Dia, Ayah Putriku

Dia, Ayah Putriku
Bab 15


__ADS_3

Mahesa tengah mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit sepulang kerja, setelah mendapat kabar dari Bi Ani jika Puspita sedang dirawat.


Sesampainya dirumah sakit, dia langsung menanyakan ruang rawat Puspita pada resepsionis, namun belum sempat dijawab, Puspita keluar dipapah oleh Revan.


"Puspita..."


Mahesa segera mendekat kearah Puspita, dia berniat mengambil alih memapah Puspita saat wanita itu menepisnya.


"Aku bisa sendiri" ucap Puspita, dan kemudian beralih pada Revan. "Kembalilah bekerja, Pak Burhan pasti akan sampai sebentar lagi"


"Aku akan menunggu sampai dia datang" jawab Revan.


"Dia tidak akan datang" cetus Mahesa.


"Kenapa?" tanya Revan.


"Karena aku yang datang kesini untuk menjemputnya."


Revan tampak tak suka mendengar jawaban Mahesa, sementara Puspita hanya menggeleng pelan melihat kecemburuan pria itu.


"Kalau begitu aku yang akan mengantarmu" ujar Revan menatap Puspita.


"Tidak! Sebaiknya kamu u kembali bekerja, serahkan Puspita padaku!" balas Mahesa.


"Serahkan? Dia bukan barang yang bisa kamu ambil sesuka hatimu!" cibir Revan.


"Aku kesini menggantikan supirnya, jadi kurasa tidak ada yang salah jika dia pulang bersamaku!" ucap Mahesa.


"Daripada datang kemari hanya untuk membuat kerusuhan, lebih baik kau urus keluargamu sendiri!" usir Revan.


"Dia ibu dari putriku!"


"Dia calon istriku!" balas Revan tak terima, membuat Puspita dan Mahesa menatap tak percaya setelah mendengarnya.


"Puspita, apa yang dia katakan benar?" tanya Mahesa dengan gelisah, di harap jika ucapan Revan tidak benar.


Puspita menatap keduanya secara bergantian, kemudian tersenyum pada Revan.


"Benar, dan kami akan segera menikah"


Bukan hanya Mahesa yang terkejut mendengar jawaban Puspita, bahkan Revanpun tak menyangka mendengarnya.


"Puspita..." Mahesa menatap Puspita nanar.


"Sebaiknya kamu pulang saja Mas, aku akan pulang bersama Revan."


Mahesa diam tak berkutik, kemudian pergi dari sana. Setelah Mahesa pergi, Revanpun memapah Puspita kedalam mobilnya.


"Puspita" panggil Revan saat keduanya berada dalam mobil.


"Iya?"


"Yang kamu katakan tadi?"


Puspita tersenyum tipis. "Maaf_"


"Jangan katakan jika kamu mengatakannya hanya untuk memutus harapan Mahesa." Revan memotong ucapan Puspita.


"Benar."


Ckiiit!


Revan mengerem mobilnya secara mendadak, untungnya jalanan sedang lengang sehingga tidak ada kendaraan dibelakang mereka.

__ADS_1


"Kamu sudah mempermainkanku!" Revan berucap dengan kesal, meski dia sudah menduganya, dia tetap tidak bisa menerimanya.


"Kamu yang memulainya Revan."


"Baiklah, tapi kamu tidak membantahnya."


"Maaf, tapi kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku Revan."


"Tapi yang ingin aku nikahi adalah kamu, bukan seseorang yang lebih baik darimu!"


"Revan_"


"Aku akan menikahimu secepatnya, sesuai yang kamu katakan pada Mahesa!"


"Revan, jangan_"


"Jangan menolak setelah kamu sendiri yang mengakuinya didepan Mahesa."


"Tapi_"


"Aku akan menikahimu secepatnya, sesuai pengakuanmu didepannya."


Revan menatap Puspita dalam. "Kali ini, aku tidak akan meminta persetujuanmu!"


"Revan..."


"5 tahun sudah cukup memberimu waktu untuk berpikir dengan jernih, antara kembali atau tidak pada Mahesa. Tadinya, aku mengira kamu akan memaafkannya setelah dia tahu yang sebenarnya, tapi ternyata kamu tetap menolak untuk rujuk. Jadi, aku akan menikahimu."


"Pernikahan bukan hanya tentang dua orang Revan, bukan tentang Dinda, tapi juga keluarga kita. Aku sudah tidak punya orang tua, tapi kamu masih punya ibu kamu."


"Aku akan meminta restunya, dan aku yakin dia akan memberikannya."


"Bagaimana bisa kamu seyakin itu, Revan? Kami belum pernah bertemu, dan dia mungkin tak akan menyetujui putranya menikah dengan seorang janda."


"Maksudmu?"


"Kamu akan tau saat kalian bertemu" jawab Revan dan mulai melajukan kembali mobilnya.


"Kamu tidak berniat membawaku kerumah ibumu sekarang kan?"


"Tebakanmu benar."


"Revan, jangan bercanda!"


"Aku serius!"


"Pernikahan bukan hal yang bisa diputuskan hanya dalam waktu singkat Revan, jadi kumohon pikirkan baik-baik."


"Aku sudah menunggunya selama lebih dari 5 tahun, aku rasa itu sudah lebih dari cukup untuk memikirkannya."


Revan tak mengindahkan ucapan Puspita sama sekali, membuat wanita itu hanya bisa diam hingga mereka sampai dirumah orang tua Revan, tepatnya ibunya.


"Revan, coba pikirkan sekali lagi!" Ucap Puspita saat Revan bersiap keluar dari mobil.


"Aku tidak pernah lebih siap dari ini. Ayo, keluar."


Terpaksa, Puspita keluar dari mobil kemudian dipapah Revan masuk kedalam rumah. Dimana Yuniar, ibu dari Revan tengah duduk diruang TV.


"Bu."


"Revan, kamu pulang." Bu Yuniar bangun dan langsung memeluk putranya, kemudian Revan menyalimi sang ibu.


"Dia..." Bu Yuniar menatap putranya yang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Dia Puspita, wanita yang selalu kuceritakan pada Ibu."


"Ternyata dia lebih cantik dari fotonya" puji Bu Yuniar kemudian disalimi oleh Puspita.


"Revan banyak cerita tentang kamu, ah bukan banyak lagi. Selama kalian berada di Singapura, setiap hari dia selalu melaporkan kegiatan kalian. Jadi ibu yakin kamu wanita yang baik, dan ibu akan merestui hubungan kalian."


Puspita melirik Revan yang juga meliriknya, mendelik tak percaya jika Revan sudah mengatakan banyak hal tentangnya.


"Saya tidak sebaik yang Revan katakan Bu." ucapnya.


"Dia mungkin saja berbohong, tapi dari caramu bicara, Ibu tau dia memang memilih calon istri yang tepat."


"Ta-tapi_"


"Jika kamu minder karena statusmu sebagai single mom, maka biar Ibu perjelas jika Ibu tidak keberatan sama sekali. Ibu malah senang bisa langsung punya cucu."


Puspita tidak tahu harus berkata apa, dia menatap kesal pada Revan yang justru cengengesan tak jelas melihatnya.


"Jadi gimana Bu, kapan kami bisa menikah?" tanya Revan menyela.


"Jangan buru-buru, biarkan calon istrimu siap. Lagipula ini adalah pernikahan putra tunggal Ibu, jadi Ibu pengin buat acara semeriah mungkin."


"Dia akan siap kapanpun aku siap, benarkan... Sayang?"


Puspita mencubit pelan pinggang Revan kesal, pipinya terasa memanas mendengar Revan memanggilnya sayang. Pria itu benar-benar keterlaluan sudah membuatnya malu.


"Sudah-sudah, jangan ganggu calon menantu Ibu. Ayo kita makan malam bersama" ajak Bu Yuniar.


"Mohon maaf Bu, tapi saya harus pulang" tolak Puspita halus.


"Tenang saja, aku sudah memberitahu Bi Ani jika kita akan pulang agak larut" ujar Revan.


"Tapi Dinda_"


"Dia akan punya Ayah, tentu saja dia sangat senang." Revan menaikan sebelah alisnya dengan senyuman lebar.


"Memangnya apa yang kamu katakan sama dia Revan?"


Revan tersenyum teringat pembicaraannya dengan calon anak sambungnya beberapa menit lalu saat Puspita tengah diajak bicara oleh ibunya.


"Uncle Revan akan jadi ayahnya Dinda, Dinda mau gak?"


"Beneran, mau banget Uncle."


"Oke, tapi dengan satu syarat."


"Syarat apa?"


"Bunda Uncle pinjam sampai malam ya, jadi Dinda jangan nakal sama Bibi."


"Oke."


"Kamu tau darimana kalau ibu kamu bakal nyuruh makan malam?"


"Karena sudah waktunya makan malam, benarkan Bu?" Revan menatap ibunya yang hanya geleng-geleng kepala.


Mereka bertiga lantas menuju ruang makan, Revan menarik kursi untuk Puspita.


"Kamu mau kemana?" tanya Puspita melihat Revan berniat pergi.


"Ambil jus."


Revan melangkah kedalam dapur yang terdekat lemari besar dengan ruang makan. Pria itu membuka WA-nya dan mengirim sebuah video dan juga foto pada seseorang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2