
Renatta semakin menangis dengan deras, seakan dada Ares di ciptakan untuk menanggung tangis nya karena obat paling ampuh untuk mengurangi rasa sedih adalah menangis.
Mendadak, rintik hujan yang tadi nya hanya turun satu-dua tetes saja kini kian lama kian deras, melebur dengar air mata di pipi Renatta. Jalanan semakin sepi oleh kendaraan, orang-orang memilih untuk berlindung karena hujan yang kian deras.
Renatta mendongak, air mata nya kini tersamar dan berterima kasih kepada semesta yang tidak membiarkan nya untuk menangis sendirian. "Udah nangis nya? Keluarin semua unek-unek mu sampai kamu lega, tapi setelah ini kamu harus janji... jangan nangis lagi." Kata Ares menahasehati Renatta.
Perkataan Ares tidak hanya berniat menenagkan, tapi memberikan suplemen kekuatan untuk nya. Renatta mendongak, secara perlahan mendekatkan wajah nya ke wajah Ares, tanpa izin dia menempelkan bibir nya di permukaan bibir Ares yang terasa dingin.
Ares membeku. Tubuh nya seperti papan kaku. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam, tapi tiga detik berikut nya, dia ikut membuka bibir nya. Otot nya yang semula menengang seperti ada sebuah kekang, kini perlahan mulai rileks, dia memejamkan mata nya sambil membalas ciuman Renatta.
Ciuman mereka berdua semakin menuntun berlebur dengan dingin nya air hujan yang berpafu dengan gelenyar hangat dari gadis itu. Dada kedua nya berdesir, memompa tak karuan, menyebarkan sensasi yang tak bisa di ungkapan dengan kata-kata.
Renatta yang menyadari dengan tingkah nya, dia tidak seharus nya melakukan hal senonoh seperti ini, apalagi Ares adalah guru nya, membuat nya segera menjauhkan bibir nya, memalingkan wajah nya ke arah lain, dan kini wajah nya berubah menjadi panas dan seperti nya pipi nya ikut merah seperti tomat ranum.
Kedua nya saling terdiam. Tak ada sepatah kata pun di lontarkan. Seperti orang asing yang canggung untuk melakukan apa-apa.
Hingga beberapa saat Ares bangkit dari duduk nya, dia melihat Renatta yang tertunduk, "Ayo aku antar pulang, tidak main terlalu lama di gunyur hujan, nanti bisa sakit." Kata Ares membuat Renatta mendongak lantas berdiri namun tak berani menatap Ares.
Renatta naik di motor Ares, lalu sesaat kemudian motor itu membelah jalanan yang di barengi hujan lebat.
Di pertengahan jalan, Ares yang merasa punggung nya berat, menemukan Renatta yang sudah tertidur dengan kepala bersandar di punggung nya.
Sesampai nya di rumah Ares membangunkan Renatta, hujan yang deras tadi sudah berhenti, berganti dengan gerimis. Renatta mengerang menemukan diri nya sudah sampai di rumah nya.
Dia turun dari motor Ares. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih untuk segala nya dan Ares hanya mengangguk dan memberikan senyuman manis nya yang mampu membuat Renatta salah tingkah.
Renatta dengan segera mengusai kembali diri nya, menetralisir perasaan salah tingkah nya agar Ares tidak mengetahui jika dia sedang salah tingkah.
"Ah iya, kau hanya di skor seminggu saja, setelah nya kau bisa bersekolah seperti dulu lagi." Kata Ares lalu izin pamit untuk pulang.
Renatta hanya mengangguk dan memperhatikan punggung Ares yang kian lama kian hilang dari pandangan nya. Dia lalu masuk ke dalam rumah nya untuk menganti pakaian yang basah.
******
__ADS_1
Dengan kondisi rambut yaang masih basah dan handuk uang masih bertengger di leher nya, Ares duduk di tepi tempat tidur nya memikirkan kejadian yang di alami nya beberapa jam lalu.
Teringat detik-detik Renatta yang menyentuh bibir nya. Ares mengancak rambut nya, berusaha mengusir pikiran itu di benak nya namun tak bisa.
Dia yang tidak bisa mengalihkan pikiran atas kejadian itu, dia lantas berusaha dengan cara lain yaitu dengan bermain PES di PS. Cara yang ampuh, karena pikiran nya langsung terpusat pada permainan bola di layar sedangkan jemari nya mulai menggerakkan konsol.
Ares terus bermain sampai lupa waktu, dia tak sadar jarum pendek jam di tembok sudah menunjuk kan angka pukul dua pagi.
Dia menguap dan mata nya juga mulai terasa kantuk, dia akhir nya memutuskan untuk mematikan seluruh peralatan dan naik ke tempat tidur nyaman nya. Dan mulai menyalakan musik mengantar tidur.
Baru saja Ares berniat memejamkan mata nya, ponsel nya berdering. Dari nomor tidak di kenal.
Ares mengeryitkan dahi nya tanda ia bingung lalu menekan tombol hijau. "Pak Ares, masih... bangun? Tanya Renatta, napas nya terdengar terbata-bata, seperti habis berlari berpuluh kilo putaran.
Ares kaget, dia mengenali suara itu, itu adalah suara dari Renatta.
"Kenapa?" Tanya Ares singkat.
"Saya barusan mimpi buruk, ketemu orang jahat yang ingin membunuh saya."
"Tapi takut pak." Suara Renatta terdengar lirih.
Ares berdecak." Ya udah sekarang tutup mata lo," Katanya menuntun.
"Pak, tapi jangan di tutup telepon nya sampai saya tidur." Kata Renatta di sembarang sana seperti memohon.
"Hmm." Ares hanya berdehem kecil. Dia ingin sekali bertanya pada Renatta dari mana ia mendapatkan nomor ponsel nya, namun dia urungkan niat nya, pertanyaan itu masih bisa di pending, akan di tanyakan lain kali ketika suasana nya baik.
Hening tak ada suara dari mereka berdua, sesaat kemudian..
"Pak Ares?"
"Iya." Jawab Ares dingin.
__ADS_1
"Saya mohon pak jangan tidur dulu."
"Saya tidak tidur, Renatta."
Sesuai dengan janji nya, Ares meletakkan ponsel di samping telinga nya sambil mengaktifkan loundspeaker.
"Pak.. boleh saya bertanya sesuatu tidak?" Bukan nya tidur, Renatta justru melemparkan pertanyaan.
"Rabya aja."
"Apa pak Ares sudah punya pacar?" Pertanyaan yang selalu ingin di tanyakan oleh Renata, akhir nya hari ini keluar dari mulut nya dengan penuh keberanian.
"Belum." Jawab Ares singkat.
"Jadi apa saya punya kesempatan untuk masuk ke dalam hati apa." Pertanyaan Renatta mampu membuat tubuh Ares membeku sesaat.
"Pertanyaan macam apa ini? Seharus nya kau harus memikirkan sekolah bukan pacaran." Jawab Ares ketus di seberang sana.
Renatta hanya tertawa lepas dengan pertanyaan konyol nya, rasa takut nya kini sedikit menghilang berganti rasa tenang, membuat kantuk nya muncul kembali.
Tak lama, Ares mendengar napas Renatta yang teratur di ikuti dengkuran harus.
"Ren?" Panggil Ares di seberang sana,tapi tidak ada suara yang menyahut.
"Udah tidur?" Tanya Ares sekali lagi dan tetap tidak ada sahutan apa -apa. Ares mengambil ponsel nya, membisik kan sesuatu di balik sana.
"Perasaan itu akan muncul dengan sendiri nya, biarkan waktu yang menjawab." Kata Ares lalu memutuskan sambungan ponsel nya.
Renatta sebenar nya belum sepenuh nya tertidur, dia masih menangkap suara Ares yang begitu dengan jelas nya mengatakan nya. Gadis itu lantas membenamkan wajah nya di bantal. Mendadak merasa bodoh karena telah mengatakan yang seharus nya tidak di katakan hanya di simpan di hati saja.
Hari itu cinta nya kepada Ares semakin tumbuh mekar dalam hati nya, secara sadar dia meyakini bahwa diri nya telah benar-benar jatuh cinta pada Ares, guru nya di sekolah.
*****
__ADS_1
Bersambung...