Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
.............


__ADS_3

Hari ini terlihat sangat cerah.


Langit yang biru, awan yang putih dengan sinar matahari yang menyilaukan.


Kini Ais sudah keluar dari rumah sakit. Akhirnya udara yang terkontaminasi dengan aroma obat-obatan kini berubah menjadi aroma perkotaan dengan volusi udara yang kian menerjang lapisan ozon.


Namun terlepas dari itu semua, banyak hal yang harus disyukuri. Salah satunya dia yang kini masih bisa bernafas dengan leluasa tanpa alat bantu satupun.


Ais berada di dalam mobil yang kini melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan menuju rumahnya. Dia terus menatap kearah jendela, banyak hal yang telah ia pikirkan selama beberapa hari belakangan ini. Kini Ais terlihat lebih tenang.


"Ais, sebentar lagi kita sampai. Tadi Ayah nanyain Ais, Ayah juga minta maaf karena nggak bisa ikut jagain Ais beberapa hari ini. Tapi hari ini Ayah juga pulang." Mendengar perkataan Bundanya Ais hanya mengangguk. Namun di dalam hatinya, sebenarnya ia merasa sangat sedih. Dia sangat mengerti Ayahnya yang pekerja keras. Namun terkadang dia juga merasa iri terhadap pekerjaan sang Ayah, karena terlihat bahwa pekerjaan jauh lebih penting dari pada dirinya.


Bunda Sofi menatap sendu kearah putrinya, dia seakan mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya. Hingga Bunda Sofi pun memilih diam.


Kini mobil yang membawa Ais dan Bundanya terparkir di pekarangan rumah mereka.


Ais turun dari mobil dengan diikuti sang Bunda.


Tak lama setelah itu, mobil lainnya pun terparkir juga di pekarangan rumah mereka. Dan itu adalah mobil Sang Ayah. Ais menoleh kearah pintu mobil yang perlahan terbuka. Melihat sosok sang Ayah yang keluar dari dalam mobil Ais berusaha tersenyum. Memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Pak Hasan pun menghampiri putrinya dan memeluk serta mencium kening putrinya sayang. Ais hanya tersenyum menerima perlakuan sang Ayah. Setidaknya sang Ayah selalu bersikap manis padanya.


"Gimana keadaan kamu nak? apakah semuanya baik?" tanya Pak Hasan pada putrinya.


"Ais udah baikan kok Yah." sembari tersenyum.


"Yaudah, ayo kita masuk kedalam. Ada hal yang ingin Ayah bicarakan sama kamu." sambil merangkul putrinya.


Mereka pun masuk dan memilih untuk duduk diruangan keluarga.


"Ayah mau ngomong apa sama Ais?" Ais memulai percakapan.


"hmm begini sayang, tentang rencana Ayah sama Bunda sebelumnya." Pak Hasan terlihat sangat berhati-hati berbicara pada putrinya.


"Ayah, mungkin sebaiknya masalah ini dibahas nanti saja. Biarkan Ais istirahat dulu." sambung Bunda Sofi.


"Gak apa-apa kok Bunda. Jadi apa Ayah?" pinta Ais.


Pak Hasan menatap putrinya cukup lama, seolah pembicaraan ini akan sangat berat baginya juga sang putri pastinya. Setelah beberapa saat terdiam, Pak Hasan melanjutkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Begini nak, tentang perjodohan antara kamu sama anaknya sahabat Ayah. Anak bungsunya bersedia untuk menikahi kamu. Bagaimana menurut kamu Ais?" Mendengar hal itu Ais terdiam, Ais tidak tahu siapa anak bungsu dari sahabat Ayahnya. Yang dia tahu hanya Agam anak dari teman Bundanya.


Melihat Ais yang terdiam, Sang Ayah mencoba untuk meyakinkan.


"Kamu tenang saja nak, anaknya sahabat Ayah itu baik. Dia juga bertanggung jawab. Bila dibandingkan dengan sang kakak, dia jauh lebih bijaksana dan bisa diandalkan. Dan Ayah yakin, dia bisa menjaga kamu dengan baik." penjelasan dari Ayahnya membuat Ais teringat pada seseorang. Namun dengan cepat ia mencoba menyingkirkan pikirannya tentang orang tersebut.


"Ais gimana Ayah saja. Ais yakin pilihan Ayah adalah pilihan terbaik. Tapi bagaimana dengan sekolah Ais, Yah?" Ais hanya bisa menerima keputusan sang Ayah, setidaknya kelak akan ada seseorang yang bisa dia andalkan, pikirnya.


"Kamu tenang saja, masalah sekolah biar Ayah yang urus. Dan nanti malam kamu siap-siap, karena mereka akan kerumah sekalian mau jenguk kamu." jelas sang Ayah.


"Baik yah, kalau gitu Ais kekamar dulu." setelah berpamitan Ais langsung berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai 2.


"Ayah, apakah yang kita lakukan ini benar?" tanya Bunda Sofi pada suaminya.


"Kamu tenang saja Bun, Ayah yakin ini keputusan yang terbaik untuk anak kita." jelas pak Hasan pada istrinya.


Di dalam kamar, Ais membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan menatap langit-langit kamar. Perasaannya tak bisa untuk dijelaskan dengan kata-kata. Yang sangat pasti yang ia rasakan adalah, kini hatinya sangat hancur.


Bagaimana tidak, ketika dia harus menikah diusia yang sedini ini dengan status masih di bangku sekolah. Dan setelah itu, kedua orangtuanya akan pergi meninggalkan dirinya kembali. Namun sebagai anak, Ais tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Hingga ia memilih untuk mengikuti semua keinginan kedua orangtuanya, meskipun terkadang itu harus menyakti dirinya sendiri.


Siang berganti malam. Terdengar suara keributan dari arah dapur, mendengar hal itu Ais yang tadinya ingin kedapur untuk mengambil minuman kini langkahnya terhenti. Namun setelah beberapa saat ia melanjutkan langkah kakinya menuju dapur.


"Gak apa-apa bik, cuma mau ambil minum aja. Ini mau ada acara apa bik? kok dari sore masak kayaknya belum selesai juga?" tanyanya.


"Ini non, kata nyonya bakalan ada tamu sebentar lagi mau datang. Makanya nyonya minta dimasakin beberapa makanan." mendengar itu Ais hanya mengangguk mengerti.


Bunda membantu menata makanan di atas meja makan, karena sebentar lagi tamu akan datang.


"Eh sayang, kamu kok belum siap-siap? sebentar lagi tamu kamu datang. Dandan yang cantik sana." perintah bunda Sofi pada putrinya.


"Hmm iya bunda." Ais pun berlalu pergi menuju kamarnya.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah keluarga pak Hasan. Mendengar itu, Pak Hasan juga sang istri menjemput tamu yang sedari tadi mereka tunggu-tunggu.


"Assalamualaikum." Salam terdengar dari seorang laki-laki paruh baya dengan diikuti istri dan kedua putranya.


"Waalaikumsalam, MaasyaAllah tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai juga." pak Hasan berbasa-basi.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." Balas Pak Faiz yang kini merangkul pundak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ayo masuk, masa kita mau didepan pintu saja." pak Hasan mempersilahkan tamunya untuk masuk dan membawa mereka untuk duduk diruang tamu sebentar sambil menunggu waktu makan malam.


Bunda Sofi dan Mami Dian terlihat sibuk berbincang sedari kedatangan mereka. Sementara kedua putra mereka hanya diam dan sesekali berbisik melihat kelakuan orangtua mereka yang seakan melupakan anak-anaknya.


"Oh iya, Adam sama Agam bagaimana kabarnya? Sudah lama kita tidak bertemu. Keduanya jagoan kamu makin cakep saja Is." Mendengar sapaan itu keduanya tersenyum.


"Yah begitulah, dan yang satunya sudah mau menikah padahal masih kelihatan bocahnya kan." Ledek Papi Faiz pada Agam. Mendengar hal itu Agam sedikit salah tingkah, karena tidak biasanya sang Papi seakrab ini pada dirinya. Sedangkan Pak Hasan tertawa mendengar lelucon sahabatnya itu.


"Kamu ini jangan begitu sama calon mantuku." mendengar hal itu kedua laki-laki paruh baya itupun tertawa.


"Oh iya Bun, Ais mana?" tanya pak Hasan pada istrinya yang sibuk berbincang pada sahabatnya itu hingga melupakan pemeran utama dari acara malam ini.


"Oh iya sampai lupa, sebentar ya Dian saya panggilkan Ais dulu." dan diangguki oleh Mami Dian.


Agam yang mendengar hal itu terlihat gugup, Adam yang menyadari itu menyenggol lengan Agam.


"kenapa lo, takut keyemu sama bakal calon istri?" ledek Adam pada sang adik.


"Apaan sih lo kak." elaknya.


Pak Hasan juga Pak Faiz masih sibuk dengan perbincangan mereka seputar pekerjaan dengan Mami Dian yang juga ikut nimbrung dalam percakapan itu. Sementara Adam dan Agam hanya berusaha mendengarkan dengan seksama. Meskipun Adam tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena dia sama sekali tidak tertarik pada bisnis.


Ais dan dan sang Bunda kini berjalan menuju ruang tamu tempat para tamu berada. Agam yang menoleh kearah kedua wanita itu kini telah menundukkan pandangannya.


"MaasyaAllah kenapa bisa jadi cantik banget." batin Agam.


Kini keduanya duduk disamping Mami Dian. Terlihat Adam mengangguk-angguk melihat kearah Ais, entah apa yang dia pikirkan.


"MaasyaAllah cantik banget bakal mantu Tante." puji Mami Dian pada Ais.


"Makasih tante." sembari tersenyum ramah.


"Ini toh putri kamu Hasan, pantasan anak saya yakin banget pengen nikah, wong anakmu secantik ini." puji pak Faiz pada anak dari sahabatnya itu.


"Kamu bisa saja Faiz. Yah jelas sekali anak saya cantik, lihat saja Ayahnya seperti apa." timpal pak Hasan pada sahabatnya itu dan mereka tertawa.


"Yaudah, daripada ribut terus karena anak saya ini cantik. Mendingan kita pergi makan malam duli, semuanya sudah disiapkan. Mari." tawar Bunda Sofi kepada tamunya.


Akhirnya mereka pun menyantap makan malam itu dengan hikmat. Dengan sesekali melemparkan candaan.

__ADS_1


Hingga makan malampun selesai dan terlihat mereka membicarakan hal yang serius.


__ADS_2