Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 17


__ADS_3

"Aku sudah memaafkan kesalahan kalian, tapi itu bukan berarti aku akan kembali rujuk dengan Mas Mahesa"


"Puspita_"


"Aku akan menikah dengan Revan" ucap Puspita memangkas ucapan Mahesa, menatap calon suaminya yang kemudian tersenyum padanya.


"Apa?"


"Sebelumnya Mas menganggap kami suami istri, jadi lebih baik Mas terus menganggapnya seperti itu karena kami akan benar-benar menikah."


"Lalu bagaimana dengan Dinda?" tanya Mahesa. Ia berharap jika putri mereka dapat menyatukan mereka kembali.


"Dinda, ayo turun sayang" pinta Puspita menatap Dinda yang masih berada dalam gendongan Revan. Bocah itu menatap calon ayah sambungnya sejenak, kemudian turun setelah mendapat anggukan dari Revan.


Melihat kedekatan putrinya dengan pria lain membuat Mahesa merasa terluka, sebagai seorang ayah, dia bahkan tidak ada disamping Dinda saat putrinya itu lahir.


Dia tidak bisa hanya menyalahkan Tania, karena ketidakpercayaannya pada Puspita yang terlalu lemahlah yang membuatnya mudah tertipu.


"Dinda sudah tau semuanya" ucap Puspita saat Dinda sudah berdiri disampingnya.


Yah, dia sudah menceritakan siapa ayah kandungnya pada bocah kecil itu. Pagi-pagi buta, Dinda bertanya tentang Revan yang akan menjadi ayahnya. Puspita menjawabnya, sekaligus mengatakan tentang Mahesa.


Bukan berniat menggagalkan pernikahan keduanya sendiri, hanya saja dia sadar... Jika ingin memulai hidup baru, dia harus bisa menyelesaikan masa lalu. Dan salah satunya adalah Mahesa.


Siapa sangka, jika Dinda pada akhirnya tetap menginginkan Revan menjadi ayahnya.  Bahkan dia tidak menduga anaknya itu akan tetap memanggil Mahesa Om setelah tau yang sebenarnya.


"Tapi, kenapa dia masih memanggil ayahnya 'Om'?" tanya Santi.


"Itulah yang membuatku bingung, padahal dia sudah tau jika Mas Mahesa adalah ayahnya."


Puspita lantas berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Dinda.


"Lihat sayang, Ayah sama Nenek datang kesini buat ketemu Dinda, jadi ayo peluk mereka" bujuknya.


Dinda menatap Revan lagi, dan melakukan apa yang Puspita minta setelah mendapat anggukan.


"Kalian lihat, bagaimana dia meminta persetujuan Revan untuk memeluk kalian. Aku rasa itu sudah memberikan jawaban atas permintaan Bu Santi" ucap Puspita membuat Santi yang tengah memeluk cucunya tersadar.


Wanita paruh baya itu menurunkan Dinda setelahnya. "Apa Dinda mau Bunda sama Ayah bersama lagi?" tanyanya.

__ADS_1


Dinda menatap Mahesa dan Puspita bergantian, kemudian menggeleng dan langsung kembali pada Revan.


"Dinda lebih memilih seseorang yang katanya orang lain dibanding ayah kandungnya sendiri, aku rasa kalian sudah mendapatkan jawaban yang lebih dari cukup."


Mahesa dia tanpa kata, kemudian pergi begitu saja. Santi yang melihatnya merasa sedih, namun dia tahu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kesalahan kami adalah tidak percaya padamu, tapi karena kamu sudah memaafkan kami, apa boleh jika kami sering kesini untuk melihat Dinda?"


"Ibu adalah neneknya, dan Mas Mahesa adalah ayahnya. Saya tidak akan melarang kalian bertemu, asal Dinda mau."


"Terimakasih, terima kasih Puspita. Boleh ibu memelukmu?"


Puspita terkejut, kemudian mengangguk ragu. Santi langsung memeluk wanita itu hingga beberapa saat.


"Jika kamu tidak keberatan, datanglah kerumah. Bagaimanapun juga, Dinda kehilangan haknya selama bertahun-tahun" ucap Santi setelah melepaskan pelukan keduanya, kemudian pergi setelah berpamitan pada Dinda.


"Kamu berubah pikiran?" tanya Revan, membuat Puspita menoleh, setelah Dinda pergi ke toilet.


"Kenapa kamu harus membeberkan bukti kejahatan Tania? Mereka mengetahui tentang Dinda saja sudah lebih dari cukup bagiku."


"Karena kita harus benar-benar menuntaskan masa lalumu, kamu lihat Mahesa tadi? Dia belum bisa mengikhlaskanmu."


"Aku mencintaimu, Puspita."


🍁


"Apa? Pendonornya meninggal?" tanya Puspita memastikan, setelah mendengar kabar dari dokter Sandi yang menelponnya.


"Benar, karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Dan keluarganya tidak mengijinkan dia tetap mendonorkan sumsum tulang belakangnya."


Puspita memastikan sambungan telpon, perasaannya mendadak kacau balau, dia tidak menyangka akan seperti ini pada akhirnya.


"Ada apa?" tanya Revan yang menghampirinya yang tengah mencuci piring selepas makan siang.


"Calon pendonornya meninggal karena kecelakaan" jawabnya lesu.


"Jangan sedih, aku yakin kita akan dapat pendonornya segera. Selama kamu mau berusaha dan jangan putus asa, aku yakin akan ada jalan dari semua ini."


Puspita tersenyum mendapat kalimat penyemangat dari Revan, dia menatap Dinda yang tengah bermain dengan Bi Ani tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Aku harus sembuh demi Dinda."


Beberapa hari berlalu setelah hari itu, Revan sebagai dokter tak henti-hentinya terus mencari orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Sayangnya itu sama sekali tidak mudah, bahkan hingga dua Minggu berlalu dan mereka tak kunjung mendapatkan pendonor. Keadaan Puspitapun semakin memburuk, mulai dari turunnya berat badan secara drastis, nafsu makan yang hilang, juga sering mimisan dan mudah memar. Hingga pada akhirnya wanita itu harus dirawat dirumah sakit.


"Mungkin sebaiknya kita beritahu Mahesa, dia adalah seorang pebisnis, dia memiliki banyak kolega yang mungkin bisa mempermudah kita mencari pendonor untukmu" ucap Revan pada Puspita yang tampak pucat dengan ventilator menutupi hidung dan mulutnya.


Puspita menggeleng lemah sebagai jawaban. "Dia tidak perlu tau" ucapnya dengan lirih.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak ingin dia tahu? Lihat keadaanmu sekarang? Memberi tahunya mungkin tidak akan merubah keadaanmu, tapi koneksinya bisa membantu kita menemukan pendonornya lebih cepat. Ini juga demi kebaikanmu Puspita" ujar Revan dengan kesal, khawatir sekaligus kecewa.


Sudah berulang kali dia mengatakan hal yang sama pada Puspita, namun wanita yang sudah dua hari terbaring lemah dirumah sakit itu tetap kekeuh tak ingin memberitahu Mahesa.


"Kamu masih mencintainya, hingga kamu tidak ingin dia terluka mengetahui semua in!" ujar Revan kemudian memejamkan mata, mencoba baik-baik saja setelah mengerti jika wanita yang dia cintai masih mencintai pria lain.


"Revan..."


"Kamu tidak mau kembali padanya karena luka dalam hatimu karena dia, dan luka itu selalu ada bersama rasa cinta yang tak juga hilang dalam hatimu" ucap Revan lagi.


Puspita menggeleng lemah, manik matanya mengembun mendengar ucapan Revan. Dia bisa melihat jelas seberapa terluka hati Revan saat mengatakannya, namun dari sudut hatinya yang terdalam, dia membenarkan ucapan pria itu.


"Kalau begitu kita akan menikah sekarang juga."


"Jangan begini Revan."


"Kamu takut membuat Mahesa terluka, tapi kamu tidak takut membuatku terluka dengan memperlihatkan cintamu padanya. Kamu terus menolak saat aku ingin menikahimu secepatnya."


"Kondisiku memburuk Revan, kita tidak bisa menikah dalam keadaan seperti ini."


"Lalu kenapa? Apa ada yang salah?"


"Aku sudah tidak mencintainya!" lirih Puspita.


"Tanyakan itu pada hatimu, tanyakan baik-baik, karena aku yakin kamu sudah tau jawabannya!"


Setelah mengatakannya, Revan berlalu pergi begitu saja, membuat Puspita merasa bersalah pada calon suaminya itu.


"Maafkan aku Revan, maafkan aku..."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2