Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 19


__ADS_3

"Kenapa tidak memberitahuku soal keadaanmu?" Mahesa menatap Puspita yang masih setia memejamkan matanya. Pria itu duduk disisi brangkar sembari menggenggam jemari Puspita setelah sebelumnya membantu Revan mencari pendonor baru.


"Aku bahagia, karena ternyata kamu masih memiliki rasa cinta untukku, meski karena cinta itu, rasa bencimu padaku juga tetap ada. Berjuanglah Puspita, berjuanglah. Aku yakin kamu kuat dan bisa melewati semua ini. Kamu wanita sekaligus ibu yang hebat, dan kamu pasti akan sembuh."


Beberapa hari setelah hari itu, akhirnya pendonor telah ditemukan. Mahesa, sebagai ayah dari Dinda menandatangani persetujuan operasi.


Hingga akhirnya, kini Revan tengah menunggu dengan gelisah didepan ruang operasi. Sementara Dinda tetap dirumah bersama Bi Ani.


Beberapa jam berlalu, lampu operasi yang semula menyala telah padam. Revan sigap didepan pintu, hingga keluarlah dokter dengan pakaian serba hijaunya.


"Bagaimana dokter?"


"Syukurlah operasinya berjalan dengan lancar, tinggal menunggu 24 jam kedepan, semoga Pasian dapat menerima organ barunya."


Setelah mengatakan itu, dokterpun pergi dari sana.


🍁


10 hari sudah Puspita dirawat setelah operasi, kini keadaannya jauh lebih baik dari pertama kali dia sadar. Ada satu hal yang membuatnya merasa kosong, Mahesa yang tak datang mengunjunginya sama sekali.


Padahal dari yang dikatakan Bi Ani, seharusnya mantan suaminya itu sudah tau keadaannya. Dan dia tidak bisa menampil jika dia mengharapkan kehadiran Mahesa.


"Dinda kangen sama Bunda..." Bocah yang berbaring disamping Puspita itu memeluk ibunya dengan erat, dia yang merasa kesepian karena tidak adanya sang ibu disisinya, merasa begitu bahagia akhirnya bisa kembali memeluk ibunya.


Puspita yang masih cukup lemah tak membalas ucapan putrinya, dia hanya membelai kepala Dinda dengan lembut.


Pintu terbuka, tampak Revan dan Mahesa yang datang bersamaan. Sejenak dia hanya terpaku pada Mahesa, bahagia akhirnya pria itu datang menemuinya. Namun perhatiannya teralihkan saat melihat penampilan Revan dan Mahesa yang terlihat rapi. Bahkan terkesan terlalu formal hanya untuk menjenguk orang sakit.


Puspita lebih terkejut lagi, saat keduanya membawa sebuah kotak beludru ditangannya.


"Bagaimana keadaanmu Puspita?" tanya Revan yang mendekat lebih dulu, kemudian menatap Mahesa.


"Kamu pasti bingung kenapa Mahesa dan aku berpakaian rapi dan membawa kotak beludru, bukan?" tanya Revan lagi, Puspita yang masih bersama Dinda hanya mengangguk.


"Aku sudah mengatakan padanya jika kamu masih mencintainya, dia jugalah yang akhirnya menemukan pendonor untukmu."


Puspita melebarkan mata terkejut, dia menatap Mahesa yang hanya tersenyum padanya. Entah kenapa, dia merasa wajah Mahesa begitu pucat.


"Mas baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya."


"Kenapa wajah Mas pucat sekali?"


"Mungkin hanya karena efek lelah."


Puspita tersenyum. "Terima kasih." Ucapnya tulus.


"Dan kami datang dengan kesini untuk melamarmu, entah siapapun yang akan kamu pilih. Salah satu dari kami yang tidak kamu pilih akan menerimanya dengan lapang dada."


Puspita menatap Dinda yang entah sejak kapan tertidur begitu pulas. Dia tidak menyangka akan berada dalam situasi yang begitu canggung.


Disatu sisi, dia masih memiliki sedikit cinta untuk Mahesa, ayah kandung dari putrinya. Namun disisi lain, dia juga merasa harus membalas perasaan Revan yang selama ini begitu setia bersamanya.


Dia kembali mengingat saat Dinda lebih memilih Revan dibanding Mahesa. Keputusan putrinya itulah yang akan dia pilih.


"Mahesa..." panggilnya membuat Mahesa tersenyum bahagia, sementara Revan tersenyum kecewa. Pria itu bersiap keluar, saat Puspita melanjutkan ucapannya.


"Maaf, tapi aku lebih memilih Revan."


Revan langsung menatap Puspita dengan bahagia, dan kini Mahesa yang hanya bisa pasrah menerima keputusan Puspita.


"Selamat untuk kalian" ucap Mahesa. Bagaimanapun dia berharap cinta yang Puspita miliki untuknya akan membuat wanita itu memilihnya, akhirnya Puspita tetap memilih Revan, pria yang setia disampingnya.


"Revan sudah mengatakan jika aku masih mencintaimu, tapi seharusnya dia juga mengatakan jika cinta itu hanya tersisa sedikit. Jadi, maaf sekali lagi." Ucap Puspita.


"Aku mengerti, luka yang kuberikan terlalu besar untuk dilupakan semudah itu. Tapi tolong berjanjilah, meskipun kalian sudah menikah, izinkan aku tetap menmui Dinda."


"Kapanpun waktunya, aku tidak akan melarang. Dengan catatan, Dinda mau." Puspita mengecup kepala Dinda penuh kasih.


Setelahnya, Mahesapun langsung pamit pergi dari sana.


"Terima kasih sudah memilihku" ucap Revan dengan wajah sumringah.


"Terima kasih juga karena masih mencintaiku hingga detik ini." Ucap Puspita.


"Dan selamanya" lanjut Revan.


"Aku percaya itu."

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, keadaan Puspita semakin membaik. Hingga akhirnya hari pernikahan Puspita dan Revanpun digelar.


Resepsi diadakan secara sederhana, karena keadaan Puspita yang tak memungkinkan bertemu banyak orang. Meski begitu, Puspita sama sekali tidak lupa mengundang mantan mertua dan iparnya datang, karena bagaimanapun mereka masih terikat hubungan oleh Dinda.


"Selamat ya atas pernikahan kalian..." Santi datang dan langsung memeluk Puspita, wanita paruh baya itu menampakkan senyum dengan embun yang menghiasi matanya.


"Terima kasih" ucap Puspita canggung, mengingat permintaan Santi agar dia rujuk dengan Mahesa.


Setelah Santi, kini giliran Rita dan juga putrinya, Nia.


"Maaf untuk semua kesalahanku dimasa lalu ya Puspita. Mama sama Mahesa pasti sudah minta maaf sama kamu, tapi aku belum."


"Aku sudah memaafkan kesalahan kalian."


"Terima kasih."


Setelahnya, mereka dipersilahkan menikmati jamuan. Sementara Puspita duduk menyapa beberapa tamu.


Saat semua tamu telah dia sapa, Puspita celingukan mencari Mahesa. Pasalnya pria itu tak terlihat datang bersama ibu dan kakaknya.


"Bunda, rambut Dinda diberantakin sama dia." Dinda menunjuk seorang anak yang tengah menatap mereka dengan penuh kemarahan.


Sejenak Puspita tertegun, saat mengenali anak itu adalah putri dari Tania. Spontan dia langsung mencari keberadaan mantan sahabatnya itu, yang tanpa diduga tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Bisa-bisanya kamu bahagia diatas penderitaan orang lain!" Tania berucap dengan gigi mengetat kesal, wanita itu masih menahan suaranya.


"Harusnya kalau kamu mau nikah sama dia, gak perlu kembali kesini. Kenapa kamu repot-repot datang kesini hanya untuk menghancurkan semuanya!" Kali ini, Tania berucap lantang, membuat Puspita dan Revan juga para tamu menatap wanita itu.


"Kamu udah membuat Salsa kehilangan ayahnya, dan sekarang dengan tanpa dosa kamu malah menikah?" cecar Tania semakin emosi, berniat menampar Puspita sebelum Revan sigap menangkapnya lebih dulu.


Tania tak menyerah sampai disitu, dia langsung menghempaskan tangannya dari cekalan Revan dan menatap Puspita.


"Dan gara-gara penyakit sialan yang harusnya bikin kamu mati, sekarang Mahesa malah harus terbaring dirumah sakit."


Puspita membelalak tak percaya, dia berniat bertanya pada Tania sebelum akhirnya Revan memanggil keamanan. Tania segera dibawa keluar bersama Salsa, hingga beberapa saat kemudian suasana kembali kondusif.


Namun berbeda dengan Puspita, dia terus menodong sang suami dengan pertanyaan.


"Apa yang dia katakan? Apa yang terjadi dengan Mahesa?" tanyanya panik, hingga tiba-tiba terjatuh pingsan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2