Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 16


__ADS_3

"Revan, kamu sudah membawaku kehadapan ibumu. Itu artinya kamu perlu tau keadaanku sebelum kita menikah. Aku tidak ingin kamu menyesalinya setelah kita sudah resmi menjadi suami istri" ucap Puspita saat Revan mengantarnya pulang.


"Aku sudah tau" tukas Revan cepat.


"Sudah tau?"


"Benar, soal penyakitmu bukan?"


"Revan?"


"Sebenarnya yang memeriksamu adalah aku, bukan Dokter Sandi." Revan menghela nafas sejenak. "Kenapa kamu diam saja setelah semua yang kita lewati bersama Puspita? Apa kamu masih menganggap aku sebagai orang lain?" tanya Revan menatap Puspita kecewa.


"Maaf Revan, tapi aku tidak ingin kamu dan Dinda khawatir."


"Bahkan Bi Ani juga tidak tahu, jika bukan karena pingsan, apa kita tidak akan pernah diberitahu kondisimu?"


"Aku pikir bisa_"


"Melewati semuanya sendiri? Lalu apa gunanya kami sebagai keluargamu? Sudahlah, untuk saat ini hanya Dinda yang belum tau, jadi kamu jangan khawatir."


"Lalu kenapa kamu masih ingin menikah dengan orang penyakitan sepertiku?"


"Memangnya apa salahnya dengan penyakit, ini semua bukan maumu."


"Apa ibumu tau?" tanya Puspita, ia khawatir jika ibunya Revan belum tau dan akhirnya kecewa jika sudah tau yang sebenarnya.


Revan mengangguk dengan senyuman. "Aku tau apa yang kamu khawatirkan, Ibu tetap merestui hubungan kita."


"Benarkah?"


"Eum."


"Jangan bohong Revan."


"Dia tidak tahu, itu bohong. Dia sudah tau dan tetap merestui kita, itu jujur. Terserah kamu pilih yang mana."


"Terima kasih" ucap Puspita penuh haru.


"Sekarang masuk dan tidurlah, ini sudah malam."


Bukannya masuk, Puspita justru tak dapat menahan air matanya dihadapan Revan. Dia benar-benar tak menyangka akan sedalam itu perasaan Revan untuknya, dia juga tidak menyangka ibunya Revan akan tetap menerimanya setelah tau kondisinya.


Revan mendekati Puspita, mengusap kepala wanita itu dengan lembut. Perlahan, keduanya saling memeluk dengan Puspita yang masih terisak.


"Sedalam inilah perasaanku padamu, jadi tolong jangan kecewakan aku" ucap Revan.


🍁


"Aaakkkh! Sial!" teriak Mahesa membanting semua benda didepannya, membuatnya pecah berserakan. Kamar yang semula rapi kini tak ubah kapal pecah.


Pria itu tak terima jika mantan istrinya akan menikah lagi. Terlebih setelah memutar video yang dikirimkan oleh Revan.


Menyesal, dia benar-benar menyesal sekarang. Bukan hanya telah salah memahami surat kehamilan Puspita kala itu, namun juga karena terperdaya oleh tipuan Tania.


"Kamu kenapa Mas?" Tania yang baru pulang menatap terkejut keadaan kamar yang begitu kacau, terlebih saat Mahesa menatapnya penuh amarah.


"Ada apa ini Mas?"


"Kamu! Berani-beraninya kamu memfitnah Puspita!"

__ADS_1


"A-apa yang kamu katakan Mas?" Tania bertanya dengan gemetar. Tidak mungkin jika Mahesa sudah mengetahui kebenarannya bukan? Tidak! Dia sama sekali tidak siap jika Mahesa mengetahui semuanya.


"Jangan berpura-pura lagi, segera kemasi pakaianmu dan Salsa, dan keluar dari rumah ini!" sentak Mahesa.


"Kenapa tiba-tiba kamu ngusir aku sama Salsa Mas? Salah aku apa?"


"Ada apa ini?" Santi, sang ibu datang bersama Salsa.


"Lihat wanita ular ini baik-baik Ma! Dia sudah memfitnah Puspita, dia sudah menipu kita selama ini!" Mahesa menunjuk Tania dengan Marah.


"Kamu ngomong apa sih Mahesa! Kenapa kamu bilang Tania menipu?"


Mahesa segera menunjukan foto-foto dan video hubungan terlarang Tania dan kekasihnya pada Santi, juga rekaman persekongkolan mereka menipu Mahesa. Wanita paruh baya itu tercengang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Mas!" Tania berteriak sembari merebut ponsel ditangan Santi, kemudian membantingnya begitu saja. Membuat ponsel itu rusak.


"Kamu..." Santi menatap Tania emosi.


Plak!


"Ma..." Tania memegang pipinya yang memerah.


"Dasar j*lang kurang ajar! Berani-beraninya kamu menipu kami selama ini!"


Tak cukup memberikan tamparan satu kali, Santi kembali menampar Tania dipipi yang lain.


"Ma, sakit!"


"Berhenti memanggilku seperti itu, aku tak sudi punya menantu wanita murahan sepertimu!"


"Nenek, jangan pukul Mama." Rengekan Salsa yang menarik baju Santi seolah menyadarkan tiga orang dewasa diruangan itu jika masih ada anak kecil.


"Tolong kalian tenang dulu, setidaknya demi Salsa" ucapnya, berharap Mahesa dan Santi akan luluh setelah melihatnya.


"Cuih! Dia bukan putrinya Mahesa, dia bukan cucuku! Jadi jangan gunakan dia untuk meminta belas kasih dari kami!"


"Mas, Salsa sudah menganggap kamu ayahnya, dan kamu juga sudah menganggapnya_"


"Kamu membuatku membuang anak kandungku hanya untuk anak diluar nikahmu itu! Jadi jangan gunakan dia untuk menarik simpatiku! Kemasi pakaian kalian dan segera keluar dari sini. Aku sudah cukup muak melihatmu selama bertahun-tahun ini!"


"Satpam! Satpam!" Teriak Santi, hingga dua orang satpam masuk dan menghampiri mereka.


"Bawa wanita ini dan anaknya pergi, aku tidak sudi melihat mereka!"


Melihat keadaan yang benar-benar tak mendukungnya, Tania tidak kehilangan akal. Wanita itu berbisik pada putrinya agar menghampiri Mahesa.


"Papa, jangan usir aku sama Mama Pa. Aku sayang sama Papa, aku gak mau pergi..." Salsa memeluk kedua kaki Mahesa.


Mahesa bergeming, meskipun Salsa bukan anak kandungnya, dia tetap menyayangi anak itu selama 4 tahun. Dan 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar.


Namun, mengingat Dinda putri kandung yang telah ditelantarkannya membuatnya mengeraskan hati dan melepaskan cekalan Salsa.


"Kamu bukan putriku, jadi mulai sekarang panggil aku Om"


"Mas!"


"Meski dia terlahir dari hubungan terlarang, dia berhak tau siapa ayah kandungnya."


"Sekarang bawa mereka pergi!"

__ADS_1


Dua satpam tadi segera membawa Tania dan Salsa keluar dari sana, menyisakan Mahesa dan Santi yang tengah meredakan emosi masing-masing.


"Selama ini kita salah paham sama Puspita." Santi menatap Mahesa, dia merasa bersalah pada mantan menantunya itu.


"Ya, dan aku sangat menyesal telah menyakiti mereka."


"Mama ingin bertemu cucu kandung Mama, Mahesa."


"Dinda belum tau jika aku ayahnya."


"Jadi namanya Dinda?"


"Benar, Puspita menutupi tentangku darinya."


"Mama bisa mengerti alasannya melakukan itu. Sudah cukup selama ini kita salah paham padanya, Mama tidak ingin melakukan hal yang sama hanya karena dia menutupi tentangmu dari putri kalian."


"Lalu kapan Mama bisa bertemu dengannya? Mama sudah tidak sabar bertemu mereka, Mama juga ingin minta maaf atas kesalahan kita yang dulu."


"Kita akan menemuinya besok."


🍁


"Puspita!" Santi langsung memeluk Puspita yang tengah berada dibutiknya bersama Revan dan Dinda.


"Bu Santi?" Puspita mematung ditempatnya karena mantan ibu mertuanya itu tak kunjung melepaskan pelukan.


"Maafkan ibu... Puspita, tolong maafkan ibu."


"Ada apa ini?" Puspita menatap Mahesa yang berdiri dibelakang Santi dengan bingung.


"Om Mahes."


Tatapan mereka beralih pada Dinda yang tengah digendong Revan.


"Dia Dinda?" Santi bertanya pada Puspita,  yang kemudian diangguki wanita itu.


"Dia cucuku?"


Puspita belum sempat menjawab, saat Santi menghampiri Dinda.


"Cucuku." Santi berniat mengambil alih Dinda dari Revan, namun bocah itu justru merapatkan tangannya pada Revan.


"Sedang apa kalian disini?" tanya Puspita dengan tak ramah, tentu saja karena dia merasa hubungan mereka tidak baik sama sekali.


"Revan sudah memberitahu kami tentang kebohongan Tania."


Puspita menatap Revan sejenak, dia menghela nafas hingga kembali menatap Mahesa. "Lalu?"


"Kami sungguh-sungguh minta maaf padamu atas kesalahan-kesalahan kami dulu. Kami sudah salah karena percaya dengan omongannya" ucap Mahesa pelan.


Puspita terdiam sejenak. "Aku sudah memaafkan kalian, aku bersyukur akhirnya kalian tau kebenarannya" ucapnya.


Dia tak mengira jika mereka akan meminta maaf saat dia sudah benar-benar melupakan masa lalu dan akan menikah dengan Revan, tapi dia juga tidak bisa terus menerus terkekang masa lalu dengan menyimpan dendam pada orang-orang yang salah paham.


"Puspita, apa kamu mau rujuk dengan Mahesa, demi Dinda" bujuk Santi menatap mantan menantunya itu penuh harap.


Sontak, pertanyaan Santi membuat Revan dan Mahesa menatap wanita itu, dengan harapan yang bertolak belakang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2