
Puspita menangis disamping Mahesa yang terbaring diatas brangkar rumah sakit. Dia tak menyangka jika Mahesalah yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakang padanya. Dan pria itu koma setelah mengalami komplikasi serius setelah menemuinya hari itu. Jika dia tahu akan seperti ini, dia tak akan kau dioperasi, sayangnya saat itu dia bahkan tak sadarkan diri.
"Kenapa kamu gak bilang soal ini padaku?" tanyanya dengan sesenggukan, pada Revan yang berada disampingnya.
"Karena dia melarangku melakukannya."
"Kenapa? Kenapa kamu tak mencegahnya!"
"Karena dia yang berwenang menandatangani surat persetujuan operasi, sebagai ayahnya Dinda."
Penjelasan Revan semakin membuat Puspita tak dapat menahan air matanya. Dia sungguh tak menyangka kalau Mahesa rela berkorban sebesar ini demi dirinya, dan bahkan rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Puspita mengusap air matanya kasar, menatap Mahesa.
"Terima kasih untuk kesehatan yang sudah kamu berikan padaku."
Dia tahu, menyesali dan memaksa dokter mengambil kembali sumsum tulang belakangnya kini tak berguna, yang bisa dia lakukan hanya berterima kasih pada Mahesa dan berdoa supaya pria itu baik-baik saja.
Revan yang melihatnya hanya bisa mencoba menepis egonya, yang begitu ingin menarik Puspita keluar dari ruangan ini. Namun nuraninya mengatakan jika dia tak boleh mengatakan itu, terlebih mengingat pengorbanan Mahesa yang begitu besar untuk wanita yang kini menjadi istrinya.
"Dia sudah benar-benar menyesali perbuatannya dimasa lalu, dan membuktikan jika dia masih begitu mencintaimu." Ucapnya pelan, namun masih sampai ditelinga Puspita.
Wanita itu segera tersadar jika Revan kini adalah suaminya, dia segera berdiri dan menatap Revan.
"Maaf sudah melewati batas." Ucapnya. Meskipun saat ini dia belum memiliki perasaan lebih pada Revan, tapi dia tetap tau batasannya sebagai seorang istri.
"Aku tidak memberimu batasan, jadi tidak ada yang melewati batas."
"Revan..." Puspita jelas tahu jika Revan mengucapkannya sembari menahan rasa cemburu.
"Aku akan membeli sandwich dan minum untuk kita, temani dan ajaklah dia bicara, mungkin dia akan sadar jika mendengar suaramu."
Revan langsung keluar setelahnya, membuat Puspita hanya bisa menahan rasa bersalahnya dan tetap menemani Mahesa. Tepat setelah Revan pergi, Santi dan Rita yang sedari tadi berdiri diluar masuk.
"Terima kasih sudah datang." Ucap Santi membuat Puspita terenyuh.
"Kenapa kalian menyembunyikannya dariku, jika bukan Tania yang datang dan mengatakan semuanya, mungkin..."
Puspita tak melanjutkan kalimatnya, toh apapun yang dia katakan tidak akan merubah keadaan Mahesa saat ini. Wanita itu tertunduk dibrangkar Mahesa, saat sebuah sentuhan membuatnya mendongak.
Dia menatap terkejut sekaligus bahagia, melihat Mahesa membuka matanya.
"Puspita..."
🍁
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, keadaan Mahesa sudah membaik. Setelah hampir seminggu penuh dirawat oleh Puspita, bukan untuk hal-hal berat karena wanita itu juga belum benar-benar sembuh. Puspita hanya bertugas untuk menemani dan menyuapi Mahesa makan.
Bukan keinginan Puspita yang jelas tahu ada hati yang tersakiti, hanya saja Revan terus mendesaknya menuruti keinginan Mahesa selepas sadar.
"Jangan tinggalkan aku lagi."
Awalnya dia kira Mahesa akan baik-baik saja setelah dia menolak, namun keadaan pria itu justru memburuk setelahnya. Dan hanya setelah Puspita menuruti keinginannya setelah diizinkan Revan, baru keadaan Mahesa membaik.
"Sekarang, boleh aku pulang?" tanya Puspita saat mereka berada disamping kolam renang, dirumah Mahesa.
Mahesa tidak hilang ingatan, Mahesa juga tidak lumpuh untuk melakukan semuanya sendiri. Hanya saja sikap pria itu terkesan manja selepas sadar, tentu saja hanya pada Puspita.
Memang tidak melewati batas, hanya saja Puspita yang sadar akan status diantara mereka dan statusnya saat ini merasa benar-benar tak nyaman.
"Tentu, maaf sudah membuat suamimu menahan cemburu terlalu lama. Aku hanya ingin menikmati waktu kebersamaan kita sebelum aku benar-benar harus melepaskanmu."
Puspita tersentak mendengar ucapan Mahesa, dia tidak menduga Mahesa akan mengatakannya.
"Sepertinya waktu satu Minggu sudah cukup memberikanku kenangan indah yang tak pernah ada selama pernikahan kita dahulu. Puspita, sekali lagi maafkan aku atas kesalahan yang sudah kuperbuat padamu."
Setelah hari itu, Mahesa benar-benar melepaskan Puspita. Jangankan meminta ditemani seperti Minggu sebelumnya, bahkan pria itu tak meliriknya sama sekali saat menjemput Dinda yang sesekali menginap dirumah Mahesa. Sikapnya berubah formal.
Seperti hari ini, Mahesa yang baru membawa Dinda pergi hanya menyapanya singkat.
"Apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Revan mengejutkan Puspita yang tengah melamun.
"Lalu bagaimana dengan namanya dihatimu?"
"Jika boleh aku jujur, aku masih menyimpan namanya disebuah sudut dalam hatiku. Tapi percayalah padaku, jika cintaku untukmu juga perlahan mulai ada."
"Aku harap perasaan itu tumbuh dengan cepat, meskipun kamu memilihku karena Dinda."
"Revan?" Puspita terkejut. Dia tak menyangka Revan akhirnya mengetahui alasannya.
"Awalnya aku merasa sakit hati, tapi jika dipikir-pikir, kamu memang harus menjadi milikku setelah penantian panjangku selama bertahun-tahun ini." Revan memeluk Puspita dari belakang dengan posesif, namun juga penuh kasih.
Inilah salah satu sifat Revan yang membuat Puspita perlahan merasakan cinta. Pria itu tak pernah bersikap kasar padanya, atau sekedar meninggikan suara. Padahal mereka sudah mengenal begitu lama, bahkan sebelum dia menikah dengan Mahesa.
Lalu, mana mungkin dia menyia-nyiakan kesempatan saat pria itu melamarnya entah yang keberapa kali? Jika awalnya dia menolak karena merasa cukup trauma dengan pernikahan, tapi tidak lagi.
Dia sadar, pernikahan bisa terasa berbeda jika dia mencoba. Dan benar, Revan selalu bersikap dan bertutur kata lembut padanya. Pria itu pun tak berhenti menyayangi Dinda, hingga dia sadar jika sikap yang Revan tunjukkan adalah sebuah ketulusan yang tak akan dia dapatkan dari pria manapun.
Jika awalnya dia menerima lamaran Revan hanya karena mempertimbangkan Dinda, tidak dengan sekarang. Dia merasa keputusan yang sudah dibuatnya adalah keputusan terbaik.
Terlepas dari perubahan sikap Mahesa yang sudah menjadi lebih baik, bahkan memutuskan membesarkan Salsa yang ditelantarkan Tania karena depresi. Dia tak pernah menyesali keputusannya tak kembali pada pria itu.
__ADS_1
Kini, pernikahannya sudah menginjak 2 tahun. Dan tepat dihari anniversary mereka ini, Puspita akan memberikan kejutan tak terduga.
Dia telah siap dimeja makan dengan kue dan juga lilin, setelah sebelumnya meminta Dinda tidur lebih awal.
Lampu sengaja dia matikan, hingga saat Revan membuka pintu, dia langsung menyalakan lampu dan menutup mata suaminya itu.
"Puspita, ada apa ini?"
Puspita terkekeh mendengar kepanikan Revan. Dia menuntun sang suami untuk duduk dikursi yang sudah disiapkan.
"Tara..."
Puspita melepaskan tangannya dari mata Revan, membiarkan suaminya itu melihat kejutan spesial darinya.
"Puspita..." Revan tampak tercengang bahagia, saat sebuah benda kecil bergaris dua berada didepannya. Dia tidak berpengalaman sebagai seorang ayah, tapi dia adalah seorang dokter yang jelas tahu apa itu.
Revan segera berdiri dan menggendong Puspita, dengan bahagia memutar istrinya itu.
"Mas, nanti dede bayinya mual." gerutunya yang justru mendapatkan kecupan lembut dibibirnya.
Puspita bungkam, detik berikutnya menepuk dada Revan pelan.
"Terima kasih, telah memberikanku hadiah indah ini."
"Itu hadiah untuk dokter terbaik didunia ini."
"Dokter terbaik?" tanya Revan bingung.
"Eum, bukan hanya menyembuhkan luka fisik, tapi juga luka hati."
"Sejak kapan istriku yang cantik ini suka menggoda?"
"Sejak hamil mungkin."
"Aku senang sekali, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."
Puspita tersenyum bahagia, namun pikiran justru mengingat saat dia memberitahukan kehamilan Dinda pada Mahesa. Semua itu sudah lama berlalu, namun bukan suatu hal yang bisa dilupakan dengan mudah.
"Aku janji, akan menuruti semua yang kamu mau." ucap Revan menyadarkan Puspita dari lamunan.
"Benarkah?" Puspita tersenyum jahil.
"Apapun!" Revan berucap dengan yakin.
"Hem, sepertinya aku ingin sekali melihatmu botak Mas..."
__ADS_1
"APA!"
...Selesai...