
Renatta menggigit bibir nya. Mukanya memerah, perasaan nya sangat senang bercampur aduk dengan jantung nya yang memompa kian kencang. Baru kali ini dia merasakan sensasi gejolak yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Renatta tak habis berpikir lama kepalanya mengangguk mengiyakan karena diri nya juga menyimpan perasaan yang sama kepada Ares. Dia juga mencintai nya.
Ares berdiri, spontan tangan nya mengepal ke udara bak pahlawan yang bahagia karena baru saja memenangkan pertempuran.
"Ta-tapi aku bukan wanita yang cocok untuk jadi pendamping anda, pak."
"Kenapa kamu bilang tidak pantas?" Tanya Ares tak mengerti.
"Memang tidak pantas pak." Renatta menundukkan kepalanya.
Ares memegang wajah Renatta, menyuruh nya untuk menatap nya, "Aku tidak peduli!"
"Dan aku masa bodoh dengan penilaian orang lain." Ares mendekati Renatta. Kedua tangannya kini sudah berada di pinggang Renatta. Gadis itu tersenyum sangat manis sekali.
"Apa aku sudah pernah mengatakan ini, jika kamu sangat cantik kalau tersenyum." Ares terdengar menggombal.
Renatta langsung menundukkan kepala nya, wajah nya tampak salah tingkah, membuat Ares tersenyum geli.
__ADS_1
Renatta membalikkan badan nya menatap Ares lalu menjinjitkan kaki nya, kemudian mengecup bibir Ares. Tubuh Renatta terasa lemas, kontradiksi dengan keberanian yang dia lakukan. Ini adalah kali kedua nya dia mencium bibir Ares tanpa persetujuan dari yang punya. Dia pun tidak percaya dengan tindakan yang baru saja dia lakukan, sungguh gila sekali.
Begitu pun dengan Ares yang di buat tak percaya, sudah dua kali Renatta mencuri ciuman nya tanpa persetujuan dari nya. Dia menatap wajah Renatta yang sudah salah tingkah. Dan di mata Ares itu sangat mengemaskan.
"Ini sudah kali kedua nya, kamu mencuri ciuman tanpa seizin yang punya.
Kata dari Ares mampu membuat Renatta tersenyum malu, "Ma-maafkan Saya Pak." Ucap Renatta terbata-bata.
"Lagian Pak sih, siapa suruh ganteng nya kelewatan, kan jadi nggak bisa nahan." Gumamam Renatta masih di dengar oleh Ares.
"Tidak apa-apa." Renatta segera menggelengkan kepalanya, "Apa dia dengar ya, apa yang aku katakan barusan?" Batin Renatta bertanya-tanya.
Ares menatap wajah Renatta, melihat bibir tipis nan ranum itu. Renatta terkejut ketika Ares memegang dagu nya, perlahan mendekatkan wajah nya dan mengecup bibir tipis itu.
Ares mengecup sekali, di lihat nya Renatta hanya terdiam seakan pasrah, Ares kembali mencium bibir Renatta, kali ini bukan mengecup, dia sedikit ******* nya di area sana.
Tak ada yang bisa di lakukan oleh Renatta selain diam dan pasrah, karena ini pun ulah nya juga yang sudah memulai nya. Renatta melingkar kan kedua tangan nya di pinggang Ares.
__ADS_1
Cukup lama mereka berciuman hingga akhir nya Ares menghentikan ciuman nya. Dia menatap Renatta, tersenyum kecil melihat Renatta yang menunduk lama.
Ares mengangkat wajah Renatta, "Aku mencintaimu." Kata lembut sambil tersenyum manis.
Renatta tersenyum malu dan mengangguk. Ares mengecup kening Renatta, menempelkan kening nya pada kening murid nya, hingga hidung mereka saling bertautan.
"Aku sangat mencintai mu." Ucap Ares lagi sambil tersenyum.
"Aku juga pak." Jawab Renatta pelan. Keduanya terdiam beberapa saat.
Udah kemalamam, aku harus pulang! Nanti ibu negara marah, di kiranya aku keluyuran ke mana nantinya."
Renatta mengangguk dengan berat hati. Sebenarnya gadis itu masih ingin terus bersama Ares. Tapi waktu tak bisa di ajak segalanya.
*****
Bersambung....
__ADS_1