Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 7


__ADS_3

" Selidiki kehidupan Puspita selama lima tahun ini!." Titah Mahesa pada Faris, asistennya.


" Baik Pak. Tapi..."


" Tapi apa?."


" Maaf kalau sayang lancang. Tapi kenapa Bapak tiba-tiba ingin tau mengenai Ibu Puspita?."


" Tidak ada. Kau boleh pergi."


Faris yang tau jawaban itu pertanda bosnya tak ingin diganggu, langsung menurut. Ia keluar untuk mulai menjalankan tugas.


Seperginya Faris, Mahesa termenung dikursinya. Pertanyaan asistennya itu seakan menyadarkannya. Ia sendiri tak mengerti, kenapa tiba-tiba dia ingin mengorek kehidupan masa lalu Puspita.


Wajah gadis kecil yang diselamatkannya terbayang dibenaknya.


" Dinda." Gumamnya mengingat nama yang disebutkan Puspita kala itu.


Ada rasa yang tak biasa saat melihatnya. Entah apa, ia sendiripun tak tahu.


Namun, jika mengingat Dinda adalah putri Puspita bersama Revan, membuat kebencian dihatinya kembali muncul.


" Kenapa aku tidak bisa melupakan wanita pengkhianat itu." Gumamnya dengan tangan yang terkepal, menahan emosi, yang harus ia akui, berbalut sebuah kerinduan.


Pintu terbuka tanpa diketuk, Tania datang membawakan bekal makan siang calon suaminya.


" Apa kamu tak punya tangan untuk sekedar mengetuk pintu?." Ujar Mahesa kesal.


" Ish, jangan marah dong Mas. Lagian aku inikan calon istri kamu." Tania langsung duduk didepan calon suaminya. Meletakan makanan yang dibawanya diatas meja.


Mahesa menelpon sekretarisnya, seorang pria masuk setelah mendapat ijin.


" Bawa makanan ini!." Sekretaris bernama Dedi yang sudah hapal betul apa yang harus dia lakukan, tanpa ragu mengambil bekal. Namun langsung direbut kembali oleh Tania.


" Maksud kamu apa sayang? Ini aku siapkan khusus untuk kamu?." Menahan emosi, Tania berusaha bicara selembut mungkin.


" Jangan pura-pura, kamu bahkan tidak bisa membuat nasi di rice cooker. Apa kau pikir aku akan percaya kamu yang memasaknya sendiri?." Cibir Mahesa.


" Salah aku sama kamu tuh apa sih Mas? Kenapa kamu gak bisa bersikap lembut sama aku?."


" Tidak ada yang salah. Ini salahku, karena sudah tanpa sengaja menyentuhmu." Sarkas Mahesa.


" Mas..." Tania menahan suaranya, melirik Dedi yang belum keluar. Menunjukkan kekesalannya karena Mahesa mengatakan hal sensitif itu dihadapan orang luar.


" Kenapa? Dedi bukan hanya sekretaris, dia juga sahabatku. Ada yang salah?."


" Enggak, bukan gitu Mas. Cuman..."


" Cuman apa?."


" Sudahlah, sebaiknya Mas makan siang dulu." Tania mengalihkan pembicaraan.


" Pergi sana!." Usirnya pada Dedi yang kemudian pergi.


" Makan saja sendiri." Ujar Mahesa berdiri dari duduknya.


" Tunggu Mas. Hari ini Mama minta kita pulang. Ada orang butik yang harus melakukan pengukuran." Tania ingat pesan calon mertuanya.


" Kamu saja yang pulang." Jawab Mahesa lantas pergi begitu saja.

__ADS_1


" Mas!." Tania yang berniat mengejar Mahesa langsing dicegah Dedi.


" Kamu gak ada hak ngelarang Saya. Saya ini calon istri bos kamu!."


" Pak Mahesa ada pertemuan dengan klien, akan lebih baik Anda bersikap baik."


" Cuih!."


Dedipun pergi menyusul atasannya, membuat Tania semakin kesal dibuatnya.


" Gimana caranya supaya Mahesa nikahin aku? Bahkan setelah jebak Dia dengan Salsa, pria menyebalkan itu gak nikahin aku sama sekali." Gumamnya kesal.


Dering ponsel ditasnya bergetar, dengan cepat ia mengangkat telponnya.


" Halo sayang..." Sapanya lembut, setelah melihat nama yang tertera dilayarnya.


" Halo. Kita ketemuan yuk. Aku kangen nih sama kamu..." Balas Ben.


" Kayanya aku gak bisa deh sayang. Hari ini Mama minta aku dateng kerumahnya."


" Calon mertua kamu?."


" Iya. Akukan harus bikin dia seneng supaya mau terus bujuk Mahesa, sampai nikahin aku. Dan setelah itu, kita bisa tendang mereka dan hidup bahagia bersama." Tania kembali membayangkan mulusnya rencana mereka.


" Oke deh kalau gitu. Jangan lupa transfer ya..."


" Oke. I love you..."


" Love you to."


🍁🍁🍁


" Tinggal sedikit lagi Bu..." Riska yang duduk didepan bersama sopir berucap.


" Oh baiklah." Puspita menatap jalanan diluar. Entah kenapa ia merasa jalanan ini tak asing, ia merasa pernah kemari. Bukan hanya lewat, namun...


" Kita sudah sampai Bu." Ujar Riska ketika mobil mereka berhenti tepat didepan gerbang sebuah rumah mewah.


Rumah yang benar-benar tak asing bagi Puspita. Namun bukan karena kenangan manis, melainkan pengalaman buruk penuh penghinaan.


" Apa kamu yakin ini rumahnya?."


" Iya Bu, benar."


" Memangnya atas nama siapa pesanannya." Puspita tak pernah tau siapa yang memesan padanya. Ia hanya tau dari keluarga berada.


" Atas nama Nyonya Adinata."


DEG!!!


" Nyonya Adinata?."


" Benar Bu. Apa ada masalah?."


Puspita tak menjawab, karena tentu ia adalah masalah dengan nama itu. Adinata, keluarga mantan suaminya. Keluarga sombong yang dulu menghinanya karena kasta.


Kini dunianya seakan tak berjalan kemanapun. Ia kembali kerumah ini, dan harus bertemu orang-orang masa lalunya.


Meski sekarang keadaannya tidak lagisama, tetap saja, ia yakin keluarga Adinata akan memandang rendah dirinya.

__ADS_1


Puspita tiba-tiba teringat Dinda, ia segera menghubungi Revan, namun sayangnya pria itu tidak mengangkatnya.


" Dia pasti sedang memeriksa pasien."


" Bu!." Panggil Riska. Puspita yang sedang cemas membeo.


" Iya?."


" Mari masuk. Mereka pasti sudah menunggu."


" Kamu saja yang masuk, aku harus kembali kebutik."


" Tapi Bu, bukankah kepuasan pelanggan adalah yang utama?."


Puspita tak tau harua bagaimana, disatu sisi ia tak siap bertemu dengan orang-orang yang menghinanya. Tapi disisi lain dia juga tidak boleh mempertaruhkan butiknya. Sejak dulu keluarga Adinata adalah keluarga yang berkuasa. Dan sekali lagi, ia dibuat tak berkutik.


" Baiklah, ayo kita masuk."


Keduanya keluar dari mobil, lantas Riska menekan bel disamping pagar. Tak butuh waktu lama, keduanya dipersilahkan masuk.


Langkah demi langkah terasa berat bagi Puspita. Ia harus bersiap untuk segala kemungkinan yang terjadi. Meski begitu, ia akan berusaha sebaik mungkin bersikap baik. Ini tentang profesionalitas.


" Silahkan." Seorang pelayan membukakan pintu untuk keduanya. Mereka diarahkan keruang tengah, dimana pengukuran akan dilakukan.


Pikiran Puspita benar-benar tidak fokus. Suara penghinaan dimasa lalu terngiang ditelinganya.


" Wanita miskin seperti dia selalu menginginkan uang. Dia pasti merayu Mahesa hanya demi mendapat harta. Tak heran jika dia sekarang hamil anak orang lain."


" Kalau aja dulu kamu dengerin kita, pasti hal ini gak akan terjadi. Mau taruh dimana muka kita, nama keluarga kita sudah tercoreng gara-gara wanita murahan ini."


" Kalau aja dulu kamu nurut sama Mama dan nikah sama Tania, pasti kita tidak perlu merasakan hal memalukan ini."


" Puspita Maharani, detik ini... Aku Mahesa Adinata, menjatuhkan talak padamu."


Jedduar!!!


" Tidak!!!." Puspita menggeleng cepat, menyingkirkan semua ingatan kelam masa lalunya.


" Ada apa Bu?." Riska yang tak tahu apa yang terjadi bertanya. Ia segera menghentikan Puspita yang terus memejamkan mata dengan bergumam 'tidak'.


" Bu!!!." Riska menaikan suaranya satu oktaf, membuat Puspita tersadar.


" Tidak. Kita batalkan saja pesanan ini. Kembalikan semua uang mereka." Puspita tak dapat menahan perasaannya. Ia langsung bangkit, namun dicegah oleh Riska.


" Apa maksud Ibu? Ini adalah pesanan yang besar? Jika kita membatalkannya, maka reputasi butik akan menjadi taruhannya."


Puspita mengatur napasnya yang terasa sesak. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa.


" Aku sudah bertemu dengan Mahesa, bukankah bukan hal yang buruk aku bertemu keluarganya." Gumamnya berusaha kuat.


" Maaf membuat kalian menunggu."


Suara itu? Puspita tersentak mendengar suara yang familiar ditelinganya. Suara yang dulu berteriak lantang menghinanya.


Ia menoleh, mendapati Santi, mantan Ibu mertuanya yang tak pernah berubah penampilannya, bahkan mungkin juga hatinya.


" Puspita?."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2