Diam-Diam Cinta

Diam-Diam Cinta
Chapter 21


__ADS_3

Malam itu, Ares datang ke rumah Renatta, ingin menjelaskan kepada Renatta agar tidak perlu takut dengan ancaman Kim Nana pada nya, dia akan selalu memasang badan untuk melindungi nya dari orang-orang yang menjahati gadis itu.


Ares memencet bel rumah tapi tidak ada yang menyahut. Ternyata Renatta sengaja untuk tidak keluar, dia tidak ingin berurusan dengan nya. Dia ingin menjaga jarak walaupun kenyataan nya akan membuat hati nya sakit.


Tak tega melihat Ares yang sudah menunggu nya se jam lebih, akhir nya Renatta muncul dengan kondisi mata sembap, tidak butuh kemampuan untuk meramal dan membaca karakter, semua orang pasti tahu kalau gadis itu habis menangis.


"Kenapa malam-malam ke sini?" Tidak seperti biasa nya, reaksi Renatta terdengar dingin.


"Kenapa nomor saya di blokir, dan kenapa nggak masuk sekolah juga?"


Renatta terdiam, lalu memberi isyarat untuk Ares agar duduk di kursi yang berhadapan dengan kolam ikan yang di terangi cahaya remang-remang dari lampu taman.


Mata Ares sedari tadi tertuju pada Renatta dan mata sembap nya."Kim Nana, ya?" Tebak nya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, pak Ares tidak usah terlalu dekat dengan saya apalagi peduli. Saya mau hidup ku tenang-tenang. Saya sudah nggak mau nyari masalah sama siapa-siapa, apalagi sama Kepala Sekolah itu." Kata Renatta mendengus kesal saat kembali mengingat kejadian di toilet mall.


"Kamu tidak perlu takut, ada ak----"


"Anda yang akan melindungi saya, begitu? Memang nya saya siapa nya anda? Kita bukan siapa-siapa pak, hanya guru dan murid." Kata Renatta segera memotong.


"Terus, kenapa mata kamu sembap? Habis nangisin saya?" Pertanyan Ares bukan karena dia terlalu percaya diri, tapi murni karena rasa khawatir, dia akan merasa amat bersalah jika sembap itu sepenuh nya di sebabkan oleh diri nya sendiri.


"Ngggak kok. Saya baru bangun tidur." Renatta mengelak.


Perkataan Ares mampu membuat Renatta merasa ada perasaan keamanan bagi nya, "Anda bisa menjamin saya aman di sekolah?"


"Iya, nggak bakal saya biarin siapa pun nyakiti atau menyentuh kamu."

__ADS_1


"Tapi, memang aku siapa nya pak....," Renatta menggantung kan ucapan nya, lalu menarik napas perlahan, "keputusan saya udah bulat dan nggak bisa di ganggu gugat, pak. Tolong anda menjaga jarak dengan saya, anda harus menghargai keputusan saya."


"Ini yang terakhir kali kita ketemu, besok-besok, anda tidak perlu..." Perkataan Renatta terpotong karena Ares sudah menyumpal mulut nya dengan ciuman.


Ares ******* bibir ranum Renatta dengan lembut, sesaat Renatta yang menegang kini mulai rileks membalas setiap ciuman itu.


Satu menit kemudian Ares melerai ciuman, dia memegang wajah Renatta dan menatap nya penuh kesungguhan, "Berhenti mengatakan saya bukan siapa-siapa mu, saya katakan hari ini saya ingin menjadi bagian dari mu."


"Saya mau kamu menjadi pacar ku." Kata Ares yang tidak mau basa-basi lagi.


Dia telah menyadari jika dia telah jatuh cinta pada seseorang gadis, murid nya sendiri.


Renatta menggigit bibir nya. Dia tidak menyangka jika Ares akan mengatakan ini, "Apa ini mimpi? Apa benar Pak Ares menyukai juga? Jadi selama ini aku tidak cinta sendiri dong? Cinta ku berbalas." Kata Renatta.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2