Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
Keempat


__ADS_3

Agam sudah cukup lama menatap layar ponselnya. Fokusnya teralihkan mendengar pintu kamar yang tiba-tiba saja terbuka. Seseorang masuk dan langsung merebahkan tubuhnya disamping Agam.


"Cepat banget lo balik kak?" dengan Agam yang masih fokus pada layar ponselnya. Seseorang yang ditanyapun menoleh dan duduk bersandar dikepala ranjang.


"Dosen cuman nitipin tugas." dengan raut wajah yang terlihat suram. Agam masih asik dengan ponsel ditangannya, dia sedang asik memainkan Game favoritnya.


"Kenapa lo kak, ada masalah?" perlahan ia meletakkan ponselnya di atas nakas. Memperhatikan Adam kakaknya yang terlihat sangat murung setelah pulang dari kampus. Sedangkan Adam masih diam tak bersuara, hingga Agam akhirnya melayangkan pukulan pada lengan Adam beberapa kali.


"Ni anak ngajak ribut." kini mereka beradu kekuatan fisik. Saling melayangkan pukulan demi pukulan ringan seolah sedang dalam ring tinju, sampai keduanya merasa kelelahan karena ulah mereka sendiri. Akhirnya mereka tertawa bersama dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dengan menatap langit-langit kamar.


"Lo kenapa sih kak?" Agam menatap Kakaknya sekilas dengan masih terengah-engah dan kembali memandang langit-langit kamar. Sedangkan Adam, dia masih mengatur napasnya karena permainan mereka berdua.


"Tadi habis dari kampus ke perusahaan Papi bentar. Papi minta gue belajar ngurus perusahaan mulai dari sekarang." Adam kembali memasang wajah yang murung, memuat Agam geram dan akhirnya melayangkan pukulannya lagi kebahu kakaknya itu.


"Gue kira lo tadi ngelamar cewe trus ditolak kak. kayak orang baru putus cinta aja."


"Ya kan emang dari dulu Papi minta lo buat belajar ngurus perusahaan. Ya belajar aja kenapa sih, bantu Papi juga." sambungnya. Adam yang mendengar itu sedikit terlihat kesal.


"Ya lo kan tau, gue gak minat sama urusan bisnis. Dan lo kan tau banget kalau kakak sukanya sama musik. Papi dulu juga udah janji, gak bakalan memaksakan kehendaknya buat kakak ambil alih perusahaan." mendengar penuturan kakaknya, Agam menghembuskan nafas kasar.


"Ya gue nggak tau harus gimana, tapi saran gue sebagai adik lo yang baik, lo coba aja dulu ikutin kemauan Papi. Papi pasti punya alasannya sendiri, kenapa lo harus belajar ngehendel perusahaan sekarang." Adam kembali terdiam.

__ADS_1


"Woi jangan diam gitu woi, serem tau kalau lo gitu kak." ledek Agam kepada kakaknya. Adam pun sontak tertawa mendengar ocehan adik semata wayangnya. Yang terlihat cuek diluar namun aslinya perhatian banget sama keluarga. (apalagi kamu.hihi)


"Balik gih kekamar lo, kelamaan kakak disini dengan mood kaya gitu bisa-bisa kamar gue jadi horor." dengan tertawa Agam yang cukup kencang.


Adam pun ingin beranjak pergi, namun sebelum dia meninggalkan kamar adiknya itu, dia kembali berbalik dan melihat afiknya. Agam yang dilihat dengan tatapan kakaknya itupun bergidik ngeri.


"Apa lagi lo kak, kesambet lo?" Adam tersenyum dan ingin berlalu. Namun langkahnya terhenti.


"Kakak saranin ke Papi, biar lo aja yang belajar ngurus perusahaan. Ok?" dengan mengacungkan kedua tangannya dia pun berlalu.


"Yaelah, gue bentar lagi ujian." teriak Agam dari dalam kamarnya.


Malam menunjukkan pukul 08.10. Ais keluar dari kamarnya menuju keruangan keluarga, terlihat Bunda Sofi duduk bersama sang Ayah dengan masih mengenakan mukena. Ais melihat Bunda dan Ayah yang tengah asik berbincang-bincang, entah apa yang begitu asik kelihatannya. Ais pun menghampiri keduanya dan ikut duduk sambil menonton telivisi.


"Kapan kamu disini sayang?" Bunda menarik tangan putrinya itu untuk mendekat.


"Bunda sama Ayah mah pacaran mulu, Ais disini aja gak ada yang sadar." dengan wajah yang sengaja dibuat seolah-olah merajuk kepada kedua orangtuanya. Bunda dan Ayah tersenyum melihat tingkah putrinya, dan Bunda Sofi menarik Ais kedalam pelukannya.


"Alah incesnya bunda ambekan ya sekarang. Tadi tu Bunda pergi ketempat teman Bunda, namanya tante Dian. Udah lama gak ketemu, jadi sekalian aja tadi kita juga jalan. Udah dong ngambeknya inces, cantiknya nanti berkurang." Ais memeluk manja Bundanya sambil tersenyum.


"Oh iya bun, kata Bunda tadi anaknya Dian juga sekolah di sekolahnya Ais?" tanya Ayah tapi matanya fokus pada telivisi. Dan Ais terlihat penasaran siapa anak dari teman Bundanya itu, mungkin mereka juga bisa berteman pikirnya.

__ADS_1


"Oh iya, anaknya Dian yang bungsu itu satu sekolahan sama Ais, tapi dia sekarang sudah kelas 12. Anaknya itu ganteng banget loh Yah, siapa ya namanya tadi tu." Ayah tampak bersemangat dan melirik ke arah Ais, sementara Ais sedikit cemberut karena mengetahui itu laki-laki, karena dia berusa sebaik mungkin menjaga dirinya untuk tidak bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya.


"Kamu kenapa sayang, kok cemberut gita?" Bunda memperhatikan perubahan raut wajah putrinya.


"Ais kira anak teman Bunda itu cewe. kalau cewekan bisa Ais ajak temenan sama kayak Bunda dan tante Dian." sementara sang Ayah tersenyum mendengar penuturan putrinya itu, dan berniat menjahilinya.


"Ya kalau gak bisa jadi temennya Ais, kan bisa nanti dijadikan suami untuk Ais. Iya gak Bun?" ledek ayah dan Bunda ikut menambahi.


"Iya ya Yah, jadi nanti besanannya sama teman sendiri. Ganteng banget loh anaknya teman Bunda itu, sopan juga sama orangtua. Bunda suka kok Yah." sambung Bunda Sofi, dan Ais tidak terima dengan perkataan Ayah dan Bundanya.


"Apaan sih Ayah sama Bunda, Ais masih sekolah juga. Ais tu baru kelas 11 Ayah dan Bunda tercinta. Jadi jangan ngomong nikah-nikahan. masih kecil." tuturnya dengan sedikit kesal. Ayah dan Bunda tertawa melihat reaksi putri mereka.


"Nggak apa-apa sayang, kalau kamu mau nanti Ayah ketemu sama Om Faiz untuk membicarakan perjodohan. kalau masalah masih sekolah mah gampang, itu bisa Ayah urus. Asal kamu mau saja." tambah Ayah Hasan menjaili putrinya.


Ais yang mendengar itupun memutuskan untuk kembali kekamarnya agar bisa menghindar dari permainan Ayah dan Bundanya.


"Udah ah, Ais balik ke kamar aja. Ayah sama Bunda gak asik." cepat-cepat ia berlari meninggalkan kedua orangtuanya, sehingga membuat Ayah dan Bundanya gemas kepadanya. Sang Ayah masih belum puas mengerjai putrinya, hingga beliau sedikit mengeraskan suaranya dengan Ais yang sudah berlari kearah tangga menuju kekamarnya.


"Nanti Ayah bicara sama Om Faiz ya sayang, kamu bisa milih. mau putranya yang pertama atau yang kedua. Dua-duanya ganteng dan sopan. Agamanya juga bagus." teriak sang Ayah dan Bunda tertawa melihat kelakuan Ayah dan anak itu.


Hingga malam semakin laruh, Ayah Hasan dan Bunda Sofi memilih untuk pergi kekamar dan bersiap untuk tidur.

__ADS_1


Sedangkan Ais, dia sudah terlelap cukup lama. karena setelah ia kembali kekamarnya, dia langsung memilih untuk tidur. Karena besok dia harus bangun pagi dan bersiap untuk pergi kesekolah.


.........


__ADS_2