Diam-Diam Cinta

Diam-Diam Cinta
Chapter 23


__ADS_3

Pada saat Ares hendak ingin menaiki motor nya Renatta langsung memeluk nya dari belakang, "Hati-hati di jalan, saya belum ingin jomblo dini." Gurau Renatta yang di balas oleh Ares dengan tertawa lepas.


"Iya." Kata nya mengelus lembut surai panjang Renatta lalu segera memakai helm-Nya.


"Aku akan menelepon mu nanti." Ucap Ares sebelum berlalu pergi.


"Iya.." Jawab Renatta, melambaikan tangan nya dan memandangi punggung Ares sampai tak terlihat karena terkikis oleh jarak. Gadis itu lalu berjalan masuk ke dalam rumah nya.


Di kamar nya yang bernuansa serba pink. Renatta berbaring di atas kasur nya, menatap langit-langit kamar dengan sesekali tersenyum sendiri.


"Benar kah Pak Ares benar-benar mencintai ku? Apa dia tidak main-main dengan ucapan nya?" Renatta memegang bibir nya.


"Dan ciuman itu... akhhh!" Renatta menjadi salah tingkah sendiri saat memikirkan nya lagi. Dia tersenyum sendiri mengingat kembali setiap kejadian dan kata-kata yang di ucapkan Ares kepada nya di teras rumah nya.


Mungkin kah ekpektasi Renatta menjadi kenyataan? Setelah ia lulus nanti dia memutuskan untuk menikah dan akan hidup bersama Ares kemudian mempunyai anak dan hidup bahagia selamanya.


"Huft... Renatta ini hanya tentang perjalanan. Kenapa kamu jadi berpikir terlalu jauh sih?!" Renatta memukul kepala yang telah terlalu berpikir jauh ke depan, yang sejati nya belum di tahu akan seperti apa.

__ADS_1


"Seharus nya kamu jangan terlalu berharap tinggi, jangan terlalu pikirkan ending nya, tapi nikmati saja kebersamaan mu dengan nya. Itu adalah suatu ke syukuran yang amat berarti." Renatta mendesah, mengingat kan diri nya untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi, karena garis takdir di tangan Tuhan bukan di tangan nya.


Renatta mengambil ponsel nya di sisi bantal, entah sudah kali ke berapa dia mengecek nya, namun tidak ada pesan atau panggilan yang masuk, padahal jelas-jelas Ares tadi mengatakan untuk meminta nya mengangkat telepon nya.


Renatta kembali tersenyum sendiri, dia kembali mengingat kejadian di teras rumah nya.


"Akhhh..." Renatta menenggelam kan wajah nya di bantal tidur nya sambil menggerakkan kaki nya.


Tak terasa hari sudah malam, Renatta lagi dan lagi melihat ponsel nya, tetap tidak ada pesan atau panggilan yang masuk, dia kemudian mematikan lampu dan berniat untuk mengistirahatkan segala rasa penat nya..


Namun, tiba-tiba ponsel nya berdiri, Ares menelepon.


"Maaf baru menelepon, aku dari mengantar ibu pergi ceck up." Kata Ares merasa bersalah karena baru mengabari Renatta.


"Tidak apa-apa, bagaimana keadaan ibumu?" Tanya Renatta dengan nada sedikit cemas.


"Dia baik-baik saja." Jawab Ares pelan.

__ADS_1


"Ah iya, besok aku akan menjemput mu ya."


"Ta-tapi..." Renatta menggantung kan ucapan nya.


"Kamu takut jika Bu Kim Nana tahu kan? Biarkan saja. Aku ada selalu untuk mu." Kata Ares dengan penuh percaya diri.


"Apa tidak apa-apa pak?" Tanya Renatta sekali lagi.


"Iya, tidak apa-apa, kamu tidur ya, goodnight, semoga mimpi indah." Kata Ares sebelum mengakhiri telepon nya.


"Night to sayang." Kata sayang di akhir spontan di ucapan oleh mulut Renatta. Berkali-kali Renatta memukul mulut nya karena selalu mengucapkan tanpa di kontrol.


"Apa yang kamu katakan tadi? Coba di ulang!" Kata Ares membuat Renatta di seberang saya memerah.


"Ah sudahlah pak, saya tutup ya." Renatta langsung menutup teleponnya karena malu, "Akh... mulut ini, kenapa selalu berkata jujur sih." Kata Renatta mengerutu kesal.


*****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2