Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 6


__ADS_3

" Mama? Tumben Mama datang sepagi ini?." Mahesa yang tengah menikmati sarapannya bertanya heran, melihat Santi datang kerumahnya. Sebuah hal yang tak biasa.


" Apa salah Mama datang kerumah putra Mama sendiri?." Santi duduk berhadapan dengan putranya.


" Bukan begitu maksudku Ma..."


" Sudahlah. Dimana Tania?." Tanya Santi yang tak melihat calon menantu dan cucunya dimeja makan.


" Tania masih tidur, dan Salsa jalan-jalan bersama pengasuhnya." Jawab Mahesa acuh lantas melanjutkan sarapan.


" Bagaimana bisa dia tidak melayani kamu?." Santi yang baru tau Tania tak melayani putranya dengan baik merasa kesal.


" Sudah biasa." Jawab Mahesa tetap acuh. Meraih tas kerjanya dan berdiri.


" Mama disini dan kamu buru-buru pergi?."


" Ini sudah telat Ma."


" Duduk dulu, Mama mau bicara."


" Tapi Ma..."


" Duduk!." Meski kesal, Mahesa memilih menurut. Walau hubungannya dengan Santi tak begitu dekat sejak 5 tahun lalu. Namun ia berusaha menghormati ibunya.


" Ada apa?."


" Ini tentang Tania."


" Tania? Memangnya kenapa Dia?."


" Mahesa, Tania sudah melahirkan Salsa, anak kamu. Bahkan Salsa sudah 4 tahun. Dan lihat! Kamu bahkan belum menikahinya."


Mahesa hanya diam, ia benar-benar tak berniat mengatakan apapun.


" Apa kamu gak kasihan sama Salsa?."


" Aku sudah bertanggung jawab terhadap mereka." Jawabnya datar.


" Jika yang kamu maksud adalah materi, maka itu salah Mahesa. Salah besar!. Yang mereka butuhkan bukan itu, tapi status."


" Itu sama sekali tidak perlu."


" Tidak perlu? Kamu bilang tidak perlu?." Santi sungguh merasa emosi.


" Ya, bahkan mereka bisa hidup bahagia tanpa statuskan?."


" Salsa itu putri kamu Mahesa. Setidaknya biarkan orang lain tau dia putrimu!."


Mahesa tak menjawab, dia justru pergi begitu saja. Membuat Santi semakin emosi.


Sedangkan Tania yang baru saja bangun, tak menyadari keberadaan Santi. Wanita itu langsung mengambil sebotol wine dari dalam kulkas.


Santi yang melihatnya langsung menghampiri wanita itu.


" Kamu minum alkohol?." Tanyanya marah.


Tania yang terkejut langsung menjatuhkan botol ditangannya hingga pecah.


" Ma-Mama?."


" Jawab Mama! Kamu minum alkohol?."


" Eng-enggak Ma..."


" Lalu ini apa?." Santi menunjuk pecahan botol yang berserakan.

__ADS_1


" Ya ampun!!!." Tania pura-pura terkejut melihatnya.


" Kayaknya karena ngantuk aku gak sadar minum itu deh Ma." Sangkalnya.


" Jangan ngada-ngada, mana ada orang yang gak pernah minum alkohol bisa gak sadar saat meminumnya."


" Itu Ma..." Tania pura-pura mengecak pecahan botol.


" Ini bukan alkohol Ma, ini minuman dingin biasa."


" Minuman dingin biasa gimana? Udah jelas-jelas botolnya botol alkohol!."


" Botolnya aja yang sama Ma, isinya beda."


" Beneran?."


" Iya." Tania mengangguk cepat. Lega karena Santi percaya.


" Ya sudah. Tapi kenapa tadi kamu gak makan bareng Mahesa. Katanya ini sudah biasa, apa benar?."


" Eng-enggak Ma. Sebenernya aku lagi sedikit pusing, jadi bangunnya kesiangan. Mungkin Mas Mahesa masih marah sama aku, makanya ngomongnya gitu."


" Marah kenapa?."


" Karena aku minta dinikahin." Tania memasang wajah memelas, membuat Santi merasa kasihan.


" Tadi Mama sudah minta dia nikahin kamu. Tapi tetep aja dia gak mau." Ujar Santi.


Namun bukan itu yang Tania pikirkan, ia justru merasa lega, karena Santi tak lagi mempermasalahkan alkohol dan bangun siangnya.


" Oh ya, hari ini kamu ajak Mahesa makan siang dirumah ya..."


" Memangnya ada apa Ma?."


" Ada orang butik yang dateng buat pengukuran baju. Kitakan mau buat seragam acara pertunangannya Nia." Jelas Santi.


🍁🍁🍁


" Apa Dinda masih tidur?." Tanya Puspita saat memasuki kamar putrinya. Revan, pria itu semalaman menjaga Dinda yang marah padanya.


" Ya. Dia baru tidur saat larut malam." Jawab Revan bangkit dari ranjang, membiarkan Puspita mendekati putrinya.


" Maaf sudah menyusahkanmu." Ujar Puspita duduk disamping putrinya yang tertidur.


" Dinda bukan hal yang menyusahkanku."


Puspita membelai rambut gadis kecilnya. Ia benar-benar merasa bersalah sudah membentak buah hatinya itu.


" Semoga Dinda tidak marah padaku." Gumamnya.


" Dia tidak akan marah untuk waktu yang lama. Tapi Dinda hanya anak kecil, dan dia sangat menginginkan seorang ayah. Dan hal yang dilakukannya sangat wajar." Ujar Revan melihat Puspita mengecup kening putrinya.


" Puspita." Panggil Revan, wanita itu menoleh.


" Kembalilah bersama Mahesa, sehingga ada seseorang yang bisa Dinda panggil ayah. Tak seharusnya permasalahan kalian membuatnya ikut merasakan kesedihannya."


" Tidak, aku tidak akan kembali pada pria itu." Jawab Puspita mantap.


" Jangan keras kepala! Lihat Dinda, dia baru berumur 4 tahun lebih. Dia tak akan mengerti jika kamu menjelaskan permasalahan kalian. Tidakkah kamu ingin melihatnya bahagia saat bertemu ayahnya."


" Dia sudah cukup bahagia bersamaku."


" Sekeras apapun kamu berusaha, kamu hanyalah seorang ibu baginya. Sampai kapanpun kamu tak akan bisa menjadi ayahnya."


Perkataan Revan seolah menjadi tamparan keras baginya. Itulah yang selama ini ingin dia lakukan, menjadi ibu sekaligus ayah bagi putrinya. Revan benar, sampai kapanpun itu tak akan pernah terjadi.

__ADS_1


" Beberapa bulan lagi, sampai pesanan terakhirku selesai. Aku akan membawa Dinda kembali ke Singapura."


" Kamu tidak akan melakukannya."


" Aku akan melakukannya."


" Kamu tidak bisa melakukannya."


" Aku bisa melakukannya!!!." Puspita berdiri dan menatap Revan dengan netra yang sudah basah. Ia benar-benar tak sanggup menghadapi semua masalah ini.


" Aku akan membongkar kebusukan Tania, dan kalian bisa kembali bersama. Apa susahnya?." Revan tak habis pikir. Puspita lebih memilih jalan yang sulit saat ia bisa melewati jalan yang mudah.


" Tidak semudah itu, Revan." Lirih Puspita mulai terisak. Ia terduduk dilantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan.


" Apanya yang tidak mudah? Aku sudah menggenggam kartu AS-nya?." Revan ikut duduk bertumpu lutut, menggenggam kedua tangan Puspita.


" Kamu tidak bisa terus seperti ini. Jalan masih panjang, dan kamu bahkan belum melupakan masa lalu." Lanjutnya.


" Tidak semudah itu Revan, tidak semudah itu..." Lirih Puspita disela isaknya.


" Katakan! Apa yang sulit, aku akan membantumu."


" Aku masih mencintai Mahesa. Tapi aku juga tak pernah ingin kembali padanya. Pria yang tak pernah menaruh kepercayaannya padaku, mana mungkin aku bisa kembali padanya?." Jawaban Puspita membuat Revan tak mampu berkata.


Kini ia paham, bukan hanya rasa cinta yang Puspita miliki untuk Mahesa, namun juga kebencian.


" Dia lebih mempercayai ucapan Tania dan keluarganya yang sejak awal membenciku. Bagaimana bisa aku kembali pada pria seperti itu. Meskipun aku kembali padanya, bukan hal yang mustahil dia akan mengulang kesalahan yang sama."


" Tapi setiap manusia pernah salah, Mahesa pasti bisa berubah. Kamu hanya perlu memberikan kesempatan sekali lagi." Meski sakit, membujuk wanita yang ia cintai agar mau bersama pria lain. Tapi Revan tak ingin egois. Bagaimanapun hati Puspita masih untuk Mahesa Adinata, bukan dirinya.


" Tidak. Tolong jangan paksa aku Revan. Tolong." Puspita menangkupkan kedua tangan didepan Revan dengan berderai air mata, membuat pria itu merasa bersalah.


" Bunda."


Suara kecil itu menghentikan tangisan Puspita, Revan dengan cepat mendekati Dinda yang terbangun.


" Dinda..." Belum sempat Revan menyelesaikan kalimatnya, bocah kecil itu bicara.


" Maafin Dinda ya Bunda, Dinda udah buat Bunda marah..." Gadis kecil itu turun dari ranjangnya, memeluk sang ibu yang masih duduk dilantai.


" Enggak sayang, jangan minta maaf. Bunda yang salah, Bunda yang minta maaf sama Dinda." Puspita membalas pelukan putrinya erat. Rasa bersalah kian mengikatnya saat mendengar putrinya meminta maaf, untuk sesuatu yang bukan kesalahannya.


" Terus kenapa Bunda nangis? Bunda marah sama Dinda?."


Puspita menggeleng cepat, menghapus air mata dipipinya.


" Bunda gak nangis, Bunda gak marah sama Dinda."


" Beneran?." Dinda menatap Puspita dengan wajah polosnya, membuat senyum samar terbit dibibir Puspita.


" Iya." Angguknya cepat.


" Oke. Dinda janji, Dinda gak akan maksa manggil Uncle, 'Ayah' lagi. Dinda gak butuh ayah, karena Dinda udah punya Ibu dan Uncle."


Pernyataan polos itu membuat Puspita tak dapat menahan air matanya. Ia kembali menangis dihadapan putrinya.


" Loh kenapa Bunda nangis, Bunda marah karena Dinda bilang begitu?." Jemari mungilnya mengusap air mata ibunya.


" Enggak, Bunda cuman terharu."


" Terharu?."


Puspita memeluk erat putrinya, ia kembali menangis tanpa suara, agar putrinya yang menggemaskan itu tak mengetahuinya.


" Bunda sayaaaang banget sama Dinda."

__ADS_1


" Dinda juga sayang sama Bunda."


Bersambung.


__ADS_2