
Keheningan pekat di iringi suara rintik hujan menciptakan suasana yang mendadak jadi menenangkan. Mata coklat Renatta mencuri-curi pandang pada pria di samping nya itu. Sebenar nya, jika di tanya, apa Ares ganteng? Jawaban nya sudah pasti iya. Dia harus mengakui jika pria ini memang lah tampan tak kalah dengan artist di drama korea yang pernah di tonton nya.
Apalagi jika di lihat dari samping hingga rahang tegas nya terlihat jelas. Di tambah gaya rambut nya yang sesuai dengan paras wajah nya, di tambah tinggi nya yang oke, membuat nya benar-benar di katakan hampir sempurna.
Di rasa Renatta terus mencuri-curi pandang terhadap nya, Ares menoleh dengan cepat, membuat mata kedua nya kembali saling bertatap, Renatta cepat-cepat mengambilkan pandangan nya sebelum ketahuan.
"Mampus gue jika ketahuan." Batin Renatta menggerutu.
"Ck! Sudah ketauan kok, dari tadi saya perhatiin kamu lihatin wajah saya terus. Emang kamu naksir ya?" Tanya Ares menyelidik.
"Siapa yang liatin? Geer banget sih!" Kata Renatta memayunkan bibir nya tidak terima.
"Oh.." Ares hanya beroria, dia bangkit dari kursi sofa itu. "Hujan nya udah reda, saya mau balik dulu."
"Terima kasih untuk semuanya." Lalu Ares berjalan menuju ke luar.
"Eh, tunggu!" Pekik nya menghentikan langkah Ares, perempuan itu maju, lantas tanpa tanda-tanda dia memeluk Ares. "Hati-hati di jalan pak dan terima kasih telah mau menolong saya dari teman-teman yang merundung saya di sekolah."
Renatta mengucapkan itu sambil memejamkan mata, membaui aroma Ares yang menenagkan paru-paru nya. Sama sekali tidak sadar bahwa tindakan nya barusan membuat tubuh Ares seolah berubah kaku seperti patung.
*****
Renatta merutuki diri nya sendiri atas kejadian tadi sore yang tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Ares.
"Ah, malu nya!" Rengek Renatta di atas tempat tidur nya sambil menghentakkan kaki nya.
"Bodoh, bodoh. Kenapa kamu lakuin itu Ren." Renatta memukul kepala nya karena frustrasi memikirkan kejadian itu.
"Bagaimana ini? Pasti bakal canggung banget ketemu pak Ares hari senin, Arghh." Renatta menengelamkan wajah nya di bantal, lama kelamaan dia terlelap.
Sementara di kediaman Ares, dia sedang menatap langit-langit kamar nya, seperti yang di pikirkan oleh Renatta, Ares pun sama.
__ADS_1
Terukir senyuman di wajah Ares kala mengingat tingkah lucu Renatta, "Ahhh. Kenapa aku memikirkan nya." Ares mengacak rambut nya.
"Tapi kalau di bilang dia itu lucu dan kocak ya." Kata Ares dalam hati.
"Ah sudahlah, saat nya itu." Ares lalu mematikan lampu kamar nya, menyala kan musik mengantar itu dan beberapa saat kesadaran nya sudah beralih di dunia mimpi.
Pagi nya.
Renatta bangun kala mendengar suara bunyi dari alarm nya. Hari ini hari minggu, sesuai jadwal nya dia akan pergi ke gym untuk program menurunkan berat badan nya.
"Eugh." Renatta mengeram di atas kasur nya, dengan setengah sadar dia beranjak dari tempat tidur nya menuju kamar mandi, sesuatu yang tidak ingin kan terjadi, Renatta menambak tembok dan ambruk seketika.
Alhasil, kesadaran langsung pulih karena kejadian itu, "Dasar tembok, kalau liat orang lewat kasih jalan, jangan diam di tempat." Kata Renatta menendang tembok nya. Naas nya, dia mendapatkan kesakitan double.
"Aduuh. Ampes banget gue pagi ini." Kata Renatta lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa kemudian, setelah selesai bersiap-siap Renatta pun siap melakukan program penurunan berat badan nya sesuai jadwal yang telah di buat nya beberapa hari lalu.
Kini Renatta telah sampai di sebuah tempat gym, dia melangkahkan kaki nya dengan sakit ketakutan, sebelum olahraga saja keringat nya sudah bercucuran kemana-mana.
Seseorang petugas pelayan tempat itu yang melihat kedatangan nya segera menghampiri.
"Ini kak Renatta ya kemarin dm saya ya?" Tanya nya memastikan.
"Iya mas." Kata Renatta dengan suara pelan.
"Oh iya kak Renatta, mari saya antar anda ke Coach anda, nanti dia yang akan membimbing anda selama program penurunkan berat badan ya." Kata nya sambil mempersilakan Renatta untuk mengikuti nya.
Renatta mengekori mas-mas itu sambil melihat sekeliling nya, mengamati orang-orang yang sedang berolahraga pagi itu.
"Pak, ini orang nya sudah datang." Laki-laki yang sedang berolahraga itu langsung menghentikan kegiatan olahraga nya. Dia membalikkan badan nya, dan bertapa terkejut nya dia mendapati Renatta.
__ADS_1
Begitu dengan Renatta, dia terkejut, matanya membulat sempurna dengan mulut yang menggagap. Dia tidak menyangka jika mentor yang akan membimbing nya adalah guru nya sendiri, Ares.
"Renatta." Kata Ares terkejut
"Pak Ares." Begitu dengan Renatta, kedua nya mengatakan hampir bersamaan.
Ares lalu menarik lengan pengawai gym itu, "Ken, lebih baik kita batalkan saja, aku tidak mau jadi mentor nya." Bisik Ares di telinga Kevin.
"Nggak bisa begitu Res, kan kamu sudah setuju." Kata Kevin tidak terima.
"Arghh, jika aku tahu Renatta yang kamu bilang siswa ku, aku pasti dari awal nggak bakal setuju." Kata Ares memijat kepala nya yang tidak pusing.
"Sudahlah Res, nikmati saja." Kata Kevin lalu kembali bergabung dengan Renatta.
"Kak Renatta enjoy ya." Kata nya berlalu pergi sambil mengedipkan mata nya pada Ares.
Hati Renatta dari tadi sudah berdegup kencang, seakan ingin melompat keluar, dia memegang dada nya kuat, dan berdoa Ares tidak mendengarkan suara degupan jantung nya.
"Kenapa bisa Pak Ares yang jadi mentor ku sih? Aku yang mau menghindari nya malah ampes deh." Batin Renatta.
Renatta benar-benar di buat pusing, kejadian kemarin masih saja baru belum bisa pergi dari ingatan, bagaimana dia memeluk Ares dan menghirup aroma wangi di tubuh pria itu, benar-benar malu, dia seakan ingin hilang di muka bumi ini langsung.
"Ekhm." Ares berdeham pelan, mengusir suasana canggung di antara mereka.
"Baik, sebelum mulai kita pemanasan dulu, agar otot-otot kita tidak cedera saat olahraga nanti nya." Ares berusaha tenang walaupun dalam diri nya bergejolak hebat, entah apa yang terjadi dia tidak tahu juga.
Renatta mengiyakan pelan, dia lalu mengikuti instruksi yang diberikan oleh Ares.
*****
Bersambung...
__ADS_1