Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
..........


__ADS_3

Ruang kelas terlihat begitu sepi karena masih di jam istirahat, hanya ada Ais seorang diri. Tiba-tiba ada tiga orang masuk kedalam kelas dan mengunci pintunya dari dalam.


Ais yang sedari tadi fokus kepada buku-bukunya kaget melihat ada tiga orang yang kini berdiri didepannya dengan tatapan tidak suka. Mereka adalah Dira dan kedua sahabatnya, Luna dan zifa.


Tiba-tiba saja Dira melayangkan tangannya kepada Ais, dan Ais mendapat tamparan yang begitu keras dari Dira. Tanpa terasa kini air matanya jatuh lagi, sedangkan kedua sahabat Dira, Luna dan Zifa terlihat kaget dengan apa yang Dira lakukan. Kemarahannya kian memuncak.


"Lo udah gue peringatin, jangan pernah coba-coba deketin Agam. Lo ngomong apa sama dia hah? sampai-sampai Agam larang-larang gue buat suka ama dia." Dengan kemarahan yang kian memuncak Dira berulang kali melakukan kekerasan fisik pada Ais, namun Ais tidak melakukan perlawanan. Hatinya telah hancur karena masalah yang dia hadapi dengan kedua orangtuanya, kini timbul lagi masalah baru.


Sementara kedua sahabat Dira mencoba untuk menahannya, karena melihat keadaan semakin memburuk dengan Ais yang hanya menerima tamparan, dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh Dira.


"Lo bisa jawab gue gak hah? Ngomong!" Dira kesal karena tidak mendapati jawaban dari Ais.


"Kakak mau saya jawab apa, apapun jawaban saya kakak juga nggak bakalan percaya. Tapi satu hal yang harus kakak tahu, saya nggak punya hubungan apapun sama kak Agam." dengan suara yang sangat lirih Ais mencoba menjelaskan. Dengan tangannya mencoba memperbaiki jilbabnya yang entah bagaimana bentuknya. Setelah itu, ketika Ais mencoba untuk berdiri, tiba-tiba saja kepalanya begitu pusing dan akhirnya ia pun jatuh ke lantai.


"Brukk." Melihat itu Luna dan Zifa menarik tangan Dira mencoba melarikan diri, karena 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi.


Dita dan Refan kembali kekelas dengan membawa Roti untuk Ais. Sebenarnya Dita berjanji tidak akan lama, tapi karena dia terpaksa harus mengikuti perintah Refan terlebih dulu jadi harus menunggu Refan selesai dengan makanannya.


Dita dan Refan memasuki ruang kelas mereka, tapi tidak mendapati Ais disana. Terlihat meja dan kursi berantakan. Tapi terlihat tidak ada seorangpun yang berada dikelas pada saat itu. Ketika Dita mendekat kearah meja yang ditempatinya dan Ais, dengan refleks kantong roti yang tadinya dia genggam kini jatuh dan Dita bergegas melihat keadaan Ais yanv terbaring dilantai.


Melihat Dita yang cemas, Refan yang awalnya masih didepan pintu kini mengikuti Dita. Betapa terkejutnya Refan dengan apa yang dilihatnya dan dia pun bergegas menghampiri Dita.


"Siapa yang lakuin ini ke Ais, Ta?" sementara Dita sudah menangis memeluk sahabatnya yang terkulai lemas.


"Maafin aku, padahal tadi janjinya gak lama sama kamu." Dita terus menangis.


"Udah kita bawa Ais ke UKS dulu." Refan mengangkat tubuh Ais dengan Dita yang mengekori dari belakang.


Siswa-siswi kini semakin ramai karena sebentar lagi waktunya istirahat berakhir. Melihat Refan yang menggendong seseorang dan Dita yang mengekori dari belakang, jiwa kepo mereka mulai meronta-ronta ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Mereka sampai didepan UKS. Dengan perlahan Refan membaringkan Ais di ranjang UKS dan meminta ibu penjaga UKS untuk memeriksanya.


"Kenapa Ais bisa kayak gini?" Mendengar pertanyaan dari bu Sinta, Dita hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menangis.


"Kita juga enggak tahu bu, tadi Ais sendirian dikelas. Pas kita balik, Ais udah terbaring dilantai. Kayaknya perundungan deh buk." mendengar hal itu Dita mengingat sesuatu. Beberapa hari yang lalu ada kakak kelas yang membuat keributan dengan mereka berdua.


"Refan, lo jaga Ais disini, gue mau urus sesuatu." dengan emosi yang tidak bisa ia kendalikan lagi.


"Ibu, saya minta tolong jaga Ais sebentar ya bu. Saya takut Dita bikin masalah bu." mendengar itu bu Sinta mengangguk dan membiarkan Refan berlalu pergi.


Tanpa berlama-lama lagi, Dita yang sudah mengepalkan kedua tangannya kini berjalan menyusuri setiap kelas dengan diikuti Refan dibelakangnya, dan berhenti tepat di depan kelas 12 IPA 1.


Terlihat ada tiga orang sedang duduk di pojokan kelas. Seseorang terlihat begitu tenang dan dua orang sahabatnya terlihat cemas.


Suasana dikelas itu cukup berisik karena tidak ada guru yang memberikan materi.


Dita masuk tanpa permisi dan menendang meja salah satu dari ketiga orang itu. Dengan wajah yang penuh dengan kemarahan Dita kini menarik rambut lawannya kebelakang.


"Lo apain sahabat gue sampai kayak gitu hah?" suara Dita sangat lantang hingga terdengar ke kelas sebelah. Mereka yang mendengar itu langsunv berhamburan keluar kelas dan mengerumuni tempat asal suara.


"Emang gue apain sahabat lo, hah?" Dira berusaha mengelak dengan terus mencoba melepaskan rambutnya dari tangan Dita.


"Gak ada orang lain yang bisa buat sahabat gue kayak gitu kalau bukan lo. Jangan lo pikir gue takut sama lo mentang-mentang lo itu kakak kelas gue. Gue gak takut sama lo. Ayo sekarang lo lawan gue." Dita membawa Dira kedepan kelas dan menantangnya. Sementara Refan yang mengekori dari belakang kini hanya bengong melihat apa yang terjadi, bagaimana bisa Dita seganas itu, pikirnya.


"Gue tanya sekali lagi, lo apain sahabat gue sampai kayak gitu?" Kini Dita lebih bisa menegontrol emosinya.


"Sahabat lo aja yang lemah, baru gue gituin aja udah pingsan." Mendengar hal itu dengan refleks Dita melayangkan tangannya ke wajah Dira dan melakukannya berulang kali.


"Lo harusnya lawan gue, bukan Ais. Dia gak salah apa-apa. Gue yang coba deketin kak Agam. Gue yang suka sama kaka Agam. Dia gak ada urusan sama lo. Seharusnya lo pukul gue bukan dia." demgan emosi yang tak terkendali Dita menyerang Dira bertubi-tubu namun berhasil di lerai oleh Refan.

__ADS_1


"Lo deketin Agam juga percuma, dia gak suka sama lo. Tapi dia suka sama Ais. Makananya gue benci banget sama dia." Dira menjelaskan dengan amarah yang tak terkendali pula, dengan badan yanv sedikit lemas.


Mereka berdua terus beradu mulut sampai akhirnya guru BK masuk dan menyeret keduanya ke ruang BK.


Sementara itu, dua orang berlari memasuki kelasnya.


"Berita besar bro." salah satu dari mereka mencoba menjelaskan apa yang terjadi di kelas sebelah.


Agam melihat kedua sahabatnya dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Ada apaan, pelan-pelan aja. Duduk." perintahnya.


"Itu, si Dira buat perhitungan sama Ais gara-gara lo peringatin kemaren bro." Agam masih bingung dengan penjelasan Lio.


"Kasi perhitungan gimana? bukannya udah beres masalah gue sama dia?" Agam menuturkan.


"Iya masalah lo udah beres tapi dia nganggep kalo peringatan lo itu ada hubungannya sama Ais Makannya dia buat perhitungan sama Ais dan sekarang Ais ada di UKS." Jelas Rafa tanpa titik koma.


Mendengar hal itu, Agam berlari menuju UKS.


Sesampainya di UKS, Agam menghampiri ranjang yang ditempati Ais.


Ais terlihat sedikit berantakan dari biasanya, dan kini terbaring lemas dengan luka bekas tamparan disudut bibirnya. Dan wajahnya terlihat merah karena bekas tamparan.


Melihat hal itu, entah kenapa hatinya terasa teriris. Memang benar, Agam menyukai Ais. Tapi dia tidak bisa mengatakannya. Hanya bisa memendam perasaannya. Dan kini melihat Ais seperti ini karena dirinya, Dia merasa sangat buruk.


Perasan suka yang berusaha untuk dia sembunyikan, kini terlihat jelas oleh kedua sahabatnya.


Ketika dia terus menatap Ais dengan sendu, satu kalimat berhasil lolos dari bibirnya.

__ADS_1


"Maafin aku, Ais."


..............


__ADS_2