tawa.


" Puspita, aku serius!."


Bi Ani tiba-tiba datang.


" Tunggu Bi!." Teriak Puspita melihat Bi Ani berniat pergi.


" Tolong bawa Dinda keluar sebentar." Lanjutnya yang langsung dilaksanakan wanita itu.


" Aku juga serius Revan. Apa yang kau lakukan sebelumnya hanya sandiwara?."


Pertanyaan Puspita membuat Revan salah tingkah.


" Kau akan memaafkannya?." Tanya Revan balik.


" Tentu saja." Rasanya asik juga menjahili pria itu, pikir Puspita.


" Kau akan kembali bersamanya?."


" Tentu saja... Eh tunggu!." Cegah Puspita saat Revan berniat keluar begitu saja, membuat pria itu terdiam ditempatnya.


" Tentu saja aku harus memaafkannya, karena dia ayah putriku. Dan aku juga tidak boleh egois dengan terlalu menjauhkan Dinda darinya." Jelasnya mulai serius.


" Kau tidak perlu menjelaskannya padaku, aku tau betul kebahagiaanmu ada bersamanya." Ucap Revan tanpa membalikan tubuhnya, membuat Puspita semakin melihat jelas kecemburuan pria itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2