
" Tapi aku bukan wanita tanpa pendirian Revan." Ucap Puspita, membuat Revan sontak membalikan tubuhnya menatap wanita itu.
" Aku tidak akan merubah keputusanku sebelumnya. Aku tidak akan kembali pada Mahesa."
" Sungguh?." Binar bahagia tercetak jelas diwajah pria berusia 30 tahun itu.
" Apa kamu pikir aku seplin-plan itu?."
" Aku pikir..."
" Kamu pikir jika aku sudah memaafkannya, artinya aku siap kembali padanya. Begitu?."
Revan mengangguk.
" Sudah kukatakan, aku tidak akan kembali pada pria yang tidak memiliki kepercayaan pada istrinya sendiri. Terlepas jika Mahesa sudah tau semuanya, dan memohon maaf padaku, aku tetap tidak akan merubah keputusanku."
Revan menghembuskan napas lega, akhirnya ia tahu keputusan wanita itu saat hal ini terjadi.
" Tapi dia pasti akan memohon padamu Puspita. Lalu bagaimana dengan Dinda, tidakkah kamu ingin dia tahu siapa ayahnya?."
" Benar, Dinda harus tahu siapa ayahnya. Tapi tidak untuk sekarang."
" Kenapa?."
" Tidak ada." Puspita menjawab singkat, ia ingin mengakhiri pembicaraan ini. Tiba-tiba, kepalanya terasa pusing, hingga sesuatu yang pekat keluar dari hidungnya.
" Puspita, kamu mimisan lagi!." Revan panik bukan main, ia segera mendekati wanita itu dan memberikan sapu tangan yang selalu dibawanya.
" Jangan khawatir." Puspita menerima sapu tangan Revan, lantas bergegas ketoilet dilantai bawah.
" Kamu benar-benar harus kerumah sakit. Aku memang dokter, tapi aku tidak bisa mendiagnosa sembarangan tanpa adanya alat." Ujar Revan setelah Puspita keluar dari toilet. Wanita itu tampak lemas dengan wajah yang pucat.
" Sudah kukatakan jangan khawatir, aku baik-baik saja." Puspita duduk disebuah sofa ruang kerjanya.
" Apanya yang baik-baik saja. Kamu bilang sudah beberapa bulan, dan kamu masih bilang baik-baik saja?."
" Aku hanya kelelahan Revan, tidak lebih. Bisa aku minta tolong?."
" Jangan katakan itu!. Katakan saja apa yang kamu inginkan?."
" Tolong minta Bi Ani membeli tauge saat kepasar." Ujarnya teringat salah satu pelanggan butiknya saat melihatnya mimisan.
" Dulu anak saya juga mimisan, ada orang yang bilang banyakin makan tauge, dan alhamdulillah sekarang sembuh."
Meski ia jelas tau alasan mimisannya berbeda, mungkin ia bisa mencobanya.
" Tauge?." Revan bertanya heran.
" Hem, ada beberapa makanan yang ingin aku tambahkan tauge."
" Hanya itu?."
__ADS_1
Puspita mengangguk.
" Baiklah, akan kukatakan sekarang pada Bi Ani. Aku juga akan membawakanmu makanan."
" Terima kasih."
" Aku mencintaimu." Balas Revan dan pergi begitu saja.
Puspita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah pria itu.
" Kamu masih muda dan sehat Revan. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari seorang janda yang sakit parah." Gumamnya menatap nanar pintu yang sudah tertutup kembali, sebelum akhirnya menutup mata dan kehilangan kesadaran.
🍁
Puspita mengerjapkan matanya perlahan, ruangan serba putih dengan bau yang khas menjadi pemandangan pertama yang ia lihat.
" Kamu sudah bangun?." Revan, pria yang pertama dilihatnya.
Puspita menatap sekitar, ia sudah menyadari dimana dia berada.
" Bagaimana aku bisa ada disini?." Gumamnya berusaha bangun, namun dicegah oleh Revan.
" Tubuhmu masih lemah, kamu harus istirahat."
Puspita menatap Revan sejenak, hingga ia tiba-tiba teringat sesuatu.
" Revan..."
" Apa kamu yang memeriksaku?." Tanyanya mulai panik.
" Sayangnya tidak. Kau dibawa kesini oleh Bi Ani saat aku membeli makanan untukmu. Kau diperiksa oleh rekanku, dokter Sandi."
" Apa dia mengatakan sesuatu padamu?."
" Tidak ada. Memangnya kenapa kamu sepanik itu, tenanglah, kau baik-baik saja. Katanya kau hanya kelelahan, dan mimisanmu adalah hal yang wajar."
Puspita bernapas lega, untungnya dokter Sandi benar-benar bisa menjaga rahasia.
" Aku akan katakan pada Dinda kamu sudah bangun, tadi dia terus menangis, sampai Bi Ani membawanya kekantin rumah sakit untuk mengalihkan perhatiannya."
" Baiklah."
Tak berapa lama setelah Revan pergi, dokter Sandi masuk keruang rawat.
" Terima kasih sudah menjaga rahasia ini dok."
" Tidak masalah. Walau tadinya saya pikir Anda sudah mengatakannya pada pengasuh putri Anda. Tapi melihatnya yang kebingungan saat saya tanyai kenapa Anda pingsan, membuat saya mengerti Anda masih merahasiakannya. Jadi saya memutuskan untuk diam, karena memberitahukan mereka adalah keputusan Anda." Jelas dokter itu menyuntikan obat keinfus Puspita.
" Tapi jika terus seperti ini, sepertinya Anda akan menunda proses pengobatan untuk waktu yang lama." Lanjut dokter Sandi.
Belum sempat Puspita menjawab, Revan datang bersama Dinda.
__ADS_1
" Bunda." Gadis itu langsung berlari kebrangkar ibunya. Revan lantas membantu Puspita untuk duduk.
Sementara ditempat lain, Mahesa datang kerumah ibunya. Dia akan membicarakan tentang Puspita. Tak bisa ia bayangkan betapa bahagianya saat Santi merestui hubungan mereka, dan dia bisa kembali berkumpul bersama anak dan istrinya.
" Ma." Mahesa menyalami Santi yang tengah duduk dikursi samping kolam renang. Ia duduk dikursi yang bersebrangan meja.
" Tumben kesini? Sudah berubah pikiran untuk menikahi Tania?."
" Tidak." Mahesa merasa kesal, setiap kali ibunya membahas Tania.
" Lalu? Bukannya anak Mama yang sibuk ini gak punya waktu untuk Mama?." Sindir Santi.
" Aku kesini ingin bicara mengenai Puspita."
" Untuk apa kamu membicarakan wanita itu? Jangan pikir karena Mama mempertahankan pesanan dibutik tempatnya bekerja, Mama sudah memaafkannya."
" Butik tempatnya bekerja?."
" Iya. Butik kita memesan baju seragam untuk pesta pertunangan Nia, keponakan kamu. Bukannya kamu udah dateng sama Tania kesana?."
" Itu butiknya Ma."
" Maksud kamu?."
" Itu butik milik Puspita. Aku bahkan melihat semua karyawan disana sangat menghormatinya."
" Halah, dia gak mungkin punya butik sebagus itu. Bahkan Mama pernah dengar ada cabangnya diluar negeri. Gak mungkin Puspita memiliki butik itu, mungkin dia hanya manager disana."
" Mungkin saja. Tapi bukan ini yang ingin aku bahas Ma..."
" Lalu?."
" Semua yang terjadi 5 tahun lalu hanyalah sebuah kesalah pahaman."
" 5 tahun lalu? Kenapa kamu masih mengingat-ingat pengkhianatan wanita itu Mahesa?." Santi tak habis pikir.
" Puspita tidak pernah berkhianat Ma, semua itu hanya salah paham."
" Salah paham bagaimana, jelas Mama lihat sendiri hasil tes kehamilannya. Dia hamil lebih dulu sebelum kamu menikahinya!."
" Aku sudah melakukan tes DNA, dan hasilnya Dinda adalah putriku. Dan untuk usia kehamilan, karena dokter menghitung dari HPHT, bukan hari saat HB." Jelas Mahesa yang juga baru memahaminya.
" Udahlah, pokoknya Mama gak percaya sama wanita itu. Mama cuman percaya sama Tania."
" Tapi Tania hanya salah memahami surat tes kehamilannya, kita bisa kedokter jika Mama masih belum percaya. Aku bahkan bisa membawa Mama pada dokter yang melakukan tes DNA.
" Itu pasti udah direkayasa sama dia Mahesa, udahlah, gak usah bahas perempuan itu lagi!."
" Aku sendiri yang melakukan tes DNA diam-diam, tidak ada celah Puspita merekayasanya. Dan kalau benar dia yang merekayasanya, lalu kenapa dia berbohong padaku jika Dinda bukan putriku?."
" Udahlah, Mama males bahas perempuan itu. Sekalinya dateng, malah bikin Mama emosi." Santi masuk kerumah begitu saja, membuat Mahesa frustasi. Ia tak tahu akan sesulit ini membujuk Santi.
__ADS_1
Bersambung.