Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 18


__ADS_3

"Untuk apa kalian kesini?" Mahesa menatap Tania yang datang membawa Salsa dengan marah.


"Salsa kangen sama ayahnya Mas." Tania berucap dengan mengiba sembari memeluk Salsa.


"Papa..." Salsa bersiap memeluk Mahesa, namun pria itu spontan mundur.


"Mas..."


"Dia punya ayah kandungnya, kamu bisa membawanya kedalam penjara untuk menemui kekasihmu itu" cecar Mahesa.


Ya, beberapa hari setelah pengusiran Tania dan Salsa hari itu, Mahesa akhirnya berhasil menangkap Ben yang merupakan pecandu narkoba, dan merupakan buronan. Hingga tanpa bersusah payah, Mahesa langsung menjebloskan pria itu kedalam penjara.


Untuk Tania, dia terpaksa membebaskan wanita itu setelah menipunya bertahun-tahun, demi Salsa yang tidak memiliki siapapun selain ibunya itu.


"Apa waktu 5 tahun hidup dengan hartaku tidak cukup bagimu Tania? Jika bukan karena ada Salsa yang harus kamu urus, apa kamu pikir aku akan membiarkanmu bebas berkeliaran?"


"Tapi Salsa benar-benar kangen sama kamu Mas..."


Mahesa menghela nafas berat, menatap Salsa sejenak.


"Ini adalah konsekuensi yang harus kamu terima karena membohonginya semenjak dia lahir, jadi itu bukan urusanku!"


"Mas!"


"Dan ya, jangan kamu pikir aku akan lupa bagaimana kamu membuatku terpisah dengan putri kandungku dan merawat putrimu itu! Dia harus kehilangan kasih sayang dan semua haknya karenamu. Aku masih mencoba menahan emosi karena ada Salsa disini, jadi sebaiknya kamu pergi sebelum aku kehilangan kendali."


"Setidaknya biarkan Salsa disini Mas..."


"Papa..."


"Aku tidak bisa merawat putri kandungku, jadi aku tidak akan merawat putrimu lagi!" sentak Mahesa dan masuk kedalam rumah, menutup pintunya pelan.


Bisa dia dengar bagaimana Salsa menangis, namun kasih sayangnya pada bocah itu hanya terus mengingatkan kesalahannya pada Puspita dan Dinda.


"Kenapa kamu tega banget sama Salsa Mahesa?" Rita, sang kakak menatap Mahesa kesal. Meskipun dia sudah tau yang sebenarnya, dia tetap lebih menyayangi Salsa dibanding putri Puspita yang bahka tidak dia ingat namanya.


"Karena membiarkannya berada disini hanya membuatku terus mengingat perbuatanku pada Puspita dan Dinda."


"Tapi Salsa adalah putrimu selama 4 tahun ini, apa semua kasih sayangmu meluap begitu saja hanya karena kebenaran yang baru kamu ketahui."


"Karena kebohongan yang Tania ciptakan, membuat Puspita harus menerima fitnah keji, membuatnya pergi dalam keadaan mengandung Dinda. Dan mereka harus menderita bertahun-tahun, apa cukup adil bagi mereka hanya dengan mengusir Tania dan Salsa dari rumah ini?"

__ADS_1


"Hei, kenapa kalian ribut? Ada apa ini?" tanya Santi keluar dari kamarnya.


"Tadi Tania dateng sama Salsa Ma, tapi diusir sama Mahesa. Dia benar-benar jahat sama Salsa cuman karena mantan istri yang bahkan gak mau nerima dia lagi!" jawab Rita mencebik.


"Puspita diceraikan Mahesa karena kebohongan Tania, Rit. Kenapa kamu masih membencinya?" tanya Santi tak habis pikir.


"Karena yang aku anggap keponakan itu Salsa, bukan anaknya Puspita."


"Tapi Dinda itu keponakan kandungmu! Dia yang lebih berhak mendapatkan apa yang Tania dan Salsa dapat selama ini" balas Santi.


Merasa jengah mendengar perdebatan didepannya, Mahesa memilih keluar dari rumah guna mencari udara segar.


"Kenapa Mama malah belain perempuan itu sih! Terlepas dari kesalah pahaman kita, harusnya Mama ingat jika kita tidak pernah merestui hubungan Mahesa dengan Puspita" ucap Rita.


"Benar, tapi Mama baru sadar jika Puspita jauh lebih baik dari yang kita duga. Harusnya kamu sadar setelah tau kebohongan Tania."


"Halah! Lagian dia juga mau nikah sama temennya itukan? Jadi gak ada gunanya Mahesa mikirin wanita itu terus."


"Berhenti membencinya Rita, karena butik kita membuat seragam keluarga untuk pertunangan putrimu adalah butik Puspita. Kamu harus malu jika terus mencemoohnya seperti ini."


"Apa? Jadi itu butiknya Puspita?"


"Benar, Mahesa yang mengatakannya!"


"Dia bukan hanya wanita pekerja keras, dia juga seorang ibu yang mendidik putrinya dengan baik. Itulah yang membuat Mama sadar jika Puspita jauh lebih baik dari Tania yang selama ini Mama banggakan."


Sementara itu, Mahesa yang memilih menemui Dinda tersenyum tipis mendapati putrinya itu tengah bermain dihalaman depan bersama Bi Ani.


Pria itu turun dari mobil dan segera menghampiri Dinda dengan paper bag ditangannya.


"Om Mahes?"


Hatinya terasa ngilu mendengar putrinya memanggil dengan sebutan 'Om', namun dia tahu tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini, karena nyatanya dialah yang salah.


"Hai sayang, ayah bawain coklat loh buat Dinda." Mahesa menunjukkan paper bag ditangannya, yang kemudian disambut dengan sopan oleh Dinda.


"Makasih Om."


Mahesa menghela nafas. "Kalau Dinda panggil Ayah, mau gak? Jadi Dinda punya Papa Revan dan Ayah Mahesa, gimana?"


Dinda tampak berpikir, hingga detik berikutnya mengangguk sebagai jawaban. Mahesa tersenyum senang, langsung memeluk putri kecilnya itu dengan erat.

__ADS_1


"Bunda mana sayang?"


"Dirumah sakit."


"Rumah sakit?" Mahesa mendadak panik.


"Iya, udah dua hari dijagain Papa Revan."


Mahesa menatap Bi Ani yang tak jauh dari mereka menuntut penjelasan.


"Rumah sakit Medika Pak."


Mahesa segera berpamitan pada putrinya, lantas langsung menuju rumah sakit. Ia berdecak kesal saat mobilnya terjebak kemacetan.


Beberapa menit berlalu hingga akhirnya dia tiba dirumah sakit, Mahesa segera menuju ruang rawat Puspita yang sebelumnya telah dia tanyakan pada resepsionis.


Pria itu berjalan dengan tergesa, hingga akhirnya dia berhenti tepat didepan ruang rawat mantan istrinya. Terlihat dari jendela kamar, Puspita tengah memejamkan mata dengan ventilator yang menutupi hidung dan mulutnya.


Baru saja berniat membuka handle pintu, saat Revan datang menghampiri.


"Mahesa, bagaimana kamu bisa ada disini?"


"Kenapa kalian tidak memberitahuku tentang keadaannya?" cecarnya membalas tanya, menatap Revan kesal.


"Setidaknya walaupun aku hanya mantan suaminya, aku berhak tau sebagai ayah dari putrinya" imbuhnya.


"Benar, kamu hanya ayah putrinya. Itulah yang aku inginkan, Puspita hanya menganggapmu sebagai ayah putrinya."


"Apa maksudmu?"


"Sedikit cinta yang masih dia miliki untukmu, adalah alasan mengapa dia menolak untuk memberitahumu. Padahal aku sudah berulang kali memintanya untuk memberitahumu, tapi dia menolak dengan alasan kamu tidak perlu tau. Tapi aku tau bukan itu alasannya. Tapi karena dia masih mencintaimu, hingga tak ingin kamu merasa sedih karena melihat keadaannya."


Mahesa dia tak berkutik, ucapan Revan membuatnya merasa bahagia dan sedih secara bersamaan. Dia bahagia, karena tahu jika Puspita masih memiliki perasaan untuknya, namun dia juga sedih karena tidak mengetahui keadaan Puspita.


"Kamu ingin tau penyakit apa yang membuatnya terbaring lemah diranjang itu?" tanya Revan membuatnya tersentak.


"Apa?"


"Leukimia."


"Leukimia?"

__ADS_1


"Benar, dan kondisinya semakin parah karena calon pendonornya meninggal karena kecelakaan, dan sampai sekarang kami belum mendapatkan pendonor yang baru."


Bersambung.


__ADS_2