
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore.
Terlihat Ais yang masih terjaga dari tidurnya di atas ranjang Rumah Sakit, dengan wajah yang memiliki luka.
Seseorang yang kini duduk di kursi samping ranjang terus menatapnya dengan sendu. Rasa bersalah terus saja menghantui dirinya.
Detik demi detik terus berganti ke menit, hingga waktu terus berjalan.
Ais terlihat menggerakkan jari-jarinya, hingga perlahan Ia membuka matanya. Terlihat seseorang yang duduk disamping ranjang yang membuat Ais terkejut.
"Kamu udah bangun." mendengar itu Ais hanya mengangguk. Dia masih mencoba mencari keberadaan Bundanya, namun sama sekali tidak ada tanda-tanda adanya Bunda Sofi di sana. Melihat gerak-gerik Ais yang kebingungan, Agam mencoba menjelaskan.
"Oh iya, tadi Tante Sofi pulang sebentar. Jadi kakak diminta untuk jagain kamu disini." jelasnya dan hanya di balas anggukan lagi oleh Ais. Setelah itu Agam keluar untuk memanggil dokter.
Tidak berselang lama, Agam telah kembali ke kamar rawat inap yang ditempati Ais dengan seorang dokter dan perawat yang berjalan disampingnya.
Ketika sampai di kamar perawatan, terlihat Ais yang duduk bersanda pada kepala ranjang dengan menatap kearah luar jendela. Entah apa yang dia pikirkan, tatapannya kosong dengan wajah yang terlihat sendu.
"Bagaimana nak Ais, sudah lebih enakan sekarang?" pertanyaan itu seketika membuyarkan lamunan Ais.
"Oh iya, dok. Sekarang sudah terasa lebih baik. Kapan saya boleh pulang dok?" mendengar pertanyaan Ais, dokter Nana tersenyum kearahnya.
"Kamu masih perlu perawatan beberapa hari di Rumah Sakit, jadi yang sabar ya. Banyak-banyak berdoa semoga lekas sembuh jadi bisa cepat pulang. Lagian yang jagain pacarnya kan, ganteng banget lagi." mendengar itu Ais dan Agam saling beradu pandangan dan setelah itu keduanya terlihat gugup.
"Kita gak pacaran kok dok." jawab Ais dengan menundukkan pandangannya.
"Ya sudah. Yang penting kamu jangan terlalu banyak pikiran biar cepat sehat." setelah mengatakan itu, dokter Nana pun pamit untuk keluar.
Kini tinggallah Ais dan Agam di ruangan itu, tidak ada percakapan yang keluar dari keduanya. Hingga Ais melihat jam yang kini menunjukkan pukul 16.30. Ia teringat bahwa dirinya belum mengerjakan sholat. Ais pun bergegas menuju toilet yang ada di dalam ruangan dengan langkah pelan dan selang infus yang terpasang ditangan kanannya. Melihat hal itu Agam ingin membantu namun dia pun bingung harus membantu bagaimana, hingga akhirnya dia memilih tetap diam.
Tak lama setelah Ais masuk kedalam toilet, tiba-tiba Ais kembali keluar. Agam yang melihat itu mengerutkan dahinya, ingin bertanya tapi bingung harus bertanya apa.
"Kok udah keluar aja, perasaan baru masuk. Aneh.' batin Agam.
Ais menatap kearah Agam, berniat meminta tolong tapi ia malu. Agam yang melirik ke arah Ais secara diam-diam terus memperhatikan tingkah Ais yang seperti ingin mengatakan sesuatu namun terlihat bingung untuk memulai pembicaraan, hingga Agam membuka suara.
"Ais, ada yang perlu kakak bantu?" satu kalimat yang sedari tadi Ais harapkan keluar dari Agam.
"Hmm Kak Agam punya nomor Bunda gak?" dengan sedikit gugup ia bertanya.
__ADS_1
"Kakak enggak punya nomor tante Sofi. Tapi kayaknya Mami kakak punya. Tunggu sebentar ya." Ais mengangguk, dan Agam menelepon seseorang.
"Assalamualaikum Mi."
"Waalaikumsalam nak." suara dari sebrang telepon.
"Agam mau minta tolong Mi, Mami punya nomor tante Sofi yang waktu itu pernah kerumah?" tanya Agam.
"Iya, ada nak. Ada perlu apa kamu minta nomor Tante Sofi? oh iya kamu sekarang dimana?"
"Bisa tolong kirimkan ke Agam Mi, nanti dirumah Agam jelasin."
"Oke, Mami kirimkan. Nanti janji cerita sama Mami."
"Iya janji. Yaudah Agam tutup teleponnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Setelah mendengar balasan salam dari sang Mami, Agam menutup teleponnya. Todak lama setelah itu, satu pesan masuk dari Mami Dian.
Ais yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Ibu dan anak itu terlihat bergumam pada dirinya sendiri.
"Oh jadi yang Bunda bilang anak temannya itu ternyata kak Agam." Gumamnya.
"Ini." menyerahkan ponselnya kepada Ais.
"Ais pinjam sebentar ya kak." Agam pun mengangguk.
"Hmm kak boleh gak kalau Ais minta tolong kakak untuk keluar sebentar, soalnya ada hal urgent yang mau Ais omongin sama Bunda." pinta Ais dengan gugup. Agam pun mengangguk mengerti dan berlalu keluar ruangan.
Ais mencoba menghubungi sang Bunda beberapa kali namun tidak ada jawaban dari sebrang sana. Hingga akhirnya panggilan terakhir yang ia lakukan mendapat jawaban.
"Halo." terdengar suara dari sebrang telepon.
"Halo, Assalamualaikum Bunda. Ini Ais."
"MaasyaAllah sayang, kamu udah bangun. Gimana keadaan kamu sekarang, udah enakan?"
"Iya bunda. Bunda dimana sekarang?"
"Alhamdulillah. Bunda sekarang masih dirumah. Ini udah mau pergi kerumah sakit lagi. Tunggu sebantar ya nak. Oh iya, Agam masih disana kan?"
__ADS_1
"Iya masih, kenapa kak Agam bisa ada disini Bunda?"
"Nanti bunda jelasin tunggu disana. Ino nomor siapa nak, Ponsel kamu kan sama Bunda."
"Ini punya kak Agam, Bunda. Oh iya Bunda, Ais minta tolong beliin pembalut ya."
"Iya, nanti Bunda belikan. Cuma itu aja?"
"Iya, itu aja Bunda." Hingga terdengar salam dari sebrang telepon.
"Waalaikumsalam." Ais membalas salam sang Bunda.
Sebenarnya Agam sedari tadi berdiri didepan pintu, dan Agam tersenyum mendengar pembicaraan Ais pada sang Bunda.
"Jadi itu yang urgent. Lucu." Gumamnya dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya. Tak lama setelah itu Agam kembali masuk.
Agam melihat Ais yang berusaha membuka tutup botol minumannya.
"Perlu bantuan?" Ais pun menatap Agam.
"Boleh tolong bukain kak?" menyodorkan minuman kepada Agam. Agam mengambil botol minuman itu dan membukanya.
"Nih." memberikan botol minuman kepada Ais.
"Makasih kak. Oh iya, makasih juga untuk hp nya." mengembalikan ponsel kepada Agam.
"Iya sama-sama." Agam tersenyum kearah Ais.
Untuk pertama kalinya Ais melihat Agam tersenyum kepada dirinya. Entah mengapa kini jantungnya seolah berdegup dengan kencang. Seperti sedang lari maraton, hingga Ais menundukkan pandangannya.
Ais bingung dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Untuk pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini. Entah apa sebenarnya semua ini.
Agam yang kini sedang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Dia melirik kearah Ais sesekali. Agam berusaha untuk menundukkan pandangannya, tapi itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan dengan seseorang yang dia sukai berada di ruangan yang sama dengan dirinya. Bagaimanapun dia harus tetap menjaga pandangannya, hingga Agam memilih untuk menunggu di luar ruangan.
"Ais, kakak keluar dulu ya. kalau butuh apa-apa panggil aja." Mendengar itu Ais mengangguk.
Setelah Agam keluar, Ais mengambil napas dan membuangnya kasar. Seolah beban yang tadinya sangat berat yang ada di pundaknya kini menghilang.
"Hmmm Alhamdulillah." dengan mengelus dada.
__ADS_1
Ternyata keduanya sama-sama merasa sesak ketika harus berada disatu ruangan yang sama. Bukan karena tidak suka, melainkan karena perasaan suka yang harus mereka kendalikan. Karena tanpa Ais sadari, dia pun mulai menyukai Agam.