
Bunda Sofi terlihat murung sambil duduk di taman belakang rumahnya.
Tiba-tiba terdengan suara ponselnya berbunyi.
Bunda Sofi mengeryitkan dahinya melihat nama kontak dilayar ponselnya.
"Telepon dari Sekolah?" Gumamnya.
Setelah menerima telepon dari pihak sekolah, Bunda Sofi terlihat cemas dan dengan tergesa-gesa berangkat menuju kesekolah Ais dengan menggunakan mobil yang dikemudikan oleh supir pribadi mereka.
Kini Bunda Sofi sudah berada di depan ruangan UKS, ketika Bunda Sofi masuk terlihat seorang siswa laki-laki yang menjaga didekat ranjang putrinya sambil tertidur dengan posisi duduk. Melihat itu Bunda Sofi sedikit tersenyum, Dia mengenal siapa anak laki-laki itu.
Kini tatapannya beralih menatap putrinya, terlihat pipinya yang terlihat memerah bekas tamparan dan juga luka disudut bibirnya. Melihat hal itu, tanpa terasa air matanya telah membasahi pipinya. Suara tangisan yang tadinya lirih kini terdengar hingga membangunkan seseorang dari tidurnya.
Agam membuka matanya, terlihat seorang wanita paruh baya sedang menangis dengan mengelus pipi Ais. Wanita paruh baya itu terlihat tidak asing baginya.
"Tante Sofi?" mendengar ada yang memanggilnya, Bunda Sofi pun menoleh kearah suara. Dan kembali menatap putrinya dengan berlinang air mata.
"Ais putri tante satu-satunya, Agam mau janji sama tante tolong jaga dia untuk tante?" mendengar hal itu Agam mengeryitkan keningnya. Agam sungguh bingung dengan permintaan Tante Sofi.
"Berarti Mami kamu belum bicara sama kamu ya?" melihat ekpresi Agam yang terlihat bingung, Bunda Sofi mengerti.
Setelah beberapa saat terus menatap wajah putrinya, akhirnya dia meminta Agam untuk menemani putrinya, Bunda Sofi akan ke ruangan BK untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tante titip Ais sama kamu dulu ya nak Agam, Tante harus ke ruang Bk dulu." Mendengar itu Agam mengannguk.
__ADS_1
"Baik tante. Kalau Ais sudah siuman nanti Agam hubungi Tante." Bunda Sofi mengngguk seraya tersenyum kepada Agam dan berlalu pergi.
Diruang BK terlihat suasananya yang sangat tegang.
Bunda Sofi memasuki ruangan BK dan melihat sudah ada Dita disana dengan tiga orang siswi lainnya beserta wali mereka dan juga kepala sekolah beserta guru BK.
"Bunda." Dita berdiri dan langsung memeluk Bunda Sofi.
"Apa yang sebenarnya terjadi nak?" Dita menangis dipelukan Bunda Sofi.
"Maafin Dita, Bunda." dengan masih menangis.
"Baik Bu Sofi, silahkan duduk. Kita akan membahas masalah apa yang sebenarnya terjadi." guru BK memepersilahkan duduk. Sedangkan salah seorang wali murid menatap Bunda Sofi dengan tatapan tidak suka.
"Heh anda, tolong ajarin tuh anak anda. Lihat apa yang sudah dia lakukan terhadap anak saya sampai wajahnya seperti ini." wajah Dira penuh dengan tamparan Dita, karena Dita benar-benar menghajarnya.
"Eh kurang ajar ya kamu sama orangtua kayak gitu." kesal ibu Maya.
"Sudah-sudah. Dita kamu duduk dengan benar. Kalau kamu dan ibu-ibu ini seperti ini terus, masalah ini tidak akan bosa selesai." Bentak Guru BK.
Sementara Bunda Sofi berusaha untuk tetap tenang.
"Baik bu, mari kita mulai." usul bunda Sofi.
"Baiklah, untuk mempersingkat waktu. ini saya akan memutarkan video yang sudah kami ambil dari cctv kelas 11 IPA 2 dan 12 IPA 1. Untuk mencari kebenaran dari masalah ini." Guru BK menampilkan video pada layar monitor.
__ADS_1
Dari video pertama terlihat tiga orang masuk kedalam kelas 11 IPA 2 dan mengunci pintunya dari dalam.
Bunda Sofi melihat apa yang dilakukan ketiga gadis itu kepada putrinya. Air matanya terus mengalir, setelah apa yang dia dan suaminya lakukan kepada putrinya. Dan ditambah betapa sakit yang dia rasakan sekarang dengan perundungan itu.
Sedangkan wali murid yang lain seolah tidak percaya apa yang telah dilakukan oleh putri mereka. Namun salah satu dari wali murid tersebut tetap mencoba membela putrinya karena putrinya juga terluka.
"Tapi anak saya juga terdapat luka dimana-mana ini. Jadi siapa yang mau tanggung jawab sama pengobatan putri saya ini." mendengar hal itu Binda Sofi terlihat marah, namun tetap bisa mengontrol emosinya.
"Saya akan membiayai pengobatan anak anda." mendengar hal itu Dita kesal dan tidak terima. Tetapi Bunda Sofi menggenggam tangannya memcoba menenangkan.
"Tapi saya juga meminta kepada pihak sekolah, selaku wali murid dari Aisyah Ulfatunnisa. Untik memberikan hukuman sepantasnya mereka dapat. Mungkin tidak cukup hanya diskors. Kalau begitu, saya pamit bapak kepala sekolah dan ibu selaku Guru BK. Mohon kerjasamanya." setelah menyalami guru BK, Bunda Sofi berlalu pergi.
"Baiklah, keputusan untuk masalah ini saya serahkan kepada Bapak kepala sekolah. Silahkan pak."
"Baik, terima kasih Bu Sisi. Sebelumnya saya mengucapkan sebanyak-banyaknya kata maaf kepada ibu Sofi atas kejadian ini, tolong Nak Dita bantu untuk sampaikan." sebelum mengambil keputusan, kepsek meminta maaf atas apa yang terjadi di lingkungan sekolah, dan meminta Dita untuk menyampaikan pesannya kepada wali murid dari Aisyah.
"Baiklah untuk keputusan yang akan saya ambil, mohon para wali siswi untuk bisa menerima dengan bebesar hati. Karena ini memang perbuatan yang tidak terpuji. Dan saya selaku kepsek juga mengucapkan kata maaf yang sebesarnya karena tidak bisa mengawasi anak-anak dengan sebaik mungkin. Tapi semua ini juga perlunya kesadaran dari masing-masing anak. Untuk Dita yang melakukan penyerangan setelah kejadian pertama terjadi, bapak akan menskorsing kamu selama 1 minggu. Sedangkan untuk luna dan Zifa, kalian akan diskorsing selama 2 minggu dan ditunggu permintaan maafnya kepada saudari Aisyah. Sedangkan untuk Dira, kamu sudah dua kali melakukan penyerangan terhadap Aisyah. Dan keputusan dari pihak sekolah, kami harus mengeluarkan kamu dari sekolah ini, tapi kami akan membantu untuk kamu bisa diterima disekolah yang akan kamu pilih. Karena mengingat kamu sebentar lagi akan ujian. sekian dari saya, saya mohon undur diri." Mendengar hal itu, Dita tersenyum menang.
Sementara Dira pandangannya kosong, dia merasa masa depannya kini hancur. Dan Dira kini juga merasa bahwa semua tindakannya salah. Dia akan berusaha untuk meminta maaf dan memohon agar Ais bisa membantunya untuk tidak dipindahkan.
Sementara Dira yang sibuk dengan pikirannya, orangtua wali yang lain mulai menyalahkannya karena melibatkan anak mereka.
"kamu kalau mau jadi preman di sekolahan jangan ngajak-ngajak anak saya ya. Lihat sekarang, anak saya jadi dapat masalah karena kamu." ibu dari Luna itu terlihat murka, karena melihat dari video yang ditampilkan anaknya itu tidak melakukan apapun, namun akhirnya juga ikut diskorsing.
Hingga ibunya Dira pun tak terima dengan perlakuan mereka kepada anaknya, sampailah keributanpun terjadi lagi, dan kini Guru BK sibuk melerai keributan yang dilakukan orangtua dari murid-muridnya itu.
__ADS_1
Sedangkan Dita menghilang entah kemana.
........