
Renatta menghenmpaskan tubuh nya di kursi, menarik napas panjang lalu membuang nya pelan-pelan. Hari pertama mengikuti program penurunan berat badan benar-benar sangat sulit bagi nya, bagaimana dengan hari-hari yang akan datang? Dia tidak bisa membayangkan nya, tapi terlepas dari itu semua Renatta tidak akan menyerah dia akan berjuang menurunkan berat badan nya walaupun jalan nya sulit sekali pun.
"Sesi latihan hari ini kita cukupkan, kau boleh pulang." Kata Ares berlalu meninggalkan Renatta seorang diri.
Renatta menatap punggung kekar pak guru nya, lama sekali, hingga ia tersandar sendiri. "Aish." Renatta memukul kepala nya.
"Kenapa aku sekali memerhatikan nya? Apa aku punya rasa sama pak Ares ya?" Batin Renattta bertanya. Kemudian, "Tidak-tidak.. itu tidak mungkin, aku tidak mungkin mencintai guru sendiri, apalagi menjalin hubungan dengan nya, jangan sampai." Renatta menggeleng tegas, dia membuang jauh-jauh pikir nya barusan.
Renatta lalu membuka tas yang di bawa nya sebelum nya, dia mengambil botol air minum nya dan meneguk nya sampai habis tanpa sisa.
"Baiklah, aku harus pulang dan istirahat, sudah terlalu banyak aku lalui hari ini." Kata Renatta beranjak berdiri dari kursi nya menuju keluar.
Di luar juga Ares juga akan pulang. Di liat nya Renatta dia mengurungkan niat nya, pria itu menyapa Renatta sebelum pergi, basa-basi biasa.
"Kamu mau balik ya? Ayo naik, aku antarin." Tawar Ares kepada Renatta.
"Tidak perlu, saya bisa naik ojol online, anda duluan aja." Kata Renatta beralih mengontak-antik handphone nya.
"Hmm.." Ares berdeham pelan lalu menyalakan motor nya.
"Oh no.." Ternyata ponsel Renatta baterai nya habis, semalam dia tidak mencas nya dan tidak memerhatikan juga sisa baterai nya, dia hanya tahu megang aja.
"Ampes banget sih, pulang sama siapa aku nih?" Kata Renatta dalam hati.
"Pak Ares.." Spontan Renatta berteriak, Ares yang sudah mau jalan terpaksa berhenti dan menegok ke belakang.
"Ada apa?" Tanya Ares dingin tak mau basa-basi.
"Gi-gini." Kata Renatta terbata-bata, entah kenapa lidah nya sangat gengsi sekali mengatakan ingin di antar pulang oleh Ares.
__ADS_1
"Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu untuk menunggu, aku sibuk." Kata Ares memutar bola mata nya malas.
"Saya jadi pulang bareng pak Ares aja." Kata Renatta cepat dengan satu tarikan napas.
"Hhhh." Ares membulatkan mata nya, apa dia tidak salah dengar? Tadi Renatta bilang tidak ingin pulang bareng dengan nya sekarang jadi mau? Sungguh wanita itu susah di tebak, semacam cuaca, batin Ares menempelkan tangannya ke jidat nya.
"Ayo naik." Kata Ares kepada Renatta.
Renatta lalu naik di bocengan Ares. Ares menghidupkan motor nya, lalu sesaat kemudian, motor mereka membelah jalanan siang itu.
Entah kenapa setiap menghiup aroma wangi tubuh Ares, membuat jantung Renatta tenang. Cewek itu memejamkan mata nya, merasakan setiap inci aroma wangi tubuh pria yang membonceng nya ini, hingga tanpa sadar dia terlelap.
Ares kini merasakan punggung nya berat, dia melirik spion motor nya, menemukan gadis di belakang nya tertidur. Ares mengulurkan tangan, menarik kedua tangan Renatta untuk memeluk perut nya. Sebelah tangan nya memegang setang motor, sedangkan satu tangan lagi menahan tangan Renatta yang tertidur agar tidak terjatuh. Menunjukkan sebuah keahlian yang sejak lama tersembunyi.
Beberapa saat berlalu..
Kini Ares telah sampai di gerbang rumah Renatta, dia sangat tidak tega sekali membangunkan Renatta karena gadis ini sangat lelap sekali dalam tidur nya.
Tak lama, terlihat mendung menutupi langit siang yang tadi nya terlihat indah. Renatta terbangun saat merasakan rintik hujan mulai membasahi kulit nya.
"Apa aku tertidur lama?" Renatta mengangkat kepala nya yang bersandar di punggung Ares.
DEG
Renatta membulatkan mata nya, saat merasakan tangan kekar Ares memegang tangan mungil nya. Dengan cepat Renatta menarik nya dan turun di boncengan.
Ares sontak kaget dengan tingkah Renatta, dia menggelengkan kepala nya, "sungguh gadis yang konyol."
"Maaf pak, saya ketiduran, dan maaf juga sudah merepotkan anda lagi." Kata Renatta sopan.
__ADS_1
"Ehh, dia kesabet apaan? Kok sopan banget." Batin Ares bingung.
"Mau mampir masuk dulu?" Tawar Renatta menyandarkan Ares yang melamun memikirkan Renatta yang berubah dalam sekejap.
"Lain kali, lagian mau turun hujan juga." Kata Ares.
"Baiklah pak, terima kasih sekali lagi." Kata Renatta menunggu Ares pergi.
"Lah, kenapa masih di luar? Nggak masuk? Perlu saya antarin sampai ke dalam?" Tanya Ares kepada Renatta.
"Duluan pak, saya masuk nanti pas anda sudah pergi." Kata Renatta yang membuat Ares mengeryitkan dahinya.
Dia yang memang tidak suka basa-basi, langsung menghidupkan motor nya, menarik gas kencang bak petir menyambar, cepat sekali lari nya.
"Apa dia sudah bosan hidup ya?" Kata Renatta lalu mengambil kunci di tas nya, memasukkan di pintu, dan pintu pun terbuka.
Renatta kini tidak ingin melepar barang-barang nya sembarang, dia telah berjanji akan merubah kebiasaan lama nya dengan kebiasaan baru yang lebih baik.
Dia menyimpan sepatu nya pada tempat nya, lalu menuju kamar nya, menyimpan tas nya juga di tempat nya, setelah nya membaringkan badan nya di kasur.
"Lelah sekali." Renatta menghembuskan napas nya. Sesaat kemudian dia bangkit dan menuju toilet untuk membersihkan diri nya, dia merasa tubuh nya benar-benar lengket oleh keringat.
*****
Malam nya, Renatta selalu terbayang oleh wajah nya Ares, dia sampai membolak-balikkan tubuh nya, mencari posisi tidur yang nyaman.
"Arghhh, aku ini kenapa sih?" Kata Renatta merutuki diri nya sendiri.
Sejak hari itu, Renatta tidak menyadari jika diri nya sudah jatuh cinta dengan Ares, guru nya sendiri.
__ADS_1
****
Bersambung...