Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 11


__ADS_3

" Bunda!." Teriakan Dinda membuat Puspita yang sempat kehilangan semangat kembali tersenyum. Meyambut pelukan putri kecilnya yang berdiri diambang pintu.


" Dari tadi Non Dinda nyariin Ibu terus, saya susul kebutik, katanya Ibu sudah pulang." Ujar Bi Ani.


" Iya, saya tadi pergi sebentar."


" Ibu kelihatan lelah sekali, biar saya buatkan teh hangat."


Puspita duduk memangku putrinya disofa. Sekuat mungkin ia menahan air matanya yang ingin jatuh, teringat apa yang baru saja ia ketahui.


" Apa?." Puspita terkejut saat mendengar diagnosa dokter tentang penyakitnya.


" Leukimia?." Ia benar-benar tak percaya dirinya mengidap penyakit berbahaya itu.


" Benar. Kanker ini memasuki stadium 2, masih ada harapan sembuh yang besar. Dan jalan terbaik adalah dengan tranplantasi sumsum tulang." Ujar dokter Sandi, teman sepekerja Revan.


Tadinya, ia datang kerumah sakit tempat Revan bekerja untuk diperiksa dokter itu, karena frekuensi mimisan yang dialaminya semakin sering setelah hari itu. Namun ternyata Revan sedang sibuk dengan pasiennya. Namun ia justru bersyukur, karena Revan tidak perlu mengetahui penyakitnya.


" Saya siap. Lalu kapan saya bisa mulai pengobatan Dok?." Puspita tak akan menyerah begitu saja pada hidupnya, masih ada Dinda, putri kecil yang harus ia besarkan.


" Apa Anda memiliki saudara kandung?." Tanya dokter Sandi.


" Saya bahkan tidak memiliki saudara sepupu. Saya anak tunggal, ibu sayapun anak tunggal. Memangnya kenapa dok?."


" Begini, walau donor dari selain kerabat juga bisa didapatkan, tapi donor terbaik adalah dari saudara kandung. Tapi jika Anda tidak memilikinya, itu bukan masalah. Saya akan mengabarkan jika sudah ada pendonor, tapi mungkin ini akan memakan waktu yang cukup lama."


" Baik dok."


" Saya akan membuatkan jadwal terapi Anda sampai kita mendapatkan donor sumsum tulang belakang."


" Anda tidak perlu cemas, Leukimia ini pasti akan sembuh. Anda harus optimis." Ujar dr. Sandi memberi semangat melihat Puspita terdiam.


" Maaf Dok, tolong jangan beritahukan hal ini pada dokter Revan." Pinta Puspita.


" Baiklah, saya mengerti. Meski saran saya, harus ada seseorang yang tahu. Setidaknya akan ada yang menyemangati dan menghibur Anda saat memasuki ruang operasi." Balas dr. Sandi yang tau kedekatan rekannya dengan wanita itu.


Puspita terdiam, selain Revan, tak ada orang dewasa lain yang benar-benar memahaminya. Tapi ia benar-benar tak ingin memberitahukan pria itu. Revan sudah cukup membantunya selama ini.


" Terima kasih."


Ia kembali menatap sikecil Dinda, ia berharap penyakitnya benar-benar bisa sembuh. Rasanya ia bahkan tak bisa membayangkan, Dinda yang sudah harus berpisah dengan ayahnya sejak kecil, harus kehilangan dirinya juga.

__ADS_1


" Bunda sayang Dinda." Ujarnya mendekap tubuh mungil menggemaskan itu


" Bunda nangis?." Tangan mungil itu menyentuh pipinya. Puspita mengecup pelan tangan yang selalu menggandengnya itu.


" Enggak sayang, Bunda cuman kelilipan."


" Ini tehnya Bu." Bi Ani datang membawa secangkir teh.


" Terima kasih Bi."


" Wajah Ibu pucat, badan Ibu juga panas. Apa perlu saya panggilkan dokter?."


" Gak perlu Bi, tugas Bibi disini cuman jaga Dinda."


' Bahkan mungkin aku akan menyerahkan Dinda sepenuhnya, nanti.' Batinnya menahan sakit disekujur tubuhnya.


Jika dia tak tahu ini adalah Leukimia, tentu ia akan berpikir jika sakit ini hanyalah karena kelelahan, bukan dampak sebuah penyakit.


" Anda akan sangat mudah lelah dan sakit, menjaga tidur dan gizi yang tercukupi akan membantu memulihkan tenaga Anda."


" Meski itu tak membantu menambah usia saya kan Dok?." Balas Pupsita setelah mendengar penjelasan dokter Sandi.


" Terima kasih Bi."


" Jangan bilang begitu terus lah Bu, saya disini digaji. Jadi Ibu gak perlu sungkan."


Puspita tersenyum mendengarnya, 5 tahun bersama wanita itu sudah membuatnya tak perlu khawatir, jika suatu hari nanti ia harus meninggalkan Dinda bersama Bi Ani.


🍁🍁🍁


" Jika kedatangan Anda kesini hanya ingin membuat kerusuhan, maka silahkan Anda pergi. Saya tidak akan keberatan jika keluarga Anda membatalkan pesanan." Ujar Puspita menatap tajam Mahesa yang baru memasuki butiknya. Sembari menunjukan pintu keluar.


Ia sudah tak peduli pada etika pelanggan yang satu ini, mengingat bagaimana beberapa hari yang lalu pria itu menghinanya.


Meski Revan sudah menjelaskan jika yang Mahesa lakukan hanya karena salah paham, ia tetap tak bisa menerimanya.


Pria yang bahkan tak bisa membedakan mana yang benar dan salah, tak berhak mendapatkan kepercayaan ataupun maaf darinya.


" Aku datang kesini untuk pengukuran." Tepat setelah Mahesa mengatakannya, Tania muncul dari luar.


" Bukankah Anda sudah diukur?." Tanya Riska melihat wanita yang diukurnya.

__ADS_1


" Benar. Aku cuman jaga-jaga suami aku dari janda kegatelan."


" Anda bahkan lupa siapa yang membuat saya jadi janda." Balas Puspita tak kalah sengit.


" Tentu saja karena kamu berselingkuh." Ucap Tania salah tingkah.


" Kenapa kamu mengakui dirimu janda? Kalian tidak bercerai hanya karena kedatanganku beberapa hari lalu bukan?." Mahesa mencibir.


" Riska, tolong kamu ukur Tuan Mahesa." Puspita masuk kedalam ruangannya. Ia sudah malas meladeni sepasang suami istri itu. Ia lebih memilih masuk keruang kerjanya.


Beberapa menit kemudian Riska datang bersama Mahesa masuk keruangannya.


" Ada apa Riska?."


" Tuan Mahesa ingin bicara dengan Ibu." Riska lantas keluar dan menutup pintu.


" Mau apa lagi Anda kemari?." Puspita fokus pada laptopnya, tak peduli pada kehadiran Mahesa yang kali ini tampak lebih tenang.


" Kenapa kamu berbohong?." Tanya Mahesa dengan tatapan dingin, namun menyiratkan kekecewaan.


" Anda bukan orang penting yang harus saya bohongi."


Mahesa mendekat ke meja kerja Puspita, mantan istri yang namanya masih terpatri dihatinya namun terus memperlakukannya seperti orang asing.


" Dinda, dia putriku."


Perkataan Mahesa membuat Puspita sontak menoleh tak percaya.


" Aku sudah tau semuanya, bahkan tentang kamu dan Revan."


Ya, Mahesa telah melakukan tes DNA setelah mendapatkan rambut Dinda beberapa hari yang lalu. Dan hasilnya membuktikan jika Dinda adalah putrinya. Ia pun sudah menanyakan bagaimana bisa usia kehamilan lebih tua dibanding usia pernikahan, ternyata dokter memiliki penjelasan sendiri.


Bahkan tentang Revan dan Puspita, dia tau jika keduanya tidak pernah menikah. Dan dia yakin jika dia masih memiliki kesempatan untuk rujuk dengan Puspita.


Betapa bodohnya dia, sudah menyia-nyiakan kesempatan melihat putrinya lahir hanya karena omongan orang lain. Sungguh, ia begitu menyesalinya. Tapi dia akan memperbaikinya secepat mungkin.


" Baguslah, setidaknya Anda tahu fitnah dan hinaan Anda yang begitu keji pada Saya 5 tahun lalu adalah kesalahan." Ujar Puspita berusaha menahan gejolak batin dihatinya. Hanya satu yang dia khawatirkan, yaitu Mahesa akan merebut Dinda darinya.


" Maafkan aku..." Mahesa duduk bersimpuh dihadapan Puspita, ia benar-benar menyesali perbuatannya dimasa lalu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2