Diam-Diam Cinta

Diam-Diam Cinta
Episode 27. Nenek Aries?


__ADS_3

"Drtttt! Drrttt!"


Ponsel Elena bergetar, di layar ponsel tertera nama Aries. Sebuah foto menggemaskan muncul di depan layar ponselnya. Sudah puluhan kali telepon Elena berdering tanpa dijawab. Ponselnya ketinggalan di hotel ketika Ryuga membawanya ke rumah sakit.


Elena dalam perjalanan kembali ke hotel bersama Ryuga. Keduanya terdiam, membisu tanpa berbicara. Ryuga sedang memikirkan bagaimana cara untuk membawa Elena kembali ke tanah kelahiran. Sementara Elena berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk menghindar dari Ryuga, sebelum hidupnya semakin tergantung kepada laki-laki itu.


Sesampainya di hotel, Ryuga menggendong Elena dengan gendongan ala princess yang menjadi idaman para wanita muda. Elena awalnya menolak untuk di gendong Ryuga, tetapi kakinya tidak mendukung Elena untuk berjalan sendiri. Akhirnya Elena menerima tawaran dari Ryuga dengan terpaksa.


Begitu menginjakkan kaki di dalam lobby, semua mata terfokus kepada Ryuga dan juga Elena yang berpose seperti sedang bermain film romansa. Mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di dalam lobby hotel. Ryuga tidak ingin Elena menjadi pusat perhatian, dia segera membenamkan wajah Elena ke dalam dadanya.


"Sembunyikan wajahmu!" titah Ryuga kepada Elena yang wajahnya kini semerah buah tomat.


Elena menuruti kata-kata Ryuga, sebab dia memang sangat malu dengan situasi saat ini. Sementara Ryuga memiliki niat yang berbeda, dia tidak ingin menunjukkan wajah cantik Elena di depan umum yang akan menarik para lalat dan lebah berdatangan untuk bersaing dengannya.


Sesampainya di dalam kamar, Ryuga mendudukkan tubuh Elena di atas sofa panjang. Elena mendengar suara getaran dari ponselnya, dia meminta tolong kepada Ryuga untuk mengambilkan ponsel yang dia letakkan di atas meja rias.


Ryuga berjalan ke meja rias, dia mengambil ponsel Elena di atas meja lalu menatap layarnya yang memperlihatkan sosok seorang bocah manis dan lucu. Wajahnya tembem seperti bakpao, bibirnya merah imut-imut mirip dengan bibir Elena. Matanya besar dengan pupil mata yang sedikit berwarna kecoklatan.


"Ga, sini hp aku!" pinta Elena karena tidak sabar menunggu lama.


Ryuga menyerahkan ponsel ke tangan Elena, dia lalu memasang telinga dengan tajam agar suara dari si penelepon terdengar.


"Halo sayang!" sapa Elena ketika baru menjawab telepon.


"Ma, Mama kenapa nggak pulang? Aries takut sendirian di rumah." rengek Aries dengan suara yang menggemaskan.


"Kenapa kamu sendirian? Om Arka ke mana sayang?" tanya Elena khawatir, baru pertama kali dia tidak kembali ke rumah setelah melahirkan Aries.


Om Arka bilang, dia mau cari Mama. Soalnya Mama sudah semalaman nggak pulang-pulang. Di telepon juga nggak di jawab. Jadi Om Arka sudah berangkat ke hotel buat cariin Mama." sahut Aries yang menjelaskan dengan panjang lebar.


"Aries jangan nakal ya, Mama pulang sekarang. Aries janji yah nggak boleh main ke dapur dan jangan pegang-pegang colokan listrik." pesan Elena sebelum menutup telepon dari si bocah.


"Okay Mama."


Setelah sambungan telepon di putus, Elena menatap layar ponselnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Wajah Elena berubah panik, dia sudah terlalu telat untuk masuk kerja. Di mana jam masuk kerja Elena adalah pukul 7 pagi, yang berarti dia sudah telat selama 1 jam.


"Aduh, mampus aku!" umpat Elena terhadap diri sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Ryuga yang masih berdiri penasaran ketika melihat tingkah Elena yang terlihat cemas dan gelisah.


"Aku telat masuk kerja!" seru Elena tanpa menatap wajah pria yang bertanya kepadanya.


"Memangnya kamu bisa kerja dengan kaki yang bengkak begitu?"


Ryuga mengeluarkan ponselnya, dia menelepon asistennya untuk memberitahu kepada pihak restoran jika Elena akan bertugas untuk melayaninya selama Ryuga berada di Jepang.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu masuk kerja lagi selama beberapa hari ini."


"Makasih!" balas Elena sambil tersenyum. Elena lalu mencoba untuk berdiri dari duduknya, namun dia hampir terjatuh karena kakinya yang semakin sakit. Sebuah tangan kekar langsung melingkar di pinggang Elena, menahan tubuh kecilnya agar tidak terhempas ke atas lantai.


"Mau ke mana?" tanya Ryuga tanpa melepas pelukannya.


"Pulang, Aries sendirian di rumah. Aku khawatir." jawab Elena yang memang begitu khawatir terhadap anak semata wayangnya.


"Ya sudah, biar aku anterin." Ryuga kembali menggendong Elena, dia membawa Elena turun melalui lift. Asisten Ryuga sudah siap siaga di depan pintu masuk, dia menunggu sambil berdiri di samping pintu sebuah mobil berwarna silver tua.


Melihat Tuan Mudanya keluar bersama Elena, Leo buru-buru membukakan pintu mobil untuk mereka. Elena menyebutkan alamat rumah yang dia sewa, Leo pun segera meluncur ke sana.


Sepanjang perjalanan, Elena terus menerus merasa khawatir. Entah kenapa perasaannya menjadi buruk karena mendapat firasat yang tidak enak. "Maaf, bisakah anda mempercepat laju mobilnya?" pinta Elena kepada Leo yang menjadi supir di depan.


"Percepat mobilnya!" perintah Ryuga segera setelah mendengar permintaan dari Elena. Leo pun mengangguk, dia menginjak pedal gas lebih dalam.


Sesampainya di sebuah gedung apartemen, Elena turun dan langsung berlari menuju ke depan pintu lift. Bangunannya sudah cukup tua, ruangan di depan lift bahkan sangat sempit dan berbau pengap. Ryuga kembali merasakan nyeri di dada setelah mengetahui jika tempat tinggal Elena bahkan sudah tak terlihat layak di matanya.


"Ting!"


Pintu lift terbuka, Elena melangkah masuk diikuti oleh Ryuga. Elena menekan tombol lantai 7, dengan segera pintu lift menutup. Setibanya di lantai 7, Elena berjalan dengan sangat cepat, dia bahkan terlihat sedang berlari menuju ke sebuah pintu yang bernomor 701.


"Tit Tit Tit Tit Tit Tit Tit!" Elena menekan nomor pin untuk membuka pintu.


"Ceklek!"


"Ada apa? Kenapa takut?" tanya Elena penasaran.


Aries berbalik ke belakang, dia menatap seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian mewah dengan perhiasan yang sangat lengkap dari atas ke bawah.


"Anda siapa?" tanya Elena penasaran, sebab dia tidak mengenal wajah wanita tersebut.


"Aku nenek dari anak ini!" seru wanita tersebut mengakui Aries sebagai cucunya.


Mendengar kata "Nenek", jantung Elena rasanya seperti melompat ke lantai, dia terkejut dan juga takut. Terkejut karena ada seseorang yang mengaku sebagai nenek dari anaknya, dan takut wanita itu akan merebut Aries dari tangan Elena.


"Maaf, sepertinya anda salah orang!" tegas Elena dengan tatapan mata yang tajam. Elena menatap Aries yang masih ketakutan, dia berjongkok di depan bocah kecil itu. "Masuklah ke kamar lalu kunci pintu! Mama akan mengusir nenek sihir ini dari rumah kita." Aries mengangguk, dia berlari menuju ke kamar lalu mengunci pintu.


Wanita paruh baya tersebut tidak menyerah, dia melangkah mendekat sambil berucap, "Aku tidak mungkin salah, karena semuanya sudah dijelaskan oleh Safira."


"Safira? Apa maksud anda?" tanya Ryuga penasaran dengan apa yang telah terjadi kepada Elena di malam pesta 4 tahun yang lalu.


"Safira menjual wanita ini kepada putraku empat tahun yang lalu. Aku mendengar hal itu dan mencarinya selama 4 tahun ini. Beraninya kau membawa cucuku pergi!" ucap wanita tersebut dengan wajah yang dipenuhi emosi.


Elena mencengkram dress panjang yang dia kenakan, matanya mulai berair berkaca-kaca mendengar kalimat yang mengingatkannya dengan masa lalu yang ingin dia lupakan. "Jadi ternyata, Safira yang telah mencelakai aku di malam terkutuk itu?" pikir Elena. "Kenapa? Aku bahkan baru mengenalnya saat di pesta. Kenapa dia melakukan hal ini terhadapku?" Elena terus bertanya-tanya di dalam pikirannya, dia sungguh tidak mengerti alasan Safira membencinya.

__ADS_1


"Aku akan membawa cucuku kembali ke keluarga Winata. Kau harus melepaskan hak asuh atas anak ini, katakan saja berapa banyak uang yang kau inginkan. Aku akan memberikannya kepadamu sebagai bayaran telah melahirkan anak ini."


Wanita paruh baya itu benar-benar membuat hati Elena terusik, dia sangat marah karena Aries akan di rebut oleh wanita yang tidak dia kenal. Apalagi wanita itu menghina harga dirinya dengan uang yang tidak pernah dia harapkan.


"Keluar dari rumahku!" titah Elena dengan nada dingin, tatapan matanya juga sedingin nada bicaranya.


"Kau jangan tak tau di untung! Sudah bagus aku membayarmu untuk sel telur mu yang murahan itu. Aku bahkan belum memeriksa kesehatan dari anak yang kau lahirkan dari rahim mu yang kotor itu!"


Kata-kata hinaan dan cacian terus menerus di lontarkan oleh wanita tersebut, dia mengira Elena adalah seorang wanita bayaran yang sudah terbiasa melayani semua pria. Mendengar semua caci maki dari wanita itu, dada Elena rasanya begitu sesak. Dia tidak mengira jika tatapan dari orang asing akan begitu merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita.


"Hentikan!" bentak Ryuga yang wajahnya memerah hingga mirip tomat. "Silahkan keluar dari sini! Sekarang!!!"


Teriakan Ryuga membuat wanita itu menciut. Dia begitu ketakutan ketika melihat wajah dingin Ryuga dan juga tatapannya yang seakan bisa membunuh orang.


Wanita itu akhirnya berjalan keluar, sesampainya di depan pintu, dia berbalik dan berkata dengan suara lantang. "Jangan kira aku akan menyerah! Aku akan menuntut kalian atas kasus penculikan anak!"


Setelah kepergian wanita itu, Elena langsung terduduk di lantai. Kakinya terasa lemas tak bertenaga, dia tegang dan gugup setelah menahan rasa takutnya tadi di depan wanita yang mengaku sebagai nenek Aries.


Ryuga membantu Elena untuk berdiri, dia mendudukkan Elena di sebuah kursi. "Jangan takut, aku akan melindungi kalian berdua. Wanita gila itu tidak akan bisa merebut anak dari sisimu. Aku janji!" ucap Ryuga menenangkan Elena.


Elena memejamkan mata, dia menarik rambutnya yang panjang dengan sekuat tenaga. "Rasanya aku akan gila jika tidak ada kamu di sisiku saat ini." ucap Elena mengeluarkan isi hatinya.


"Len...!"


Ryuga ingin mengatakan sesuatu, tetapi kesempatan itu hilang. Karena Elena bangkit dari kursi lalu berlari menuju ke kamar Aries. Elena teringat wajah bocah yang tadi sangat ketakutan, dia ingin segera memeluk tubuh kecil putranya yang sedang gemetaran.


"Len, menikahlah denganku. Dengan begitu, anakmu tidak akan bisa di rebut oleh siapapun." benak Ryuga.


Ryuga mengikuti langkah Elena ke kamar. Dia menatap bocah yang sedang di peluk oleh Elena. Sesaat, Ryuga merasa familiar dengan wajah bocah cilik tersebut. "Wajah anak ini mirip dengan seseorang di dalam ingatanku." benak Ryuga. Dia terus berusaha mengingat wajah siapa yang mirip dengan Aries, hingga akhirnya sedikit bayangan muncul di benaknya.


Ryuga keluar dari kamar, dia mengeluarkan ponsel lalu menelepon Mama Cintya. Setelah mendengar suara jawaban dari telepon, Ryuga berkata kepada Mama Cintya. "Ma, tolong kirimkan foto saat aku berusia 4 tahun!" pinta Ryuga terburu-buru, sebab dia merasa wajah Aries sangat mirip dengan wajahnya ketika dia masih kecil.


Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Ryuga dari Mama Cintya. Ryuga segera membuka pesan dan melihat foto yang di kirimkan oleh Mama Cintya.


"Mirip! Benar-benar mirip sampai aku akan percaya jika Elena berkata anak ini adalah anakku!" benak Ryuga.


Ryuga berjalan mendekati Elena dan putranya. Dia menunjukkan foto di layar ponsel kepada mereka berdua. Serentak, keduanya mengira jika orang yang berada di dalam foto itu adalah Aries.


"Kok ada foto Aries di sini?" tanya bocah kecil itu dengan suara lucu.


"Mirip ya sama Aries?" tanya Ryuga memancing rasa penasaran Elena.


Sudah lama Elena merasa jika Aries sangat mirip dengan Ryuga. Tetapi, dia mengira jika semua kemiripan mereka di karenakan oleh dirinya yang selalu memikirkan Ryuga ketika dia sedang hamil. Tidak pernah terlintas dipikiran Elena, jika ayah kandung dari Aries mungkin saja adalah Ryuga.


Aries mengangguk cepat, dia lalu berkata kepada Ryuga. "Om juga mirip sama aku!"

__ADS_1


"Apa jangan-jangan, Aries itu sebenarnya anak aku?" pikir Ryuga.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2