
Ryuga kembali ke kamar hotel, dia melihat Elena sudah tertidur lelap di atas ranjang. Ryuga membelai wajah Elena, dia mengecup dan mencium bibir Elena. Sentuhan Ryuga membuat Elena terbangun, Elena membuka mata lalu segera mengomeli Ryuga yang diam-diam menciumnya.
"Kamu ngapain sih? Mau aku tampar?"
Ryuga tersenyum manis, dia menatap dan lalu kembali mencium bibir Elena. "Manis!" serunya, membuat Elena marah namun juga malu karena kata-katanya.
"Awas kamu yah!" ancam Elena yang lalu bangkit, dia berdiri lalu menyambar bungkusan kantong plastik dari tangan Ryuga.
Elena mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas, dia membuka tutup botol lalu meminumnya sedikit. Elena menatap kantung plastik yang berisi obat, dia mengeluarkan obat itu dan membaca dosis yang tertulis di luar kemasan.
Melihat Elena meminum obat yang dia beli, hati Ryuga sedikit merasa bersalah. "Maaf Len, aku tidak berniat membuatmu hamil. Tapi jika ini satu-satunya cara untuk menahanmu di sisiku, aku akan melakukan apa saja, meskipun harus menjual jiwaku!" batin Ryuga.
Setelah selesai meminum obat dari Ryuga, Elena kembali tidur di atas ranjang. Dia sangat lelah karena seharian bekerja, di tambah dengan lembur yang selalu dia ambil demi memenuhi kebutuhan putranya.
Ryuga menahan tawanya, dia senang karena Elena sudah bersikap seperti biasa terhadap dirinya. Apalagi saat ini Elena sedang berbaring di samping Ryuga, membuat hati Ryuga berbunga-bunga.
__ADS_1
Hari mulai terang, Ryuga masih memejamkan mata. Dia baru saja tertidur setelah berjam-jam menatap wajah Elena yang berbaring di sebelahnya.
"Aaawwww!" jeritan Elena dari dalam kamar mandi membuat Ryuga terjaga. Dia langsung berdiri dan berlari menuju ke kamar mandi.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Ryuga setelah membuka pintu kamar mandi.
Elena dalam posisi duduk di lantai, dengan tubuh polos yang tidak tertutupi sehelai pun benang. Melihat tubuh polos Elena, darah Ryuga terasa mendidih. Dia menatap tubuh Elena tanpa berkedip, hingga akhirnya Elena melempar sendal hotel ke wajah Ryuga yang terlihat seperti akan segera melahapnya.
"Duh, sakit lho Len!" keluh Ryuga sambil menelus pipi kanannya.
"Kamu kenapa?" tanya Ryuga sembari mengulurkan tangannya ke arah Elena.
Elena menarik tangan Ryuga, dia berusaha berdiri tapi akhirnya jatuh kembali. "Aaawwwww... Sakit!" keluh Elena, matanya mulai berkaca-kaca karena menahan rasa sakit di kakinya.
Ryuga menurunkan badannya, dia mengangkat Elena dan membawanya keluar dari kamar mandi. Tubuh Elena dibaringkan di atas tempat tidur. Ryuga lalu memeriksa kaki Elena yang mulai membengkak.
__ADS_1
"Bengkaknya lumayan besar, kita ke rumah sakit aja ya!" ajak Ryuga.
"Ng--Nggak perlu! Nanti juga sembuh sendiri." Elena dengan cepat menolak ajakan dari Ryuga.
Ryuga merasa aneh dengan perubahan sikap Elena, seingat Ryuga, dulunya Elena selalu minta ke rumah sakit apabila dia terluka. Meskipun hanya luka kecil yang bisa di obati sendiri di rumah.Elena "Kenapa dia nggak mau ke rumah sakit?" tanya Ryuga dalam hati.
Ryuga mengambil es batu dari dalam kulkas, dia mengompres kaki Elena yang membengkak. "Kamu ngapain sih, sampai terjatuh di kamar mandi?" tanya Ryuga penasaran.
"Aku tadi mau ambil handuk, tapi lantainya basah jadi ke-pleset deh." jawab Elena sambil mendesis kesakitan.
"Ke rumah sakit aja! Kaki kamu ini tambah bengkak lho. Ini malah mulai memar." ucap Ryuga membujuk Elena agar mau berobat ke rumah sakit.
"Nggak usah, aku nggak punya uang buat bayar rumah sakit!" jawab Elena keceplosan.
Mendengar alasan dari Elena, hati Ryuga rasanya seperti tertusuk ribuan pedang. Dia tidak menyangka jika hidup Elena sesulit ini, miskin hingga tidak mampu membayar uang untuk berobat. "Len, kenapa kamu harus memilih kehidupan yang sulit seperti ini?" benak Ryuga.
__ADS_1
^^^BERSAMBUNG...^^^