Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 9


__ADS_3

" Apa maksud kamu nanyain suami aku?." Tania yang pertama sewot.


Puspita justru dibuat menahan tawa mendengarnya. Tentu karena dia tau jika mereka belum menikah.


" Kenapa kamu ketawa? Ada yang lucu?." Tanya Tania dengan marah.


" Ah maaf, maaf. Tolong jangan salah paham. Bukannya Tuan Mahesa juga akan ikut dibuatkan seragam bukan?." Puspita bersikap tenang setelah berhasil menahan tawa.


Bagaimanapun mereka hanya orang asing. Itu yang berusaha ia terapkan dalam pikirannya.


" Mahesa masih ada dikantor." Jawab Santi yang lebih tenang diantara mereka.


Lagipula ia merasa Puspita benar-benar sudah melupakan apa yang terjadi 5 tahun lalu. Kini ia merasa tak perlu khawatir, karena wanita yang pernah menjadi menantunya itu tak lagi ingin bersama putranya.


" Baiklah, kapan Tuan Mahesa bisa diukur?. Karena pakaiannya juga harus secepatnya dibuat."


" Kalian bisa datang lagi saat makan malam. Saya akan menghubungi kamu." Ujar Santi tertuju pada Riska.


" Maaf, masih ada beberapa klien yang harus kami temui. Mungkin Anda bisa mengatakan kapan tepatnya, sehingga kami bisa mengatur waktu dengan baik." Ujar Puspita.


" Baiklah. Saya akan menghubungi untuk waktu tepatnya."


" Baiklah kalau begitu. Jadi, apa kalian sudah memilih designnya?."


Santi menunjukkan design yang ingin ia gunakan.


" Untuk warnanya yang soft saja. Dan ya, tolong tambah sedikit brokat disini." Ujar Santi menunjuk bagian dada.


Setelah selesai menentukan dengan design dan bahan yang ingin digunakan, Puspita dan Riska pergi dari sana.


" Ibu ingin makan siang?." Tanya Riska saat mereka dalam perjalanan kembali kebutik, hampir mendekati sebuah restoran


" Boleh." Jawab Puspita yang memang merasa lapar.


" Pak Burhan." Panggilnya beralih pada sopir pribadinya.


" Iya Bu?."


" Tolong jemput Dinda ya... Saya ingin makan siang dengannya."


" Baik Bu..."


***


" Maaf Bu?." Tanya Riska saat mereka sudah duduk disalah satu meja.


" Iya. Kenapa?."


" Kenapa Ibu tidak mengatakan yang sebenarnya pada mereka?."


" Maksudmu, keluarga Adinata?."


Riska mengangguk.


" Kami memiliki masa lalu yang buruk. Saya hanya tidak ingin mengungkapkan kehidupan saya sekarang." Ucapnya mengingat pertemuan mereka tadi.

__ADS_1


Tak akan ada yang mengira, dibalik ketenangan yang ia tunjukkan. Hatinya dipenuhi rasa gelisah yang besar. Ia merasa takut, jika suatu hari ketenangan hidupnya selama ini harus terusik karena pekerjaan ini.


Namun lagi-lagi dia juga tak bisa mempertaruhkan reputasi butik. Ada banyak karyawan yang membutuhkan penghasilan untuk keluarga. Seperti Riska, yang sama sepertinya, seorang ibu tunggal. Bedanya wanita itu ditinggal mati suaminya.


" Dinda putriku, tak akan ada yang bisa mengambilnya dariku." Batinnya merasa takut.


Ia tahu betul, jika anak Tania bukanlah anak Mahesa. Jika Santi tau jika Dindalah putri Mahesa, ia takut wanita itu mengambilnya darinya.


" Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saya tau Ibu bukan wanita seperti yang mereka tuduhkan."


" Terima kasih."


Merekapun memesan makanan, tak butuh waktu lama pesanan mereka datang. Bertepatan dengan Dinda yang datang bersama Revan.


" Revan, dimana Bi Ani?." Tanya Puspita langsung mengambil alih Dinda.


" Dirumah. Kebetulan jadwalku agak senggang, jadi aku datang kerumah untuk bermain dengan Dinda. Jadi aku yang antarkan Dinda kesini saat Pak Burhan menjemputnya." Ujar Revan.


" Baiklah, ayo kita nikmati makanannya."


" Bu."


" Iya?." Puspita menoleh pada asistennya.


" Saya permisi ketoilet."


" Ah. Baiklah."


" Puspita." Panggil Revan saat Riska baru saja pergi. Wanita yang sedang mengambilkan makanan untuk putrinya itu menatap Revan.


" Ada apa?." Tanyanya ikut memelankan suara.


" Bersikaplah biasa, ada orang yang menguntitmu." Ujar Revan pelan, membuat Puspita reflek menoleh kesegala arah.


" Bersikaplah biasa Puspita." Revan kembali memperingatkan.


" Ah iya." Puspita langsung menyuapkan makanan untuk Dinda, agar tak ada gerakan mencurigakan.


" Kenapa kau pikir ada yang menguntitku?." Tanya Puspita berusaha tenang. Jujur, ia panik saat tahu ada orang yang mengikutinya.


" Ada seseorang diluar restoran dengan yang berdiri dan menatap kearah sini, aku merasa dia memperhatikanmu. Bahkan dia sesekali mengambil gambar. Sebaiknya kita bersikap sebagai orang tuanya Dinda."


" Apa maksudmu?."


" Aku merasa ini ada hubungannya dengan Mahesa. Aku harap kau bisa mengijinkan Dinda memanggilku ayah untuk beberapa waktu." Ujar Revan pelan


" Tapi kenapa?."


" Bukankah kau tak mau jika Mahesa tau siapa Dinda?."


Puspita langsung menatap putrinya, sejujurnya ia bisa saja membiarkan Dinda memanggil ayah pada Revan. Tapi ia khawatir, putrinya itu tak akan mau berhenti memanggil ayah.


" Tapi, bagaimana jika Dinda...?"


" Terus memanggilku Ayah?." Revan melanjutkan, Puspita mengangguk.

__ADS_1


" Itu bukan masalahkan?." Revan tertawa pelan setelahnya.


" Revan..." Meski tau Revan hanya bercanda, Puspita tetap merasa kesal.


" Hanya sementara, aku akan berusaha membujuknya. Dinda?." Panggilnya pada bocah kecil itu.


" Iya Unc..."


Puspita dengan cepat membekap mulut putrinya, mencegah Dinda memanggil 'Uncle'.


Revan terkekeh melihatnya, ekspresi ketakutan Puspita terlihat lucu baginya. Pria itu lantas berbisik pada Dinda.


" Beberapa hari kedepan, Dinda boleh panggil Uncle 'Ayah'."


" Beneran?." Bocah itu menatap dua orang dewasa didepannya dengan girang.


" Boleh Bunda?." Tanyanya pada sang ibu.


" Kalau Bunda nggak ngijinin, Dinda gak mau." Lanjutnya dengan wajah cemberut. Membuat Puspita lagi-lagi dibuat terharu oleh sikap putri kecilnya.


" Boleh sayang..."


" Yeay..." Teriaknya girang mengangkat kedua tangan. Dinda langsung turun dari kursinya dan duduk dipangkuan Revan.


" Dinda sayang Ayah..." Ucapnya memeluk Revan dengan erat.


Puspita menatapnya dengan air mata yang mulai menggenang. Dia tak menyangka, akan sebahagia ini saat ia mengijinkan Dinda memanggil ayah pada seseorang.


Entah bagaimana reaksi anak itu, jika dia tau dirinya benar-benar masih memiliki seorang ayah.


" Maaf Bu." Riska datang dengan tergopoh. Wanita itu tampak panik.


" Kenapa Riska?."


" Itu Bu, anak saya sakit. Jadi..."


" Pergilah, anak adalah yang utama." Ucap Puspita langsung.


Riskapun pamit pergi.


" Bahkan kau sangat mengutamakan anak untuk karyawanmu." Ujar Revan.


" Riska bukan hanya karyawan, dia adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya disini setelah kau dan Bi Ani." Balas Puspita.


Ketiganya bercengkrama dan bercanda tawa, persis sebuah keluarga yang bahagia. Namun Revan yang mendapat panggilan dari rumah sakit dan harus segera pergi.


" Dadah Ayah." Teriak Dinda melambaikan tangan dengan ceria saat Revan keluar dari restoran. Puspita lantas membawanya kembali kebutik.


Semua momen itu telah direkam oleh Faris, pria yang Revan lihat sebelum memasuki restoran. Asisten Mahesa itupun langsung melapor pada atasannya.


" Sial! Jadi kau benar-benar bahagia diatas penderitaanku." Gumam Mahesa mengepalkan tangan, setelah mendapat laporan dari Faris.


Harus ia akui, jika dirinya berharap jika Dinda adalah putrinya. Namun saat tahu bocah itu memanggil Revan dengan sebutan ayah, ia sadar jika yang terjadi dimasa lalu, bukanlah kesalah pahaman.


" Harusnya aku tidak perlu tahu tentang kehidupan pengkhianat itu. Aaakkkhhh!!!." Teriaknya penuh amarah, menghempaskan semua berkas dimejanya hingga jatuh berserakan. Tak terkecuali laptop yang masih menyala.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2