Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 12


__ADS_3

" Tidak masalah, itu sudah berlalu. Setidaknya Anda bisa belajar menilai mana yang benar, dan mana yang salah." Puspita berusaha acuh, ia tak ingin larut dalam emosi yang akan membuka kembali luka lamanya. Karena jika itu terjadi, maka kedamaian hati yang dia rasakan saat ini bisa menghilang begitu saja.


" Puspita..." Ucapan Mahesa terhenti saat Puspita berdiri, menatap pria itu dengan tenang.


" Pengukuran sudah selesai, akan lebih baik jika Anda pergi. Istri Anda pasti sudah menunggu diluar. Jangan sampai dia berpikir macam-macam tentang janda seperti saya." Ujarnya menunjuk daun pintu.


" Tania sudah pulang, dan dia bukan istriku." Mahesa bangkit, berusaha meraih tangan Puspita, namun tentu wanita itu menghindar.


" Seorang janda sering dicap sebagai wanita nakal. Sebaiknya Anda pergi sebelum timbul fitnah lagi untuk Saya." Meski sudah tahu, lagi-lagi Puspita berusaha acuh. Baginya, Mahesa atau siapapun yang menjadi bagian dari masa lalunya, adalah sesuatu yang tak perlu diingat.


" Tania bukan istriku Puspita, kami tidak pernah menikah!." Mahesa meninggikan suaranya satu oktaf, berusaha agar hati Puspita tergerak sedikit saja.


" Saya tidak peduli dengan urusan keluarga Anda."


" Puspita!." Mahesa mencengkram bahu wanita itu erat, menghadapkan wajahnya pada Puspita yang justru mengalihkan pandangan.


" Aku tahu aku salah, aku mohon maafkan aku. Kita mulai semua dari awal."


" Sesuatu yang sudah berakhir, tidak perlu diulang kembali." Terdengar dingin, namun netra wanita itu sudah berembun.


" Aku tau kamu masih mencintaiku Puspita, kita bisa bersama, dan Dinda bisa mendapatkan kasih sayang yang lengkap."


" Dinda?." Puspita menatap tajam Mahesa.


" Yah, putri kita." Ucap Mahesa antusias.


" Cih!." Puspita menyentak tangan Mahesa dibahunya.

__ADS_1


" Sudah saya katakan sejak awal, dia putri saya. HANYA PUTRI SAYA." Lanjutnya penuh penekanan.


" Jika dia hanya putrimu, lalu bagaimana bisa kamu membuatnya memanggil orang lain dengan sebutan 'ayah'?." Teriak Mahesa tak dapat menahan amarahnya.


" Orang lain?." Puspita tertawa sinis.


" Yang Anda katakan orang lain, justru orang yang selalu ada bersama kami. Orang yang selalu menemani saya disaat-saat tersulit saya, dimana tidak ada satupun yang mempercayai saya termasuk seseorang bergelar suami." Puspita menatap Mahesa dengan netra yang memerah. Menyiratkan rasa sedih yang berbalut amarah.


Sementara Mahesa tak mampu berkata apapun, apa yang Puspita katakan sungguh sudah menjadi tamparan keras baginya.


" Orang lain yang Anda maksud, adalah orang yang menenangkan Dinda saat dia menangis, orang yang rela bergadang semalaman jika Dinda sedang demam. Orang yang rela memberikan semua waktunya pada yang bukan siapa-siapanya!." Puspita berteriak keras, meluapkan segala emosi yang sudah ia pendam bertahun-tahun.


" Orang seperti itu, apakah tak layak baginya dipanggil ayah oleh putriku?." Rasa kecewa tercetak jelas dalam sorot matanya. Puspita tak akan memberikan celah Mahesa mendekati putrinya, hanya putrinya.


" Lalu kenapa kamu tak jujur saja pada Dinda siapa ayahnya?." Tanya Mahesa menahan rasa bersalah dihatinya.


" Dengan mudah Anda mengatakannya?. Anda tidak sedang memberikan lelucon bukan?. Apa Anda pikir saya akan memberitahukan siapa ayahnya?. Pria yang bahkan meragukan dirinya sebagai darah dagingnya sendiri?. Maaf, saya tidak sebaik itu." Puspita mulai kehilangan kendali, nafasnya tengah karena emosi.


" Bukan sekali dua kali dia kecewa karena tidak memilik ayah. Dan asal Anda tahu, dia baru memanggil Revan ayah, beberapa hari lalu. Saat Anda meminta seseorang mengawasi kami."


Mahesa tentu terkejut mendengarnya, ternyata Puspita tahu tentang Faris.


" Anda terkejut?. Yah, Anda memang harus terkejut. Tapi mungkin saya seharusnya berterima kasih pada Anda karena itu. Anda tahu kenapa? Karena untuk pertama kalinya sejak Dinda lahir, saya bisa melihat pancaran kebahagiaan dimatanya saat memanggil Revan dengan sebutan 'Ayah'. Kata yang selalu saya larang untuk dia ucapkan."


Puspita marah, namun kini dia justru benar-benar ingin menangis. Sekuat mungkin dia mencoba menahannya, dia tak akan terlihat lemah didepan manusia yang sudah menghinanya.


Mahesa hanya mampu membeku ditempatnya, tak satupun kata yang berniat ia lontarkan untuk menyangkal perkataan Puspita. Wanita itu telah memberikan gambaran jelas, kehidupannya selama 5 tahun ini. Hanya karena ia mudah terhasut dengan fitnah seseorang.

__ADS_1


" Bunda!." Pintu terbuka begitu saja, Dinda datang bersama Bi Ani yang berdiri dibelakangnya.


" Sayang, kenapa kamu kesini Nak?." Puspita lekas menghapus air matanya, kemudian memeluk putrinya, sembari menatap sinis Mahesa yang hanya terdiam sejak tadi.


" Dia siapa Bunda?." Tanya gadis kecil itu menatap Mahesa, yang kemudian duduk bersimpuh didepan Dinda seperti yang Puspita lakukan. Membuat wanita itu mendelik tajam.


" Kenalkan, saya Mahesa, teman Bunda kamu?." Mahesa mengulurkan tangan. Sementara Puspita menatapnya heran, mencoba mencari tahu apa yang sedang pria itu rencanakan.


" Teman Bunda? Bukannya teman Bunda cuman Uncle?." Tanya Dinda dengan polos. Sementara Mahesa cukup terkejut mendengar panggilan Uncle, mungkinkah yang dimaksud adalah Revan? Tapi, bukankah gadis itu sudah memanggil Revan 'Ayah'?. Dia menatap Puspita, kini dia mengerti jika ucapan Puspita tadi bukan kebohongan semata.


" Sekarang Om juga teman Bunda, panggil saja Om Mahes." Balas Mahesa membuat Puspita mengerti satu hal, mantan suaminya itu ingin mendekati Dinda dengan perlahan.


Sebenarnya dia ingin egois, membuat Dinda membenci pria yang menjadi ayahnya itu. Tapi tentu dia memiliki perasaan, Mahesa yang sudah tau tentu ingin dekat dengan putri kandungnya, meski pria itu belum tau tentang Salsa.


Mendengar perkataan Mahesa, Dinda menatap ibunya penuh tanya.


" Benar sayang, Om Mahes ini temannya Bunda." Akhirnya hanya itu yang bisa Puspita lakukan, ikut bersandiwara.


Akhirnya gadis kecil itu menyambut uluran tangan Mahesa yang sejak tadi mengudara, membuat pria yang merupakan ayahnya itu langsung memeluknya erat. Puspita langsung panik melihatnya.


" Terima kasih sayang, sekarang Om bisa jadi teman Dinda jugakan?." Tanya Mahesa menatap putrinya lekat, ia baru menyadari, jika garis wajahnya menurun pada putri kecilnya itu. Andai dia sadar lebih awal, mungkin ia sudah lama bisa memeluk Dinda.


" Hem, boleh. Dinda jadi punya Bunda, Uncle, dan sekarang Om Mahes" Dinda mengangguk semangat.


Puspita hanya mampu menatap interaksi keduanya dengan tatapan nanar. Melihat bahagianya Dinda menganggap Mahesa sebagai teman, ia tak bisa membayangkan jika gadis kecilnya tahu jika Mahesa adalah ayahnya, sosok yang diinginkannya selama ini.


Tiba-tiba, ponsel diatas meja kerjanya berdering. Puspita menjauh saat melihat nomor dokter Sandi tertera dilayar. Mengingatkan tentang hal lain yang membuatnya kehilangan semangat.

__ADS_1


" Halo?."


Bersambung.


__ADS_2